Monday, April 24, 2017

Bullet Journal

We're generating data for other people as we go about our lives—Google, Apple, Gojek—why not generate some data for ourselves?

OK, so I am obviously partial to the quantified self. When my iPhone was stolen and I could not recover my May-August 2016 steps activity I died a little inside. That hike with Freida to Gunung Gede? Gone. (And so were the pictures!) I had also been trying to collect data on my sleep but I've been far too forgetful to start the tracker app before I go to bed.

Consistency has also been a problem for me in tracking my work, too. I had a moderate success when tracking early tasks for Generasi Evaluation using Slack with Donghee, but I could not say the same when I tried that for JKN project. I moved to Wunderlist and had some success, but many tasks at work simply do not have clear deadline, and we soon began to miss deadlines for the tasks that do have deadlines. As I start to ignore the reminders, it became less and less effective. I am still using Trello to manage the tasks in creating the Indonesian lesson on Duolingo Incubator, and while this works OK so far, restarting tasks is still not seamless.

Enter bullet journal.

I can't recall who shared this on my Facebook newsfeed (it might be Willy). Thinking that this was a perfect productive procrastination task, I turned the remainder of my black notebook into a bullet journal. This was September 20th, 2016.

Now, more than six months later, I'm on my third journal. How'd I do? The guide video was not kidding when it says that it can easily track the past. It became easier for me to extract a nugget of information from a meeting a couple of weeks ago. This was something that is often hard to track with my old notebook when I just threw notes wherever.

More interestingly, though, now I can turn my tasks into discrete data points and I can play around with it. Check this out:

If the plot alone did not wow you, let me walk you through this graph:
(1) Monday-Masyhur is an ambitious guy. Creating big to-do lists, not finishing much.
(2) Tuesday-Masyhur is actually worse and is bent on one-upping Monday.
(3) Thankfully, sense prevails and as the week progressed, the number of the tasks declines while the completion rate improves. Those outliers, though: 31 and 30 tasks on Wednesday and Thursday?
(4) Saturday is a lazy day.
(5) On Sunday the restlessness returns with the Gwaith-i-Megyr weekly sword practice.

When I made this graph, I wondered if there's a similar monthly pattern. The short answer is no. Look at how the dots are all over the place:

Another neat thing that I could do with my data is to figure out how often I go swimming at GOR Sumantri swimming pool. The answer: not often enough.

Mostly this is because a casual swimmer like yours truly now have to compete for space with athletes who hogs half the pool as their usual venue at Senayan is closed for renovation prior to Asian Games 2018. At the same time, the remaining half of the pool is dominated by the club swimmer. Even with the price hike (Rp20.000 from previously Rp15.000 for 6-8 am entry), it does not seem to reduce the overcrowding.

But in terms of tracking my activity, I'm pretty happy with how my experimentation with bullet journal go so far. This complement my other tracking apps nicely: Goodreads for book, Nike Running Club for running, Moment for time spent on phone, and Rescue Time for time spent on desktop. Admittedly though, I could still improve how I write my tasks down as some tasks took up more days than they should.

I once read a blog where the writer put online his to-do list for all the world to see, arguing that the best way to manage one's tasks is to make them transparent, but I could not found that page. This intrigued me, but I probably won't go to such extremes. However, he also had a good point: if you're writing a to-do list for yourself then you may end up listing an unmanageably big chunk of work as one task. For example, you could end up listing "Learn statistics" as one task because you already know which statistics concept you understand *at the time of writing*.

When you look away and refer to your to-do list again later, though, you might have already forgotten what you meant in the first place. And instead of starting learning right away when you looked at your list, you'll pause to think what you meant instead. You might decide to switch to another task, and so the original task remain in place forever. My takeaway is that when I found a persisting task, I need to refine it (e.g. read Chapter 1 of Statistical Inference) to minimize the mental barrier that I need to overcome to start the task.

So what now? Crossing a dot that say "publish a blog on bullet journaling". And maybe starting up on that chapter.

Monday, March 13, 2017

Thinking Is Hard

Gambar dari Buster Benson.
Di tulisan sebelumnya tentang Bumi yang bulat pepat, saya merespon teman saya yang mengagih video konspirasi bentuk bumi. Ketika menulis tanggapan awalnya, saya sadar akan dua hal. Yang pertama, saya harus menjadi persuasif karena menyajikan bantahan faktual saja tidak cukup. Yang kedua, menulis persuasif itu tidak mudah.

Saya punya pengalaman satu tahun untuk poin pertama. Ketika saya mengajar di Banggai, seorang rekan guru saya keranjingan teori konspirasi. Segala macam argumentasi wahyudi-dajjal-illuminati jadi pokok bahasan di jam-jam istirahat. Terkadang saya mendebat balik dengan data dan fakta, tapi tak sekali pun saya sukses membuat si bapak ini berubah pikiran.

Dari pengalaman ini, saya paham bahwa seseorang percaya berita bohong dan teori konspirasi bukan karena kurang pengetahuan. Benak mereka bukan bejana kosong yang menunggu untuk dituangi pengetahuan. Sebaliknya, teori konspirasi ini terpatri di benak mereka karena narasinya memikat emosi dan imajinasi. Mendebat berarti membuat teori konspirasi ini makin sering dibicarakan, dan makin terpatri di pikiran. Menyadari hal ini berarti menyadari bahwa mengubah pandangan orang itu sulit, dan caranya harus dipikirkan masak-masak.

Respek saya terhadap teman saya yang mengagih video itu membuat saya mencoba menjadi sensitif. Maka ketika saya menulis respon saya, saya mengusahakan agar respon saya tidak diinterpretasikan sebagai upaya menyerang pribadi dia (dan saya toh juga tidak berniat menyerangnya). Saya berusaha mengambil pendekatan yang berbeda dari beberapa bentuk tanggapan atas konspirasi bentuk bumi yang sudah ada—yang nadanya mungkin terkesan mengejek atau bahkan membego-begokan orang.

Macam bapak di Facebook ini yang membego-begokan sopir Grab yang ia tumpangi.
Di sini saya bersepakat dengan Michael Shermer. Ia menulis di Scientific American tentang panduan meyakinkan orang yang tidak mau percaya fakta:
1. Jangan emosian,
2. Bahas isunya, jangan serang orangnya,
3. Simak dan coba jelaskan ulang pandangan lawan bicara dengan akurat,
4. Tunjukkan respek,
5. Sampaikan bahwa kita paham kenapa lawan bicara punya pandangan seperti itu, dan
6. Coba tunjukkan bahwa mengadopsi fakta bukan berarti harus mengubah mazhab hidup mereka.

Namun, untuk poin keenam saya mencoba mengambil langkah berseberangan. Alasan saya, prinsip keenam ini justru sudah dipakai oleh video tersebut yang bilang bentuk Bumi tidak ada efeknya ke keseharian kita. Menurut saya, justru ucapan ini sok-sok menutupi disonansi kognitif yang akan terjadi ke konsekuensi kiblat salat si penonton video. Meminjam pertanyaan Ma’rufin Sudibyo di tulisan Evan, siap tidak mereka salat menghadap (hampir) ke utara di Indonesia saat meyakini Bumi datar? Siap nggak mereka mengubur jasad yang muslim dalam arah hampir barat-timur kala meyakini Bumi datar? Dugaan saya, untuk menghindari disonansi kognitif, orang akan lebih cenderung mempertahankan kiblat yang benar ke arah barat, yang ditentukan ilmuwan dan ulama muslim dengan pedoman bentuk bumi bulat.

Saya akui trik ini kesannya agak murahan. Tapi retorika harus dilawan dengan retorika. Video teori konspirasinya menggugah sekali, tapi kalau kita bisa mengenali mengapa videonya menggugah, kita bisa lebih wawas diri menimbang argumentasi yang disajikan.

Saya beruntung punya banyak pengalaman jadi juri debat yang memaksa saya untuk mendengarkan argumen, bantahan, dan bualan banyak tim debat. Saya dilatih menggunakan kerangka yang logis untuk mengevaluasi bualan-bualan mereka dan memilih argumen serta bantahan pihak yang mana yang mau saya percayai. Jadi, begitu saya wawas akan teknik retorika yang sedang dipakai, saya tetap bisa melihat apakah argumentasinya sesuai dengan logika dan fakta. Kalau teknik retorikanya mumpuni tapi isinya kosong? Saya tinggal bilang, "Ah, bokis lu."

Itu juga yang saya bilang ketika narator konspirasi berkata di awal video, "Ketika ada orang yang mengatakan pada saya bahwa bumi itu datar, saya pikir ini orang ngawur. Saya langsung melakukan riset untuk membantah, sekaligus menyelidiki siapa aktor intelektual yang menyebarkan disinformasi tentang Bumi datar. Ternyata yang saya temukan justru sebaliknya…" "Ah bokis!"

Di teori Aristoteles yang membagi retorika menjadi ethos, pathos, dan logos, kutipan narator di atas adalah contoh pathos. Naratornya memainkan emosi pemirsa dengan menceritakan bahwa ia adalah bagian dari kelompok mereka yang skeptis. I am like you—sementara penganut Bumi datar ini ngawur. Ini tujuannya untuk membangun rasa percaya, dan begitu pemirsanya terhanyut oleh rasa percaya, mereka jadi lebih rentan untuk menelan mentah-mentah argumentasi-argumentasi berikutnya.

(Sesungguhnya teknik ini juga banyak dipakai oleh ulama mualaf yang lalu menjelekkan agama awalnya dia, atau pedande/pendeta yang dulunya Islam lalu menjelek-jelekkan Islam. Kedua-dua jenis ini sama-sama makanan saya di jam istirahat mengajar, jadi selalu kenyang lah. Pada dasarnya sama aja sih semuanya, tapi itu bahasan lain lagi.)

Pada tulisan sebelumnya, saya meminta teman saya untuk menulis. Saya optimis proses sintesa yang panjang untuk menghasilkan tulisan bisa membuatnya menimbang mengapa ia percaya pada argumentasi pembuat video.

Di sisi lain, saya sadar permintaan saya agar teman saya ini menulis kritis bukan permintaan yang mudah. Tidak semua orang terampil menulis, dan melihat rendahnya hasil PISA terakhir kita, sudah jelas bahwa sintesa pengetahuan bukan keterampilan yang biasa diasah di sekolah. Tapi saya percaya kalau kawan saya ini mau meluangkan waktu untuk menulis, diskusinya lalu bisa bergerak maju. Saya berharapnya kalau teman saya menulis, dia mau menggunakan daftar pertanyaan yang disusun Arie Prasetyo yang sudah runtut yang bisa digunakan untuk membangun argumentasi Bumi datar yang logis. Respon-respon yang ada di blognya Arie saat ini sih lebih banyak yang menyedihkan dan tidak menjawab pertanyaan yang ada (mungkin karena yang memberi respon juga sama-sama tidak paham).

Dialog yang tidak berjalan ini juga yang membuat saya kasihan dengan Pak Thomas Djamaluddin. Dari diskusi serupa di LAPAN, saya melihat beliau sudah capek-capek meluangkan waktu menemui perwakilan komunitas Bumi datar, tapi karena mereka tidak bisa mengartikulasikan argumennya dengan jelas, ya ngga nyambung jadinya. Bagaimana lagi menjelaskan edaran mereka yang membantah penjelasan Kepala LAPAN yang teknis menggunakan seruan konspirasi ekonomi?

Entahlah, mungkin anggota komunitas Bumi datar ini sudah merasa bahwa sains kita sudah hilang legitimasinya. Menurut saya, ini yang membuat fakta mental kalau dilempar ke mereka. Sialnya, begitu legitimasi sains hilang di mata mereka, sulit mengembalikannya. Duncan Watts menulis,

Creating legitimacy is hard in part because it is intrinsically self-referential. For example, why should I trust that claims made by scientists? The answer, one would hope, is that scientists are required by their peers to follow the scientific method, which is the most reliable mechanism we have for uncovering facts about the world. But how do I know that the scientific method is reliable, and not just an elaborate hoax perpetrated by scientists? The answer, again, is that we know science works because of all the useful facts it has established about the world. As a scientist I happen to believe this argument, but it is unavoidably self-referential: science is to be trusted because it establishes facts, and facts are to be trusted because they are established by science. 
The self-referentiality is critical, because if I suddenly decide to stop trusting science — both methods and results — there is no easy way for science itself to re-establish that trust. Most discussions about legitimacy end up veering back and forth between the trustworthiness of the outcome (in this case, information) and the trustworthiness of the process that generates the outcome.

Watts pesimis upaya Facebook menandai berita bohong sebagai berita bohong akan berdampak banyak.  Namun menurut saya meski upaya membantah hoax dan teori konspirasi tidak selalu manjur mengubah pandangan penganutnya, ini bisa membuat orang tersebut tidak makin menyebarkan berita hoax itu lagi. Upaya ini bisa memutus siklus.

Bagi para penganutnya, berita bohong dan teori konspirasi ini terpatri karena mudah dipahami, membangkitkan emosi (rasa takut), dan berasal dari sumber yang ia percaya. Ini sebabnya Debunking Handbook mengatakan kita harus menajamkan pesan yang kita sampaikan untuk mematahkan teori konspirasi. Agar pesan kita mudah diingat ada tiga syaratnya:
1. penjelasan kita harus sederhana (jangan terlalu rumit!)
2. bangkitkan emosi tandingan, dan
3. jelaskan bahwa sumber awal tadi tidak boleh mentah-mentah dipercaya.

Dengan begitu penjelasan baru ini bisa mengisi ruang kosong di benak lawan biasa yang muncul ketika teori konspirasi ini dihapus. Jika tidak diisi, teori konspirasi bisa tumbuh lagi di ruang yang sama.

Saya percaya mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk kasus ini cara pencegahannya adalah dengan banyak belajar bagaimana menalar argumentasi kita dengan kritis. Saya temukan ada beberapa kelas yang mengajarkan cara bernalar, termasuk di Oxford yang bisa diakses gratis podcastnya, atau di Universitas Washington yang bisa diakses silabusnya.

Panduan saya yang lainnya adalah untuk selalu mengecek apakah ada cacat logika bias kognitif di penalaran saya. Mengambil kategorisasi dari Buster Benson di infografis di awal tulisan ini, ada empat hal yang bisa menyebabkan penalaran kita menjadi bias: kebanjiran informasi, kecenderungan mereka-reka pola, waktu yang terbatas, dan memori yang sempit. Ketika saya sadar atas keterbatasan ini, saya tahu harus mengumpulkan informasi. Maka, saat saya ingin merespon teori konspirasi yang dipercaya teman saya, saya mulai dengan membaca. Saya sarankan Anda juga.

—————————————
Kalau Anda ingin ikut membaca, saya bisa sarankan tautan-tautan di bawah ini:

1. Kenapa Orang Cerdas Pun Bisa Termakan Hoax? - Hujan Tanda Tanya [Video]
https://youtu.be/EUiVtW-45Ss
2. Mereka yang Cerdas tapi Ekstrem - Andre Pramudya (Qureta)
http://www.qureta.com/post/mereka-yang-cerdas-tapi-ekstrem
3. Debunking Handbook - John Cook (Univ. Queensland) and Stephan Lewandowsky (UWA)
https://www.skepticalscience.com/docs/Debunking_Handbook.pdf
4. What Is Motivated Reasoning and How Does It Work? - Dan Kahan (Yale Law School)
http://www.scienceandreligiontoday.com/2011/05/04/what-is-motivated-reasoning-and-how-does-it-work/
5. Calling Bullshit in the Age of Big Data - Silabus University of Washington
http://callingbullshit.org/syllabus.html
6. Rebuilding Legitimacy in a Post-truth Age - Duncan Watts (Microsoft)
https://medium.com/@duncanjwatts/rebuilding-legitimacy-in-a-post-truth-age-2f9af19855a5
7. Critical Reasoning for Beginners - Marienne Talbot (Oxford University)
http://podcasts.ox.ac.uk/series/critical-reasoning-beginners
8. Getting a scientific message across means taking human nature into account - Rose Hendricks (UC San Diego)
https://theconversation.com/getting-a-scientific-message-across-means-taking-human-nature-into-account-70634
9. You’re the fact checker now - Stanford Alumni
https://medium.com/stanford-alumni/youre-the-fact-checker-now-60103eaeaf3a#.dvz8et26l
10. Fake news and the spread of misinformation - Denise-Marie Ordway (Journalist’s Resource dari Shorenstein Center Harvard Kennedy School)
https://journalistsresource.org/studies/society/internet/fake-news-conspiracy-theories-journalism-research
11. Cognitive bias cheat sheet - Buster Benson
https://betterhumans.coach.me/cognitive-bias-cheat-sheet-55a472476b18#.hkf1kn3o7
versi infografis dan ringkasan: https://medium.com/thinking-is-hard/4-conundrums-of-intelligence-2ab78d90740f#.92tvrudrl
12. Why bullshit is no laughing matter - Gordon Pennycook (University Waterloo)
https://aeon.co/ideas/why-bullshit-is-no-laughing-matter
13. This one weird trick will not convince conservatives to fight climate change - David Roberts (Vox)
http://www.vox.com/science-and-health/2016/12/28/14074214/climate-denialism-social
14. How to Convince Someone When Facts Fail - Michael Shermer
https://www.scientificamerican.com/article/how-to-convince-someone-when-facts-fail/
15. Conspiracy theory - RationalWiki
http://rationalwiki.org/wiki/Conspiracy_theory
16. Diskusi dengan kelompok Flat Earth Indonesia - Arie M Prasetyo [Daftar pertanyaan konsekuensi dogma Bumi datar]
https://as3c.wordpress.com/2017/01/15/diskusi-dengan-kelompok-flat-earth-indonesia/
17. Why Facts Don't Change Our Minds -  Elizabeth Kolbert
http://www.newyorker.com/magazine/2017/02/27/why-facts-dont-change-our-minds
18. Livetweet dari konferensi Fake News di Harvard - Herman Saksono -
https://twitter.com/hermansaksono/status/832769428768960513

Tuesday, March 7, 2017

Bulat Pepat

Akhir tahun lalu, saya merasa tersanjung oleh seorang teman yang gigih bertanya tentang bentuk Bumi ke saya. Rasanya ia menganggap saya pakar. Sebetulnya, ini langkah yang bagus ditiru: selalu tanya ke pakarnya kalau ada banjir informasi yang simpang-siur.

Tapi kalau kita tidak bisa menemukan pakarnya (atau mungkin mereka sibuk), apa yang bisa kita lakukan? Menurut saya, ketika kita kena banjir informasi, masing-masing kita harus bisa jadi jurnalis dan editor. Dari membaca buku Blur-nya Bill Kovach, saya menemukan tiga pertanyaan yang bisa dipakai jadi pegangan memilah informasi: 1. Siapa dan apa sumbernya, dan kenapa mereka bisa dipercaya? 2. Apa buktinya? 3. Apa penjelasan alternatifnya?

Dalam konteks video tendensius konspirasi bentuk bumi itu, pertama-tama saya sangsi dengan kredibilitasnya yang membuat videonya. Akunnya anonim, dan ketika saya telusuri blog yang ada di profilnya, isinya cuma link ke kanal YouTube yang sama. Berputar-putar di situ saja, tanpa informasi tambahan siapa pembuatnya.

Maka saya cari informasi yang lain, dan saya lalu menemukan ada Eric Dubay yang mengarang buku tentang Bumi yang datar. Karena Eric ini juga pentolan komunitas Bumi datar, maka saya lalu menelusuri siapa dia. Yang saya temukan, dia menyebut dirinya adalah seorang guru yoga dari Amerika yang tinggal di Thailand.

Saya rasa kita bisa sepakat kalau guru yoga bukan sumber yang kredibel tentang geometri, teknologi, atau astronomi. Yang harus diperhatikan juga adalah, apa motif dia menyebarluaskan propaganda ini? Sejak saya membaca artikel di Tirto yang menunjukkan bahwa bisnis berita palsu ini untungnya bukan recehan, saya merasa motif mereka yang anonim makin patut dipertanyakan. Teman saya yang bertanya ini awalnya menyebutkan bahwa si pembuat video adalah pengusaha yang tidak lagi perlu cari uang—tapi ini klaim yang sanadnya tidak jelas juga. Kita pun harus selalu ingat bahwa untung bentuknya tidak harus berupa uang. (Misalnya, Untung bentuknya angsa.)

Jadi, selalu telusuri kredibilitas sumber informasi. Di sisi lain, lalu apakah misalnya ada alumni astronomi ITB yang membuat video serupa, kita harus langsung percaya? Tidak juga. Janganlah kita silau dengan CV siapa pun. Kata para pendiri Royal Society of London, nullius in verba. Take nobody’s word for it. Mari kita bereksperimen sendiri.

Dengan teman saya tadi, saya merujuknya ke pelajaran IPA waktu SD. Di buku-buku pelajaran, bukti Bumi bulat yang paling sering dirujuk adalah kapal dari kejauhan muncul tiangnya dulu, baru bodinya. Karena Jakarta lokasinya tidak jauh dari pantai, ini sebetulnya bukan hal yang sulit untuk dicoba sendiri. Seandainya saya tinggal dekat Majene di Sulawesi, saya penasaran ingin menyaksikan Sandeq race dengan mata kepala sendiri sekaligus observasi hilangnya kapal. Opsi lain tentu saja adalah pergi ke Lembata di Nusa Tenggara. Di sana, para warga tekun memindai cakrawala, mencari tanda-tanda ikan paus untuk diburu—mungkin sama tekunnya dengan para bajak laut zaman dahulu yang saling menyahut, “Hull down!

Teriakan "Two ships, hull down!" ngga dramatis memang kalau targetnya kapal kargo modern.
Gambar dari civilwartalk.com.
Tapi karena pergi ke Sulawesi tidak murah juga, yang penting dipegang adalah prinsipnya, yaitu gunakan langkah-langkah metode ilmiah. Mulai dari (1) pengamatan, lalu (2) bentuk hipotesis untuk menghasilkan (3) prediksi. Lanjutkan dengan (4) eksperimen, sehingga kita bisa melakukan (1) pengamatan, untuk menajamkan (2) hipotesis dan menghasilkan (3) prediksi baru untuk diuji dengan (4) eksperimen, dan seterusnya. Ini bukan metode baru, toh ini juga yang dipakai ilmuwan zaman dahulu untuk meninggalkan pandangan geosentris ke heliosentris.

Di sini kita menemui tantangan baru. Eksperimen bisa mahal, dan eksperimen bisa lama. Bagaimana mengatasinya? Membaca hasil pengamatan mereka yang sudah pernah melakukannya. Untuk pengamatan tentang bentuk Bumi, kita bisa merunut sejarah sains untuk hasil pengamatan mereka yang pernah bereksperimen dan mencatat pengamatan mereka. Sains kita panjang sejarahnya tentang penyelidikan bentuk Bumi, dari Erastothenes sampai Abu Rayhan Biruni. Berbekal pengetahuan bentuk bulat Bumi, mereka juga menaksir panjang jari-jari Bumi. Dari pengetahuan yang sama, para ilmuwan Islam lalu menentukan arah kiblat Indonesia ke Masjidil Haram.

Ini sebabnya saya menyanggah klaim pembuat video yang mengatakan, Bumi bulat atau datar tidak ada pengaruhnya pada keseharian. Kiblat umat muslim di Indonesia menghadap barat serong utara ditentukan dengan memahami busur lingkaran besar Bumi yang berbentuk bola, yang lalu diperkuat dengan pengamatan yang saksama. Kalau Bumi ternyata bentuknya datar, lain lagi arah kiblatnya. Jadi apakah kiblat ke arah barat laut yang ditentukan ilmuwan muslim zaman dahulu itu salah? Kalau Bumi benar datar, masih sahkah salat muslim di Indonesia?

Tapi taruhlah teori Bumi datar ini memang benar-benar benar. Apabila penjelasan Bumi datar adalah hipotesis ilmiah yang bukan berdasar pada dogma semata, hipotesis ini bisa diturunkan menjadi prediksi yang lalu bisa diamati. Dan di sini teori ini akan menemui kesulitan menjelaskan fenomena benda langit yang sudah banyak diamati. Misalnya, kalau Bumi datar, mengapa Bulan, planet-planet, dan benda-benda langit yang lain bulat? Kenapa kita spesial? Kalau Bumi datar dan Matahari besarnya hanya puluhan kilometer, bagaimana cara Matahari bisa bersinar mengingat ukuran sebesar itu tidak memungkinkan terjadinya reaksi fusi hidrogen? Kenapa ketika puncak musim panas di belahan Bumi selatan, Matahari tidak pernah tenggelam?

Ada tulisan lebih lengkap tentang perbandingan antara prediksi dan pengamatan ini dari Evan, senior saya di astronomi ITB di sini. Ada juga Tri, doktor di bidang astronomi lulusan Leiden yang kini di DTM Carnegie, yang menulis tentang bagaimana kita tahu Bumi tidak datar. Tulisan Tri ini sebetulnya bagian kedua dari trilogi. Bagian pertamanya tentang bagaimana kita tahu Bumi itu bulat, sementara bagian ketiganya tentang hidup di permukaan bola. Tulisan-tulisan ini sangat saya sarankan untuk dibaca.

Kembali ke video tersebut, menurut hemat saya pembuat video itu banyak “membuktikan” klaim dengan cara menarik kesimpulan yang salah. “Membuktikan” dengan tanda kutip, karena struktur argumennya biasanya seperti ini:
Pernyataan 1: A benar.
Pernyataan 2: B menyebabkan kebenaran tidak dapat dibuktikan.
Kesimpulan: A benar.
Tapi ini bukan cara menarik kesimpulan yang logis, karena pernyataan 2 sebetulnya tidak membuktikan pernyataan 1. Maka, kesimpulan di atas bukan kesimpulan yang logis. Alur yang sama juga berlaku kalau A diganti “Bumi datar” dan B dipakai merujuk NASA. Lebih kompleks lagi ketika cocoklogi ini melibatkan dalil-dalil kitab suci (tapi tetap cocoklogi). Evan membahas cocoklogi agama ini lebih banyak di tulisannya yang ini.

Harus diakui, sebagian klaim yang diajukan pembuat video Bumi datar tersebut bantahannya bisa menjadi kasat mata, tapi perlu waktu yang lama. Misalnya, tentang Matahari dan Bulan yang disebut besarnya sama. Seandainya kita bisa menunggu pengamatan kedua benda langit itu beberapa juta tahun lagi, bulan akan terlihat lebih kecil. Secara perlahan-lahan, orbit Bulan mengitari Bumi akan makin besar akibat gaya pasang surut.

Sebaliknya, beberapa klaim lain sebetulnya mudah untuk disangkal dengan bukti. Misalnya, klaim bahwa satelit tidak bisa diamati padahal ada satelit buatan seperti ISS yang terangnya bisa menyamai planet Venus. Orbit satelit ini juga sempat melintasi cakrawala Jakarta di awal tahun ini.

Sayangnya, para pendukung teori ini biasanya lalu berdalih bahwa semua foto satelit itu CGI. Foto Bumi dari luar angkasa juga dibilang CGI. Foto spacewalk juga CGI. Tanpa rujukan parameter jelas apa yang bisa dipakai untuk membedakan foto CGI dan yang asli, semua-mua dibilang CGI. Karena ini jelas resep sukses memulai debat kusir yang tidak berujung, menurut saya sih sebetulnya ada prinsip cukuran Occam yang bisa dipakai untuk menengarai kemungkinan benarnya sebuah teori konspirasi. Sesuai prinsip ini, penjelasan fenomena dunia tanpa konspirasi lebih sederhana, dan penjelasan lebih sederhana ini yang biasanya lebih mendekati fakta. Terlebih ketika ada ribuan ilmuwan di seluruh dunia, argumen bahwa mereka semua bersekongkol untuk memajukan konspirasi ini sulit dipercaya benarnya. Misalnya, jika foto benda-benda langit hanyalah CGI, kenapa para ilmuwan harus menunggu sampai 2016 hanya untuk tahu sejumput permukaan Pluto?

Walau diambilnya tahun 1972, pokoknya hasil Photoshop!
Gambar dari NASA.

Saya lihat argumentasi konspirasi ini sering hanya mengedepankan cerita. Yang menggelitik saya, “bukti konspirasi” yang diajukan pembuat video itu utamanya adalah cuplikan film Hollywood macam Men In Black dan The Matrix, yang jelas-jelas film fiksi. Di cuplikan lain pembuat video ini membeberkan rahasia Bumi datar yang tertera di logo PBB. Ini jelas aneh, kalau memang ada konspirasi global, masa mereka tidak bisa memengaruhi logo PBB agar tidak menunjukkan rahasianya?

Sulit bagi saya untuk merespon satu per satu klaim yang muncul di video itu. Saya tidak menutup diri untuk diajak diskusi, tapi saya perlu juga menjaga waktu saya tidak tersedot untuk topik yang tidak saya minati. Saya sampaikan ke teman saya itu kalau saya perlu memperjuangkan hak-hak saya untuk jalan-jalan, makan-makan, dan main-main.

Saran saya, kalau Anda mendapati teman Anda mengajukan teori serupa, minta dia menulis. Dengan klaim yang tendensius, sulit mengira-ngira seberapa paham para penyebar tautan ini dengan materi yang mereka sebarkan, apakah 100%, 69%, atau berapa. Tanpa cara mudah menaksir pemahaman teman, diskusi yang produktif sulit berkembang. Sebar-sebar tautan itu gampang, tapi belum membuka ruang agar diskusi bisa berjalan. Untuk itu, perlu tulisan yang menunjukkan bagian mana saja yang ia setuju dan paham.

Ini juga yang saya minta ke teman saya di awal. Saya minta teman itu mulai dengan mencari sumber yang kredibel tentang bentuk bumi, lalu menuliskan pemahamannya tentang sumber tersebut. Tulisannya tentu boleh berbentuk apapun: catatan, blog, apapun, tapi tidak boleh hanya sekadar menerjemahkan/menyalin. Menulisnya harus dengan kritis dan catatannya harus berupa sintesa (ini level tertinggi taksonomi pembelajaran Bloom). Melalui tulisan yang lengkap, pakar yang mau terlibat bisa mudah memberikan penjelasan yang tepat tentang bentuk Bumi yang bulat pepat. Dengan begitu, ketika ia gigih bertanya, mudah pula mendapat jawabnya.

Thursday, January 12, 2017

Mengusahakan Keadilan Agraria

Bulan Februari 2016, 425 petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, akhirnya menerima sertipikat hak milik atas lahan yang telah mereka garap selama belasan tahun. Sebelumnya, lahan 89 hektare tersebut menjadi pokok sengketa antara petani dan PT. Perusahaan Perkebunan Tratak.

PT Tratak mengklaim kepemilikan Hak Guna Usaha atas lahan tersebut sejak 1988 untuk budidaya tanaman cengkeh dan kopi. Di tahun 2013, mereka menggugat Kepala Badan Pertanahan Nasional yang menetapkan tanah mereka sebagai tanah terlantar. Di aduan yang sama, mereka juga menggugat para petani Batang yang menggarap lahan tersebut. Gugatan PT Tratak ditolak oleh PTUN Jakarta bulan Juli 2013, namun proses redistribusi tanah tersebut baru selesai pada awal tahun lalu.

Bagi Rahma Mary, kasus tersebut adalah capaian yang paling ia banggakan. Ia merupakan salah satu advokat Public Interest Lawyer Network (PILnet), jaringan pengacara pembela kepentingan publik yang mendampingi para petani selama proses peradilan. Kemenangan mereka atas gugatan PT Tratak ini sangat berharga. Kata Rahma, “Menang perkara itu jarang, maka saya gembira menang di pengadilan.”

Rahma memiliki banyak pengalaman tentang konflik pertanahan. Setelah menamatkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro tahun 2000, ia bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang sebagai sukarelawan. Sejak menyelesaikan program Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) LBH, ia terus bekerja di sana hingga menjadi direktur dari tahun 2008 hingga 2011. Di LBH, ketertarikannya dengan isu tanah membuatnya menangani kasus-kasus agraria sejak awal.

Rahma (berjilbab ungu, tengah) di Bukit Duri
untuk pemeriksaan setempat majelis hakim PTUN Jakarta,
18 November 2016.
Rahma menjelaskan bahwa akar konflik agraria ada pada ketimpangan kekuasaan. Pemodal yang lebih kuat dari petani menguasai lahan yang terbatas. Masyarakat yang tidak memiliki lahan cukup untuk bertani lalu harus menjadi buruh dengan upah yang rendah. Ini juga yang menyebabkan banyak warga miskin di pedesaan. Mereka miskin bukan karena malas, tapi karena masalah struktural.

Struktur penguasaan lahan yang timpang mendorong pemerintah mencanangkan reforma agraria, yaitu penataan ulang kepemilikan tanah dan penggunaan sumber-sumber agraria. Untuk tujuan ini, Rahma bekerja dengan Kantor Staf Presiden dalam menyusun Strategi Nasional Pelaksanaan Reforma Agraria. Agar berhasil, implementasi program ini menuntut keterpaduan kebijakan antarlembaga dan kementerian. Redistribusi lahan ke petani Batang yang menang dari PT Tratak adalah bagian dari reformasi agraria yang dimulai tahun 2001.

Reformasi agraria ini bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat banyak. Selepas Orde Baru, banyak masyarakat yang menduduki lahan perkebunan, termasuk lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Secara hukum, mereka yang menduduki lahan ini telah melakukan tindakan kriminal. Namun, banyak dari lahan tersebut adalah lahan yang dulu diambil paksa oleh perusahaan dari petani melalui nasionalisasi.

Ketika menjelaskan tentang nasionalisasi lahan ke PTPN yang terjadi di tahun 1950an, Rahma bercerita tentang para petani di Kendal, Jawa Tengah yang ditipu. Mereka dikumpulkan oleh mandor dan diberitahu bahwa lahan mereka dibuatkan sertifikat yang diserahkan dalam amplop. Amplop tersebut hanya boleh dibuka sesampainya di rumah. Ketika dibuka, isinya justru surat pencabutan tanah. Tanah mereka telah dirampas tanpa ganti rugi.

Hingga kini, masih banyak masyarakat buta hukum yang rentan dirugikan seperti di Kendal. Di LBH, Rahma ikut mengorganisir masyarakat dan memberikan pendidikan hukum. “Dapat memberikan bantuan ketika dibutuhkan itu sangat berharga,” ujarnya.

Sebagian besar hidup Rahma dipengaruhi oleh ideologi LBH. Di sana ia belajar mendengarkan suara masyarakat. Menurutnya, memberikan bantuan hukum ini mirip dengan menjadi antropolog karena seseorang tidak mungkin membela masyarakat kalau tidak memahami yang ia bela.

Tidak banyak orang yang menjadi pengacara kepentingan publik seperti Rahma  Ketika mengikuti Kalabahu, pesertanya berguguran dari enam puluh menjadi lima belas, lalu menjadi lima. Secara nasional, dari puluhan ribu advokat, tidak sampai lima ratus orang yang membela masyarakat kecildari puluhan ribu advokat yang ada. Ia mengeluhkan pendidikan di fakultas hukum yang mengarahkan mahasiswanya untuk menjadi konsultan firma hukum besar. Ia berpendapat bahwa hasrat membela kebenaran dan keadilan harus ditanamkan sejak dini.

Membela keadilan tentu menghadapkannya pada banyak tantangan. Ia pernah diancam akan dibunuh oleh preman perusahaan lawannya di pengadilan. Usai sidang, ia menunggu sampai petang ditemani oleh seorang jaksa. Hal seperti ini jamak terjadi. Kata Rahma, “Berani itu perlu.”

Monday, January 2, 2017

PM Suka Menulis: IFTTT

Tutupnya layanan Twitterfeed akhir Oktober lalu membuat saya bingung. Sebelumnya, saya pakai Twitterfeed untuk broadcast agregasi RSS grup PM Suka Menulis di akun @tetulisan. Huh, baru juga seumur jagung.

Macetnya akun @tetulisan ini lalu menimbulkan dua pertanyaan:
1) Jadi apa yang bisa saya pakai untuk agregasi RSS sebagai gantinya?
2) Memangnya, ada yang baca ketika ada link yang ditweet di sana?

Pertanyaan pertama hanya bisa dijawab dengan mencoba-coba. Selain kembali mencoba dlvr.it, saya mengetes buffer.com dan mencoba IFTTT. Kendala saya dengan dlvr.it tetap sama: RSS gabungan ditolak karena terlalu besar ukurannya, ketengan cuma bisa lima saja. Sementara, Buffer yang saya pikir menjanjikan, ternyata hanya bisa mengakomodasi 15 RSS feed. Itu pun harus bayar $102/tahun untuk jenis langganan Awesome. Waktu itu, sudah lebih dari 40 RSS dari anggota grup PM Suka Menulis.

Tinggal IFTTT solusinya. If this then that: if (blog publishes feed) then (publish to twitter). Sambungkan blog ke trigger, sambungkan twitter ke action. Beres.
Tapi ternyata IFTTT menolak post mention—rawan disalahgunakan untuk spam maka tweet di atas hilang tanda @-nya. Ya benar juga sih, tapi ini berarti pertanyaan pertama saya tidak langsung selesai. Untungnya saya menemukan bahwa hal ini bisa diakali dengan memakai Buffer sebagai perantara. Maka IFTTT saya menjadi: If this then that: if (blog publishes feed) then (add post to buffer (buffer post to twitter)). Tidak sempurna, karena kalau antrean buffer penuh (10 post), maka buffer akan skip tambahan post barunya.

Tapi karena sejauh ini PM Suka Menulis ngga rajin (suka != rajin), masih ga masalah. Dalam 204 hari sejak pertama diluncurkan, baru 273 tweet yang dikeluarkan @tetulisan, maka rasanya buffer-nya belum akan penuh dalam waktu dekat.

Lalu, dengan tweet yang sedikit itu, ada yang baca?

Ini pertanyaaan kedua saya tadi. Saya telusuri jawabannya sambil menyelamatkan daftar feed yang sudah terlanjur dimasukkan ke Twitterfeed sebelum mereka tutup permanen. Hasilnya? Statistik Twitterfeed menunjukkan bahwa ada 452 kunjungan ke 187 post yang ditweet @tetulisan. Rata-rata satu tweet mengirimkan 2,4 kunjungan ke alamat blog tersebut. Angkanya ngga gegap gempita seperti tiap postingan facebook Indonesia Mengajar yang langsung disukai ratusan orang, tapi lumayan lah.

Sekarang, migrasi otomatisasi sudah komplit ke IFTTT, plus tambahan feed dari Sinta dan Lukvi--yang akhir-akhir ini agak rajin ngeluarin tulisan. Mudah-mudahan terus berlanjut sampai selewat tahun baru. 

Friday, December 2, 2016

Lada

Irwan menantang saya untuk makan ayam Richeese pedas level lima—saya iyakan dengan gembira. Lima potong sayap kemudian, lidah saya bergetar dan keringat timbul di kepala. Saya berkata, "Ini nirwana!"

Mbak Lina datang berdecak, "Ini bahaya ngga?"

Saya jawab, "Tentu, Mbak. But what's the point of living if we don't live dangerously?" Teman-teman lain tertawa dan bersorak. Freida menatap prihatin. 

Anak-anak kantor memang sudah hafal kelemahan saya. Ini memang kentara dari habisnya Sambal Bu Rudi dalam hitungan hari, antusiasme saya untuk pergi ke Indomie Abang Adek, dan kecepatan saya menandaskan Samyang yang dibawa Donghee. Begitu sambal jadi topik wicara, air liur saya terbit seketika. 

Ini tidak berarti saya kebal, kok. Perut saya tetap jeri—dan sekali dua kali saya terbungkuk-bungkuk di atas kloset meratapi kebodohan diri. 

Tapi biasanya tidak separah itu juga untungnya. Paling telapak tangan saya saja yang berdenyut sebagai protes harus ikut disiksa. Dan karena cuci tangan saya tidak menyeluruh. Kalau sudah begini, saya harus ingat untuk tidak menyentuh-nyentuh tubuh. Tak sengaja mengucek mata berarti mengundang siksa. Mengusap pipi membuat wajah serasa ingin dikuliti. 

Maka saya tidak terbayang bagaimana perihnya mereka yang dipaksa merancap dengan cabai giling. Mereka pikir penis itu ulekan sambal, apa ya? Gila. 

Tapi terlepas masalah susilanya, ini membuat satu pertanyaan bahasa terbersit di kepala saya. Kalau KBBI menyebutkan masturbasi dengan sabun sebagai sabsab, etiskah jika saya usul sebutan merancap pakai cabai dengan cabcab?

(Tidak apa-apa, mungkin memang baiknya abaikan saja.)


Monday, November 21, 2016

Putu Oka Sukanta, A Man of Courage

Few men are alive as Putu Oka Sukanta is alive. He practices acupuncture and traditional medicine. He writes poetry, short stories, and novels. He was also jailed during New Order’s anti-communist purge in 1966 for his involvement in Lekra. The government never put him on trial, and they only released him 10 years later. 

It is therefore unsurprising that many of his stories and poems deal with oppression. As a victim himself, he was subjected to physical torture in prison. In a documentary produced by AJAR, he recounted being hit, kicked, punched, and whipped with manta tails. At the same time, the lack of judicial process also means that he was treated as less than human being. For him, it was worse than being tortured.

After his release, he understood that his movements would be limited. He made a living by practicing acupuncture, a skill he acquired in prison from another prisoner. In the meantime, he continued to write about his experience in the prison but he found that there was extremely limited opportunity for publication. The powers that were embargoed works by ex-political prisoners, and when he won an award for his work on environment, the Ministry of Information soon after issued a regulation barring people involved with communism from publication. He was thoroughly cornered. 

Still, he found other ways for channel his creative work. He remembered Goethe Institute fondly: they gave him stage when everybody shunned him. To publish his work, one of his acupuncture patients helped him smuggle his manuscript, Tembang Jalak Bali, for publication in Malaysia. It was also published in English and was met with critical acclaim.

“The book is like a pair of wings. It carried me all over the world,” Putu said. Two poems from the book are included in Voices of Conscience, a worldwide collection of poems about state-sanctioned oppression. 

Putu Oka also understands that the imprisonment affected not only the political prisoners themselves, but also their immediate family and their environment. In his anthology, Tak ‘Kan Melupakanmu, he wrote short stories about people who “struck the line,” a euphemism that alleged involvement with the communist party. While his stories are often set in Bali, they do not paint a picture of an idyllic haven. Instead, they tell stories of innocent victims facing arbitrary dismissal from their jobs, enduring stigma and harassment from their family and communities, or death.

Today, Putu remains a prolific writer. As his health deteriorates, he relaxes his writing target to complete one book every two years. 

Over the years, his writing has branched out to other topics, including to HIV/AIDS. “I have always been drawn to marginalized communities,” he said. 

It is easy to imagine that had Putu Oka not been incarcerated, he would have championed the cause of marginalized people all the same. According to Putu Oka, people with HIV/AIDS face great discrimination and stigmatization just like him.

“This is an unending fight.”




Sunday, October 30, 2016

Gerhana

Awal Maret, saya berada di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kota ini ada di jalur lintasan Gerhana Matahari Total 2016 yang bergerak menyisir Kepulauan Indonesia dari Palembang dan Balikpapan, ke Poso dan Maba. Pada tanggal 9 Maret, bulan akan menutupi cakram matahari untuk mendesakkan malam ke langit pagi.

Jalur totalitas gerhana
Ini adalah kali pertama saya akan mengamati gerhana matahari dengan mata kepala sendiri. Tahun 2009, perjalanan saya ke Banten untuk mengamati gerhana matahari cincin berakhir sia-sia. Awan mendung menggagalkan rencana observasi. Di tahun 2012, saya meninggalkan Jepang terlalu dini, tiga bulan sebelum gerhana cincin melintasi sisi-sisi tenggara pulau-pulau utamanya.

Gerhana adalah peristiwa langka. Satu tahun hanya bisa ada empat hingga tujuh kali gerhana, dan lebih banyak di antaranya yang hanya merupakan gerhana penumbra yang tidak kasat mata. Irisan lintasan bumi dengan umbra bulan lebih jarang, dan untuk suatu tempat yang pernah dilintasi gerhana matahari, biasanya ada jeda waktu yang lama hingga peristiwa yang sama kembali berulang. Terakhir kali GMT diamati di negeri ini, Harmoko masih menjadi Menteri Penerangan, Soeharto masih ada di puncak kekuasaan. Saya baru berusia dua bulan di tahun 1988.

Banyak yang telah berubah, tentu saja. Kini masyarakat tidak lagi disuruh bersembunyi. Stasiun televisi berlomba-lomba menampilkan hitung mundur hingga waktu okultasi matahari.

Di Banggai, reservasi hotel sudah tidak mungkin dicari. Banyak wisman Barat berkeliaran di pusat keramaian. Mereka yang berkulit terang tampak mencolok, menarik perhatian saat menyeberang jalan. Pemkab memusatkan aktivitas perayaan gerhana di Pulau Dua. Mereka sekaligus menggelar Festival Babasal untuk menampilkan kesenian daerahnya. Pentolan-pentolan DPRD justru membuat acara tandingan di pusat kota. Festival Teluk Lalong disiapkan untuk memamerkan aneka makanan dan kerajinan. Semua antusias mempromosikan budaya, hampir tak ada yang ingat gerhana bisa jadi media pembelajaran IPA.

Saya memilih menyingkir dari hiruk-pikuk kota. Sehari menjelang gerhana, saya menuju Pegunungan Batui. Desa-desanya lebih sepi. Saya susun rencana observasi dari sekolah dasar di desa Trans Batui 5. Letaknya pas di atas bukit. Dari sana, vista timur terbentang terang.

Langit cerah ketika hari gerhana tiba. Ini pertanda bagus.

Saya dan dua teman seperjalanan menuju sekolah pukul setengah delapan kurang. Kami ditemani oleh guru-guru yang mengajar di desa itu. Seorang guru membawa sekarung rambutan dan beberapa ikat durian ke mushola. Ketika kami sampai, anak-anak berkerubut, lalu dihalau: mereka harus sembahyang sebelum menggasak durian. Kami tengok langit dengan kacamata gerhana: matahari sudah terlihat berbentuk sabit. Bedug dipukul, sholat gerhana dimulai.

Tidak semua warga dan anak-anak datang ke mushola. Hanya separuh yang Muslim saja yang ikut sholat gerhana. Di saat yang sama, mereka yang Hindu melaksanakan Amati Geni. Sekolah juga libur untuk Nyepi.

Selesai sholat gerhana, langit masih terang. Namun anak-anak telah siap dengan alat bantu mereka. Sebagian membawa kamera lubang jarum. Sebagian mengantre giliran memakai kacamata gerhana. Saya arahkan cahaya pembiasan binokular saya ke dinding mushola. Sabit matahari terlihat jelas makin cekung.

Pukul setengah sembilan, langit meredup. Pagi berasa senjakala dan angin dingin berembus. Temaram bayangan pohon di tanah dipecah oleh pola-pola sabit matahari. Malam datang.

Saya melepas kacamata gerhana saya ketika bulan seluruhnya menutupi sang surya. Langit gelap, dengan cincin berlian raksasa bercokol di angkasa. Korona matahari memang hanya nampak kilaunya ketika gerhana sempurna. Merkurius dan Venus menjadi tampak, mengarak matahari ke zenit. Dekat ufuk barat, Mars bertengger di rasi Scorpio. Kentongan ditabuh bertalu-talu.

Totalitas gerhana tidak berlangsung lama. Tidak sampai tiga menit setelahnya, bulan beranjak. Cincin berlian rusak, dan langit kembali berangsur terang. Gerhana telah usai. Saya menghela nafas panjang, sadar ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Gerhana matahari total di desa lain di Kabupaten Banggai. Foto Dhenny dari sini.

------------------------------
(Tulisan ini dibuat untuk tugas Kursus Narasi Pantau. Editing dibantu oleh @Hning.)

Friday, August 26, 2016

Hentian

Saya melambaikan tangan di pinggir jalan. Satu taksi berwarna putih menyalakan sen kiri dan mendekat. Saya masuk. Sopir taksi mengucap, "Alhamdulillah."

Hampir tidak pernah saya dapati reaksi pertama orang ketika bertemu saya adalah ungkapan syukur.

Saya berikan arah ke Salemba, lalu membenamkan diri ke jok kursi. Bapak sopir taksi mengiyakan, dan kami meluncur. Sembari menuju daerah Pasar Senen, bapak sopir berkata bahwa saya adalah penumpang terakhirnya. Suaranya letih.

Dugaan pertama saya, taksi ini adalah satu dari sekian banyak taksi yang terkena dampak persaingan dengan Uber dan aplikasi serupa. Mungkin dia kesulitan mencari penumpang.

Dugaan kedua saya, dia separuh berharap bahwa penumpang yang dia ambil tidak akan membawanya ke luar kota, mungkin karena dia sudah mengarah menuju pul.

Dugaan ketiga saya, dia hampir belum memenuhi setoran di penghujung sifnya, dan bersyukur ongkos saya akan bisa menggenapinya.

Ketiga dugaan saya ternyata salah semua. Terhitung hari itu, ia tidak akan lagi menjadi sopir taksi. Paling tidak untuk sementara waktu. Lepas mengantar saya, ia akan kembali ke pul, lalu menyerahkan kembali taksinya. Ia sudah belasan hari tidak menarik taksi, dan hutang setorannya menumpuk. Selama itu pula taksinya absen dari pul, dan kini pihak manajemen menuntut dia untuk mengembalikan taksinya.

"Supervisor saya baik Pak orangnya. Dia bilang, saya tidak perlu bayar dendanya, tapi hanya setorannya saja." Tapi tetap saja, uang dari mana?

Kami berhenti, menunggu palang kereta api naik kembali di Pasar Senen. Dari spion terlihat matanya merembang merah.

Selama belasan hari, ia sudah menghabiskan waktunya di rumah sakit. Anaknya yang kecil menjadi korban tabrak lari, dan ia menungguinya di sana. Biaya rumah sakit tidak sedikit, meski sudah dikurangi BPJS Kesehatan.

Ketika saya memberanikan diri bertanya apakah si ibu tidak ada untuk ikut menjaga anaknya, ia menjawab bahwa mendiang istrinya belum genap empat puluh hari meninggal dunia. Anak-anaknya yang lebih tua ikut menjaga, tapi lalu segera diminta kembali bekerja oleh bos mereka.

Ia kembali mengucek matanya.

Pascaoperasi, anaknya akan bergantung pada kursi roda dan tidak akan lagi bisa berlari. Ia kasihan, dan berkata kalau di benaknya sudah terlintas macam-macam. Ia ulangi sekali lagi, bahwa ia sudah berpikir macam-macam, sebelum melanjutkan dengan kalimat-kalimat rumpang tentang mencuri dan bunuh diri.

Tapi ia masih bisa menghentikan taksi untuk saya tumpangi. Syukur, pikirnya, ada yang menghentikan dia.

Kami tiba di Salemba. Saya turun dengan masygul.

Friday, July 29, 2016

Tebas

Muhammad menghunus pedangnya.

Kedua tangannya memegang gagang pedang. Pedangnya terulur ke bawah badan di sisi kanan. Mata depan pedangnya menghadap Ryan, yang menyampirkan pedangnya di atas bahu kanan.

Muhammad menyabet maju. Ia mengincar lutut kiri Ryan. Pedangnya menebas naik ke tengah dahi.

Ryan menumbukkan pedangnya turun. Pedangnya menghantam pedang Muhammad.

Pedang Ryan berkertak. Ia memekik. Separuh bilahnya terlontar.

Apabila Muhammad dan Ryan benar-benar bertempur, situasi sudah genting. Namun adu pedang mereka berhenti ketika pedang Ryan patah, dan patahannya ia pungut untuk direkatkan kembali. Pedangnya juga hanya terbuat dari kayu.


Pertempuran ini adalah bagian dari latihan kelompok Gwaith-i-Megyr di Taman Suropati, Menteng. Tiap hari Minggu, sekitar sepuluh anggotanya berkumpul untuk berlatih ilmu bela diri Eropa kuno menggunakan pedang panjang. Di kelompok ini, mereka mempelajari manuskrip bela diri dari akhir abad ke-14. Ada dua mentor yang melatih kelompok ini. Ari mengajarkan teknik Fiore dari Italia, sementara Dani memberi pelajaran teknik Liechtenauer dari Jerman Selatan.

Pedang panjang yang digunakan latihan dibuat dari kayu jati atau kayu kamper. Panjang bilahnya berkisar satu meter. Di antara gagang dan bilah, ada batang silang yang berfungsi untuk melindungi tangan penggunanya agar tidak tersayat mata pedang secara tak sengaja. Selain itu, batang silang ini juga berguna sebagai alat untuk menangkap dan menggiring pedang lawan.

Meski menggunakan pedang kayu ketika latihan, risiko terluka tidak serta-merta hilang. Anggota yang lengah harus ikhlas ketika lengan dan dada mereka terantuk mata pedang. Lecet dan memar menjadi biasa.

Latihan Gwaith-i-Megyr memang banyak berkutat di posisi bertahan, cara tangkisan, dan cara menetralisir serangan. Alasannya? “Bunuh orang pakai pedang itu gampang,” kata Dani. “Yang susah itu gimana caranya kita ngga ikut mati waktu menyerang.”