Friday, August 2, 2013

Paradoks Ramadan 1434 H

Di awal bulan Ramadan, pada suatu sore saya mau diajak tahlilan di dusun sebelah. Lebih tepatnya sebetulnya saya diajak ke dusun sebelah dan baru sadar kalau mau tahlilan ketika separo jalan melintas jembatan kayu bolong-bolong.

Tapi toh sudah terlanjur pergi, dan saya bosan juga tidak ada kerjaan karena libur bulan puasa jadi saya datang juga. Di sana, selain dapat pencerahan--yang tidak terkait dengan isi takziah yang disampaikan--tentang berkah Ramadan dan Rodja TV, saya juga jadi sadar tentang adanya paradoks dalam paradigma Islam seperti yang disampaikan tuan rumah saya.

Waduh, berat nih bahasannya. Paradoks? Paradigma? Ohya, Anda mungkin akan tersinggung lho baca lanjutannya. Kalau Anda baca, berarti Anda secara eksplisit memang paham kalau yang saya tulis berikutnya mungkin menyinggung Anda, dan Anda kehilangan hak untuk marah-marah secara tidak rasional. Kalau mau menunjukkan bahwa logika saya ada bolongnya sih tetap boleh, marah-marahnya itu yang tidak boleh. Tetap mau lanjut?

Jadi begini, di kesempatan itu, si penceramah lalu menyampaikan bahwa sebaik-baiknya dan seislami-islaminya sekolah tempat seorang anak belajar, kalau orang tuanya tidak sholat di rumah, insya Allah anak itu tidak akan jadi anak saleh. Kenapa begitu? Karena sebagaimana sudah dijanjikan Allah bahwa ketika anak Adam mati, maka terputuslah darinya semua amal kecuali tiga, salah satunya adalah anak yang saleh. Jadi sepertinya Allah tidak ikhlas kalau ada manusianya yang dapet tumpangan gratis menuju surga melalui anaknya sementara si orang tua ini mungkin semasa hidupnya kurang sholatnya.

Kelihatannya cukup adil, bukan? Kalau tidak berusaha sendiri, maka di kubur pun siksa akan mengikuti.

Sayangnya, paradigma ini memiliki satu paradoks: dengan mencoba adil, paradigma ini menjadi tidak adil.
Bayangkan seorang anak, yang lahir di dunia ini tanpa bisa memilih orang tuanya. Ketika dia dilahirkan di keluarga yang saleh, semuanya akan baik-baik saja. Dia "bisa" memilih untuk menjadi anak yang saleh dan bermanfaat bagi kenyamanan kubur orang tuanya, atau dia bisa memilih sebaliknya. Kata bisa dalam tanda kutip karena toh prakteknya dia akan dituntun dan dituntut untuk menjadi anak saleh dalam paradigma orang tuanya.

Tapi ketika anak ini lahir di keluarga yang kurang saleh, dan ketika Allah tidak mengijinkan orang tua yang tidak saleh untuk memiliki anak yang saleh, ini sama artinya dengan anak itu dikutuk untuk tidak menjadi saleh. Dan ketika dia tidak menjadi saleh, maka sudah pasti jauhlah surga dari dia. Dan jauhnya surga ini bukan salah dia sendiri, tapi salah orang tuanya--yang tidak bisa ia pilih ketika lahir! Sama saja dengan kita membalas dendam ke orang yang salah, kita telah berlaku tidak adil. Jadi Allah tidak adil?

Dalam kerangka ini, baiklah Allah hanya menghukum si orang tua yang tidak saleh ini, tidak membawa anak-anaknya. But here's the catch: orang-orang tua ini dulunya anak-anak, dan sebagai anak-anak, mereka juga tidak bisa memilih orang tua mereka. Kalau mereka menjadi tidak saleh disebabkan oleh pengaruh orang tua mereka, berarti kesalahan bukan ada di mereka juga, dan mereka tidak bersalah. Ingat, bahwa di premis awal tadi telah ditetapkan bahwa seorang anak tidak akan menjadi saleh ketika orang tuanya tidak saleh. Jadi ketika seorang anak tidak saleh, itu adalah konsekuensi atas perilaku orang tuanya. Dan seterusnya.

Jadi anak yang beruntung hanyalah anak yang lahir dari orang tua yang saleh. Sementara begitu ada yang menyimpang menjadi tidak saleh, seluruh keturunannya tidak akan diridoi untuk menjadi saleh. Kesalehan menjadi sebuah dinasti, yang hanya dimiliki oleh segelintir kelompok tertentu yang beruntung memiliki garis keturunan yang saleh galur murni. Kesalehan menjadi properti sebuah oligarki.

Dan ketika dinasti yang oligarkis ini digaungkan sebagai kesempurnaan, malang nian mereka yang mendapati dirinya di luar dinasti ini. Mereka yang ingin menjadi bagian dari dinasti ini tapi tidak akan diridoi untuk menjadi bagiannya. Kasihan.



7 comments:

RR said...

Hahaha gue suka banget paragraf pembuka yg ketiga:
"Ohya, Anda mungkin akan tersinggung lho baca lanjutannya. Kalau Anda baca, berarti Anda secara eksplisit memang paham kalau yang saya tulis berikutnya mungkin menyinggung Anda, dan Anda kehilangan hak untuk marah-marah secara tidak rasional. Kalau mau menunjukkan bahwa logika saya ada bolongnya sih tetap boleh, marah-marahnya itu yang tidak boleh. Tetap mau lanjut?"
Keren!!!

Haha ilmiah banget logikanya syur. Gue dulu juga mikir begitu dan juga pada beberapa hal-hal kecil lainnya.

Kenapa ya paradigma islam kadang suka paradoks dan suka banget ngurusin hal-hal kecil, semuaaaaanya diurusin, bawaannya salah terus jadi umat. Padahal waktu untuk urusin gituan kan bs lebih dipake untuk hal bermanfaat bagi orang lain.

Jadi sekarang gue udah gak mikirin gituan lagi sih, yang gampang-gampang ajah.

Masyhur Hilmy said...

weits, baru dipost udah ada lo yang komen aja R. Percaya ga percaya, ini topik relatif ringan lho, biasanya gw diseret-seret ampe ngilu ngomongin problem of demarcation, apa yang sains, apa yang bukan. Sambil ngejelek-jelekin positivisme (padahal gw juga ga pernah ngebelain positivisme juga, mazhab gw lebih ke Popperian hahahah)

RR said...

kan gue follow elo sur, jadi ada notifnya kalo ada post baru

Unnie-Nuna said...

Hi Masyur Hilmy,

My name is Amel. I have some great friends from Indonesia Mengajar. Gw lagi iseng baca2 profil PM yang lain, eh tau2 nemu blog ini..hehe.

Topiknya ringan dan cukup menarik (setidaknya lumayan ringan kalo dibandingin topik postingan lo yg lain..hehe)..

Gw sendiri kurang setuju sih dgn pendapat si Ustad, it's based on my personal experience. Nyokap gw hampir gak pernah sholat, sedangkan bokap gw sholatnya rajin tapi cukup "telat" sadar sama yang namanya agamanya..baca Qur'an baru bisa setelah umurnya 55 taun. Tapi alhamdulillah, gw n adek gw udah mulai rajin ibadah dari kecil,mostly belajar dari guru ngaji n liat temen2 yang lain :)

FYI aja, pernah denger lagunya Raihan yang judulnya "iman mutiara"? (Coba aja googling n liat di youtube..hehe). Ada bagian liriknya kyk gini : "iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa".
Jadi kalo versi raihan, iman itu bukan oligarki kok...dan gw lebih setuju pendapat yang ini kayaknya..hehe..Wallahualam.

Salam kenal yaa... =)

Masyhur Hilmy said...

Halo Amel, salam kenal juga!
Sebenernya memang post ini spesifik ke paradigma si guru agama, overgeneralisasi yang jatuhnya paradoksal. Walaupun yang berpendapat kayak gini ga cuma satu-dua.

Gw ga pernah denger Raihan sih, dan ini bakal jadi fakir sinyal lagi, so I'll take your word for it :)

P.S. sebenernya topik postingan-postingan gw lainnya jauh lebih ringan lho, jangan biarkan kemasan bahasa Inggrisnya menipu lo :D

towi said...

jadi gatel ingin komen juga, hai pa kabar ghaais? RR, Masyhuur.
gini..
kan orang tua ada 2 syhur, sepertinya harus ditambah itu kolomnya.
bagaimana juga dengan setengah saleh, mantan saleh, mantan kurang saleh? namanya juga manusia, dinamis dan tak sempurna.

dengan asumsi manusiaa tidak ada yang sempurna saleh atau sempurna jahat berarti masih banyak probabilitas seseorang untuk keluar dari "galur ketidaksalehan" begitupun sebaliknya.

Jadi kesimpulannya ya Syhur, kalau ngga bisa jadi saleh, minim cari istri yang saleh, trus berharap anaknya ikutan saleh :D.

Kita tak bisa milih dilahirkan oleh siapa, tapi kita bisa memilih hidup bersama siapa.hehe, udah milih idup sama siapa belum Syhur?

Masyhur Hilmy said...

CMIIW, Tow, ada kesan bahwa yang terpenting dalam dogma paradigma itu adalah kondisi akhir/saat ini/paling baru. Ketika seseorang mendapatkan khusnul khatimah, maka lapanglah jalannya menuju ganjaran kekal. Ketika seorang sufi terpeleset di akhir hayatnya menuju maksiat, niscaya pedihlah azabnya.

Tapi terlepas dari pertimbangan valid/tidak riwayat keimanan seseorang dalam menentukan keridaan didapatkannya anak saleh, penambahan kategori orang tua menurutku tidak perlu. Mantan saleh dan mantan kurang saleh bukannya bisa dimasukkan ke opsi yang udah ada ya? Mantan saleh berarti sekarang tidak saleh. Mantan kurang saleh ya berarti saleh. Separo saleh kayak gimana ya? Aku kebayangnya STMJ--Sholat Terus Maksiat Jalan=tidak saleh.

Seandainyapun kita tambahkan kategori tambahan itu--for the sake of argumentation--masih tetap ada ketidakkonsistenan si biang paradoks.

Iya memang, untuk yang mantan tidak saleh yang mendapatkan anak saleh, untuk yang mantan saleh yang mendapatkan anak yang tidak saleh, nampak bahwa semuanya pantas. Ganjarannya setimpal. Amal dihargai

Tetapi, kalau orang yang mantan saleh diridhai untuk dapat anak saleh, apa berarti yang maha kuasa menutup mata akan kondisinya saat ini yang tidak saleh? Dengan kata lain, dengan mencampuradukkan istilah game, apakah asal punya tabungan pahala cukup, maka bisa unlock bonus anak saleh, meskipun habis itu health pointnya berkurang drastis gara-gara kebanyakan ambil side quest? Hal yang serupa berlaku untuk orang yang mantan tidak saleh yang hanya bisa mendapatkan anak yang tidak saleh. Apakah, lagi, yang maha kuasa menutup mata akan kondisinya saat ini yang sudah bertobat?

Untuk yang mantan tidak saleh yang lalu hanya mendapatkan anak yang tidak saleh, tidakkah yang maha kuasa berkuasa untuk memaafkan dan menerima taubat yang menghamba padanya? Ketika pertanyaan ini berjawab ya, yang sudah menghamba bisa mendengus sebal (yes, an exaggeration), capek-capek taubat, dapatnya anak yang tidak saleh juga, yang akan memberatkannya di akhirat karena anak adalah tanggung jawabnya.

Walaupun memang mungkin harus diperiksa untuk kasus-kasus yang status kesalehan kedua orangtuanya berbeda. Bisakah seorang suami/istri yang saleh "mengangkat" pasangannya sehingga mereka bisa diridai mendapatkan anak saleh?

Tapi lain kali saja lah. Kalau perlu kita bahas ini pas OPP? Satu bulan lagi kita ketemu! :D