Friday, August 26, 2016

Hentian

Saya melambaikan tangan di pinggir jalan. Satu taksi berwarna putih menyalakan sen kiri dan mendekat. Saya masuk. Sopir taksi mengucap, "Alhamdulillah."

Hampir tidak pernah saya dapati reaksi pertama orang ketika bertemu saya adalah ungkapan syukur.

Saya berikan arah ke Salemba, lalu membenamkan diri ke jok kursi. Bapak sopir taksi mengiyakan, dan kami meluncur. Sembari menuju daerah Pasar Senen, bapak sopir berkata bahwa saya adalah penumpang terakhirnya. Suaranya letih.

Dugaan pertama saya, taksi ini adalah satu dari sekian banyak taksi yang terkena dampak persaingan dengan Uber dan aplikasi serupa. Mungkin dia kesulitan mencari penumpang.

Dugaan kedua saya, dia separuh berharap bahwa penumpang yang dia ambil tidak akan membawanya ke luar kota, mungkin karena dia sudah mengarah menuju pul.

Dugaan ketiga saya, dia hampir belum memenuhi setoran di penghujung sifnya, dan bersyukur ongkos saya akan bisa menggenapinya.

Ketiga dugaan saya ternyata salah semua. Terhitung hari itu, ia tidak akan lagi menjadi sopir taksi. Paling tidak untuk sementara waktu. Lepas mengantar saya, ia akan kembali ke pul, lalu menyerahkan kembali taksinya. Ia sudah belasan hari tidak menarik taksi, dan hutang setorannya menumpuk. Selama itu pula taksinya absen dari pul, dan kini pihak manajemen menuntut dia untuk mengembalikan taksinya.

"Supervisor saya baik Pak orangnya. Dia bilang, saya tidak perlu bayar dendanya, tapi hanya setorannya saja." Tapi tetap saja, uang dari mana?

Kami berhenti, menunggu palang kereta api naik kembali di Pasar Senen. Dari spion terlihat matanya merembang merah.

Selama belasan hari, ia sudah menghabiskan waktunya di rumah sakit. Anaknya yang kecil menjadi korban tabrak lari, dan ia menungguinya di sana. Biaya rumah sakit tidak sedikit, meski sudah dikurangi BPJS Kesehatan.

Ketika saya memberanikan diri bertanya apakah si ibu tidak ada untuk ikut menjaga anaknya, ia menjawab bahwa mendiang istrinya belum genap empat puluh hari meninggal dunia. Anak-anaknya yang lebih tua ikut menjaga, tapi lalu segera diminta kembali bekerja oleh bos mereka.

Ia kembali mengucek matanya.

Pascaoperasi, anaknya akan bergantung pada kursi roda dan tidak akan lagi bisa berlari. Ia kasihan, dan berkata kalau di benaknya sudah terlintas macam-macam. Ia ulangi sekali lagi, bahwa ia sudah berpikir macam-macam, sebelum melanjutkan dengan kalimat-kalimat rumpang tentang mencuri dan bunuh diri.

Tapi ia masih bisa menghentikan taksi untuk saya tumpangi. Syukur, pikirnya, ada yang menghentikan dia.

Kami tiba di Salemba. Saya turun dengan masygul.

Friday, July 29, 2016

Tebas

Muhammad menghunus pedangnya.

Kedua tangannya memegang gagang pedang. Pedangnya terulur ke bawah badan di sisi kanan. Mata depan pedangnya menghadap Ryan, yang menyampirkan pedangnya di atas bahu kanan.

Muhammad menyabet maju. Ia mengincar lutut kiri Ryan. Pedangnya menebas naik ke tengah dahi.

Ryan menumbukkan pedangnya turun. Pedangnya menghantam pedang Muhammad.

Pedang Ryan berkertak. Ia memekik. Separuh bilahnya terlontar.

Apabila Muhammad dan Ryan benar-benar bertempur, situasi sudah genting. Namun adu pedang mereka berhenti ketika pedang Ryan patah, dan patahannya ia pungut untuk direkatkan kembali. Pedangnya juga hanya terbuat dari kayu.


Pertempuran ini adalah bagian dari latihan kelompok Gwaith-i-Megyr di Taman Suropati, Menteng. Tiap hari Minggu, sekitar sepuluh anggotanya berkumpul untuk berlatih ilmu bela diri Eropa kuno menggunakan pedang panjang. Di kelompok ini, mereka mempelajari manuskrip bela diri dari akhir abad ke-14. Ada dua mentor yang melatih kelompok ini. Ari mengajarkan teknik Fiore dari Italia, sementara Dani memberi pelajaran teknik Liechtenauer dari Jerman Selatan.

Pedang panjang yang digunakan latihan dibuat dari kayu jati atau kayu kamper. Panjang bilahnya berkisar satu meter. Di antara gagang dan bilah, ada batang silang yang berfungsi untuk melindungi tangan penggunanya agar tidak tersayat mata pedang secara tak sengaja. Selain itu, batang silang ini juga berguna sebagai alat untuk menangkap dan menggiring pedang lawan.

Meski menggunakan pedang kayu ketika latihan, risiko terluka tidak serta-merta hilang. Anggota yang lengah harus ikhlas ketika lengan dan dada mereka terantuk mata pedang. Lecet dan memar menjadi biasa.

Latihan Gwaith-i-Megyr memang banyak berkutat di posisi bertahan, cara tangkisan, dan cara menetralisir serangan. Alasannya? “Bunuh orang pakai pedang itu gampang,” kata Dani. “Yang susah itu gimana caranya kita ngga ikut mati waktu menyerang.”

Wednesday, June 15, 2016

PM Suka Menulis

Hari Sabtu yang lalu saya bangun dengan satu pertanyaan terbersit di kepala: bisakah sebuah akun Twitter dipakai untuk broadcast beberapa blog sekaligus?

Buka browser, cek: ah, tentu saja sudah ada yang pernah tanya di Quora. Dari situ saya penasaran mencoba, lalu bikin akun twitter untuk uji cobanya (@tetulisan). Yang menariknya lagi, saya jadi tahu kalau prosesnya bisa diotomatisasi dengan cara RSS blog tersebut digabung jadi satu RSS dulu. Lepas itu, baru RSS gabungannya dipakai untuk disambungkan ke Twitter.

Percobaan pertama saya pakai blog ini, blog Shally, blog Awe, blog Mbak Yanti, dan blog Angga. Persamaan kami semua? Sama-sama alumni pengajar muda, sama-sama punya blog (duh), dan sama-sama ada di grup WhatsApp PM Suka Menulis. 



Saya coba gabungkan dengan RSSMix, sambungkan ke Twitter dengan dlvr.it, tes. Sukses.




Siangnya saya buka tawaran untuk yang berminat blognya disambungkan ke twitter ini. Responnya macam-macam. Banyak yang sigap (dikomandoi oleh Hety), ada yang ga yakin Tumblr punya RSS (Rini), ada yang siwer dan malah ngasih alamat e-mail alih-alih blog (Hanan), ada yang beralih nawarin nonton teater JKT48 (Awe), dan beberapa mengaku galau dan ga pede karena "kebanyakan nyampah pribadi" (Fahmi, Rayi).

Di penghujung akhir pekan, ada 22 alamat blog berjejer (kurang lebih) rapi. Dari sini saya belajar beberapa hal baru:

1. RSSMix bisa ngegabungin RSS dengan sangat simpel. Total no-brainer. Tapi ternyata ga memungkinkan untuk menyunting RSS sumber ke RSS gabungan. Begitu udah digenerate, kalau mau ditambahin blog baru, URL mix RSSnya akan berubah. Ketika Senin pagi saya rekap jadi http://www.rssmix.com/u/8195385/rss.xml, kalau saya tambahkan feed blog yang menyusul belakangan, RSSnya akan berubah. Ini berarti kalau ada yang menambahkan dari RSS mix di atas tidak akan dapat pembaruan dari blog-blog alumni PM yang saya tambahkan belakangan. Saat ini feed yang terbaru saya taruh di halaman profil @tetulisan.

2. Untuk integrasi ke Twitter, saya coba tiga alat: dlvr.ittwibble.io, dan twitterfeed.com

2a. Saya paling suka dlvr.it sebetulnya, yang saya coba pertama. Tapi versi gratisnya maksimal cuma 5 RSS, dan RSS bersama dari RSS mix di atas ditolak karena lebih besar dari 512 kb. (sementara langganan per tahun $100). Kalau saya tahu bakal sampai 30an lebih anggota grup tertarik, saya mungkin akan menawarkan opsi urun dana. Tapi saya malas ngurusin printilan transfernya. Jadilah saya cari alternatif lain.


2b. Twibble.io ternyata mampu handle RSS gabungan, tapi dia nempel link campaign twibble.io yang bikin tweetnya terlalu riuh sampai jadi agak geuleuh. Plus, karena RSS gabungan yang dipakai, saya ga bisa set untuk nge-tag siapa yang menulis.



2c. Twitterfeed.com sebenernya UI-nya saya ga suka, tapi ternyata dia yang paling fleksibel. Sejauh ini bisa dipasang 35 feed (dan gratis). 


Dengan Twitterfeed.com, saya awalnya berniat mau pakai dari RSSmixnya saja, supaya satu feed saja gampang. Tapi ini membuat tweetnya tidak bisa dimodifikasi agar ada tulisan dari blog siapa yang dicuitkan. Maka saya jadinya masukin feednya satu-satu.



Komentar Shally, saya ini merepotkan diri. Memang sih, saya bisa pake Java untuk otomatisasi, tapi malas ah memfamiliarkan diri dengan bahasa baru di hari Minggu. (Plus berkelitnya mudah, mau coba R dulu).

3. Ada beberapa blog yang gagal dimasukkan. Awalnya, punya Suhar karena dari blognya ngga ada RSS-nya ("no valid URL was provided", kata chimpfeedr), sementara kalau dari Mas Arif (http://ariflukman.com/feed/) gagalnya karena "Your feed might be empty or missing publish dates or GUIDs. A feed needs to contain publish dates or GUIDs in order to work with twitterfeed, see help". Punya Suhar setelah diutik-utik jadi bisa juga sih.

4. Hampir tidak terkait, tapi ternyata blog yang alamatnya bukan nama si empunya itu barang yang lumayan langka. Termasuk saya dan Mbak Yanti, hanya ada enam blog yang tidak ada unsur nama di tautannya. Sebagian malah punya domain sendiri dengan namanya. Tapi saya mah sadar diri, nama saya sulit dieja, kalau pakai nama diri pasti orang lebih susah ingatnya. Sementara itu, gagang pintu kuning kalaupun nyasar paling cuma nyasar ke Inggris, Brasil, atau Kazakhstan.

yellow.door.knob di sistem alamat what3words.com
Sekarang, lalu apa? Ya sudah, saya tinggal ikuti akun twitternya (@tetulisan), dan lihat apakah ada tulisan yang menarik minat saya. (Sambil berharap yang pada nulis bisa membedakan di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Karena ternyata masih banyak saja yang menulis "di jual" dan "dimana". Kedua contoh barusan salah, karena yang betul adalah "dijual" dan "di mana".)

Mari membaca!

Wednesday, June 8, 2016

Writing

I think I read too much these days. More precisely, I’m swinging wildly between not reading enough and reading too much. In the past month alone I finished 20 books.

All these reading, naturally lead to the itch to write. And yet all that I could muster was that 257-word short post.

I used to be able to write more often, but I also hadn’t been able to maintain a personal journal since my days in Banggai. It’s not that I don’t write at all, I write emails daily, and work brings innumerable proposals, presentations, reports to write. But those aren’t going to cut it. I want to write more for myself, if I had the time.

Time. Of course I haven’t had the time. And the little time that I have, is barely enough for that. Case in point: it took me 4 hours and 19 minutes to write and publish that last post. I’m not a very fast writer, that’s why.

And yet, despite the length of time it was remarkably quick. I had the prompt on the Wednesday before and my mind decided that I want to write the post shortly after. It was only a matter of fleshing out the retort in the upcoming days.

But even with the skeleton of the idea ready I had not had the time to write it. I was in the field and as such, mostly on the road. Writing on my android phone feels clunky, and as I just recovered from motion sickness nausea a couple of days before, typing on a tiny screen in a moving vehicle seemed to be tempting fate.

So I decided to write the outline on my notebook. My scribbles didn’t have to be legible. I know that the act of writing by hand alone will give me sufficient memory anchors. The scribbles will help when I type them on my laptop.

***

In writing that post, somewhere along the way, I decided I was going to reuse one of the narrative styles that I had used before. When I reflected back on my volunteering experience from Tohoku, I juxtaposed what was impossible with what was possible. Each paragraph highlights either a possibility or an impossibility.

Same goes with that last post. Each paragraph expands on one aspect of possible reason why living in the village could be boring. But I abhor repetition, and I fired up my thesaurus and dictionary as I write that. I want the regularity of a pattern, but I did not want it to sound repetitive. I don’t know if I succeeded.

As it were, I took the longest time trying to track down the appropriate links for the body text. Blog archives and Ruang Belajar pages. Kuat’s Facebook note. Facebook pictures.

I collected more, but decided to discard some. I wanted to include Auliya’s phallic corpse flower, but it made the first paragraph too long. I wanted to include the time when I taught my students digestive systems, but the MyOpera links were already down. I wanted to put in more, more, more.

Part of it is the feeling that I don’t do my year justice with that very short blog post, because how do you boil down a very eventful year to 200-something words? In my scribbles, I noted how I wanted to put a paragraph for Pak Tasmin the headmaster (who eschews inflating marks for the students’ national exam), the teachers (Bu Ade was married last week! The teachers were all so kind to me.), my despair of constantly being on my wit’s end, the forests that was cleared to make way for oil palms, the rivers, the people!

But I couldn’t put all that in. It was already past midnight in Labuan Bajo, and my laptop battery is almost tapped out. I didn’t bring my plug adaptor—it’s already a miracle that my laptop lasted the whole week without being recharged. So I had better post that blog there and then.

I hit the ‘post’ button, and shortly after the screen went dark. I went to sleep afterwards.

***

I can write quick if I paid less attention to coherence in the message. When I returned to Banggai a couple of months ago (has it been really that long?), I poured my week into 21 pages easily in a matter of days. The only trade-off that I took to produce that 8,615 words in 10 days was that I was mainly a silent (sullen?) companion to Danti on our way back to Jakarta. But I think she understood.

When coherence is at stake, though, the length of time that I need haemorrhage. I volunteered to write the narration for PM V Halmahera Selatan in mid-2015, and I only finished writing the 7,716 word-long piece 221 days later in early 2016. Naturally, I was feeling absolutely high.

Similarly, I had the idea to write about my impressions testing EGRA and EGMA shortly after I returned from Kuningan in August 2016, but the completion was delayed. First I meant to catch the momentum of nostalgia waves from the 5-year anniversary of PM I’s deployment in November. I missed that. Then I meant to seize upon the enthusiasm of PM XI’s training. I missed that, too. I changed course to ride on PM IX’s return to Jakarta, but still it was not ready in time. Only then after IM celebration event I finally finished writing that email.

***

All these writing, and for what? Vanity? Posterity?

I like to think that writing—my writing can change the world. It’s the ideal that I subscribed to when I was active writing letters and pleas to/on behalf of Amnesty International’s prisoners of conscience.

I don’t know, I like to think that my letters helped. I hoped that my letters helped.  That, despite the clunkiness of my language. I am acutely aware that the way I write is very often overly verbose and prone to veer off at tangents.

We’re not being taught to write enough. I was taught only to write very little. In 5th grade, I dreaded the Indonesian class when one day my teacher had us write a short story. Perhaps the only other Indonesian lesson that I hated was when they made us take turns to recite Taufiq Ismail's poem Rendezvous in front of the class.

Is it any wonder now that you never, ever, ever see me writing fiction or poetry?

Of course I don’t hate fiction or poetry. Fictions, at least is the staple of my reading. I understand its power, and I stand in awe before its majesty (that fiction is so malleable and thus can provoke minds and imprint complex ideas is nothing short of majestic to me).

But given how I detest writing anything that resemble fiction, naturally this leaves me with an imperative to improve my non-fiction writing. This is what led me to this course.

Am I excited? Yes. Am I ready for such intensive course? Hell no. Would I be able to commit to the whole program? I hope so. Am I ready to have my ego bruised and battered from going to the course? Hahahah.

But you can just ask me again if I’m excited, and I’ll keep on answering yes.

Saturday, May 28, 2016

Jemu


"Seperti inikah dulu di desa tempatmu mengajar dulu? Pasti sangat menjemukan," komentar si Bapak yang ikut bepergian bersama saya ke tengah Pulau Flores.

Apabila saya menganggap alam itu membosankan, maka ya: hidup satu tahun di desa tidak tertahankan. Tapi bagaimana bisa saya merasa biasa memergoki kerumunan kera bersiaga di tepi jalan antardesa? Sementara itu, di laut yang tak pernah jauh, saya bisa berenang berdekatan dengan ikan-ikan badut jingga. Desaku mendekatkanku dengan alam yang sedikit dijamah manusia.

Jika saya tidak punya kesempatan bertualang, maka ya: enggan saya hidup satu tahun di desa. Namun ketika saya dapati bulu kuduk meremang karena harus berkendara di tengah kegelapan, saya sadar di sini petualangan gampang didapatkan, meski sekadar dari perjalanan ke desa seberang. Desaku membuat nafas memburu.

Seumpama saya menganggap sepi itu membosankan, maka ya: hidup satu tahun di desa sangat menjemukan. Tapi desaku tak pernah sepi. Anak-anaknya sigap untuk menjadi riuh agar aku bangun dari tidur siang, mungkin karena akhirnya mereka tidak merasa belajar itu membosankan. Desaku ramai.

Sekiranya bekerja di desa itu tidak menantang, maka ya: mengajar satu tahun di desa akan membuatku mengharap pulang. Akan tetapi, mengajar membuatku tahu betapa sulitnya terus menjadi seseorang yang bisa digugu dan ditiru. Lebih dari itu, mengajar mempertemukanku dengan anak-anak yang haus untuk selalu belajar hal yang baru. Desaku memberi tempat harapan bertumpu.

Seandainya saya hidup di desa tanpa teman bercerita, maka ya: hidup bosan satu tahun tentunya sangat merana. Memang ada masanya saya kebingungan dengan cara penduduknya berbahasa. Namun saya akhirnya sedikit-banyak ikut terbiasa. Pun saya selalu bisa bercengkerama dengan lima teman yang pribadinya luar biasa. Desaku memberi keluarga baru.

Desaku gagal membuatku merasa jemu.

Friday, April 8, 2016

At Pasar Senen

This is my sister, my mom, and me.

I rarely post about my mom—and part of it is maybe because of the distance, the whole five hundred kilometers and so between Jakarta and Klaten. And I don’t go home often enough.

Thursday, March 17, 2016

Refleksi Selebrasi Lima Tahun IM

“Ketemu di Gambir yaaa,” komentar teman Penyala Banggai ketika saya bertanya apakah dia ada rencana datang ke Jakarta. Saya sama sekali lupa kalau ada yang janggal dengan kalimatnya. Saya waktu itu berpikir wajar saja kalau orang ke Jakarta tibanya di Gambir, tapi tidak sadar kalau tidak ada jalur langsung Jakarta-Banggai via kereta api.

Baru ketika dia mengepost update bahwa Penyala Makassar dan Penyala Jogja sudah bertolak ke Jakarta untuk ikut Selebrasi saya jadi ngeh kalau ada orang-orang yang rela bersusah-payah ke Jakarta untuk acara ini. Momen-momen seperti ini yang membuat saya kangen kembali berada di penempatan, tempat saya berkenalan dan berinteraksi dengan banyak orang yang mengupayakan kebergunaan, termasuk teman saya tadi.

Saya suka bernostalgia, jadi selalu menyenangkan berkumpul dengan teman-teman sepenempatan. Saat berkumpul, obrolan kami sering bermuara pada penyesalan akan minimnya pengetahuan kami ketika bertugas di penempatan. Seandainya saja dulu kami tahu hal-hal yang sekarang kami tahu, pasti ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Pasti ada cara-cara berbeda yang bisa dicobakan. Pasti kami tidak perlu merasa kerepotan harus kembali menciptakan roda dari awal. 

Dengan para Penyala, misalnya. Seandainya pengetahuan saya dulu lebih luas, saya membayangkan bisa bercengkerama dengan mereka tentang penelitian Michael Kremer di Kenya yang menunjukkan bahwa yang meraup manfaat pemberian buku di sekolah-sekolah hanyalah siswa-siswa yang kemampuan membacanya sudah kuat. Ini sebabnya untuk sekolah dengan kondisi calistung kelas awal yang lemah, pendampingan baca siswa perlu diberikan porsi khusus. Bagi mereka yang belum lancar membaca, keberadaan buku ini kecil manfaatnya. 

Sayangnya, murid belum lancar membaca dan berhitung galib adanya, termasuk di desa penempatan saya. Di awal penugasan, saya menemukan satu murid kelas tiga yang tidak saya ajar ternyata belum lancar penjumlahan 1-10. Saya ingat bahwa saya merasa gagal mencari cara yang bisa saya pakai secara cepat dan akurat untuk mengukur kemampuan dasar matematika dan membaca siswa. Seandainya saja waktu itu saya memiliki panduan diagnosa kemampuan baca dan bagaimana menanganinya, saya berpikir mungkin saya akan bisa lebih berguna dalam waktu satu tahun di sana.

Kini setelah lebih dari dua tahun meninggalkan desa, saya menemukan bahwa ada instrumen seperti EGRA dan EGMA, yang bisa dipakai untuk mengukur kemampuan murid dalam hal matematika dan membaca. Saat mendapatkan instrumen ini, hal pertama yang terbersit di bayangan saya adalah betapa bergunanya instrumen ini apabila dulu saya tahu akan ditempatkan di sekolah baru tanpa PM pendahulu yang bisa memberikan gambaran detail kemampuan tiap anak. 

Di luar lingkup pedagogis tentang bagaimana saya sebagai guru bisa merancang strategi penguatan calistung untuk anak-anak tertentu, saya kini juga tahu bahwa pengukuran sistematis bisa membantu saya juga mengadvokasi kepedulian orang tua pada pendidikan. Pandangan ini saya dapatkan ketika saya membaca tentang bagaimana NGO Pratham di Jaunpur, India melibatkan orang tua untuk mengetes kemampuan mengeja anak-anaknya dengan tes serupa EGRA dan EGMA. 

Sama seperti di Indonesia, ketika orang tua melihat sendiri bahwa anak-anaknya sulit membaca, reflek mereka adalah menabok anaknya. Namun, hasil pengetesan ini lalu bisa menggerakkan warga untuk menjadi sukarelawan yang membantu anak-anak di desa itu untuk belajar membaca. Para sukarelawan ini lalu diberi pelatihan satu minggu oleh Pratham, dan hasilnya cukup membanggakan. Di akhir program, semua anak di desa program Pratham yang sebelumnya tidak bisa membaca sama sekali menjadi bisa mengenali huruf (sementara hanya 40% anak di desa pembanding yang bisa mengenali huruf). Untuk anak-anak yang sebelumnya hanya bisa mengenali huruf, proporsi yang menjadi bisa membaca cerita singkat lebih tinggi 26% di desa program daripada di desa pembanding.

Temuan di atas membuat saya berikan satu salinan EGRA dan EGMA ke PM XI Banggai ketika saya sambangi camp pelatihannya. Harapannya sih agar berguna, tapi saya jadi bertanya-tanya juga apakah justru mungkin instrumen ini lebih berguna di kabupaten-kabupaten baru yang tidak sempat saya ajak mengobrol PMnya. 

Saya membayangkan di kabupaten-kabupaten baru ini para PMnya akan harus meyakinkan banyak orang tua baru yang mungkin sebelumnya jarang bertemu para penggerak pendidikan. Bayangan saya, akan sangat wajar kalau mereka berkilah bahwa anak-anak mereka tidak mungkin mampu meraup seluruh manfaat pendidikan yang mensyaratkan seseorang lulus sekolah menengah agar taraf penghidupannya naik. Di sini sebetulnya data bisa membantu membujuk para orang tua bahwa memberi kesempatan sekedar satu-dua tahun lebih lama di sekolah berkemungkinan memperbaiki upah yang diterima anak mereka di masa depan. 

Saya tahu paling tidak ada dua studi yang terkait hal ini: satu di Madagaskar dan satu lagi di Indonesia, yang melihat dampak pembangunan gedung sekolah Inpres di masa orde baru. Keduanya menunjukkan hasil serupa: rata-rata peningkatan logaritma upah proporsional dengan lamanya seseorang di sekolah hingga SMA, dan kurvanya tidak cekung seperti yang banyak dibayangkan para orang tua.

Tentu saja saya tidak tahu apa-apa tentang menjadi orang tua, tapi pengamatan saya (dan cerita teman-teman) menunjukkan peran itu adalah peran yang luar biasa berat. Bahkan dengan niat yang baik, ketidaktahuan mereka tentang kemampuan anaknya membuat mereka mengambil keputusan yang tidak pas dengan kebutuhan anaknya. Ini yang membuat mereka memilih membeli buku yang tidak sesuai dengan kemampuan anaknya. Ini masuk akal sih, karena kita saja mungkin tidak tahu kalau kategorisasi cara belajar menurut audio, visual, dan kinestetik itu tidak ada dasar ilmiahnya (lihat mitos nomor 4), apalagi para orang tua di desa.

Berita bagusnya adalah, apabila mereka diberi informasi, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih sesuai. Ketika dijelaskan tentang setiap angka yang ada rapor yang disederhanakan, mereka membeli buku yang lebih sesuai. Ketika diberi infografik hubungan proporsional pendidikan dan upah, tingkat kehadiran murid-murid meningkat. Bahkan ketika infografiknya sesederhana menunjukkan jumlah karung beras sebagai representasi besar upah yang diterima. 

Mendengarkan paparan tentang studi dari Madagaskar ini juga mengingatkan saya pada Kelas Inspirasi yang banyak digagas di berbagai kota. Membaca paparan bahwa untuk studi ini, mereka mengadakan sesi mengundang profesional untuk datang ke sekolah dan berbagi di hadapan siswa dan orang tua, satu pertanyaan terbersit di kepala saya: adakah penyelenggaraan Kelas Inspirasi yang turut mengundang orang tua di hari inspirasinya? 

Pertanyaan lain yang terbersit adalah, perlukah penyelenggara KI memprioritaskan relawan inspirator yang memiliki latar belakang penuh keterbatasan seperti yang dihadapi siswa-siswa di SD-SD KI? Pertanyaan ini muncul di kepala saya melihat hasil studi tersebut yang hanya mendapati indikasi dampak role model untuk mereka yang menceritakan kisah hidup mereka dari tingkat ekonomi rendah (ayah-ibu petani, sekolah di desa) naik ke tahap madya (memiliki ladang yang produktif/punya toko yang ramai)/tinggi (jadi PNS/manager). Sementara itu, mereka yang memang berasal dari strata ekonomi tinggi (orang tua PNS, bersekolah di swasta elite) tidak banyak menghasilkan dampak. Melihat mereka yang ada di kelompok terakhir ini, kemungkinan para orang tua yang hadir akan merasa bahwa latar mereka yang berbeda meneguhkan perbedaan kemampuan dan capaian antarstrata. Orang tua yang berpendapatan rendah akan melihat mereka yang sukses meski awalnya juga berketerbatasan membersitkan harapan mereka. Untuk cerita mereka yang awalnya ada keuntungan, harapan yang ditimbulkan ini kurang. 

Tapi harapan saja tentu tidak cukup. Saya sependapat dengan Karlan dan Duflo yang baru-baru ini menulis op-ed di NY Times. Mereka berkata, ”Hope and rhetoric are great for motivation, but not for figuring out what to do. There you need data.” 

Bagi kita yang berkecimpung di dunia pembangunan, data ini bisa menjadi panduan penyusunan program agar menjadi tajam. Penajaman ini perlu apabila melihat pengalaman Pratham menggerakkan masyarakat untuk melakukan aksi kolektif yang efektif meningkatkan pendidikan. Efektivitas ini didapatkan dari menunjukkan hal spesifik yang bisa dilakukan masyarakat (jadi sukarelawan mengajar membaca) tanpa mengharuskan mereka terlibat untuk meROMBAK SISTEM PENDIDIKAN DENGAN TRANSFORMASI MENYELURUH. (Pakai huruf kapital untuk klausa terakhirnya karena agak mustahil membaca seruan mengawang-awang jenis slogan peringatan Hardiknas tanpa merasa kayak baca pidato ala orang “penting”).

Ini bukan berarti tidak mungkin masyarakat terlibat dalam perbaikan struktural sistem pendidikan, tapi ya kan nyatanya penempatan guru masih merupakan wewenang BKD, yang lazimnya jauh dari jangkauan para orang tua di desa. Maka mencari sukarelawan desa adalah satu hal spesifik dan nyata yang mereka tahu bisa langsung mereka lakukan. Lalu apa peran yang bisa PM—atau Pengajar Cerdas TBB, atau di tempat-tempat lain seperti Sorong, Bima dan Halmahera—lakukan? Mereka bisa menunjukkan pilihan jalan meningkatkan pendidikan seperti di atas. Memastikan upaya pengadaan bacaan tidak hanya menguntungkan yang lancar membaca. Mengukur tingkat kemampuan anak secara sistematik, dan melibatkan orang tua dalam prosesnya. Memberantas miskonsepsi pendidikan yang hanya berdampak pada kesejahteraan selepas tingkat SMA. Memperbanyak interaksi role model yang beresonansi dengan latar belakang orang tua. 

Atau meniru Roland Fryer, PM bisa menarik teladan dari sekolah unggulan untuk sekolah-sekolah di penempatan. Fryer sendiri menggunakan meta-analisis untuk memilih hal-hal teladan  yang akan diterapkan di sekolah-sekolah seperti di daerah Harlem di New York. Hal-hal yang diterapkan ini termasuk satu jam ekstra di akhir hari sekolah, dan penanaman mindset bahwa meski mereka murid di sekolah yang rentan DO, hidup mereka bisa menjadi lebih baik dengan bersekolah.  Hasilnya? Meski banyak guru awalnya pesimis, ("Ah, itu mah sekolah unggulan. Sekolah kita mana bisa, sekolah kita perlunya dapat anak-anak yang memang pintar dari sononya,") satu paket keteladanan tadi ternyata bisa meningkatkan capaian akademissekolah target dalam bidang matematika. Presentasi Fryer yang membikin trenyuh dengan pemaparan yang banyak mengundang tawa ini bisa dilihat videonya di sini. (Saya sepakat dengan Alex Tabarrok-nya MR di sini, saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk menonton videonya.)

Namun mari kita tarik lagi untuk konteks PM dan gerakan pendidikan lainnya. Untuk menunjukkan pilihan-pilihan di atas, PM harus memiliki pengetahuan tentang jalan-jalan yang ada—dan ini yang membuat saya dan beberapa teman sering merasa geregetan, karena tidak tahu ada pengetahuan-pengetahuan seperti ini ketika di penempatan. Dengan akses informasi yang terbatas pula, kecil kemungkinan saya waktu itu bisa mendapatkannya ketika selesai pelatihan memasuki masa penugasan. 

Di sisi lain, ketika sekarang saya mengobrol dengan banyak orang di daerah tentang pekerjaan riset, mereka biasanya langsung berorasi panjang lebar tentang betapa banyaknya penelitian yang dilakukan berbagai pihak yang lalu tidak dipublikasikan, apalagi diterapkan. Biasanya saya bagus dalam hal mengontrol muka, tapi ada perasaan terlecut juga. Kita tahu kok tentang penelitian-penelitian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh! Kita bisa juga kok menerapkan penelitian-penelitian yang ada untuk memperbaiki keadaan! 

Saya tahu, ini adalah pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu-dua orang. Inilah mengapa, bagi saya tidak ada jalan lain selain untuk terus belajar dan terus bekerja.

----------------------------------------------------
Penyangkalan: tulisan ini adalah pendapat pribadi, dan tidak mewakili institusi manapun, termasuk institusi tempat saya bekerja sekarang.

Thursday, January 21, 2016

Lessons learned from 2015

“May your coming year be filled with magic and dreams and good madness. I hope you read some fine books and kiss someone who thinks you're wonderful, and don't forget to make some art -- write or draw or build or sing or live as only you can. And I hope, somewhere in the next year, you surprise yourself.”
Very late in 2015 I learned that I will never be as good as Neil Gaiman in expressing my hopes for the then-coming year. But I felt content as I looked back over the passing year. If the 2014-Masyhur had wished the 2015-Masyhur the exact wishes above, he would have been very happy to know that they came true.

Because 2015 was a year of good madness, as in it’s good that I managed not to get mad. At its peak, I occupied three desks for work, one at Cempaka Putih, one at Kebon Sirih, and another at Salemba[1][2]. In between the three locations, I squeezed in working on Duolingo’s English course for Indonesian speakers, and supporting G83 foundation’s STEAM training for teachers[3].

I read books, and some made lasting impressions. I found that many contemporary Indonesian writers surpassed my expectation, and it spurred me to catch up the gaps in my reading history. I haven’t read everything by Eka Kurniawan, or Leila Chudori, or Okky Madasari, or Ahmad Tohari, but I think I will enjoy making the effort to catch up with their works this year.

One book in particular left a very deep mark: Jonathan Safran Foer’s Eating Animals. I am saying this not only because I get to learn new words from reading the Indonesian translation[4], but also because Foer made me racked my brain to see if I can come up with an ethical reason to justify eating meat. Convenience, habit, indulgence, nutrition all come to mind, but none were strong or compelling enough.

But ethics and practicality often run in different directions at the same time. One of the professors that I’m working for is a vegetarian, so even before I fully considered the ethical dimension of eating meat, I have been aware that being vegetarian can limit one’s option when eating out. But contemplating this issue had primed me to pay attention to other people’s take on vegetarianism (notably Satya, Freida, and one of Tuti’s PIs)[5].

So as I dabbled with casual vegetarianism, a host of new questions follows naturally. How should vegans live, i.e. should I espouse a stringent environmentarianism view[6]? Should I prefer beef over chicken because it's more ethical to cause suffering to one cow rather than many chickens[7]? Should I prefer chicken over beef because beef has worse environmental impacts? Should I just work to replace meats with oysters and mussels?

That is not to say that Foer made me changed my mind--I think I was just undecided to begin with[8]. It's not like I used to see vegetarianism with contempt and it brought me around. I suspect that for these kind of book, they left a mark on me because they better articulate the thoughts and strands of ideas that had been swirling in my mind. I guess this is why keeping one's mind open is hard and providing information alone won't cut it.

And when I know that I can control the extent of how my reading influenced me, how much do I want to change for every new information that I encounter? This has been in my mind ever since I shared the article from Vice claiming Starbucks in Indonesia and other MAP brands are owned by a corrupt tycoon who embezzled money during the 1997 crisis. Aside from the necessity to strive to make ethical purchases, for me taking actions (or boycotts) based on a journalistic product validates the existence of journalism to inform the general public. It is also consistent with my general world view that journalism is a necessary force of good.

On the other hand, one year since I shared that article, I found that I had very limited options outside MAP stores to buy swimsuits and goggles. Now we'll see if the changes Foer made in me will last more than a year.

In the meantime, 2016 promises me more books to read, knowledge to learn, relationships to savor, and goals to pursue. This looks like a good year to blow my mind:
"At year’s end you should look back at your thoughts and opinions twelve months before and find them quaint. If not, you probably didn’t read or explore or work hard enough."
------
[1] I live in South Jakarta. Salemba and Kebon Sirih are in Central Jakarta. Cempaka Putih is in East Jakarta. This was more than enough to make my daily commute antarkota dalam provinsi (AKDP).
[2] Oddly enough, in these three buildings my office(s) were always located in the topmost floor. the 16th floor in Kebon Sirih, 6th floor in both Salemba and Cempaka Putih. In a way, this continued the tradition that I had since I was in ITB (4th floor in Labtek III), and Kyoto (6th floor).
[3] Between all that and my stubbornness to maintain my learning streak in Duolingo, running, and a lot of miscellaneous IM-related activities, I noticed some of my friends have begun to berguna-shame me. Because fat-shaming, slut-shaming, and gay-shaming are so passé.
[4] joran, todak, rawai.
[5] I think this also goes to show how your friends and your environment shapes your perspectives.
[6] This is a really good essay, and I think it deservedly won the Oxford Uehiro Prize.
[7] It's a shame I can't locate where I read about the annual average of beef consumption is equivalent to 0.6 cow per year, whereas eating chickens necessitates killing more chickens than cow overall.
[8] I think I read something along this line at Marginal Revolution, where one of the bloggers mentioned that there are very few books that changed his mind. Most of the books that influence his thinking were on issues that he was undecided on when he read them during his undergrad.

Sunday, November 29, 2015

Dancing to the Din

It was Friday afternoon, and Tuti had a spare ticket for a contemporary interpretive dance performance in Salihara that she was offering me to go to. Having nothing better to do, plus all the reasons in the world to further deprive my body of its much-needed sleep, I said yes. I had never been to Salihara and I could already imagine my budaya points increasing by 20% after the night.

So we took the train to Pasar Minggu from Cikini, and because we took the wrong train, we had to change train in Manggarai. Consider that it was after work hours, and the train was Bogor bound. So we were being wildly optimistic of our ability to contort our limbs so that we can fit in. We took the pain of worming our way to the carriage doors to not miss our stop. We shoved our faces into strangers’. We made fleeting eye contacts with other passengers, we dropped them as they contorted their bodies to let us through. We weaved the train’s sputtering stops and starts to our movements. We were dancing.

A couple of hours later, the performers shuffled fluidly inside the atelier, snaking their way among the audience. The audience were clustered in groups, and the performers swerved around the theatre, dancing in close quarters with the largely-confused audience, often times leaving mere inches from their faces, making fleeting eye contacts before dropping them to resume their elegant disjointed performance.

The performance did not break the fourth wall simply because they denied its existence to begin with. Picture is from here.
It was amazing to see the limber bodies of the performers as they pranced around the throng of onlookers. It was even more amazing if you consider that they danced without music. They brought the din of Jakarta’s streets inside, and the harsh noise of car horns, motorcycle klaxons, and loud exhaust pipe sounds were pretty much the constant background of the performance; I can not imagine how they could possibly find a beat to dance in those.

I had been racking my brain trying to impute meaning to the performances that I see from the start. Forcing yourself to tune out the jarring exhaust pipe noises of fifteen motorcycles going around Salihara’s lawn does that to you. Having your eyes stung by the smoke of ten flares lit by a group of young men with their faces covered in helmets does that to you. Watching a man dancing against the parapet in high heels does that to you. And I had no clue of what were going on.

And yet, as the performance progressed, it struck me that the dancing and prancing inside the atelier was exactly like being in public transportation, where you had no option but to squeeze your way in between strangers. And shortly after squeezing your way out. Your senses were relentlessly assaulted by the constant cacophony from the street (and while you can close your eyes to stop seeing, you can’t do the same with your hearing. Earphones can only help you so far). Being aware that there are many things that goes on at the same time, and that it is impossible to know everything of what is happening everywhere. That night, art imitates life.

I got all that because I took the train from Cikini, and more generally I take the bus daily. And while the two dangdut tracks they put on the background to relieve the traffic din as background music had me wondering if this high-brow performance steals low-brow entertainment to mock them, I decided it felt more like a celebration of the daily insanity of living in a big city. I could care less that maybe the performance would resonate very little with those in the audience who always run their errands being chauffeured in their arrogantly shiny cars, because who gives a fuck about them.

Overall it was a really cool performance. It was an acknowledgement, a celebration presented in the form of seemingly mindless movements. And as the movements were presented without the come-hither looks that so dominate our popular culture, it was refreshing to see that expressive dancing can be non-sensual and non-sexual.

I bet Tuti and other audience took all that differently. One of Tuti’s friend remarked on the sing-song chant that one man sang near the end of the performance (“I wish I had lighter skin; I wish I was better at singing; it’s kind of a big deal here,” “I am falling for every guy that I see; but they don’t love me,”). Another asked if it was uncomfortable dancing at such a close quarter, with many personal eye contacts (“I liked how it allows me getting a direct feedback from the audience,”). Another was more intent in navel-gazing, asking the choreographer how he found us as the audience that night, and what were different about us compared to their previous audiences (“We had a performance where everyone danced with us, we had a performance where everybody were sitting down from the start, we had a performance where everybody were standing by the walls. We haven’t had one before where people went up to the rooftop.” He added "At the rehearsal it was really different because the audience was all of these journalists with their cameras; you interact with them but they were behind the lenses," (which is probably what their general audience will be in Tokyo, if the theatre does not confiscate the audience's cellphones)). And that inevitably led to a question that asked whether they intended the audience to dance along (“Not really; that would require us to manipulate you as the audience,”).

And then we reached the end of the evening. As I felt my bus shaking to the rhythm of the road, the dancing felt liberating.

Blurb for the performance: Volution / Groove Space.
Other reviews about this performance:
- 'Volution/groove space': brings a city to the stage
Mengkaji Interaksi Tubuh dan Sebuah Kota

Monday, October 19, 2015

Risalah sesi Indonesia Berkarya

Saya hampir lupa kalau saya pernah menulis tentang sesi Indonesia Berkarya di milis alumni. Karena navigasi laman yahoogroups mensyaratkan login menggunakan email yahoo--saya rasa ada baiknya dibuka di ruang ini juga. Jadi saya tidak perlu frustasi mengingat-ingat sandi surel saya setiap kali saya mau mencari arsipnya.


From: Masyhur Hilmy
Subject: [alumnipm] Catatan dari sesi Indonesia Berkarya
Sent: Wed, May 21, 2014 17:36 

Agak telat sih, tapi saya kepengen cerita agak panjang; dua minggu lalu saya diundang ikut reuni forum YLI. Di forum ini, saya selain bisa lihat Mbak Naimah yang dengan energiknya memandu peserta di games pembuka, saya juga berkesempatan duduk makan malam mendengarkan Pak Anies bercerita. Di makan malam yang sama, kami para peserta didorong untuk berjejaring dengan para profesional yang turut diundang hadir. 

Kalau dipikir-pikir, hampir sama dengan sesi makan malam waktu OPP, cuma bedanya tidak terlalu banyak muka keling terbakar matahari di sekeliling meja. Sementara itu, interaksi dengan para profesional seniornya membuat saya teringat sesi Indonesia Berkarya.

Saya suka datang ke acara Indonesia Berkarya. Alasannya sederhana, karena di sana saya kembali disajikan grafik-grafik yang baru beberapa bulan yang lalu saya temukan di laporan McKinsey yang judulnya Unleashing Indonesia. Saya pertama kali membacanya via hp di mobil menuju Baduy, sambil mengagih cuplikan-cuplikan menarik dari laporan itu ke mobil yang penuh dengan keluarga PM Banggai (Farida PM V TBB kami klaim jadi keluarga PM Banggai aja deh). 

Yang bikin mobil riuh rendah adalah ketika saya mengagih Box 12 tentang Indonesia Mengajar. Kami pun main-main checklist, saling bertanya satu sama lain, sebagai PM yang baru selesai OPP, setahun di penempatan kemarin kita "develop leadership skills and an understanding of remote communities" ngga? Waktu di sana "rural students gain a role model" ngga? "Village teachers receive exposure to new teaching techniques" ga? "Given public classes on topics such as hygiene and sanitation" ngga? ("Ya iya lah, mereka [congekan/jamuran/gatal-gatal/kudisan/pilih penyakit kulit lain sesuai dengan desa penempatan] gitu,"). 

Dua bulan kemudian, di Indonesia Berkarya beberapa orang menyajikan presentasi yang pakai grafik-grafik yang sama, dan saya jadi sadar bahwa satu tahun di penempatan membuat histogram, presentase dan diagram-diagram tersebut jadi punya nama dan cerita. Peluang pasar pertanian, perikanan, SDA dan pendidikan kita akan meningkat dari USD 0,5 trilyun jadi USD 1,8 trilyun di tahun 2030? Wah iya banget tuh, Indonesia itu kaya hasil bumi dan lautnya. Desa gue dulu isinya sawit, coklat dan karet emang! Banggai ikan dan kepitingnya juga berlimpah! Mayoritas kota yang pertumbuhan ekonominya tinggi di luar Jawa? Jelas iya dong, lihat aja Luwuk di Banggai yang tau-tau udah ada Aston, KFC, sama Happy Puppy aja.

Tidak semua grafiknya bikin bersukacita sih, karena kalau nampak grafik bagian tantangan krisis air bersih masa depan langsung teringat duka lara mengharap-harap hujan agar sumur komunal kembali berisi air. Yang paling relevan dengan tema yang diusung acara ini tentu saja adalah grafik tentang permintaan dan penawaran tenaga kerja Indonesia berdasarkan tingkat pendidikan. 

Pandangan pertama saya tertumbuk di tingkat pendidikan yang kita obok-obok selama setahun: pendidikan dasar. Dulu kalau saya ketemu statistik ini rasanya susah percaya, hari gini siapa sih yang pendidikan terakhirnya cuma SD? Sekarang, statistik itu menjelma menjadi nama-nama yang lebih mudah dipahami, karena saya ketemu sendiri dengan Eko, Endik, dan banyak lagi lainnya yang tidak lanjut ke SMP. Di tahun 2030, diproyeksikan akan ada 59 juta orang seperti mereka, sementara lapangan kerja yang ada hanya untuk 39 juta. Apa jadinya ya 20 juta orang yang mungkin tidak terserap dunia kerja? Penduduk sebanyak itu kalau pas pemilu milih partai yang sama, jumlahnya udah lebih banyak dari pemilih Partai Demokrat di pemilu 2009 lho.

Perhatian saya berikutnya ke tingkat pendidikan saya sendiri: tertiary, dan saya dengan egois merasa boleh berbesar hati karena ternyata sarjana masih akan undersupply di Indonesia. Proyeksi untuk tahun 2030, Indonesia masih akan kekurangan 2 juta sarjana untuk mengisi lapangan kerja. Sarjana aja kurang, apalagi Sarjana-sarjana Terbaik Bangsa (TM), jelas dibutuhkan dong (amin?). 

Mungkin harusnya ini yang saya jawab ke Tika ketika dia tanya apa yang saya dapat dari sesi Indonesia Berkarya. Tapi susah juga euy, di dalam bus transjakarta ngecap ke Tika tentang grafik dan kurva. Plus, itu kan pendukung saja. Saya juga ga yakin ada hadirin lain yang merhatiin grafiknya, wong Ria yang duduk di sebelah saya saja tanya, "Itu grafik apa sih Syhur?" Ketika saya liatin grafik serupa di tablet saya supaya dia ikut terkesima dengan data-data terkemuka, Ria justru menampik kesempatan mencermati grafik-grafik cantik itu.

Tapi memang beda orang, beda pula minatnya. Bahkan beda niat pun sah-sah saja, apalagi mengingat tujuan Indonesia Berkarya memang bukan untuk mengagumi batang-batang diagram, tapi untuk tiga misi utama: jadi wadah diskusi dan berjejaring, jadi wadah kerelawanan untuk para professional menjadi mentor orang-orang kayak alumni PM, dan untuk jadi ..... Untuk apa ya yang ketiga? Saya inget lihat ada tiga, tapi saya ga nyatet apa yang ketiga, dan sepertinya sih ada di file .ppt yang dishare sama Adji, tapi karena saya ga punya akses ke Google Drive tempat .ppt itu diunggah jadi rasanya saya (dan yang lain, kalau ada) yang berminat pengen liat pun jadi lupa kalau tadinya pengen.

Begini memang kalau ngga nyatet, begitu nyoba ngingat-ngingat, gagal. Tapi memang ada tiga distraksi yang lebih OK dari nyatet sih. Distraksi pertama, gambar grafik warna-warni tentang trending topics dunia HR global dan gambar ilustrasi yang keren, diambil dari cover reportnya BCG-WFPMA tentang pengembangan SDM. 

Distraksi yang kedua lebih umum dinikmati juga sama teman-teman yang bukan iconophilia: camilan. Distraksi yang ketiga pun bikin lebih banyak orang ceria dibandingkan yang ilustrasi: camilan. (Camilan perlu mendapat porsi lebih untuk proporsi distraksi karena di setiap pertemuan porsi yang ada biasanya berlebih). 

Bagi yang menjaga berat badan (mungkin untuk mengkompensasi kebanyakan dijamu waktu kunjungan sosial di desa), saya sarankan sih untuk juga menjaga perhatian pas ikut sesi Indonesia Berkarya. Karena kalau menjaga perhatian dan bisa menjawab pas ada tebak-tebak berhadiah, bisa mengelak dari menumpuk lemak (plus dapet hadiahnya). Di sesi tanggal 15 Maret yang lalu, ada yang dapat hadiah buku bagus yang Judulnya "Surat Dari dan Untuk Pemimpin" (siapa ya waktu itu?). Waktu itu sih dia menjanjikan bikin resumenya buku keren itu di milis, jadi kita tunggu aja.

Saya harus bilang saya agak kecewa, karena biar mantengin presentasinya, kalau gaulnya cari penampakan kera yakis (Macaca nigra) ketika di desa, ya ga bisa jawab nama orang di tebak foto yang dikasih. Tapi paling tidak, saya sekarang jadi tau, "O, itu yang namanya Merry Riana," "O itu yang ngarang '9 Summers 10 Autumns' ya."

Di pertemuan berikutnya sih setau saya tidak ada bagi-bagi buku (yaaah), tapi ada bagi-bagi ilmu hasil merangkum buku (yaaay) dan tetap ada berbagai makanan (YAAAAY). Di pertemuan itu, Mas Adam (@Ini_adam) menyajikan presentasi bertajuk "A Practical Guide to Job Hunting" yang menyarikan buku "What Colour Is Your Parachute?

Disebutkan di buku itu, kalau ada lima cara utama sebuah perusahaan/organisasi mencari orang untuk mengisi jabatan di perusahaan itu. Paling sering, mereka mencari orang dari dalam perusahaan itu sendiri (internal), baru setelah itu mereka mencari orang berdasarkan bukti kerjanya (contoh paling gampang adalah di Silicon Valley, tempat programmer yang bikin website sukses lalu diakuisisi sama perusahaan terkemuka), baru dari rujukan, baru pasang iklan, dan terakhir, dari resume yang masuk ke perusahaan tersebut walau tanpa pasang iklan. 

Menariknya, dari sisi pencari kerja, justru sebaliknyalah yang terjadi. Paling banyak upaya pencarian kerja itu dari kirim resume segepok meski tidak ada lowongan, merespon iklan lowongan kerja, baru rujukan, baru dari bukti, baru dari internal. Bagi saya masuk akal sih, perusahaan pilih cara seperti di atas untuk mengisi lowongan, apalagi kalau proses mencari pegawai itu seperti yang digambarkan di satu artikel Washington Post, capek-capek pasang iklan, janjiin wawancara, eh, ga ada yang nongol.

Mismatch antara tenaga kerja dan lowongan pekerjaan yang ada inilah yang membuat adanya talent war: orang yang kemampuannya pas dengan permintaan pasar akan jadi rebutan berbagai perusahaan. Apalagi dengan menurunnya jumlah ekspatriat yang bekerja di Indonesia. Saya pribadi belum bisa membayangkan jadi rebutan banyak perusahaan, tapi rasa jumawanya mungkin sama kayak kalau di penempatan jadi rebutan murid-murid untuk merangkap mengisi kelas mereka ketika sekolah kosong guru. "Pak, ke kelas enam saja Pak, belajar matematika"--"Pak, torang kelas tiga belajar sama pak guru juga Pak!". Ngartis rasanya, jadi rebutan. Jadi sepertinya sekarang ini saatnya kita mengasah skill di bidang yang jadi passion/renjana kita agar nanti jadi rebutan berbagai perusahaan yang valuenya sejalan sama kita.

Tentang renjana, topik ini sempat didiskusikan juga sebetulnya setelah Alsha/Rara bertanya apakah para profesi para relawan profesional yang datang di siang itu adalah dream job mereka. Tentu tidak, kata sebagian. Tapi diskusi lalu mengarah bahwa perbincangan tentang renjana ini adalah hal yang baru-baru muncul, di generasi mereka hampir tidak terlintas tentang renjana. Kira-kira kalau pakai kutipannya Tante Ligwina Sabtu kemarin, mereka belum sampai tahap unicorn muntah pelangi. 

Tapi renjana juga bukan sesuatu yang mutlak harus diikuti, toh tidak ada di kitab suci juga. Mas Adam juga menambahkan, kalau semua orang mengikuti renjananya, mungkin kita tidak akan pernah pegang iPod dan iPhone dan iPad yang lucu-lucu itu. Bisa jadi tidak pernah pegang karena renjana kita ada di bidang yang kurang basah sehingga iPhone itu jadi barang yang benar-benar mewah, tapi juga karena apabila Steve Jobs mengikuti renjananya, dia mungkin akan jadi biksu untuk menekuni ajaran Buddha alih-alih mengambil alih tampuk pimpinan Apple.

Saya tidak yakin tidak akan ada masalah kalau renjana kita ada di bidang yang tidak basah, tapi kalau tidak basahnya membuat gundah, mungkin perlu diperiksa lagi apa sebetulnya renjana kita. Caranya sebetulnya dengan menggali ke diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan pembantu seperti, what would you do for free? What/Who interests you? What will minimize your regrets? Terakhir, (ini favorit saya:) what riles you? Apa yang membuatmu gusar?

Yang kenal dekat dengan saya akan dengan mudah memberitahu kalau saya gusar pada penggunaan kata "merubah". Tapi di sesi Indonesia Berkarya terakhir, saya lebih gusar karena Indonesia Berkarya ini punya potensi besar yang menggiurkan untuk dimanfaatkan. Bayangkan, jumlah tahun pengalaman kerja para relawan profesional yang sudah datang di sesi-sesi ini bisa jadi lebih banyak daripada jumlah tahun penjajahan Indonesia oleh VOC. Dari bidang yang beragam pula, mulai dari yang berwirausaha sampai ke yang meniti karir di DHL ke Holcim sampai profesional yang sekarang berkarir di Indofood, Mandiri, PWC, Medco, dll. 

Kegusaran saya tentu bukan karena daftar afiliasi para relawan yang kalau disebut satu-satu mungkin menyaingi daftar emiten saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kegusaran saya lebih disebabkan ke daya imajinasi saya yang rendah yang menyulitkan saya membayangkan format yang paling optimal untuk mengembangkan komunitas Indonesia Berkarya agar manfaatnya dirasa oleh semua. Idealnya sih saya ingin ada lebih banyak teman-teman yang ikut bergabung dan urun gagasan. The more the merrier. 

Apalagi karena Indonesia Berkarya adalah forum terbuka yang tidak dikhususkan untuk alumni PM. Kita bisa juga mengundang teman di luar lingkaran IM yang mungkin bisa dipetik/memetik manfaat dari jejaringnya juga. Manfaat yang paling gampang yang bisa dipetik tentu adalah energi positif dari interaksi dengan orang keren. Kurang keren apa lagi, saya di sesi Maret bisa mendengarkan cerita Mario dan Adji waktu sesi kecil. Saya juga kembali tersadar kalau lingkaran IM itu isinya orang-orang keren, cuma kadang kita terlalu dekat dan perspektifnya jadi terdistorsi: alih-alih menghargai kerja keras rekan kita kita lebih fokus sama karakteristik remeh-temeh mereka. 

Selain meremehkan kerja kerasnya teman-teman kita, distorsi perspektif ini sangat mungkin bikin kita susah mengenali potensi teman-teman kita. Padahal kalau kita tahu potensinya kan bisa kita jadiin mentor/tutor. Yang kadang kita tahu potensinya aja kadang ga sempet dicuri ilmunya (Oktober 2012: berpikir bisa belajar Bahasa Tiongkok sama Lilli karena sepenempatan; Mei 2014: tetep ga tau sama sekali Bahasa Tiongkok), apalagi kalau kita ga tau potensi teman kita. Tentang pentingnya mentor ini, tidak cuma saya sendiri sih yang berpikir seperti ini, ada juga Maeve Richard, yang bilang "Mentors can have a large positive impact on careers."

Di sini rasanya peluang pemanfaatan Indonesia Berkarya buat kita. Karena ada banyak profesional dari berbagai industri, jadi terlibat di Indonesia Berkarya berarti kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang yang siapa tahu kalau cocok nantinya bisa dijadikan mentor untuk jadi panutan. Tapi harus diingat juga sih, kalau kita minta orang jadi mentor kita, kita juga harus siap mengerahkan usaha jadi mentee. 

Ngomong sih gampang, bakal mengerahkan usaha jadi mentee. Tapi kalau dengar cerita unik sebagian PM II yang dibimbing seorang mentor fenomenal, membuat saya bertanya-tanya, kalau saya jadi mentee, bisa tidak ya saya mengimbangi mentornya?

Untuk sekarang sih, saya lihat-lihat dulu (sambil menunggu) ada sesi Indonesia Berkarya lagi. Nanti kalau ada lagi, datang yuk!

Salam,
Masyhur