Showing posts with label half-coherent musings. Show all posts
Showing posts with label half-coherent musings. Show all posts

Thursday, April 14, 2022

Fragmentatie

 Eksperimen personal saya untuk menulis lebih sering kurang sukses: page ‘now’ yang saya taruh di sidebar updatenya berhenti tiga bulan lalu. Mungkin memang saya kini ada di fase berbeda: tidak lagi harus lapor mingguan ke seorang manajer lagi ngerjain apa aja, tinggal serumah dengan pasangan yang mau tidak mau mengamati gerak-gerik saya sehingga tidak perlu berwarta, dan kawan-kawan saya tercerai-berai lintas benua.

Plus ada medsos. Daftar bacaan hiburan saya ada di Goodreads. Fitur sosial Duolingo kini posisinya sentral. Twitter. Instagram. Tiktok. Platform-platform ini menyerap perhatian saya. Belakangan saya sadar kalau ini adalah bagian hidup yang ini benar-benar menguras energi. 

Energi saya yang terkuras ini bukan semata-mata tentang media sosialnya—tentang ini sudah banyak yang mengulas. Pencerahan yang baru-baru saja muncul buat saya lebih ke fragmentasi atensi saya bahkan untuk satu jenis aktivitas saja. 

Ketika saya mencari hiburan dengan membaca, saya secara simultan membaca beberapa buku di saat yang bersamaan, dengan laju yang berbeda-beda. Di Kindle saya ada The Rent Collector (Cameron Wright) novel tentang kehidupan pemulung sampah di TPA Bantargebangnya Kamboja, kumpulan esai-blognya Eliezer Yudkowski, dan baru semalam saya unduh novellanya Adrian Tchaikovsky. Di meja makan tergeletak Brotherhood, novel debutnya Mohamed Mbougar Sarr, dan nonfiksi It’s Our Time to Eat tentang skandal korupsi di Kenya. Lima buku. 

Tahun lalu saya menambah kursus baru di Duolingo: bahasa Belanda. Dengan streak setahun lebih belajar bahasa Perancis, saya jadi bolak-balik dua kursus dan berulang kali tertukar je yang berarti saya di bahasa Perancis dengan je di bahasa Belanda yang berarti kamu (dilafalkan ‘ye’). Ketika tangkapan layar saya tentang modul sejarah di kursus bahasa Belanda ini meleduk di twitter dan Nils membalas bahwa di kursus bahasa Spanyol Duolingo tidak ada pelajaran serupa saya jadi penasaran bagaimana dengan bahasa Jepang. Maka selama tiga minggu saya jadi bolak-balik berlatih di kursus Jepang dan Belanda. Dua-tiga bahasa. 

Bulan lalu saya presentasi tentang temuan awal riset SMK. Di saat yang sama memulai proses survei telepon proyek riset dana desa. Plus dikejar tenggat revisi paper IM dan dibayang-bayangi tenggat revisi paper inpres. Kerja kolaborasi pendidikan antikorupsi sementara berjalan, dan demi siklus job market tahun depan saya sadar tidak boleh membiarkan riset remitansi dijeda terlalu lama. Supaya tidak teronggok seperti riset altruisme saya. Tujuh proyek riset. 

Belum lagi dua hal administratif besar lainnya: keimigrasian dan perpajakan. 

Perhitungan kasar saya menghasilkan rerata alokasi waktu (hanya!) tujuh jam per aktivitas per minggu. Tapi ini bukan kisaran yang realistis. Per proyek riset sering perlu waktu lebih dari tiga hari kerja. Asumsi lainnya untuk memenuhi panjang “hari kerja” tujuh belas jam sehari tujuh hari seminggu adalah saya tidak perlu rehat, olahraga, mandi, atau makan! Atau punya hubungan personal sama sekali. Ini jelas tidak sehat dalam jangka panjang, dan dengan serta merta menjelaskan kenapa pikiran saya enggan beranjak dari perasaan-perasaan suram bahkan di hari-hari dengan cakrawala yang terbentang cemerlang. Tentu saja ini lebih parah ketika cuaca muram. 

Maka saya mengeksklusifkan kursus bahasa Belanda saja di Duolingo. Pelaporan perpajakan syukurnya sudah selesai (dan kami menebus kurang bayar pajak dua ribu lima ratus dolar dengan sedikit rasa tidak ikhlas). Selesai baca Tchaikovsky dan Brotherhood saya hanya mulai satu buku baru (tentang detektif/ahli bahasa mesir kuno m/m di Massachusetts fiktif abad ke-19). Saya tidak yakin apa yang bisa saya kurangi di pekerjaan tapi paling tidak saya sudah kirim balik manuskrip IM dan benar benar merehatkan draf riset altruisme saya untuk sementara. 

Dengan harapan kewarasan terjaga. 

Friday, October 1, 2021

Melela[/hkan]

Ujarku ke psikologku pagi tadi, "I have a lot going on." 

Dan timpalnya, "You have a lot going on."

Kadang-kadang terapi ini kayak yang, hm, macam apa dah.

Wednesday, September 22, 2021

Selusin RAs(ul)

Musim panas kemarin adalah musim panas yang melelahkan. Seandainya tidak, mungkin aku tidak juga tuliskan di sini. Tapi waktu berlalu, musim berganti baru, dan… kesibukan kok tetap memburu jadi kelelahan ini tak kunjung luruh. 

Yang ada justru makin berasa dipacu. 

Di awal musim panas, aku bertolak ke Indonesia. Aku dapat vaksin dari uji coba AstraZeneca di Amerika dan vaksin reguler Pfizer untuk semua warga. Maka aku pulang dengan penuh harapan memajukan pekerjaan, bertatap muka dengan keluarga, kawan dan handai taulan, dan mungkin menyisihkan sebagian liburan untuk melancong dan berpelesir. 

Yang ada aku justru terkungkung gelombang kedua korona di Jakarta. Ini memang peristiwa dahsyat: Iis kena. Danti. Ada satu kawan meninggal dunia. Sepupu-sepupu kena juga. Pun Freida, yang sudah lengkap vaksinnya, sehari sebelum jadwal keberangkatannya jadi harus diisolasi karena hasil tes PCRnya positif. 

Maka mau tidak mau aku pupuskan rencana pesiar ke Biak ataupun Bengkulu. Dari rencana semula membonceng agenda kerja Mbak Yanti, semua kami urungkan. Dan kami kembali berpaku—terpaku—berjibaku dengan layar-layar persegi sebagai tempat koordinasi pengganti. 

Aku bercerita pada Mbak Yanti bahwa urungnya pesiar kami lazimnya berarti aku kembalikan dana tunjangan yang aku anggarkan untuk perjalanan ke si donor asal. Timpalnya, “Kenapa ngga kamu cari orang daerah Syhur? Anggap sebagai kunjungan virtual.”

Aku menimbang saran ini, dan seperti beberapa saran sebelumnya darinya, ini sangat masuk akal. Yang aku belum tahu saat itu, ini ternyata jadi salah satu sumber utama kerepotanku.

Pasalnya, aku jadi merekrut, menyaring, dan harus mengelola orang-orang yang aku jaring. Jaringnya kusebar luas, yang berujung pada musim panas ini aku membawahkan banyak nian orang.

Tiga paket, RP-CW, TP-CS, HS-TM, memang sudah terkait proyek lama dan baru di J-PAL SEA. Dua paket untuk bersih-bersih narasi permintaan donasi, AI dan JA. Tiga paket di berbagai penjuru Indonesia: RN, RC, dan FM. Paket AN dibiayai BU aku kelola jarak jauh untuk mendigitalkan data sekolah lama. Terakhir, ada tiga paket untuk pembacaan sumber sejarah era Belanda: JN, BG, dan RM. Total jenderal ada dua belas paketan RA. Masing-masing menjadi perpanjangan tangan beragam kegiatanku bersama berbagai kolega. Mereka macam rasul namun mewartakan kabar dan pertanyaan keilmuan—meski ini hanya tepat kalau aku punya delusi bersetara mesias. 

Tidak semua paket ini mudah dikelola. Ada yang tahu-tahu lenyap tidak berjejak. Ada yang terkendala sinyal. Terakhir, ada yang lapor terkena corona. Sebagian bisa dimitigasi dan dipandu. Sebagian memang sudah mandiri atau dapat dukungan terstandar. Sebagian… mau tidak mau harus direlakan, dengan usaha yang terbuang percuma dan sia-sia.

Apakah aku terbayang ketika mulai melanjutkan studi aku akan harus mengelola orang lebih banyak dari posisiku sebelumnya sebagai penyelia? Tentu tidak. Apakah ini hal yang aku sambut dengan gembira? Tanggung jawab pelaporan yang datang setelahnya jelas tidak membuat hari-hariku bahagia. Hatiku akan lebih ringan ketika tetek-bengek administrasi ini tuntas diterima oleh semua pihak pendana yang memintanya.

Satu hal yang jelas: aku perlu liburan. Yang betulan. 



Cape euy.


Tuesday, March 23, 2021

Teeth

One of my favorite scenes from Schitt’s Creek is from the sixth season, when David brought Patrick home from the dentist after his wisdom tooth extraction. Patrick, high-as-kite on anesthetics, declared that he was a “hungry hungry hippo~~” and now that I am facing a similar situation, everything makes sense so much better. The dentist told me that I can’t have any food or liquid when the clock hits midnight on the day of the tooth extraction surgery.

I have a big hole in my upper left wisdom tooth, which had grown outwardly at an odd angle. That needs to go—I sent a couple of pictures to Monica, our non-practicing dentist friend-cum-Covid-public-health expert, and she said as much. But an awkward oral x-ray session and $350 later at a dentist here revealed to me that I have two more impacted wisdom teeth in my lower jaw that grow horizontally. I might have had this told to me some years ago before I left for Japan but had absolutely forgotten about this.

I had also never interacted so much with the medical service sector since I was involved in the JKN research. And between this teeth problem, me participating in the AstraZeneca Covid vaccine trial since December, and semi-regularly going to a psychologist, maybe not even then. At the very least, my interactions were not ones where I had to pay for their services rendered. This time, I am looking to possibly spend at least $2,500 in total, and boy this is going to hurt in more ways than one. Here is the breakdown: $350 for initial comprehensive examination, $650 to remove each wisdom tooth in the lower jaw (so x2), $350 for the wisdom tooth in the upper jaw, $350 for put in fillings in two other different teeth, and $140 for the routine cleaning appointment. 

I had also been told that I grind my teeth, which now made me anxious. You grind your teeth when you are tense, and doing a PhD could definitely do that to you, more so in a pandemic year. But now that I was made aware about the severity of my grinding, this made me even more tense, because every time my upper and lower teeth make contact my mind immediately goes straight to think, I shouldn’t do that. (Then I think again that the cost estimate can go up and I tense up again, etc. etc. ad nauseam.)

Now I’m waiting to hear if my insurance will cover at least some of the cost. I hope they will. 



Monday, February 15, 2021

Some Sameness

Here’s something crazy: this week last year I spent something like 48 hours straight in a series of airports and airplanes. I flew from Logan Boston to Doha on a Saturday, missed my connecting flight to Jakarta so I spent like an extra 8 hours inside the airport, arriving to Jakarta far too late to join a meeting in Sudirman before flying to Yogyakarta in the evening which made it nonsensical for me to brave the traffic out of Cengkareng just to head back in an hour—and so it was Monday 11 pm when I finally, properly, arrived someplace. I can hardly imagine traveling like this again in the past half-year. 

The world was so different a year ago, and in the year that followed this almost didn’t feel like a year at all because all I see is the sameness of the inside of my apartment.

I see and read and write and watch different things on my laptop screen, phones, iPad, and monitor screens, but they are all confined in the house. I have been seeing very few people in person—but this is not news. 

I turned thirty three and I thought this is really neat—it’s a palindrome. The last time I had a palindrome age I was twenty two and really not enjoying myself. It was my first winter in Japan and everything was cold and bleak and the future looked grim. Now I have a cat. 

Not like he snuggles up to me, though. He does that to Freida—with me he more often gives me a wary look. In the rare time that he does though, it’s pretty neat. Pengingat supaya saya mengerahkan daya agar kehidupan saya tidak seluruhnya terhisap kerja.

Selamat tahun baru. 



Monday, September 7, 2020

Lumer


Ini awal tahun ajaran baru, tapi tahun ini sudah berasa panjang sekali. Aku rasa selain tahun 2020 ini adalah tahun yang sangat-sangat melelahkan, bagiku 2019 dan 2020 seakan lumer menjadi satu; penanda khatamnya sebuah dasawarsa. Rasanya aku siap beralih ke periode baru.

Di dua tahun yang sedang berlalu, ada enam perubahan besar dalam hidupku: menikah, mudik, riset, pindah, kucing, dan pandemi. Keenam hal ini bergumul menyatu dalam kegundahanku melihat digerendelnya gerbang ke Nickerson Field BU minggu lalu. 

Aku mulai berolahraga lari lagi, dan di akhir musim panas ini aku mulai pergi ke Nickerson Field. Lapangan ini hanya berjarak lima belas menit dari rumah dan kalau aku pergi cukup pagi, lintasan larinya tidak ramai. Ini satu-satunya aktivitas fisik semi-rutinku karena sasana gimnasium kampus ditutup ketika pandemi, sementara Chestnut Hill Reservoir menjadi jauh ketika aku pindah apartemen. Ada Charles River Reservation yang jadi lebih dekat, tapi untuk mencapainya tetap perlu menyeberang jalan tol dan berjalan setengah jam. Aku sudah setengah tahun lebih tidak berenang. 

Minggu lalu, aku pergi dengan niat berlari, tapi mendapati gerbang ke lintasannya terkunci. Ini sepertinya langkah kampus untuk membatasi penyebaran covid ketika mahasiswa S1 kembali masuk asrama: kampusku berkeras mengadakan kuliah tatap muka. Ini keputusan berbeda dengan Harvard dan MIT—dua universitas tetangga di seberang sungai. 

Kebijakan kampusku dan dua kampus lain itu baru berbeda untuk semester baru ini. Semester lalu, semua pindah online. Freida lulus dari Harvard dan pandemi mengurungkan rencana perjalanan Ibu plus Abang, Kak Linda dan ponakan untuk merayakan kelulusan Freida. Wisuda Freida dialihkan online dan ijazahnya dikirim via pos. Aku dan Sammy si kucing ikut menonton wisudanya sambil tidur-tiduran. 

Ini adalah persilangan tiga perubahan yang lain: riset, menikah, dan mudik. Wisuda Freida di akhir Mei hampir bertepatan dengan peringatan setahun pernikahan kami. Tapi karena aku sudah masuk tahap riset independen sejak semester musim semi aku fokus di situ... dan merasa mampet tidak banyak kemajuan selama satu semester. Ini adalah perasaan yang akan terus membayangi hingga akhir musim panas, terlebih jika aku ingat tahun 2019 aku mudik ke Indonesia (untuk menikah) dan membawa pulang dua set data.  

Bayang-bayang kemampetan inilah yang membuatku agak sebal dengan ditutupnya akses ke Nickerson Field. Bertahun lalu aku belajar mengakali perasaan suram kemampetan dengan lari pagi di GOR Soemantri: kalau sudah mulai hari dengan suatu hal yang produktif/sehat mau sekacau apapun sisa hariku, suram bisa kuhalau. Sementara kini, lapangan ditutup justru ketika musim dingin mendekat. 

Freida bertanya kenapa aku tidak lari di trotoar blok sekitar rumah saja. Aku jawab sulit berkonsentrasi di trotoar karena medannya naik turun tiap melintas persimpangan jalan. (Aku juga baru ingat terakhir aku melakukan ini di Kyoto, dan itu juga aku lebih pilih berlari di tepi Sungai Kamogawa.)

Lalu bagaimana (Pak RT)? Entahlah. Aku masih perlu menghalau suram, tapi tak tahulah bagaimana caranya. Yang jelas untuk semester baru ini aku masih perlu menimbang bagaimana aku mau bekerja: di kampus atau di rumah. Aku khawatir bekerja di kampus menggoda bencana dengan mengundang paparan virus corona. Di sisi lain, selama musim panas aku bekerja sepenuhnya dari rumah dan kekusutanku menggila. Untungnya ada Sammy dan Freida, tapi tetap saja ada minggu-minggu ketika semangatku lenyap entah ke mana. Di minggu-minggu itu, jenuh membekapku. Membuatku ingin beralih ke hal baru.

Aku tak sabar—sembari gentar—untuk beralih ke periode baru. 

Wednesday, March 27, 2019

Rekomendasi Caleg DPR Jakarta II versi Masyhur

Awal bulan ini, saya memutuskan untuk mencari tahu siapa politisi yang mau saya pilih di Pemilu legislatif kali ini. Karena saya ada di Boston, saya cuma bakal memilih anggota DPR saja di Dapil Jakarta II (Jakpus, Jaksel, Luar Negeri). Tapi ini pun ternyata bukan perkara mudah, karena kandidatnya ada banyak. Saya memutuskan untuk menuliskan penelusuran saya di sebuah utas Twitter.

TL; DR: empat orang kandidat di shortlist saya:
  • Nuraini Hilir, PDI-P nomor urut 6.
  • Shanti Ramchand, Nasdem nomor urut 4.
  • Zuhairi Misrawi, PDI-P nomor urut 2.
  • Christina Aryani, Golkar nomor urut 1.
Utas lengkapnya (dengan edit kosmetik): 

Selasa, 5 Maret
Oke mari kita mencari siapa caleg yang patut dipilih buat pileg nanti. Karena gue ada di luar negeri, gue cuma bakal milih buat DPR di Dapil Jakarta II. Website infopemilu.kpu error mulu buat loading dapil ini, jadi kita coba yang lain: JariUngu. Banyak juga ini 105 caleg. 

(sebelumnya gue mau mengakui bias gue. Kalau gue nemu caleg yang:
- lesbian/transpuan
- etnis Tionghoa/Papua
- agama Ahmadi/Kejawen
- ibu rumah tangga
- pendidikan SMA ke atas
- lahir 13 Januari
bakal langsung gue pilih. Iya ini main politik identitas, tapi mana bakal nemu haha.) 
Saringan pertama:
1. bukan mantan napi tipikor. Dari filternya JariUngu sih ga ada di dapil ini.
2. bukan dari partai berkarya. Gue ilfil sama Tommy Soeharto.
3. bersedia publikasi CV. Kalau ngga gimana gue cari tahunya? Yang ada aja banyak. Goodbye Garuda Hanura Demokrat PKPI.
Masih sisa 74 caleg. Banyak ya.  
Urut berdasar nomor partai: PKB..... ga ada yang bikin tertarik. Targetnya pada pengen menangin PKB tapi ya trus kenapa? Gue bukan orang PKB jadi ga ngefek buat gue.
Plus ini pada ga baca panduan ngisi formulirnya apa ya. Di borangnya KPU ada petunjuk: Target/Sasaran (berisi contoh hal-hal yang akan dikerjakan ketika telah menjadi anggota DPR).... dan diisinya begitu. *keluh*. 
[Addendum: link ke file excelnya ada di sini. Bisa juga klik masing-masing gambar supaya jadi besar.] 

Lanjut 02 Gerindra. Ini alay deh pada ngisi motivasinya. Terserah deh kalau pemilih biasa pada taklid buta ke suatu tokoh, lha ini yang bakal jadi aleg. Yang mendingan cuma nomor 7 doang (Basri Kinas Mappaseng) yang ngisi targetnya agak substantif. 

Halo 03 PDIP! Wah ini mayan menarik deh ada yang bisa masuk shortlist:
Nomor urut 2 Zuhairi Misrawi sama nomor urut 6 Nuraini.
Ibu dokter nomor urut 3 Amendi Nasution juga menarik (aktif politik sejak zaman Orba!?) tapi longlist aja karena udah 71 tahun. 

Kenapa no 2 menarik? Karena Zuhairi ini pekerjaannya peneliti hehe.
Link JariUngu: https://jariungu.com/caleg_2019.php?idCaleg2019=3096 Link KPU: https://infopemilu.kpu.go.id/pileg2019/pencalonan/calon/289044 
Gue baru pertama kali denger namanya. Tapi ada beberapa artikel juga sebut nama Zuhairi ini promosi toleransi dan membela Ahmadiyah.
Sufi congress in Jakarta against Islamic extremism
Zuhairi Misrawi, head of the Moderate Muslim Society (MMS), an intellectual and NU leader, explained that Muslim mystics contribute to the government fight against fundamentalism. However for him, this fight is too often only words and empty slogans that lack concrete application. A graduate of al Azhar University in Cairo (Egypt), Misrawi criticised the government’s Anti-terrorism Department because of its silence vis-à-vis sermons by some imams during Friday prayers that promote hatred and terror in society. In his view, the government and President Yudhoyono himself shoulder some of the blame. Their slogans may show an intention to fight extremism but they end up protecting those who sow violence and division.
Indonesia: More to religious (in)tolerance than meets the eye
At the end of 2010, two Indonesian civil society organisations that work to promote tolerance and understanding in Indonesia, the Moderate Muslim Society (MMS) and the Wahid Institute (WI), separately released the results of research they had conducted on religious life in Indonesia. Both showed significant increases in the number of religiously motivated attacks and discrimination against minority religious groups.
Over the last year, MMS recorded 81 cases of religious intolerance, up 30 per cent from 2009, while WI recorded 193 instances of religious discrimination and 133 cases of non-violent religious intolerance, up approximately 50 per cent from the previous year. Among these instances, forced church closures and disruptions of worship services were the most commonly reported complaints, which also included the firebombing of an Ahmadi mosque and violent attacks on congregants.
For Ahmadiyah in Indonesia, Persecution Remains Unaddressed
“There is cause for concern here because the problem still hasn’t been solved,” said Zuhairi Misrawi, director of the Moderate Muslim Society. “In these cases, the government has not been able to provide enough protection and support for the Ahmadis in their pursuit of their right to worship."
Bapaknya juga punya halaman Wikipedia loh, plus nulis buku (Al-quran Kitab Toleransi) dan punya blog (yang tentu saja update terakhirnya dari dasawarsa lalu. Blogging ini emang udah passe ya). 
Gue lihat antara Zuhairi sama Nuraini sama-sama sempat di filsafat. Zuhairi di Al Azhar dan Driyakarya (lihat di Wiki), Nuraini di UGM. Gue ga cukup tau contoh politisi jebolan filsafat yang udah ada jadinya kayak apa sih. [addendum: Uwi nambahin kalau Rieke Dyah Pitaloka ternyata alumni filsafat juga.] 
Antara dua ini gue condong ke yang urutnya lebih bawah. Detail nomor 6 Nuraini:
JariUngu: https://jariungu.com/caleg_2019.php?idCaleg2019=3100
KPU: https://infopemilu.kpu.go.id/pileg2019/pencalonan/calon/28094

Haduh sayangnya Ibu Nuraini ini namanya ngga Google-friendly sama sekali. Seantero Indonesia pasti jutaan namanya sama. gue cuma nemu di pangkalan data dikti pernah ngajar apa aja di Universitas Bung Karno
Dua poin plus Ibu Nuraini: SMAnya di Bima ( = mungkin dari luar Jawa) dan sebelumnya jadi staf ahli legislatif, so she should know her stuff. Ohya di Jari Ungu dll tadi ga muncul motivasinya karena ditulis tangan di halaman 4 di CVnya. Untung gue telaten carinya kan ya. 
Addendum: sejak utas ini ada beberapa info tambahan tentang Ibu Nuraini yang saya temukan. Dia di Pemilu 2014 maju sebagai kandidat DPRD Jakarta dari PDI-P, dan ngga lolos. Tapi dia masuk kategori 'kandidat bersih'-nya ICW waktu itu: https://antikorupsi.org/en/news/nuraini-hilir.

Selain itu, ada wawancaranya dengan media online berdikari yang arsipnya ada di halaman ICW tersebut:
"Dalam Pemilu 2014 mendatang, sejumlah nama aktivis yang sering muncul dalam aksi-aksi protes rakyat di jalanan akan muncul di kertas suara. Salah satu dari mereka adalah Nuraini Hilir. Di tahun 1997-1998, ia menjadi bagian dari gerakan mahasiswa dan rakyat dalam melawan kediktatoran Orde Baru. Saat itu ia menjadi anggota Partai Rakyat Demokratik. Selain itu, melalui Srikandi Demokrasi Indonesia ia aktif memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan rakyat tertindas lainnya."
Namanya juga sempat disebut di artikel Indoprogress tentang John Tobing dan di artikel Historia tentang PRD dan penggulingan Soeharto. Dia ternyata juga punya akun twitter, tapi ngga terlalu aktif. (Saya tegor plus nanya ngga dijawab). Dari arsip artikel twitternya ini saya juga nemu dia di koran Amunisi, artikelnya ada di bawah artikel tentang girlband Go Angel'5 (iya saya juga baru tau).

(Selingan: ternyata saya defaultnya kalau nulis di blog jadi 'saya', kalau di Twitter jadi 'gue'.) Kembali ke utas:
Jari Ungu ini agak menyebalkan ya. Gue harus registrasi dulu dan ngasih data personal baru bisa lihat daftar caleg, dan ini entah kenapa websitenya lupa terus kalau gue udah login jadi harus login berulang kali.
Rabu, 6 Maret
Hmhmm mulai malas lanjut tapi tanggung udah capernya.  
Anyway yang gue baru sadar kenapa ada beberapa caleg nyebutin TKI di motivasi/targetnya: karena dapil LN tentu yang banyak bukan mahasiswa ala-ala kayak gue tapi populasi TKI. (Apakah para TKI ini tau caleg mereka ya mbuh). 
Pencerahan kedua: jelas gue bukan orang pertama yang kepikiran buat cari tau semua caleg di dapil gue. Ini satu situs yang komplit banget btw dan gue rekomendasikan buat diubek-ubek supaya tau mana yang caleg yang punya instagram dan mana yang vegetarian: https://litsuscaleg2019.wordpress.com/category/luar-negeri/ 
Anyway yang vegetarian itu Golkar nomor urut 1. Gue ga punya komentar prinsipil sih sama isian motivasi/targetnya yang kebanyakan umum begini, walaupun beberapa calegnya kayaknya hi-profile di sektor privat ya. (Ini juga berlaku buat Nasdem).

Oh satu caleg yang pantas di call-out adalah caleg 7 dari Golkar. Di Jari Ungu lolos saringan tidak pernah jadi napi tipikor tapi pernah diputus penjara karena korupsi. Lalu targetnya di CV: MENGENTASKAN KEMISKINAN DAN INDONESIA BEBAS KORUPSI.
Eh sebenernya daftarnya Nasdem menarik deng. Shanti Ramchand adalah caleg Hindu pertama yang gue lihat sejauh ini and she's like, dripping with competence? Tapi gue anaknya ga terlalu antusias sama trade dan ASEAN sih..
LinkedIn Shanti: https://www.linkedin.com/in/shanti-shamdasani-2a90a912/ Biografi di situs RSIS: https://www.rsis.edu.sg/event/rsis-cna-live-recording-of-think-tank-talk-show-episode-4/
Shanti Shamdasani is known for her in-depth expertise on ASEAN matters with focus on international trade and political analysis. Her vision on ASEAN started in 2005 where she tirelessly brings the ASEAN debate at various local and international stages. Her highest position was when she was appointed as Advisor to the President of Indonesia, H. E. Susilo Bambang Yudhoyono on ASEAN matters. Ms. Shamdasani also works closely with Ministry of Trade, Ministry of Industry and Ministry of Foreign Affairs on several trade negotiations with India, China, Australia and New Zealand. Her current role continue to reflect her passion and long term vision on policy, legal, trade and political framework in the region; she is the President of ASEAN International Advocacy and sits at the Boards of several Associations as Governors, Advisors and Commissioners.
Di Nasdem ada anaknya Rusdi Kirana Lion Air juga. ¯\_(ツ)_/¯ trus ada direktur di Lion. Ada yang mantan Wakil Bupati Minahasa, dan ada CEO publishernya Tatler. Caleg nomor 1 punya sekolah model. Ini partai..... elit-elit semua yak. 

Mundur lagi ke Golkar dulu: Christina Aryani juga tampak kompeten sekali, jadi Chief Administrative Officer Jakarta Monorail tapi lalu gue sadar kalau monorail dan MRT itu beda yak. Yang menarik lagi dia sempat jadi researcher di hukumonline christinaaryani.com/tentang.html 
Lanjut ke PKS kita? Mari.
Kalau lo orang Klaten dan ga tau HNW dari Klaten, apakah lo tetep orang Klaten? Gue ga bakal pilih dia dan kecil kemungkinan gue pilih PKS sih. Tapi yang gue suka: semua kandidat perempuannya S1, dua orang S2, 1 S3.
Yang gue ga suka: tiga dari empat tadi motivasinya adalah, "karena diamanahi partai". Bu! Mbak! mbok ya own up gitu lho. Sampeyan beneran mau ga sih? Apa karena disuruh aja? hhhhhhh



Minggu, 10 Maret

Mari kita tuntaskan utas ini sekarang? Tinggal separo lagi dan sejujurnya ga banyak yang bikin excited juga. Tapi sebelum lanjut mau nambahin sesuatu:
Ibu Yulisa caleg Nasdem nulis dapat penghargaan "Olimpiade Sains dari Mendikbud Wardiman 2008". Ini teh penghargaan apa? Wardiman menteri 93-98, di tahun itu ibunya udah 25 tahun. Lagian emang Indonesia udah ikutan olimpiade sains? Yohanes Surya aja belum lulus PhD. 
Perindo dan PPP. PPP ini pada irit detail. Perindo ada istrinya Hari Tanoe, dan kalau kalian pernah komplain tentang Mars Partainya, si ibu ini adalah penggubahnya.  


Berikutnya PSI: Tsamara yang caleg 1 ternyata ga ngisi motivasi dan target di formnya *emoji jempol ke bawah* (atau karena udah populer?). Yang menarik di daftar ini ada dua orang pensiunan career diplomat: Iwan H.S. Wiranataatmaja (Dubes Indonesia untuk Iran, Dubes Indonesia untuk Bangladesh), Mangasi Sihombing (Dubes Indonesia untuk Hungaria). 


PAN: ...... yang patut dikomentari cuma Irawati Moerid, yang dulu atlet tenis seangkatan sama Yayuk Basuki (yang sekarang juga aleg DPR dari PAN juga). Di wordpressnya litsus ada berita kalau Irawati ini ikut demo anti LBH tahun 2017. [Aksi Bela Ulama 212 (terfoto mengibarkan bendera hitam bertuliskan Laa Ilaha Illallah putih)

PBB: pada irit detail semua ga ada yang ngisi motivasi dan target jadi ga ada yang bisa direkomendasikan ini udah terakhir horeeee Dobby is freeee!


Utas tanpa edit kosmetik di Twitter:

di threadreaderapp: https://threadreaderapp.com/thread/1102952229559025664.html

Thursday, January 3, 2019

2018

My 2018 began with fear—of not being good enough.

You see, it was the end of my first semester in the graduate program, and I barely squeaked by. So I spent my winter break vacillating between various plan Bs. I tried to clutch hard to my plan A, too, which was how I ended up stress-studying myself in the library in the dead of winter. (It's super not effective!)

I also turned thirty, with little fanfare. Freida was in Pakistan, which meant she couldn’t really make a celebration fuss. The weather was icy, but I managed to steal some snuggles from Misty.

At the end of January, the spring term started. I took Microeconomics, Macroeconomics, and Econometrics—the usual—but it’s one fewer class than what some of my classmates were taking. We covered money, labor search, and taxation in macro; and game theory and principal-agent problems in micro. I remembered doing so much matrix manipulation in metrics that made it too easy to lose sight of the forest for the trees. My preparation for the metrics midterm was the entirety of my spring break.

I spent most of my waking hours on campus. When I tracked my hours, I often end up with 70-80 hours of work/study per week. I recalled previously having RAs submit more than 200 hours of work in a month was a cause of concern. Here it became a matter of course.

I only begrudgingly took care of the human-pet within. Preparing meals was a chore, doing laundry was a chore, showering was a chore. They still are.

The semester ended in May. But we had three weeks between then and the qualifying exams on June 1st and 5th. They were the bane of our existence, and for me especially so because I understand so little about growth theories from macro and preferences from micro in the first semester. Nevertheless, some things did make better sense on my second go of the materials.

My recollections of the actual exams themselves are now a blur, save for one: I remember being thoroughly annoyed at the macro exam. There was no way anyone could have finished that exam in three hours. I had also thought that the materials for the second half of the spring term would draw on the labor search because it was the only part where the professor bothered to assign problem sets. So did the exam test us on labor search? Of course not.

But they did mark the end of the first year, and we had a party at our house afterward. There were booze, and there were resigned relief. It was out of our hands, but there’s nothing we could do but wait until they announced the result.

The people that I talked to mentioned a 2-3 week gap between the exams and the announcement. That suited me fine, as I had planned to be traveling to Pittsburgh in mid-June for a Duolingo event. I was hoping the announcement would reach me when I was away from Boston. You see, I was worried.

So it was a surprise to find an email titled “June 2018 Qualifying Exam Results” from our program administrator in my inbox a mere week after the exam. I dreaded it, but I was still too exhausted to keep myself in suspense. Holding my breath, I tapped it open.


You know, Jane gets it.

Now that it was out of the way, though, summer can earnestly start. I had so many things planned: books to read, personal projects to launch, places to explore, exercises to do, and a research assistantship to sink my teeth in! (Yeah, I never learn how to not ruin my holidays with task babies.)

Maybe it was overly ambitious. But I did get to read some books, go places (Pittsburgh and Cleveland), do a couple of HEMA practices, and work with BU’s computing cluster. That last bit made me learn the basics of SGE, python, and git. I had a busy summer, and I didn’t really mind spending most of my time in the inferno that is room 523. Honestly, the old AC unit fanned in more noise than cool air.

I would be remiss, though, to not mention the one thing that is both my source of joy and heartbreak: the Indonesian course for English speakers on Duolingo. It had been three years in the making. I spent countless weekends working on various parts of the course: the curriculum, the contributors, the actual sentences. I screened (and in some cases, interviewed) applicants and recruited a dozen different contributors. I reached out to Indonesian language teachers and linguistic students, pored over different language textbooks and repositories. I organized words in lesson units, then wrote and translated thousands of sentence-pairs to teach to users. I think that the hardest part was having no one to bat around ideas with. It was voluntary, and it was lonely.

This was where the heartbreak came in. As we nearly completed the Indonesian tree, I wanted to get their support in launching the course. I looked at courses like the Hindi course, which received widespread publicity, and learned that staff had taken the initiative during the launch. I was hoping to get similar support… and received none of the sorts. It was very demotivating. Aku si pungguk yang merindukan bulan dan cintaku bertepuk sebelah tangan.

Had that been the end of my summer, it would have been a good/terrible end. But Freida and I had a plan to go on a hike with Cori along the Appalachian Trail. We hiked through the highest ground in Connecticut, a not-strenuous-at-all 2354 ft above sea level, although Cori unfortunately injured her ankle during the hike. Thus endeth the summer.



The Fall term started after Labor Day. I took four courses, and Development soon proved to be the most interesting one (the other three were Econometrics, Health Economics, and Public Finance). I had never taken much interest in microcredit, but as we covered the literature I began to realize how puzzling it is, which is why many are actively researching this area. I got an interesting conversation with my sister back home about her experience with microcredit loans, too.

My workload piled on pretty quickly. I had hoped to avoid getting back on the coffee wagon again but really I didn’t have a chance. Much to my dismay, I realized I couldn’t afford to spare the time to continue going to HEMA practices on Mondays—oh well maybe I’ll try again next year when I no longer have to take classes. Mbak Lina and Mbak Milda visited Boston and took Freida and me for a weekend trip to the White Mountain—which gave them ample opportunities to make sniping comments as we tried to squeeze in school works during the trip. We suffered them gamely.




There were two practical things I learned this semester: how to write a referee report, and how to go exhaust myself. The first one is hard because in my perspective refereeing is predicated on knowing the existing literature so you can make the correct call on the manuscript you’re refereeing. What do I—a new transplant in the economics discipline—know about the literature? So for every refereeing task, I end up having to wade through a sea of papers just to eke out a couple of cogent criticism. I’m sure as I get more familiar with the literature it may get easier, but in the meantime, I have resigned to devote a lot of time to prepare them.

The second practical thing was easy: I had been picking up languages and software since the summer, and it was not until halfway through the fall term that I realized the many languages I tried to pick up made switching tasks extra costly. I had mentioned (1) Python and (2) SGE; but I also dabbled with (3) Git, (4) Tableau, and (5) Swift. I had to learn (6) SAS for health economics, and I chose (7) Mata to work with matrices in econometrics. But I was still working mainly with (8) Markdown, (9) LaTeX, and of course (10) Stata. I’ve got so much stuff on my plate that there’s no way to chew it all properly.

(In all honesty, though, the econometrics class was also very practical, and it made me wonder why there aren’t more econometricians in the government carefully analyzing impact evaluations. (The answer was evident: the interests of econometricians and governments hardly overlap.))

This Fall semester had been far more enjoyable than last year’s Fall, though it was still exhausting. The last few weeks of the term were the worst: after spending the Thanksgiving break studying for a Development exam, in the following three weeks I had three presentations, a research proposal, two problem sets, a referee report, a term paper, and an econometric final exam. I wanted nothing but to veg out and play with other people’s cats until the new year.

Now that the new year is past, I am happy that I managed to do just that. Happy New Year.


Saturday, May 12, 2018

Kenikmatan

Seorang kawan mengunggah fotonya di depan markah nama universitasnya ke Instagram dengan takarir ungkapan syukur atas orgasme intelektual terus-terusan yang ia dapatkan dari program pascasarjana yang sedang ia tempuh saat ini. Saya yang membuka Instagram karena mencari selingan belajar jadi penasaran, pembelajaran macam apa yang kawan saya ini dapatkan di sana?

Rasa penasaran saya tebersit dari pengamatan saya atas proses pembelajaran saya sendiri. Selama setahun terakhir ini, saya menggauli diktat-diktat yang berkutat pada makalah-makalah ilmiah besar. Saya belajar tentang berbagai terobosan penting yang dihasilkan para ilmuwan besar yang berpengaruh dalam membangun fondasi riset ilmu ekonomi modern. Tapi saya tidak menggapai "puncak kenikmatan seksual" dari proses pembelajaran saya. Apakah ada yang salah dengan saya?

Dan apakah kawan saya menggapai kepuasan seksual dari mengamati senggama intelektual yang ia temui di kuliahnya? Kalau iya, apakah dia semacam voyeur?

Sambil pulang, saya membawa sebagian diktat di tangan--rasanya seperti mengangkut stensilan. Saya jadi berpikir, kalau program si kawan bukan melulu ceramah dan membaca makalah, dugaan voyeurisme ini menjadi tidak sahih. Mungkin ia terlibat langsung dengan riset yang dilakukan di universitasnya, dengan profesor dan para staf pengajarnya. Pesta seronok langsung berkelebat di benak saya.

Saya hanya bisa berharap keterlibatannya berdasarkan hubungan suka-sama-suka. Di sisi lain, ketika ia harus bergelut dengan hasil penelitian yang bertentangan dengan konsepsi yang sebelumnya ia pegang, apakah ini suatu bentuk rudapaksa? Perih!

Kemudian apabila kita bicara fakta bahwa banyak program pascasarjana di disiplin ilmu tertentu yang didominasi oleh figur para pria, bagaimana kita menempatkan kenikmatan seksual yang diraih para mahasiswa ini dari proses mereka-reka body-of-work sesama akademisi pria ini di benak mereka?

Terlepas dari orientasi masing-masing cendekia, satu hal yang jelas adalah bahwa upaya memalsukan data adalah setara dengan mengubah penelitian menjadi pelacuran.

Alamak, pelik nian. Mungkin ini sebabnya pendidikan seksual yang pas harus menjadi hajat bersama. Agar tidak semua peristiwa bermuara pada glorifikasi senggama.

*Lalu direspon warganet, "Halah, tahu apa kamu soal~"*

Thursday, August 17, 2017

Mata Mama

Saya mendapati Mama terpekur di sudut dapur. Ia duduk diam, dengan pandangan menerawang. Hati saya mencelos melihat matanya yang merah dan basah. "Mama kenapa?"

Saat itu kurang dari seminggu sebelum keberangkatan saya ke Amerika. Jadwal kepergian saya juga berdekatan dengan hari ulang tahunnya yang keenam puluh satu. Kami memang tidak punya tradisi merayakan ulang tahun, tapi saya toh merasa sentimental juga.

Mama menyeka mata. "Iki rodo perih bar taktetetesi kembang melati katarak," jawabnya.

Bunga pembawa mala untuk mata?
Mama menunjukkan sekuntum bunga berwarna putih yang dipetiknya dari rerumputan di samping rumah. Ia berkata Bu Wal dan Mbak Tiwi, tetangga-tetangga kami, juga sering mencari bunga tersebut untuk dipakai sebagai tetes mata. Saya endus-endus bunganya, tapi tidak ada yang tercium. Mama bilang memang tidak ada baunya.

Penjelasan Mama membuat rasa sentimental saya berganti menjadi rasa khawatir. Mungkin Mama melihat raut muka saya sehingga ia berkata bahwa perihnya akan reda. Lalu, pandangannya akan menjadi terang.

Aduh, yang benar saja, pikir saya. Bagaimana kalau justru berbahaya? Saya harus menghentikan Mama mencoba-coba pengobatan alternatif yang tidak jelas landasan medisnya. Tapi sifat keras kepala saya juga turun dari Mama, jadi bagaimana cara saya membujuknya? Saya perlu dukungan kakak dan adik saya.

"Hul," keluh adik saya via whatsapp. Kakak saya menggerundel, karena dia yang hidup serumah dengan Mama sudah pernah melarangnya mencoba-coba cairan bunga ini. Masalahnya kami bertiga cenderung curiga terhadap sebaran-sebaran serampangan di internet, tapi Mama relatif gampang percaya. Mama memang baru akhir-akhir ini terhubung dengan internet di ponselnya. Meski kini ponselnya selalu riuh dengan notifikasi pesan baru di berbagai grup whatsapp yang ia masuki, saya tidak yakin Mama mengerti cara memanfaatkan mesin pencari.

Ini wajar sebetulnya. Kalau saya yang nyaman menggunakan ponsel pun kadang kesulitan menemukan informasi yang diperlukan lewat peramban ponsel saya, apalagi Mama. Begitu pula dengan kasus tetes mata cairan bunga melati katarak ini: saya menemukan bahwa bunganya juga disebut bunga kitolod, kembang jangar atau bunga bintang lima, tapi tak banyak informasi berguna lainnya dalam bahasa Indonesia yang bisa diverifikasi.

Menyebalkannya, saya justru terputar-putar di sekumpulan blog iklan obat-obatan herbal dengan isi yang repetitif; hasil salin-tempel sembarangan antara blog satu dengan yang lain. Singkatnya, saya menemukan bahwa tidak ada yang menyitir studi ilmiah ketika mengklaim manfaat bunga ini. Pun tidak ada pakar kompeten yang pernyataannya dikutip dengan sanad yang baik.

Saya makin sangsi dengan klaim khasiat kitolod. Di kombinasi kata kunci kesekian saya menemukan pakar yang bisa diandalkan justru menyatakan sebaliknya. Lewat Twitternya, Ferdiriva Hamzah yang berpraktik sebagai dokter mata di Jakarta Eye Center memperingatkan bahwa meneteskan cairan bunga ini ke mata justru bisa menyebabkan infeksi di mata. Infeksi ini bisa menyebabkan nanah dan yang lalu menggenang di mata. Hasil akhirnya sama: tetes mata ini bisa mengancam penglihatan.



Ini yang lalu kami tunjukkan ke Mama. Kami tunjukkan juga beberapa tweet balasannya dari orang lain yang mendukung pernyataan dokter tersebut.

Maka kami meminta Mama untuk selalu berkonsultasi dengan dokter jika ada yang mengganggu dengan matanya. Tiga hari setelahnya, adik saya menemani Mama periksa ke klinik dokter mata di RS Islam Klaten. Ibu dokter yang mereka temui meresepkan obat tetes mata betulan untuk meredakan keluhan mata yang dirasakan Mama. Ia juga menyarankan Mama mengompres matanya dengan air dingin tiap pagi dan malam.

Ketika Mama mengantar saya ke bandara di Jakarta, ia lupa membawa tetes matanya. Meski demikian, ia merasa baikan. Saya mengiyakan, sembari berharap Mama selalu dilimpahi berkat kesehatan.


----------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan kaki:
[1] Halaman wikipedia tentang bunga yang saya sebutkan di atas ada di sini. Beberapa kutipan yang relevan:
[A] small amount of sap in the eyes can cause blindness. 
Ingestion of lobeline may cause nausea, vomiting, diarrhea, coughing, dizziness, visual disturbances, hearing disturbances, mental confusion, weakness, slowed heart rate, increased blood pressure, increased breathing rate, tremors, and seizures. Lobeline has a narrow therapeutic index; the potentially beneficial dose of lobeline is very close to the toxic dose. 
[2] Sejauh yang saya temukan, eviserasi yang disebutkan di salah satu tweet balasan di atas adalah operasi pengangkatan isi bola mata hingga menyisakan bagian putihnya saja (sklera). Terdengar mengerikan, memang.

Friday, December 2, 2016

Lada

Irwan menantang saya untuk makan ayam Richeese pedas level lima—saya iyakan dengan gembira. Lima potong sayap kemudian, lidah saya bergetar dan keringat timbul di kepala. Saya berkata, "Ini nirwana!"

Mbak Lina datang berdecak, "Ini bahaya ngga?"

Saya jawab, "Tentu, Mbak. But what's the point of living if we don't live dangerously?" Teman-teman lain tertawa dan bersorak. Freida menatap prihatin. 

Anak-anak kantor memang sudah hafal kelemahan saya. Ini memang kentara dari habisnya Sambal Bu Rudi dalam hitungan hari, antusiasme saya untuk pergi ke Indomie Abang Adek, dan kecepatan saya menandaskan Samyang yang dibawa Donghee. Begitu sambal jadi topik wicara, air liur saya terbit seketika. 

Ini tidak berarti saya kebal, kok. Perut saya tetap jeri—dan sekali dua kali saya terbungkuk-bungkuk di atas kloset meratapi kebodohan diri. 

Tapi biasanya tidak separah itu juga untungnya. Paling telapak tangan saya saja yang berdenyut sebagai protes harus ikut disiksa. Dan karena cuci tangan saya tidak menyeluruh. Kalau sudah begini, saya harus ingat untuk tidak menyentuh-nyentuh tubuh. Tak sengaja mengucek mata berarti mengundang siksa. Mengusap pipi membuat wajah serasa ingin dikuliti. 

Maka saya tidak terbayang bagaimana perihnya mereka yang dipaksa merancap dengan cabai giling. Mereka pikir penis itu ulekan sambal, apa ya? Gila. 

Tapi terlepas masalah susilanya, ini membuat satu pertanyaan bahasa terbersit di kepala saya. Kalau KBBI menyebutkan masturbasi dengan sabun sebagai sabsab, etiskah jika saya usul sebutan merancap pakai cabai dengan cabcab?

(Tidak apa-apa, mungkin memang baiknya abaikan saja.)


Wednesday, June 8, 2016

Writing

I think I read too much these days. More precisely, I’m swinging wildly between not reading enough and reading too much. In the past month alone I finished 20 books.

All these reading, naturally lead to the itch to write. And yet all that I could muster was that 257-word short post.

I used to be able to write more often, but I also hadn’t been able to maintain a personal journal since my days in Banggai. It’s not that I don’t write at all, I write emails daily, and work brings innumerable proposals, presentations, reports to write. But those aren’t going to cut it. I want to write more for myself, if I had the time.

Time. Of course I haven’t had the time. And the little time that I have, is barely enough for that. Case in point: it took me 4 hours and 19 minutes to write and publish that last post. I’m not a very fast writer, that’s why.

And yet, despite the length of time it was remarkably quick. I had the prompt on the Wednesday before and my mind decided that I want to write the post shortly after. It was only a matter of fleshing out the retort in the upcoming days.

But even with the skeleton of the idea ready I had not had the time to write it. I was in the field and as such, mostly on the road. Writing on my android phone feels clunky, and as I just recovered from motion sickness nausea a couple of days before, typing on a tiny screen in a moving vehicle seemed to be tempting fate.

So I decided to write the outline on my notebook. My scribbles didn’t have to be legible. I know that the act of writing by hand alone will give me sufficient memory anchors. The scribbles will help when I type them on my laptop.

***

In writing that post, somewhere along the way, I decided I was going to reuse one of the narrative styles that I had used before. When I reflected back on my volunteering experience from Tohoku, I juxtaposed what was impossible with what was possible. Each paragraph highlights either a possibility or an impossibility.

Same goes with that last post. Each paragraph expands on one aspect of possible reason why living in the village could be boring. But I abhor repetition, and I fired up my thesaurus and dictionary as I write that. I want the regularity of a pattern, but I did not want it to sound repetitive. I don’t know if I succeeded.

As it were, I took the longest time trying to track down the appropriate links for the body text. Blog archives and Ruang Belajar pages. Kuat’s Facebook note. Facebook pictures.

I collected more, but decided to discard some. I wanted to include Auliya’s phallic corpse flower, but it made the first paragraph too long. I wanted to include the time when I taught my students digestive systems, but the MyOpera links were already down. I wanted to put in more, more, more.

Part of it is the feeling that I don’t do my year justice with that very short blog post, because how do you boil down a very eventful year to 200-something words? In my scribbles, I noted how I wanted to put a paragraph for Pak Tasmin the headmaster (who eschews inflating marks for the students’ national exam), the teachers (Bu Ade was married last week! The teachers were all so kind to me.), my despair of constantly being on my wit’s end, the forests that was cleared to make way for oil palms, the rivers, the people!

But I couldn’t put all that in. It was already past midnight in Labuan Bajo, and my laptop battery is almost tapped out. I didn’t bring my plug adaptor—it’s already a miracle that my laptop lasted the whole week without being recharged. So I had better post that blog there and then.

I hit the ‘post’ button, and shortly after the screen went dark. I went to sleep afterwards.

***

I can write quick if I paid less attention to coherence in the message. When I returned to Banggai a couple of months ago (has it been really that long?), I poured my week into 21 pages easily in a matter of days. The only trade-off that I took to produce that 8,615 words in 10 days was that I was mainly a silent (sullen?) companion to Danti on our way back to Jakarta. But I think she understood.

When coherence is at stake, though, the length of time that I need haemorrhage. I volunteered to write the narration for PM V Halmahera Selatan in mid-2015, and I only finished writing the 7,716 word-long piece 221 days later in early 2016. Naturally, I was feeling absolutely high.

Similarly, I had the idea to write about my impressions testing EGRA and EGMA shortly after I returned from Kuningan in August 2016, but the completion was delayed. First I meant to catch the momentum of nostalgia waves from the 5-year anniversary of PM I’s deployment in November. I missed that. Then I meant to seize upon the enthusiasm of PM XI’s training. I missed that, too. I changed course to ride on PM IX’s return to Jakarta, but still it was not ready in time. Only then after IM celebration event I finally finished writing that email.

***

All these writing, and for what? Vanity? Posterity?

I like to think that writing—my writing can change the world. It’s the ideal that I subscribed to when I was active writing letters and pleas to/on behalf of Amnesty International’s prisoners of conscience.

I don’t know, I like to think that my letters helped. I hoped that my letters helped.  That, despite the clunkiness of my language. I am acutely aware that the way I write is very often overly verbose and prone to veer off at tangents.

We’re not being taught to write enough. I was taught only to write very little. In 5th grade, I dreaded the Indonesian class when one day my teacher had us write a short story. Perhaps the only other Indonesian lesson that I hated was when they made us take turns to recite Taufiq Ismail's poem Rendezvous in front of the class.

Is it any wonder now that you never, ever, ever see me writing fiction or poetry?

Of course I don’t hate fiction or poetry. Fictions, at least is the staple of my reading. I understand its power, and I stand in awe before its majesty (that fiction is so malleable and thus can provoke minds and imprint complex ideas is nothing short of majestic to me).

But given how I detest writing anything that resemble fiction, naturally this leaves me with an imperative to improve my non-fiction writing. This is what led me to this course.

Am I excited? Yes. Am I ready for such intensive course? Hell no. Would I be able to commit to the whole program? I hope so. Am I ready to have my ego bruised and battered from going to the course? Hahahah.

But you can just ask me again if I’m excited, and I’ll keep on answering yes.

Thursday, January 21, 2016

Lessons learned from 2015

“May your coming year be filled with magic and dreams and good madness. I hope you read some fine books and kiss someone who thinks you're wonderful, and don't forget to make some art -- write or draw or build or sing or live as only you can. And I hope, somewhere in the next year, you surprise yourself.”
Very late in 2015 I learned that I will never be as good as Neil Gaiman in expressing my hopes for the then-coming year. But I felt content as I looked back over the passing year. If the 2014-Masyhur had wished the 2015-Masyhur the exact wishes above, he would have been very happy to know that they came true.

Because 2015 was a year of good madness, as in it’s good that I managed not to get mad. At its peak, I occupied three desks for work, one at Cempaka Putih, one at Kebon Sirih, and another at Salemba[1][2]. In between the three locations, I squeezed in working on Duolingo’s English course for Indonesian speakers, and supporting G83 foundation’s STEAM training for teachers[3].

I read books, and some made lasting impressions. I found that many contemporary Indonesian writers surpassed my expectation, and it spurred me to catch up the gaps in my reading history. I haven’t read everything by Eka Kurniawan, or Leila Chudori, or Okky Madasari, or Ahmad Tohari, but I think I will enjoy making the effort to catch up with their works this year.

One book in particular left a very deep mark: Jonathan Safran Foer’s Eating Animals. I am saying this not only because I get to learn new words from reading the Indonesian translation[4], but also because Foer made me racked my brain to see if I can come up with an ethical reason to justify eating meat. Convenience, habit, indulgence, nutrition all come to mind, but none were strong or compelling enough.

But ethics and practicality often run in different directions at the same time. One of the professors that I’m working for is a vegetarian, so even before I fully considered the ethical dimension of eating meat, I have been aware that being vegetarian can limit one’s option when eating out. But contemplating this issue had primed me to pay attention to other people’s take on vegetarianism (notably Satya, Freida, and one of Tuti’s PIs)[5].

So as I dabbled with casual vegetarianism, a host of new questions follows naturally. How should vegans live, i.e. should I espouse a stringent environmentarianism view[6]? Should I prefer beef over chicken because it's more ethical to cause suffering to one cow rather than many chickens[7]? Should I prefer chicken over beef because beef has worse environmental impacts? Should I just work to replace meats with oysters and mussels?

That is not to say that Foer made me changed my mind--I think I was just undecided to begin with[8]. It's not like I used to see vegetarianism with contempt and it brought me around. I suspect that for these kind of book, they left a mark on me because they better articulate the thoughts and strands of ideas that had been swirling in my mind. I guess this is why keeping one's mind open is hard and providing information alone won't cut it.

And when I know that I can control the extent of how my reading influenced me, how much do I want to change for every new information that I encounter? This has been in my mind ever since I shared the article from Vice claiming Starbucks in Indonesia and other MAP brands are owned by a corrupt tycoon who embezzled money during the 1997 crisis. Aside from the necessity to strive to make ethical purchases, for me taking actions (or boycotts) based on a journalistic product validates the existence of journalism to inform the general public. It is also consistent with my general world view that journalism is a necessary force of good.

On the other hand, one year since I shared that article, I found that I had very limited options outside MAP stores to buy swimsuits and goggles. Now we'll see if the changes Foer made in me will last more than a year.

In the meantime, 2016 promises me more books to read, knowledge to learn, relationships to savor, and goals to pursue. This looks like a good year to blow my mind:
"At year’s end you should look back at your thoughts and opinions twelve months before and find them quaint. If not, you probably didn’t read or explore or work hard enough."
------
[1] I live in South Jakarta. Salemba and Kebon Sirih are in Central Jakarta. Cempaka Putih is in East Jakarta. This was more than enough to make my daily commute antarkota dalam provinsi (AKDP).
[2] Oddly enough, in these three buildings my office(s) were always located in the topmost floor. the 16th floor in Kebon Sirih, 6th floor in both Salemba and Cempaka Putih. In a way, this continued the tradition that I had since I was in ITB (4th floor in Labtek III), and Kyoto (6th floor).
[3] Between all that and my stubbornness to maintain my learning streak in Duolingo, running, and a lot of miscellaneous IM-related activities, I noticed some of my friends have begun to berguna-shame me. Because fat-shaming, slut-shaming, and gay-shaming are so passé.
[4] joran, todak, rawai.
[5] I think this also goes to show how your friends and your environment shapes your perspectives.
[6] This is a really good essay, and I think it deservedly won the Oxford Uehiro Prize.
[7] It's a shame I can't locate where I read about the annual average of beef consumption is equivalent to 0.6 cow per year, whereas eating chickens necessitates killing more chickens than cow overall.
[8] I think I read something along this line at Marginal Revolution, where one of the bloggers mentioned that there are very few books that changed his mind. Most of the books that influence his thinking were on issues that he was undecided on when he read them during his undergrad.

Tuesday, April 7, 2015

Recehan

Mas Efendi, manajer administrasi dan keuangan kantor saya mengirimkan pesan agar kami tidak meninggalkan barang-barang berharga di meja kantor. Di e-mail yang sama, ia lanjutkan bahwa tukang-tukang akan mulai merenovasi kantor kami mulai minggu depan.

Sekilas saya edarkan pandangan ke barang-barang yang terserak di meja saya. Tumpukan dokumen aneka rupa. Kumpulan pulpen yang penyok ujungnya. Satu eksemplar buku panduan penelitian. Selembar kartu pos dari Pittsburgh. Segenggam kepingan recehan.

Recehan juga uang. Haruskah saya mengamankannya?

***

Recehan juga uang. Ini sebabnya saya pernah sakit hati pada pengamen di Pasar Balubur yang melemparkan balik keping dua ratusan rupiah saya sambil bersungut-sungut. Lah kalau ga mau dapat receh jangan ngamen Mas! Tumpukan recehan kalau dikumpulkan juga bisa berharga!

***

Jangan salah sangka, tumpukan recehan di meja saya ini bukan hasil mengamen. Suara saya yang sumbang dan mimik saya yang tidak mengancam rasanya akan membuat saya gagal mendapatkan sekadar keping-keping ratusan kalaupun saya memaksa berdendang di jalanan.

Keping-keping ini adalah kumpulan kembalian, dari pembelian tiket TransJakarta koridor enam, dari kopaja-kopaja yang melaju serampangan, dan dari jajan gorengan. Risih mendengar dencing-dencing koin di kantong celana, saya biasa lemparkan mereka ke sudut meja ketika saya sampai di Salemba.

Dengan adanya onggokan koin di meja, ketika melihatnya kadang saya merasa saya ini kaya.

***

Tidak susah menanamkan pemahaman bahwa recehan adalah status kekayaan ketika di masa kecil Donal Bebek menjadi sumber bacaan rujukan. Bayangan Paman Gober yang berenang-renang senang di kolam recehan menjadi penguat imajinasi bahwa yang punya segalanya belum tentu kaya.

***

Maka ada dua memori yang mengingatkan saya tentang rasanya menjadi kaya. Yang pertama adalah ketika celengan ikan yang sering saya timang-timang bagai gada kesayangan digorok di akhir suatu tahun ajaran SD. Dari perut merah jambunya yang terburai saya dapatkan seratus ribu. Senyum saya terkembang tak padam-padam, membayangkan kesenangan bisa membeli apa yang saya mau kapanpun saya berikutnya ke toko buku.

A penny saved is a penny earned.

Memori kedua adalah ketika saya pertama kena tilang. Saya yang mendongkol bersumpah hanya akan mau membayar dendanya dengan recehan, dan rasanya saya memang punya cukup banyak recehan. Di pengadilan, usai hakim menetapkan denda yang harus saya bayar, saya menjinjing kresek saya yang penuh berisikan keping-keping ratusan dan lima ratusan ke ibu penerima pembayaran. Ia langsung tergelak melihat apa yang saya bawa.

***

Sementara itu, rasanya koin yang berserakan ini belum seberapa bernilai. Saya bahkan tidak tahu berapa jumlahnya. Hitung punya hitung, ada belasan ribu terkumpul dari dua puluhan koin lima ratus rupiah, dua ribuan dari belasan koin dua ratusan rupiah, dan seribuan dari sisa koin seratusan rupiah. Dengan kertas bekas saya gulung receh saya menjadi bentuk-bentuk tabung, berdasar besar ukurannya. Selasa malam saya tinggalkan tabung-tabung ini di pojok meja yang sama.

Langkah pulang saya ringan, dengan absurd akhirnya merasa kerja mulai membuat saya kaya.

***

Perasaan ringan ini bertahan hingga Kamis pagi, ketika di kantor saya dapati gulungan lima ratusan rupiah saya menghilang. Kamis pagi, ketika di kolong meja saya kini terpasang soket listrik baru hasil pekerjaan renovasi para tukang.

***

Saya merutuk pelan. Ah! Kenapakah tidak saya dengarkan nasihat Mas Efendi?

Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan buat apa pula saya merisaukan belasan ribu saja? Receh sebanyak itu masih tak akan cukup untuk membeli penganan di mal. Uang sebanyak itu bahkan mungkin tak cukup untuk membayar pajak yang dikenakan pemerintah ketika saya dan teman teman berkumpul di mal. Koin sebanyak itu harusnya tak bikin saya risau.

Saya tidak risau, tapi saya juga tak habis pikir, untuk imbalan yang sedemikian kecil, tidak terusikkah si pengutil dengan keburukan perbuatannya? Paling banter saya pikir ia hanya akan dapat sebungkus rokok dari receh saya. Sementara itu, kalau dia beriman pada surga dan neraka, tidakkah ia akan merasa receh ini akan menggelayutinya sebagai dosa?

***

Lalu akan saya apakan sisa tabung uang dua ratusan dan seratusan yang masih ada di meja? Haruskah saya pindahkan ke tempat aman? Tapi betapa meremehkannya saya, mengira uang yang tak sampai tiga ribu rupiah ini akan bisa menggoda iman orang. Jumat menuju akhir pekan, saya tinggalkan dua tabung ini tetap teronggok di pojok.

***

Selasa pagi, saya dapati tabung seratusan rupiah saya kini teronggok sendiri.