Thursday, January 12, 2017

Mengusahakan Keadilan Agraria

Bulan Februari 2016, 425 petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, akhirnya menerima sertipikat hak milik atas lahan yang telah mereka garap selama belasan tahun. Sebelumnya, lahan 89 hektare tersebut menjadi pokok sengketa antara petani dan PT. Perusahaan Perkebunan Tratak.

PT Tratak mengklaim kepemilikan Hak Guna Usaha atas lahan tersebut sejak 1988 untuk budidaya tanaman cengkeh dan kopi. Di tahun 2013, mereka menggugat Kepala Badan Pertanahan Nasional yang menetapkan tanah mereka sebagai tanah terlantar. Di aduan yang sama, mereka juga menggugat para petani Batang yang menggarap lahan tersebut. Gugatan PT Tratak ditolak oleh PTUN Jakarta bulan Juli 2013, namun proses redistribusi tanah tersebut baru selesai pada awal tahun lalu.

Bagi Rahma Mary, kasus tersebut adalah capaian yang paling ia banggakan. Ia merupakan salah satu advokat Public Interest Lawyer Network (PILnet), jaringan pengacara pembela kepentingan publik yang mendampingi para petani selama proses peradilan. Kemenangan mereka atas gugatan PT Tratak ini sangat berharga. Kata Rahma, “Menang perkara itu jarang, maka saya gembira menang di pengadilan.”

Rahma memiliki banyak pengalaman tentang konflik pertanahan. Setelah menamatkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro tahun 2000, ia bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang sebagai sukarelawan. Sejak menyelesaikan program Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) LBH, ia terus bekerja di sana hingga menjadi direktur dari tahun 2008 hingga 2011. Di LBH, ketertarikannya dengan isu tanah membuatnya menangani kasus-kasus agraria sejak awal.

Rahma (berjilbab ungu, tengah) di Bukit Duri
untuk pemeriksaan setempat majelis hakim PTUN Jakarta,
18 November 2016.
Rahma menjelaskan bahwa akar konflik agraria ada pada ketimpangan kekuasaan. Pemodal yang lebih kuat dari petani menguasai lahan yang terbatas. Masyarakat yang tidak memiliki lahan cukup untuk bertani lalu harus menjadi buruh dengan upah yang rendah. Ini juga yang menyebabkan banyak warga miskin di pedesaan. Mereka miskin bukan karena malas, tapi karena masalah struktural.

Struktur penguasaan lahan yang timpang mendorong pemerintah mencanangkan reforma agraria, yaitu penataan ulang kepemilikan tanah dan penggunaan sumber-sumber agraria. Untuk tujuan ini, Rahma bekerja dengan Kantor Staf Presiden dalam menyusun Strategi Nasional Pelaksanaan Reforma Agraria. Agar berhasil, implementasi program ini menuntut keterpaduan kebijakan antarlembaga dan kementerian. Redistribusi lahan ke petani Batang yang menang dari PT Tratak adalah bagian dari reformasi agraria yang dimulai tahun 2001.

Reformasi agraria ini bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat banyak. Selepas Orde Baru, banyak masyarakat yang menduduki lahan perkebunan, termasuk lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Secara hukum, mereka yang menduduki lahan ini telah melakukan tindakan kriminal. Namun, banyak dari lahan tersebut adalah lahan yang dulu diambil paksa oleh perusahaan dari petani melalui nasionalisasi.

Ketika menjelaskan tentang nasionalisasi lahan ke PTPN yang terjadi di tahun 1950an, Rahma bercerita tentang para petani di Kendal, Jawa Tengah yang ditipu. Mereka dikumpulkan oleh mandor dan diberitahu bahwa lahan mereka dibuatkan sertifikat yang diserahkan dalam amplop. Amplop tersebut hanya boleh dibuka sesampainya di rumah. Ketika dibuka, isinya justru surat pencabutan tanah. Tanah mereka telah dirampas tanpa ganti rugi.

Hingga kini, masih banyak masyarakat buta hukum yang rentan dirugikan seperti di Kendal. Di LBH, Rahma ikut mengorganisir masyarakat dan memberikan pendidikan hukum. “Dapat memberikan bantuan ketika dibutuhkan itu sangat berharga,” ujarnya.

Sebagian besar hidup Rahma dipengaruhi oleh ideologi LBH. Di sana ia belajar mendengarkan suara masyarakat. Menurutnya, memberikan bantuan hukum ini mirip dengan menjadi antropolog karena seseorang tidak mungkin membela masyarakat kalau tidak memahami yang ia bela.

Tidak banyak orang yang menjadi pengacara kepentingan publik seperti Rahma  Ketika mengikuti Kalabahu, pesertanya berguguran dari enam puluh menjadi lima belas, lalu menjadi lima. Secara nasional, dari puluhan ribu advokat, tidak sampai lima ratus orang yang membela masyarakat kecildari puluhan ribu advokat yang ada. Ia mengeluhkan pendidikan di fakultas hukum yang mengarahkan mahasiswanya untuk menjadi konsultan firma hukum besar. Ia berpendapat bahwa hasrat membela kebenaran dan keadilan harus ditanamkan sejak dini.

Membela keadilan tentu menghadapkannya pada banyak tantangan. Ia pernah diancam akan dibunuh oleh preman perusahaan lawannya di pengadilan. Usai sidang, ia menunggu sampai petang ditemani oleh seorang jaksa. Hal seperti ini jamak terjadi. Kata Rahma, “Berani itu perlu.”

Monday, January 2, 2017

PM Suka Menulis: IFTTT

Tutupnya layanan Twitterfeed akhir Oktober lalu membuat saya bingung. Sebelumnya, saya pakai Twitterfeed untuk broadcast agregasi RSS grup PM Suka Menulis di akun @tetulisan. Huh, baru juga seumur jagung.

Macetnya akun @tetulisan ini lalu menimbulkan dua pertanyaan:
1) Jadi apa yang bisa saya pakai untuk agregasi RSS sebagai gantinya?
2) Memangnya, ada yang baca ketika ada link yang ditweet di sana?

Pertanyaan pertama hanya bisa dijawab dengan mencoba-coba. Selain kembali mencoba dlvr.it, saya mengetes buffer.com dan mencoba IFTTT. Kendala saya dengan dlvr.it tetap sama: RSS gabungan ditolak karena terlalu besar ukurannya, ketengan cuma bisa lima saja. Sementara, Buffer yang saya pikir menjanjikan, ternyata hanya bisa mengakomodasi 15 RSS feed. Itu pun harus bayar $102/tahun untuk jenis langganan Awesome. Waktu itu, sudah lebih dari 40 RSS dari anggota grup PM Suka Menulis.

Tinggal IFTTT solusinya. If this then that: if (blog publishes feed) then (publish to twitter). Sambungkan blog ke trigger, sambungkan twitter ke action. Beres.
Tapi ternyata IFTTT menolak post mention—rawan disalahgunakan untuk spam maka tweet di atas hilang tanda @-nya. Ya benar juga sih, tapi ini berarti pertanyaan pertama saya tidak langsung selesai. Untungnya saya menemukan bahwa hal ini bisa diakali dengan memakai Buffer sebagai perantara. Maka IFTTT saya menjadi: If this then that: if (blog publishes feed) then (add post to buffer (buffer post to twitter)). Tidak sempurna, karena kalau antrean buffer penuh (10 post), maka buffer akan skip tambahan post barunya.

Tapi karena sejauh ini PM Suka Menulis ngga rajin (suka != rajin), masih ga masalah. Dalam 204 hari sejak pertama diluncurkan, baru 273 tweet yang dikeluarkan @tetulisan, maka rasanya buffer-nya belum akan penuh dalam waktu dekat.

Lalu, dengan tweet yang sedikit itu, ada yang baca?

Ini pertanyaaan kedua saya tadi. Saya telusuri jawabannya sambil menyelamatkan daftar feed yang sudah terlanjur dimasukkan ke Twitterfeed sebelum mereka tutup permanen. Hasilnya? Statistik Twitterfeed menunjukkan bahwa ada 452 kunjungan ke 187 post yang ditweet @tetulisan. Rata-rata satu tweet mengirimkan 2,4 kunjungan ke alamat blog tersebut. Angkanya ngga gegap gempita seperti tiap postingan facebook Indonesia Mengajar yang langsung disukai ratusan orang, tapi lumayan lah.

Sekarang, migrasi otomatisasi sudah komplit ke IFTTT, plus tambahan feed dari Sinta dan Lukvi--yang akhir-akhir ini agak rajin ngeluarin tulisan. Mudah-mudahan terus berlanjut sampai selewat tahun baru. 

Friday, December 2, 2016

Lada

Irwan menantang saya untuk makan ayam Richeese pedas level lima—saya iyakan dengan gembira. Lima potong sayap kemudian, lidah saya bergetar dan keringat timbul di kepala. Saya berkata, "Ini nirwana!"

Mbak Lina datang berdecak, "Ini bahaya ngga?"

Saya jawab, "Tentu, Mbak. But what's the point of living if we don't live dangerously?" Teman-teman lain tertawa dan bersorak. Freida menatap prihatin. 

Anak-anak kantor memang sudah hafal kelemahan saya. Ini memang kentara dari habisnya Sambal Bu Rudi dalam hitungan hari, antusiasme saya untuk pergi ke Indomie Abang Adek, dan kecepatan saya menandaskan Samyang yang dibawa Donghee. Begitu sambal jadi topik wicara, air liur saya terbit seketika. 

Ini tidak berarti saya kebal, kok. Perut saya tetap jeri—dan sekali dua kali saya terbungkuk-bungkuk di atas kloset meratapi kebodohan diri. 

Tapi biasanya tidak separah itu juga untungnya. Paling telapak tangan saya saja yang berdenyut sebagai protes harus ikut disiksa. Dan karena cuci tangan saya tidak menyeluruh. Kalau sudah begini, saya harus ingat untuk tidak menyentuh-nyentuh tubuh. Tak sengaja mengucek mata berarti mengundang siksa. Mengusap pipi membuat wajah serasa ingin dikuliti. 

Maka saya tidak terbayang bagaimana perihnya mereka yang dipaksa merancap dengan cabai giling. Mereka pikir penis itu ulekan sambal, apa ya? Gila. 

Tapi terlepas masalah susilanya, ini membuat satu pertanyaan bahasa terbersit di kepala saya. Kalau KBBI menyebutkan masturbasi dengan sabun sebagai sabsab, etiskah jika saya usul sebutan merancap pakai cabai dengan cabcab?

(Tidak apa-apa, mungkin memang baiknya abaikan saja.)


Monday, November 21, 2016

Putu Oka Sukanta, A Man of Courage

Few men are alive as Putu Oka Sukanta is alive. He practices acupuncture and traditional medicine. He writes poetry, short stories, and novels. He was also jailed during New Order’s anti-communist purge in 1966 for his involvement in Lekra. The government never put him on trial, and they only released him 10 years later. 

It is therefore unsurprising that many of his stories and poems deal with oppression. As a victim himself, he was subjected to physical torture in prison. In a documentary produced by AJAR, he recounted being hit, kicked, punched, and whipped with manta tails. At the same time, the lack of judicial process also means that he was treated as less than human being. For him, it was worse than being tortured.

After his release, he understood that his movements would be limited. He made a living by practicing acupuncture, a skill he acquired in prison from another prisoner. In the meantime, he continued to write about his experience in the prison but he found that there was extremely limited opportunity for publication. The powers that were embargoed works by ex-political prisoners, and when he won an award for his work on environment, the Ministry of Information soon after issued a regulation barring people involved with communism from publication. He was thoroughly cornered. 

Still, he found other ways for channel his creative work. He remembered Goethe Institute fondly: they gave him stage when everybody shunned him. To publish his work, one of his acupuncture patients helped him smuggle his manuscript, Tembang Jalak Bali, for publication in Malaysia. It was also published in English and was met with critical acclaim.

“The book is like a pair of wings. It carried me all over the world,” Putu said. Two poems from the book are included in Voices of Conscience, a worldwide collection of poems about state-sanctioned oppression. 

Putu Oka also understands that the imprisonment affected not only the political prisoners themselves, but also their immediate family and their environment. In his anthology, Tak ‘Kan Melupakanmu, he wrote short stories about people who “struck the line,” a euphemism that alleged involvement with the communist party. While his stories are often set in Bali, they do not paint a picture of an idyllic haven. Instead, they tell stories of innocent victims facing arbitrary dismissal from their jobs, enduring stigma and harassment from their family and communities, or death.

Today, Putu remains a prolific writer. As his health deteriorates, he relaxes his writing target to complete one book every two years. 

Over the years, his writing has branched out to other topics, including to HIV/AIDS. “I have always been drawn to marginalized communities,” he said. 

It is easy to imagine that had Putu Oka not been incarcerated, he would have championed the cause of marginalized people all the same. According to Putu Oka, people with HIV/AIDS face great discrimination and stigmatization just like him.

“This is an unending fight.”




Sunday, October 30, 2016

Gerhana

Awal Maret, saya berada di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kota ini ada di jalur lintasan Gerhana Matahari Total 2016 yang bergerak menyisir Kepulauan Indonesia dari Palembang dan Balikpapan, ke Poso dan Maba. Pada tanggal 9 Maret, bulan akan menutupi cakram matahari untuk mendesakkan malam ke langit pagi.

Jalur totalitas gerhana
Ini adalah kali pertama saya akan mengamati gerhana matahari dengan mata kepala sendiri. Tahun 2009, perjalanan saya ke Banten untuk mengamati gerhana matahari cincin berakhir sia-sia. Awan mendung menggagalkan rencana observasi. Di tahun 2012, saya meninggalkan Jepang terlalu dini, tiga bulan sebelum gerhana cincin melintasi sisi-sisi tenggara pulau-pulau utamanya.

Gerhana adalah peristiwa langka. Satu tahun hanya bisa ada empat hingga tujuh kali gerhana, dan lebih banyak di antaranya yang hanya merupakan gerhana penumbra yang tidak kasat mata. Irisan lintasan bumi dengan umbra bulan lebih jarang, dan untuk suatu tempat yang pernah dilintasi gerhana matahari, biasanya ada jeda waktu yang lama hingga peristiwa yang sama kembali berulang. Terakhir kali GMT diamati di negeri ini, Harmoko masih menjadi Menteri Penerangan, Soeharto masih ada di puncak kekuasaan. Saya baru berusia dua bulan di tahun 1988.

Banyak yang telah berubah, tentu saja. Kini masyarakat tidak lagi disuruh bersembunyi. Stasiun televisi berlomba-lomba menampilkan hitung mundur hingga waktu okultasi matahari.

Di Banggai, reservasi hotel sudah tidak mungkin dicari. Banyak wisman Barat berkeliaran di pusat keramaian. Mereka yang berkulit terang tampak mencolok, menarik perhatian saat menyeberang jalan. Pemkab memusatkan aktivitas perayaan gerhana di Pulau Dua. Mereka sekaligus menggelar Festival Babasal untuk menampilkan kesenian daerahnya. Pentolan-pentolan DPRD justru membuat acara tandingan di pusat kota. Festival Teluk Lalong disiapkan untuk memamerkan aneka makanan dan kerajinan. Semua antusias mempromosikan budaya, hampir tak ada yang ingat gerhana bisa jadi media pembelajaran IPA.

Saya memilih menyingkir dari hiruk-pikuk kota. Sehari menjelang gerhana, saya menuju Pegunungan Batui. Desa-desanya lebih sepi. Saya susun rencana observasi dari sekolah dasar di desa Trans Batui 5. Letaknya pas di atas bukit. Dari sana, vista timur terbentang terang.

Langit cerah ketika hari gerhana tiba. Ini pertanda bagus.

Saya dan dua teman seperjalanan menuju sekolah pukul setengah delapan kurang. Kami ditemani oleh guru-guru yang mengajar di desa itu. Seorang guru membawa sekarung rambutan dan beberapa ikat durian ke mushola. Ketika kami sampai, anak-anak berkerubut, lalu dihalau: mereka harus sembahyang sebelum menggasak durian. Kami tengok langit dengan kacamata gerhana: matahari sudah terlihat berbentuk sabit. Bedug dipukul, sholat gerhana dimulai.

Tidak semua warga dan anak-anak datang ke mushola. Hanya separuh yang Muslim saja yang ikut sholat gerhana. Di saat yang sama, mereka yang Hindu melaksanakan Amati Geni. Sekolah juga libur untuk Nyepi.

Selesai sholat gerhana, langit masih terang. Namun anak-anak telah siap dengan alat bantu mereka. Sebagian membawa kamera lubang jarum. Sebagian mengantre giliran memakai kacamata gerhana. Saya arahkan cahaya pembiasan binokular saya ke dinding mushola. Sabit matahari terlihat jelas makin cekung.

Pukul setengah sembilan, langit meredup. Pagi berasa senjakala dan angin dingin berembus. Temaram bayangan pohon di tanah dipecah oleh pola-pola sabit matahari. Malam datang.

Saya melepas kacamata gerhana saya ketika bulan seluruhnya menutupi sang surya. Langit gelap, dengan cincin berlian raksasa bercokol di angkasa. Korona matahari memang hanya nampak kilaunya ketika gerhana sempurna. Merkurius dan Venus menjadi tampak, mengarak matahari ke zenit. Dekat ufuk barat, Mars bertengger di rasi Scorpio. Kentongan ditabuh bertalu-talu.

Totalitas gerhana tidak berlangsung lama. Tidak sampai tiga menit setelahnya, bulan beranjak. Cincin berlian rusak, dan langit kembali berangsur terang. Gerhana telah usai. Saya menghela nafas panjang, sadar ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Gerhana matahari total di desa lain di Kabupaten Banggai. Foto Dhenny dari sini.

------------------------------
(Tulisan ini dibuat untuk tugas Kursus Narasi Pantau. Editing dibantu oleh @Hning.)

Friday, August 26, 2016

Hentian

Saya melambaikan tangan di pinggir jalan. Satu taksi berwarna putih menyalakan sen kiri dan mendekat. Saya masuk. Sopir taksi mengucap, "Alhamdulillah."

Hampir tidak pernah saya dapati reaksi pertama orang ketika bertemu saya adalah ungkapan syukur.

Saya berikan arah ke Salemba, lalu membenamkan diri ke jok kursi. Bapak sopir taksi mengiyakan, dan kami meluncur. Sembari menuju daerah Pasar Senen, bapak sopir berkata bahwa saya adalah penumpang terakhirnya. Suaranya letih.

Dugaan pertama saya, taksi ini adalah satu dari sekian banyak taksi yang terkena dampak persaingan dengan Uber dan aplikasi serupa. Mungkin dia kesulitan mencari penumpang.

Dugaan kedua saya, dia separuh berharap bahwa penumpang yang dia ambil tidak akan membawanya ke luar kota, mungkin karena dia sudah mengarah menuju pul.

Dugaan ketiga saya, dia hampir belum memenuhi setoran di penghujung sifnya, dan bersyukur ongkos saya akan bisa menggenapinya.

Ketiga dugaan saya ternyata salah semua. Terhitung hari itu, ia tidak akan lagi menjadi sopir taksi. Paling tidak untuk sementara waktu. Lepas mengantar saya, ia akan kembali ke pul, lalu menyerahkan kembali taksinya. Ia sudah belasan hari tidak menarik taksi, dan hutang setorannya menumpuk. Selama itu pula taksinya absen dari pul, dan kini pihak manajemen menuntut dia untuk mengembalikan taksinya.

"Supervisor saya baik Pak orangnya. Dia bilang, saya tidak perlu bayar dendanya, tapi hanya setorannya saja." Tapi tetap saja, uang dari mana?

Kami berhenti, menunggu palang kereta api naik kembali di Pasar Senen. Dari spion terlihat matanya merembang merah.

Selama belasan hari, ia sudah menghabiskan waktunya di rumah sakit. Anaknya yang kecil menjadi korban tabrak lari, dan ia menungguinya di sana. Biaya rumah sakit tidak sedikit, meski sudah dikurangi BPJS Kesehatan.

Ketika saya memberanikan diri bertanya apakah si ibu tidak ada untuk ikut menjaga anaknya, ia menjawab bahwa mendiang istrinya belum genap empat puluh hari meninggal dunia. Anak-anaknya yang lebih tua ikut menjaga, tapi lalu segera diminta kembali bekerja oleh bos mereka.

Ia kembali mengucek matanya.

Pascaoperasi, anaknya akan bergantung pada kursi roda dan tidak akan lagi bisa berlari. Ia kasihan, dan berkata kalau di benaknya sudah terlintas macam-macam. Ia ulangi sekali lagi, bahwa ia sudah berpikir macam-macam, sebelum melanjutkan dengan kalimat-kalimat rumpang tentang mencuri dan bunuh diri.

Tapi ia masih bisa menghentikan taksi untuk saya tumpangi. Syukur, pikirnya, ada yang menghentikan dia.

Kami tiba di Salemba. Saya turun dengan masygul.

Friday, July 29, 2016

Tebas

Muhammad menghunus pedangnya.

Kedua tangannya memegang gagang pedang. Pedangnya terulur ke bawah badan di sisi kanan. Mata depan pedangnya menghadap Ryan, yang menyampirkan pedangnya di atas bahu kanan.

Muhammad menyabet maju. Ia mengincar lutut kiri Ryan. Pedangnya menebas naik ke tengah dahi.

Ryan menumbukkan pedangnya turun. Pedangnya menghantam pedang Muhammad.

Pedang Ryan berkertak. Ia memekik. Separuh bilahnya terlontar.

Apabila Muhammad dan Ryan benar-benar bertempur, situasi sudah genting. Namun adu pedang mereka berhenti ketika pedang Ryan patah, dan patahannya ia pungut untuk direkatkan kembali. Pedangnya juga hanya terbuat dari kayu.


Pertempuran ini adalah bagian dari latihan kelompok Gwaith-i-Megyr di Taman Suropati, Menteng. Tiap hari Minggu, sekitar sepuluh anggotanya berkumpul untuk berlatih ilmu bela diri Eropa kuno menggunakan pedang panjang. Di kelompok ini, mereka mempelajari manuskrip bela diri dari akhir abad ke-14. Ada dua mentor yang melatih kelompok ini. Ari mengajarkan teknik Fiore dari Italia, sementara Dani memberi pelajaran teknik Liechtenauer dari Jerman Selatan.

Pedang panjang yang digunakan latihan dibuat dari kayu jati atau kayu kamper. Panjang bilahnya berkisar satu meter. Di antara gagang dan bilah, ada batang silang yang berfungsi untuk melindungi tangan penggunanya agar tidak tersayat mata pedang secara tak sengaja. Selain itu, batang silang ini juga berguna sebagai alat untuk menangkap dan menggiring pedang lawan.

Meski menggunakan pedang kayu ketika latihan, risiko terluka tidak serta-merta hilang. Anggota yang lengah harus ikhlas ketika lengan dan dada mereka terantuk mata pedang. Lecet dan memar menjadi biasa.

Latihan Gwaith-i-Megyr memang banyak berkutat di posisi bertahan, cara tangkisan, dan cara menetralisir serangan. Alasannya? “Bunuh orang pakai pedang itu gampang,” kata Dani. “Yang susah itu gimana caranya kita ngga ikut mati waktu menyerang.”

Wednesday, June 15, 2016

PM Suka Menulis

Hari Sabtu yang lalu saya bangun dengan satu pertanyaan terbersit di kepala: bisakah sebuah akun Twitter dipakai untuk broadcast beberapa blog sekaligus?

Buka browser, cek: ah, tentu saja sudah ada yang pernah tanya di Quora. Dari situ saya penasaran mencoba, lalu bikin akun twitter untuk uji cobanya (@tetulisan). Yang menariknya lagi, saya jadi tahu kalau prosesnya bisa diotomatisasi dengan cara RSS blog tersebut digabung jadi satu RSS dulu. Lepas itu, baru RSS gabungannya dipakai untuk disambungkan ke Twitter.

Percobaan pertama saya pakai blog ini, blog Shally, blog Awe, blog Mbak Yanti, dan blog Angga. Persamaan kami semua? Sama-sama alumni pengajar muda, sama-sama punya blog (duh), dan sama-sama ada di grup WhatsApp PM Suka Menulis. 



Saya coba gabungkan dengan RSSMix, sambungkan ke Twitter dengan dlvr.it, tes. Sukses.




Siangnya saya buka tawaran untuk yang berminat blognya disambungkan ke twitter ini. Responnya macam-macam. Banyak yang sigap (dikomandoi oleh Hety), ada yang ga yakin Tumblr punya RSS (Rini), ada yang siwer dan malah ngasih alamat e-mail alih-alih blog (Hanan), ada yang beralih nawarin nonton teater JKT48 (Awe), dan beberapa mengaku galau dan ga pede karena "kebanyakan nyampah pribadi" (Fahmi, Rayi).

Di penghujung akhir pekan, ada 22 alamat blog berjejer (kurang lebih) rapi. Dari sini saya belajar beberapa hal baru:

1. RSSMix bisa ngegabungin RSS dengan sangat simpel. Total no-brainer. Tapi ternyata ga memungkinkan untuk menyunting RSS sumber ke RSS gabungan. Begitu udah digenerate, kalau mau ditambahin blog baru, URL mix RSSnya akan berubah. Ketika Senin pagi saya rekap jadi http://www.rssmix.com/u/8195385/rss.xml, kalau saya tambahkan feed blog yang menyusul belakangan, RSSnya akan berubah. Ini berarti kalau ada yang menambahkan dari RSS mix di atas tidak akan dapat pembaruan dari blog-blog alumni PM yang saya tambahkan belakangan. Saat ini feed yang terbaru saya taruh di halaman profil @tetulisan.

2. Untuk integrasi ke Twitter, saya coba tiga alat: dlvr.ittwibble.io, dan twitterfeed.com

2a. Saya paling suka dlvr.it sebetulnya, yang saya coba pertama. Tapi versi gratisnya maksimal cuma 5 RSS, dan RSS bersama dari RSS mix di atas ditolak karena lebih besar dari 512 kb. (sementara langganan per tahun $100). Kalau saya tahu bakal sampai 30an lebih anggota grup tertarik, saya mungkin akan menawarkan opsi urun dana. Tapi saya malas ngurusin printilan transfernya. Jadilah saya cari alternatif lain.


2b. Twibble.io ternyata mampu handle RSS gabungan, tapi dia nempel link campaign twibble.io yang bikin tweetnya terlalu riuh sampai jadi agak geuleuh. Plus, karena RSS gabungan yang dipakai, saya ga bisa set untuk nge-tag siapa yang menulis.



2c. Twitterfeed.com sebenernya UI-nya saya ga suka, tapi ternyata dia yang paling fleksibel. Sejauh ini bisa dipasang 35 feed (dan gratis). 


Dengan Twitterfeed.com, saya awalnya berniat mau pakai dari RSSmixnya saja, supaya satu feed saja gampang. Tapi ini membuat tweetnya tidak bisa dimodifikasi agar ada tulisan dari blog siapa yang dicuitkan. Maka saya jadinya masukin feednya satu-satu.



Komentar Shally, saya ini merepotkan diri. Memang sih, saya bisa pake Java untuk otomatisasi, tapi malas ah memfamiliarkan diri dengan bahasa baru di hari Minggu. (Plus berkelitnya mudah, mau coba R dulu).

3. Ada beberapa blog yang gagal dimasukkan. Awalnya, punya Suhar karena dari blognya ngga ada RSS-nya ("no valid URL was provided", kata chimpfeedr), sementara kalau dari Mas Arif (http://ariflukman.com/feed/) gagalnya karena "Your feed might be empty or missing publish dates or GUIDs. A feed needs to contain publish dates or GUIDs in order to work with twitterfeed, see help". Punya Suhar setelah diutik-utik jadi bisa juga sih.

4. Hampir tidak terkait, tapi ternyata blog yang alamatnya bukan nama si empunya itu barang yang lumayan langka. Termasuk saya dan Mbak Yanti, hanya ada enam blog yang tidak ada unsur nama di tautannya. Sebagian malah punya domain sendiri dengan namanya. Tapi saya mah sadar diri, nama saya sulit dieja, kalau pakai nama diri pasti orang lebih susah ingatnya. Sementara itu, gagang pintu kuning kalaupun nyasar paling cuma nyasar ke Inggris, Brasil, atau Kazakhstan.

yellow.door.knob di sistem alamat what3words.com
Sekarang, lalu apa? Ya sudah, saya tinggal ikuti akun twitternya (@tetulisan), dan lihat apakah ada tulisan yang menarik minat saya. (Sambil berharap yang pada nulis bisa membedakan di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Karena ternyata masih banyak saja yang menulis "di jual" dan "dimana". Kedua contoh barusan salah, karena yang betul adalah "dijual" dan "di mana".)

Mari membaca!

Wednesday, June 8, 2016

Writing

I think I read too much these days. More precisely, I’m swinging wildly between not reading enough and reading too much. In the past month alone I finished 20 books.

All these reading, naturally lead to the itch to write. And yet all that I could muster was that 257-word short post.

I used to be able to write more often, but I also hadn’t been able to maintain a personal journal since my days in Banggai. It’s not that I don’t write at all, I write emails daily, and work brings innumerable proposals, presentations, reports to write. But those aren’t going to cut it. I want to write more for myself, if I had the time.

Time. Of course I haven’t had the time. And the little time that I have, is barely enough for that. Case in point: it took me 4 hours and 19 minutes to write and publish that last post. I’m not a very fast writer, that’s why.

And yet, despite the length of time it was remarkably quick. I had the prompt on the Wednesday before and my mind decided that I want to write the post shortly after. It was only a matter of fleshing out the retort in the upcoming days.

But even with the skeleton of the idea ready I had not had the time to write it. I was in the field and as such, mostly on the road. Writing on my android phone feels clunky, and as I just recovered from motion sickness nausea a couple of days before, typing on a tiny screen in a moving vehicle seemed to be tempting fate.

So I decided to write the outline on my notebook. My scribbles didn’t have to be legible. I know that the act of writing by hand alone will give me sufficient memory anchors. The scribbles will help when I type them on my laptop.

***

In writing that post, somewhere along the way, I decided I was going to reuse one of the narrative styles that I had used before. When I reflected back on my volunteering experience from Tohoku, I juxtaposed what was impossible with what was possible. Each paragraph highlights either a possibility or an impossibility.

Same goes with that last post. Each paragraph expands on one aspect of possible reason why living in the village could be boring. But I abhor repetition, and I fired up my thesaurus and dictionary as I write that. I want the regularity of a pattern, but I did not want it to sound repetitive. I don’t know if I succeeded.

As it were, I took the longest time trying to track down the appropriate links for the body text. Blog archives and Ruang Belajar pages. Kuat’s Facebook note. Facebook pictures.

I collected more, but decided to discard some. I wanted to include Auliya’s phallic corpse flower, but it made the first paragraph too long. I wanted to include the time when I taught my students digestive systems, but the MyOpera links were already down. I wanted to put in more, more, more.

Part of it is the feeling that I don’t do my year justice with that very short blog post, because how do you boil down a very eventful year to 200-something words? In my scribbles, I noted how I wanted to put a paragraph for Pak Tasmin the headmaster (who eschews inflating marks for the students’ national exam), the teachers (Bu Ade was married last week! The teachers were all so kind to me.), my despair of constantly being on my wit’s end, the forests that was cleared to make way for oil palms, the rivers, the people!

But I couldn’t put all that in. It was already past midnight in Labuan Bajo, and my laptop battery is almost tapped out. I didn’t bring my plug adaptor—it’s already a miracle that my laptop lasted the whole week without being recharged. So I had better post that blog there and then.

I hit the ‘post’ button, and shortly after the screen went dark. I went to sleep afterwards.

***

I can write quick if I paid less attention to coherence in the message. When I returned to Banggai a couple of months ago (has it been really that long?), I poured my week into 21 pages easily in a matter of days. The only trade-off that I took to produce that 8,615 words in 10 days was that I was mainly a silent (sullen?) companion to Danti on our way back to Jakarta. But I think she understood.

When coherence is at stake, though, the length of time that I need haemorrhage. I volunteered to write the narration for PM V Halmahera Selatan in mid-2015, and I only finished writing the 7,716 word-long piece 221 days later in early 2016. Naturally, I was feeling absolutely high.

Similarly, I had the idea to write about my impressions testing EGRA and EGMA shortly after I returned from Kuningan in August 2016, but the completion was delayed. First I meant to catch the momentum of nostalgia waves from the 5-year anniversary of PM I’s deployment in November. I missed that. Then I meant to seize upon the enthusiasm of PM XI’s training. I missed that, too. I changed course to ride on PM IX’s return to Jakarta, but still it was not ready in time. Only then after IM celebration event I finally finished writing that email.

***

All these writing, and for what? Vanity? Posterity?

I like to think that writing—my writing can change the world. It’s the ideal that I subscribed to when I was active writing letters and pleas to/on behalf of Amnesty International’s prisoners of conscience.

I don’t know, I like to think that my letters helped. I hoped that my letters helped.  That, despite the clunkiness of my language. I am acutely aware that the way I write is very often overly verbose and prone to veer off at tangents.

We’re not being taught to write enough. I was taught only to write very little. In 5th grade, I dreaded the Indonesian class when one day my teacher had us write a short story. Perhaps the only other Indonesian lesson that I hated was when they made us take turns to recite Taufiq Ismail's poem Rendezvous in front of the class.

Is it any wonder now that you never, ever, ever see me writing fiction or poetry?

Of course I don’t hate fiction or poetry. Fictions, at least is the staple of my reading. I understand its power, and I stand in awe before its majesty (that fiction is so malleable and thus can provoke minds and imprint complex ideas is nothing short of majestic to me).

But given how I detest writing anything that resemble fiction, naturally this leaves me with an imperative to improve my non-fiction writing. This is what led me to this course.

Am I excited? Yes. Am I ready for such intensive course? Hell no. Would I be able to commit to the whole program? I hope so. Am I ready to have my ego bruised and battered from going to the course? Hahahah.

But you can just ask me again if I’m excited, and I’ll keep on answering yes.

Saturday, May 28, 2016

Jemu


"Seperti inikah dulu di desa tempatmu mengajar dulu? Pasti sangat menjemukan," komentar si Bapak yang ikut bepergian bersama saya ke tengah Pulau Flores.

Apabila saya menganggap alam itu membosankan, maka ya: hidup satu tahun di desa tidak tertahankan. Tapi bagaimana bisa saya merasa biasa memergoki kerumunan kera bersiaga di tepi jalan antardesa? Sementara itu, di laut yang tak pernah jauh, saya bisa berenang berdekatan dengan ikan-ikan badut jingga. Desaku mendekatkanku dengan alam yang sedikit dijamah manusia.

Jika saya tidak punya kesempatan bertualang, maka ya: enggan saya hidup satu tahun di desa. Namun ketika saya dapati bulu kuduk meremang karena harus berkendara di tengah kegelapan, saya sadar di sini petualangan gampang didapatkan, meski sekadar dari perjalanan ke desa seberang. Desaku membuat nafas memburu.

Seumpama saya menganggap sepi itu membosankan, maka ya: hidup satu tahun di desa sangat menjemukan. Tapi desaku tak pernah sepi. Anak-anaknya sigap untuk menjadi riuh agar aku bangun dari tidur siang, mungkin karena akhirnya mereka tidak merasa belajar itu membosankan. Desaku ramai.

Sekiranya bekerja di desa itu tidak menantang, maka ya: mengajar satu tahun di desa akan membuatku mengharap pulang. Akan tetapi, mengajar membuatku tahu betapa sulitnya terus menjadi seseorang yang bisa digugu dan ditiru. Lebih dari itu, mengajar mempertemukanku dengan anak-anak yang haus untuk selalu belajar hal yang baru. Desaku memberi tempat harapan bertumpu.

Seandainya saya hidup di desa tanpa teman bercerita, maka ya: hidup bosan satu tahun tentunya sangat merana. Memang ada masanya saya kebingungan dengan cara penduduknya berbahasa. Namun saya akhirnya sedikit-banyak ikut terbiasa. Pun saya selalu bisa bercengkerama dengan lima teman yang pribadinya luar biasa. Desaku memberi keluarga baru.

Desaku gagal membuatku merasa jemu.