Sunday, February 1, 2015

Jelai

Ini pint bir keempat dan ini waktu yang tepat untuk merenungkan dunia. Ketika aku minum separuhnya, apakah gelas ini separuh kosong, atau masih separuh isi? Jika mereka punya kesadaran, apakah jelai-jelai yang dikecambahkan menjadi malt bahan bir ini memilih jadi bir? Atau jadi roti, mengenyangkan? Atau tumbuh jadi jelai baru?

Apa pula bedanya masing-masing kita dengan tanaman jelai ini? Si jelai bisa bermimpi merintis ladang baru; kita bermimpi jadi presiden untuk mengisi waktu. Usai panen, ia rekahkan akarnya jadi kecambah malt, hanya untuk mengalami hilangnya air pembawa pertumbuhan.

Tidak ada ladang baru untuk jelai ini. Malt tidak mengubah dunia.

Ini saatnya pint kelima.

2 comments:

Aulia Fairuz Kuntjoro said...

I hate you. After working for hours in my final project, I NEED MY SLEEP. But when I read your blog, I can't. I hate you, Masyhur.

Oh anyway, Hi (again)! :)

Masyhur Hilmy said...

Obviously I don't check my own comment feeds often enough, but do allow me to offer you my humble apology for having stolen your sleep.

Also, hi! Have we met before IRL? (I am sure you have realized that I have terrible memories.)