Monday, January 2, 2017

PM Suka Menulis: IFTTT

Tutupnya layanan Twitterfeed akhir Oktober lalu membuat saya bingung. Sebelumnya, saya pakai Twitterfeed untuk broadcast agregasi RSS grup PM Suka Menulis di akun @tetulisan. Huh, baru juga seumur jagung.

Macetnya akun @tetulisan ini lalu menimbulkan dua pertanyaan:
1) Jadi apa yang bisa saya pakai untuk agregasi RSS sebagai gantinya?
2) Memangnya, ada yang baca ketika ada link yang ditweet di sana?

Pertanyaan pertama hanya bisa dijawab dengan mencoba-coba. Selain kembali mencoba dlvr.it, saya mengetes buffer.com dan mencoba IFTTT. Kendala saya dengan dlvr.it tetap sama: RSS gabungan ditolak karena terlalu besar ukurannya, ketengan cuma bisa lima saja. Sementara, Buffer yang saya pikir menjanjikan, ternyata hanya bisa mengakomodasi 15 RSS feed. Itu pun harus bayar $102/tahun untuk jenis langganan Awesome. Waktu itu, sudah lebih dari 40 RSS dari anggota grup PM Suka Menulis.

Tinggal IFTTT solusinya. If this then that: if (blog publishes feed) then (publish to twitter). Sambungkan blog ke trigger, sambungkan twitter ke action. Beres.
Tapi ternyata IFTTT menolak post mention—rawan disalahgunakan untuk spam maka tweet di atas hilang tanda @-nya. Ya benar juga sih, tapi ini berarti pertanyaan pertama saya tidak langsung selesai. Untungnya saya menemukan bahwa hal ini bisa diakali dengan memakai Buffer sebagai perantara. Maka IFTTT saya menjadi: If this then that: if (blog publishes feed) then (add post to buffer (buffer post to twitter)). Tidak sempurna, karena kalau antrean buffer penuh (10 post), maka buffer akan skip tambahan post barunya.

Tapi karena sejauh ini PM Suka Menulis ngga rajin (suka != rajin), masih ga masalah. Dalam 204 hari sejak pertama diluncurkan, baru 273 tweet yang dikeluarkan @tetulisan, maka rasanya buffer-nya belum akan penuh dalam waktu dekat.

Lalu, dengan tweet yang sedikit itu, ada yang baca?

Ini pertanyaaan kedua saya tadi. Saya telusuri jawabannya sambil menyelamatkan daftar feed yang sudah terlanjur dimasukkan ke Twitterfeed sebelum mereka tutup permanen. Hasilnya? Statistik Twitterfeed menunjukkan bahwa ada 452 kunjungan ke 187 post yang ditweet @tetulisan. Rata-rata satu tweet mengirimkan 2,4 kunjungan ke alamat blog tersebut. Angkanya ngga gegap gempita seperti tiap postingan facebook Indonesia Mengajar yang langsung disukai ratusan orang, tapi lumayan lah.

Sekarang, migrasi otomatisasi sudah komplit ke IFTTT, plus tambahan feed dari Sinta dan Lukvi--yang akhir-akhir ini agak rajin ngeluarin tulisan. Mudah-mudahan terus berlanjut sampai selewat tahun baru. 

2 comments:

raharasi said...

Wuuiih, di-mention (ini dipisah apa disambung, Syur) di blog yang kece ini. Tersanjung.
Jadi malu, kebanyakan nyampah di blog sendiri.Hahahahha

Anw, g tau kalau ikutan nambah feed, gimana cara? Kayanya feed blog aku hide. Duh, padahal kerja di IT, tp ginian gak paham :(

Masyhur Hilmy said...

Vi aku kan follow blog kamu dari dulu pake Feedly, jadi aku langsung ambil feed kamu aja haha. Biar banyak variasi yang nulis di @tetulisan. Tapi kalau indak berkenan bisa juga aku tarik :|