Thursday, August 17, 2017

Mata Mama

Saya mendapati Mama terpekur di sudut dapur. Ia duduk diam, dengan pandangan menerawang. Hati saya mencelos melihat matanya yang merah dan basah. "Mama kenapa?"

Saat itu kurang dari seminggu sebelum keberangkatan saya ke Amerika. Jadwal kepergian saya juga berdekatan dengan hari ulang tahunnya yang keenam puluh satu. Kami memang tidak punya tradisi merayakan ulang tahun, tapi saya toh merasa sentimental juga.

Mama menyeka mata. "Iki rodo perih bar taktetetesi kembang melati katarak," jawabnya.

Bunga pembawa mala untuk mata?
Mama menunjukkan sekuntum bunga berwarna putih yang dipetiknya dari rerumputan di samping rumah. Ia berkata Bu Wal dan Mbak Tiwi, tetangga-tetangga kami, juga sering mencari bunga tersebut untuk dipakai sebagai tetes mata. Saya endus-endus bunganya, tapi tidak ada yang tercium. Mama bilang memang tidak ada baunya.

Penjelasan Mama membuat rasa sentimental saya berganti menjadi rasa khawatir. Mungkin Mama melihat raut muka saya sehingga ia berkata bahwa perihnya akan reda. Lalu, pandangannya akan menjadi terang.

Aduh, yang benar saja, pikir saya. Bagaimana kalau justru berbahaya? Saya harus menghentikan Mama mencoba-coba pengobatan alternatif yang tidak jelas landasan medisnya. Tapi sifat keras kepala saya juga turun dari Mama, jadi bagaimana cara saya membujuknya? Saya perlu dukungan kakak dan adik saya.

"Hul," keluh adik saya via whatsapp. Kakak saya menggerundel, karena dia yang hidup serumah dengan Mama sudah pernah melarangnya mencoba-coba cairan bunga ini. Masalahnya kami bertiga cenderung curiga terhadap sebaran-sebaran serampangan di internet, tapi Mama relatif gampang percaya. Mama memang baru akhir-akhir ini terhubung dengan internet di ponselnya. Meski kini ponselnya selalu riuh dengan notifikasi pesan baru di berbagai grup whatsapp yang ia masuki, saya tidak yakin Mama mengerti cara memanfaatkan mesin pencari.

Ini wajar sebetulnya. Kalau saya yang nyaman menggunakan ponsel pun kadang kesulitan menemukan informasi yang diperlukan lewat peramban ponsel saya, apalagi Mama. Begitu pula dengan kasus tetes mata cairan bunga melati katarak ini: saya menemukan bahwa bunganya juga disebut bunga kitolod, kembang jangar atau bunga bintang lima, tapi tak banyak informasi berguna lainnya dalam bahasa Indonesia yang bisa diverifikasi.

Menyebalkannya, saya justru terputar-putar di sekumpulan blog iklan obat-obatan herbal dengan isi yang repetitif; hasil salin-tempel sembarangan antara blog satu dengan yang lain. Singkatnya, saya menemukan bahwa tidak ada yang menyitir studi ilmiah ketika mengklaim manfaat bunga ini. Pun tidak ada pakar kompeten yang pernyataannya dikutip dengan sanad yang baik.

Saya makin sangsi dengan klaim khasiat kitolod. Di kombinasi kata kunci kesekian saya menemukan pakar yang bisa diandalkan justru menyatakan sebaliknya. Lewat Twitternya, Ferdiriva Hamzah yang berpraktik sebagai dokter mata di Jakarta Eye Center memperingatkan bahwa meneteskan cairan bunga ini ke mata justru bisa menyebabkan infeksi di mata. Infeksi ini bisa menyebabkan nanah dan yang lalu menggenang di mata. Hasil akhirnya sama: tetes mata ini bisa mengancam penglihatan.



Ini yang lalu kami tunjukkan ke Mama. Kami tunjukkan juga beberapa tweet balasannya dari orang lain yang mendukung pernyataan dokter tersebut.

Maka kami meminta Mama untuk selalu berkonsultasi dengan dokter jika ada yang mengganggu dengan matanya. Tiga hari setelahnya, adik saya menemani Mama periksa ke klinik dokter mata di RS Islam Klaten. Ibu dokter yang mereka temui meresepkan obat tetes mata betulan untuk meredakan keluhan mata yang dirasakan Mama. Ia juga menyarankan Mama mengompres matanya dengan air dingin tiap pagi dan malam.

Ketika Mama mengantar saya ke bandara di Jakarta, ia lupa membawa tetes matanya. Meski demikian, ia merasa baikan. Saya mengiyakan, sembari berharap Mama selalu dilimpahi berkat kesehatan.


----------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan kaki:
[1] Halaman wikipedia tentang bunga yang saya sebutkan di atas ada di sini. Beberapa kutipan yang relevan:
[A] small amount of sap in the eyes can cause blindness. 
Ingestion of lobeline may cause nausea, vomiting, diarrhea, coughing, dizziness, visual disturbances, hearing disturbances, mental confusion, weakness, slowed heart rate, increased blood pressure, increased breathing rate, tremors, and seizures. Lobeline has a narrow therapeutic index; the potentially beneficial dose of lobeline is very close to the toxic dose. 
[2] Sejauh yang saya temukan, eviserasi yang disebutkan di salah satu tweet balasan di atas adalah operasi pengangkatan isi bola mata hingga menyisakan bagian putihnya saja (sklera). Terdengar mengerikan, memang.

No comments: