Showing posts with label indonesia mengajar. Show all posts
Showing posts with label indonesia mengajar. Show all posts

Tuesday, May 2, 2017

Surat dari Niluh

Ketika gerhana melintasi Indonesia tahun lalu, saya memutuskan untuk menyaksikannya di Batui 5, desa tempat saya mengajar sebelumnya. Sebagian siswa yang empat tahun lalu saya ajar di kelas V masih ingat saya, dan salah satunya mengirim surat. Berikut suratnya:

Selamat datang di Batui 5 Pak Masyhur! 
Halo Pak apa kabar kami anak Batui 5 sangat merindukan Pak Masyhur. Apakah Pak Masyhur masih ingat dengan saya? Oh iya, Pak, bagaimana kabar Bu Auliya? Apakah Pak Masyhur tau bagaimana kabar Ibu Auliya? 
Pak kapan ya Pak Masyhur ke Jakarta lagi? Apakah Pak Masyhur lama di sini? Saya ingin Pak Masyhur satu minggu di sini karena kami di sini masih ingin bersama Pak Masyhur. 
Apakah Bapak udah tau saya udah engga lanjut sekolah lagi? Saya engga lanjut sekolah gara-gara orang tua saya engga ngizinin saya untuk sekolah lagi, karena disuruh jaga adik. Udah dulu ya Pak. 
Salam rindu,
dari: Niluh
Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Monday, January 2, 2017

PM Suka Menulis: IFTTT

Tutupnya layanan Twitterfeed akhir Oktober lalu membuat saya bingung. Sebelumnya, saya pakai Twitterfeed untuk broadcast agregasi RSS grup PM Suka Menulis di akun @tetulisan. Huh, baru juga seumur jagung.

Macetnya akun @tetulisan ini lalu menimbulkan dua pertanyaan:
1) Jadi apa yang bisa saya pakai untuk agregasi RSS sebagai gantinya?
2) Memangnya, ada yang baca ketika ada link yang ditweet di sana?

Pertanyaan pertama hanya bisa dijawab dengan mencoba-coba. Selain kembali mencoba dlvr.it, saya mengetes buffer.com dan mencoba IFTTT. Kendala saya dengan dlvr.it tetap sama: RSS gabungan ditolak karena terlalu besar ukurannya, ketengan cuma bisa lima saja. Sementara, Buffer yang saya pikir menjanjikan, ternyata hanya bisa mengakomodasi 15 RSS feed. Itu pun harus bayar $102/tahun untuk jenis langganan Awesome. Waktu itu, sudah lebih dari 40 RSS dari anggota grup PM Suka Menulis.

Tinggal IFTTT solusinya. If this then that: if (blog publishes feed) then (publish to twitter). Sambungkan blog ke trigger, sambungkan twitter ke action. Beres.
Tapi ternyata IFTTT menolak post mention—rawan disalahgunakan untuk spam maka tweet di atas hilang tanda @-nya. Ya benar juga sih, tapi ini berarti pertanyaan pertama saya tidak langsung selesai. Untungnya saya menemukan bahwa hal ini bisa diakali dengan memakai Buffer sebagai perantara. Maka IFTTT saya menjadi: If this then that: if (blog publishes feed) then (add post to buffer (buffer post to twitter)). Tidak sempurna, karena kalau antrean buffer penuh (10 post), maka buffer akan skip tambahan post barunya.

Tapi karena sejauh ini PM Suka Menulis ngga rajin (suka != rajin), masih ga masalah. Dalam 204 hari sejak pertama diluncurkan, baru 273 tweet yang dikeluarkan @tetulisan, maka rasanya buffer-nya belum akan penuh dalam waktu dekat.

Lalu, dengan tweet yang sedikit itu, ada yang baca?

Ini pertanyaaan kedua saya tadi. Saya telusuri jawabannya sambil menyelamatkan daftar feed yang sudah terlanjur dimasukkan ke Twitterfeed sebelum mereka tutup permanen. Hasilnya? Statistik Twitterfeed menunjukkan bahwa ada 452 kunjungan ke 187 post yang ditweet @tetulisan. Rata-rata satu tweet mengirimkan 2,4 kunjungan ke alamat blog tersebut. Angkanya ngga gegap gempita seperti tiap postingan facebook Indonesia Mengajar yang langsung disukai ratusan orang, tapi lumayan lah.

Sekarang, migrasi otomatisasi sudah komplit ke IFTTT, plus tambahan feed dari Sinta dan Lukvi--yang akhir-akhir ini agak rajin ngeluarin tulisan. Mudah-mudahan terus berlanjut sampai selewat tahun baru. 

Saturday, May 28, 2016

Jemu


"Seperti inikah dulu di desa tempatmu mengajar dulu? Pasti sangat menjemukan," komentar si Bapak yang ikut bepergian bersama saya ke tengah Pulau Flores.

Apabila saya menganggap alam itu membosankan, maka ya: hidup satu tahun di desa tidak tertahankan. Tapi bagaimana bisa saya merasa biasa memergoki kerumunan kera bersiaga di tepi jalan antardesa? Sementara itu, di laut yang tak pernah jauh, saya bisa berenang berdekatan dengan ikan-ikan badut jingga. Desaku mendekatkanku dengan alam yang sedikit dijamah manusia.

Jika saya tidak punya kesempatan bertualang, maka ya: enggan saya hidup satu tahun di desa. Namun ketika saya dapati bulu kuduk meremang karena harus berkendara di tengah kegelapan, saya sadar di sini petualangan gampang didapatkan, meski sekadar dari perjalanan ke desa seberang. Desaku membuat nafas memburu.

Seumpama saya menganggap sepi itu membosankan, maka ya: hidup satu tahun di desa sangat menjemukan. Tapi desaku tak pernah sepi. Anak-anaknya sigap untuk menjadi riuh agar aku bangun dari tidur siang, mungkin karena akhirnya mereka tidak merasa belajar itu membosankan. Desaku ramai.

Sekiranya bekerja di desa itu tidak menantang, maka ya: mengajar satu tahun di desa akan membuatku mengharap pulang. Akan tetapi, mengajar membuatku tahu betapa sulitnya terus menjadi seseorang yang bisa digugu dan ditiru. Lebih dari itu, mengajar mempertemukanku dengan anak-anak yang haus untuk selalu belajar hal yang baru. Desaku memberi tempat harapan bertumpu.

Seandainya saya hidup di desa tanpa teman bercerita, maka ya: hidup bosan satu tahun tentunya sangat merana. Memang ada masanya saya kebingungan dengan cara penduduknya berbahasa. Namun saya akhirnya sedikit-banyak ikut terbiasa. Pun saya selalu bisa bercengkerama dengan lima teman yang pribadinya luar biasa. Desaku memberi keluarga baru.

Desaku gagal membuatku merasa jemu.

Thursday, March 17, 2016

Refleksi Selebrasi Lima Tahun IM

“Ketemu di Gambir yaaa,” komentar teman Penyala Banggai ketika saya bertanya apakah dia ada rencana datang ke Jakarta. Saya sama sekali lupa kalau ada yang janggal dengan kalimatnya. Saya waktu itu berpikir wajar saja kalau orang ke Jakarta tibanya di Gambir, tapi tidak sadar kalau tidak ada jalur langsung Jakarta-Banggai via kereta api.

Baru ketika dia mengepost update bahwa Penyala Makassar dan Penyala Jogja sudah bertolak ke Jakarta untuk ikut Selebrasi saya jadi ngeh kalau ada orang-orang yang rela bersusah-payah ke Jakarta untuk acara ini. Momen-momen seperti ini yang membuat saya kangen kembali berada di penempatan, tempat saya berkenalan dan berinteraksi dengan banyak orang yang mengupayakan kebergunaan, termasuk teman saya tadi.

Saya suka bernostalgia, jadi selalu menyenangkan berkumpul dengan teman-teman sepenempatan. Saat berkumpul, obrolan kami sering bermuara pada penyesalan akan minimnya pengetahuan kami ketika bertugas di penempatan. Seandainya saja dulu kami tahu hal-hal yang sekarang kami tahu, pasti ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Pasti ada cara-cara berbeda yang bisa dicobakan. Pasti kami tidak perlu merasa kerepotan harus kembali menciptakan roda dari awal. 

Dengan para Penyala, misalnya. Seandainya pengetahuan saya dulu lebih luas, saya membayangkan bisa bercengkerama dengan mereka tentang penelitian Michael Kremer di Kenya yang menunjukkan bahwa yang meraup manfaat pemberian buku di sekolah-sekolah hanyalah siswa-siswa yang kemampuan membacanya sudah kuat. Ini sebabnya untuk sekolah dengan kondisi calistung kelas awal yang lemah, pendampingan baca siswa perlu diberikan porsi khusus. Bagi mereka yang belum lancar membaca, keberadaan buku ini kecil manfaatnya. 

Sayangnya, murid belum lancar membaca dan berhitung galib adanya, termasuk di desa penempatan saya. Di awal penugasan, saya menemukan satu murid kelas tiga yang tidak saya ajar ternyata belum lancar penjumlahan 1-10. Saya ingat bahwa saya merasa gagal mencari cara yang bisa saya pakai secara cepat dan akurat untuk mengukur kemampuan dasar matematika dan membaca siswa. Seandainya saja waktu itu saya memiliki panduan diagnosa kemampuan baca dan bagaimana menanganinya, saya berpikir mungkin saya akan bisa lebih berguna dalam waktu satu tahun di sana.

Kini setelah lebih dari dua tahun meninggalkan desa, saya menemukan bahwa ada instrumen seperti EGRA dan EGMA, yang bisa dipakai untuk mengukur kemampuan murid dalam hal matematika dan membaca. Saat mendapatkan instrumen ini, hal pertama yang terbersit di bayangan saya adalah betapa bergunanya instrumen ini apabila dulu saya tahu akan ditempatkan di sekolah baru tanpa PM pendahulu yang bisa memberikan gambaran detail kemampuan tiap anak. 

Di luar lingkup pedagogis tentang bagaimana saya sebagai guru bisa merancang strategi penguatan calistung untuk anak-anak tertentu, saya kini juga tahu bahwa pengukuran sistematis bisa membantu saya juga mengadvokasi kepedulian orang tua pada pendidikan. Pandangan ini saya dapatkan ketika saya membaca tentang bagaimana NGO Pratham di Jaunpur, India melibatkan orang tua untuk mengetes kemampuan mengeja anak-anaknya dengan tes serupa EGRA dan EGMA. 

Sama seperti di Indonesia, ketika orang tua melihat sendiri bahwa anak-anaknya sulit membaca, reflek mereka adalah menabok anaknya. Namun, hasil pengetesan ini lalu bisa menggerakkan warga untuk menjadi sukarelawan yang membantu anak-anak di desa itu untuk belajar membaca. Para sukarelawan ini lalu diberi pelatihan satu minggu oleh Pratham, dan hasilnya cukup membanggakan. Di akhir program, semua anak di desa program Pratham yang sebelumnya tidak bisa membaca sama sekali menjadi bisa mengenali huruf (sementara hanya 40% anak di desa pembanding yang bisa mengenali huruf). Untuk anak-anak yang sebelumnya hanya bisa mengenali huruf, proporsi yang menjadi bisa membaca cerita singkat lebih tinggi 26% di desa program daripada di desa pembanding.

Temuan di atas membuat saya berikan satu salinan EGRA dan EGMA ke PM XI Banggai ketika saya sambangi camp pelatihannya. Harapannya sih agar berguna, tapi saya jadi bertanya-tanya juga apakah justru mungkin instrumen ini lebih berguna di kabupaten-kabupaten baru yang tidak sempat saya ajak mengobrol PMnya. 

Saya membayangkan di kabupaten-kabupaten baru ini para PMnya akan harus meyakinkan banyak orang tua baru yang mungkin sebelumnya jarang bertemu para penggerak pendidikan. Bayangan saya, akan sangat wajar kalau mereka berkilah bahwa anak-anak mereka tidak mungkin mampu meraup seluruh manfaat pendidikan yang mensyaratkan seseorang lulus sekolah menengah agar taraf penghidupannya naik. Di sini sebetulnya data bisa membantu membujuk para orang tua bahwa memberi kesempatan sekedar satu-dua tahun lebih lama di sekolah berkemungkinan memperbaiki upah yang diterima anak mereka di masa depan. 

Saya tahu paling tidak ada dua studi yang terkait hal ini: satu di Madagaskar dan satu lagi di Indonesia, yang melihat dampak pembangunan gedung sekolah Inpres di masa orde baru. Keduanya menunjukkan hasil serupa: rata-rata peningkatan logaritma upah proporsional dengan lamanya seseorang di sekolah hingga SMA, dan kurvanya tidak cekung seperti yang banyak dibayangkan para orang tua.

Tentu saja saya tidak tahu apa-apa tentang menjadi orang tua, tapi pengamatan saya (dan cerita teman-teman) menunjukkan peran itu adalah peran yang luar biasa berat. Bahkan dengan niat yang baik, ketidaktahuan mereka tentang kemampuan anaknya membuat mereka mengambil keputusan yang tidak pas dengan kebutuhan anaknya. Ini yang membuat mereka memilih membeli buku yang tidak sesuai dengan kemampuan anaknya. Ini masuk akal sih, karena kita saja mungkin tidak tahu kalau kategorisasi cara belajar menurut audio, visual, dan kinestetik itu tidak ada dasar ilmiahnya (lihat mitos nomor 4), apalagi para orang tua di desa.

Berita bagusnya adalah, apabila mereka diberi informasi, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih sesuai. Ketika dijelaskan tentang setiap angka yang ada rapor yang disederhanakan, mereka membeli buku yang lebih sesuai. Ketika diberi infografik hubungan proporsional pendidikan dan upah, tingkat kehadiran murid-murid meningkat. Bahkan ketika infografiknya sesederhana menunjukkan jumlah karung beras sebagai representasi besar upah yang diterima. 

Mendengarkan paparan tentang studi dari Madagaskar ini juga mengingatkan saya pada Kelas Inspirasi yang banyak digagas di berbagai kota. Membaca paparan bahwa untuk studi ini, mereka mengadakan sesi mengundang profesional untuk datang ke sekolah dan berbagi di hadapan siswa dan orang tua, satu pertanyaan terbersit di kepala saya: adakah penyelenggaraan Kelas Inspirasi yang turut mengundang orang tua di hari inspirasinya? 

Pertanyaan lain yang terbersit adalah, perlukah penyelenggara KI memprioritaskan relawan inspirator yang memiliki latar belakang penuh keterbatasan seperti yang dihadapi siswa-siswa di SD-SD KI? Pertanyaan ini muncul di kepala saya melihat hasil studi tersebut yang hanya mendapati indikasi dampak role model untuk mereka yang menceritakan kisah hidup mereka dari tingkat ekonomi rendah (ayah-ibu petani, sekolah di desa) naik ke tahap madya (memiliki ladang yang produktif/punya toko yang ramai)/tinggi (jadi PNS/manager). Sementara itu, mereka yang memang berasal dari strata ekonomi tinggi (orang tua PNS, bersekolah di swasta elite) tidak banyak menghasilkan dampak. Melihat mereka yang ada di kelompok terakhir ini, kemungkinan para orang tua yang hadir akan merasa bahwa latar mereka yang berbeda meneguhkan perbedaan kemampuan dan capaian antarstrata. Orang tua yang berpendapatan rendah akan melihat mereka yang sukses meski awalnya juga berketerbatasan membersitkan harapan mereka. Untuk cerita mereka yang awalnya ada keuntungan, harapan yang ditimbulkan ini kurang. 

Tapi harapan saja tentu tidak cukup. Saya sependapat dengan Karlan dan Duflo yang baru-baru ini menulis op-ed di NY Times. Mereka berkata, ”Hope and rhetoric are great for motivation, but not for figuring out what to do. There you need data.” 

Bagi kita yang berkecimpung di dunia pembangunan, data ini bisa menjadi panduan penyusunan program agar menjadi tajam. Penajaman ini perlu apabila melihat pengalaman Pratham menggerakkan masyarakat untuk melakukan aksi kolektif yang efektif meningkatkan pendidikan. Efektivitas ini didapatkan dari menunjukkan hal spesifik yang bisa dilakukan masyarakat (jadi sukarelawan mengajar membaca) tanpa mengharuskan mereka terlibat untuk meROMBAK SISTEM PENDIDIKAN DENGAN TRANSFORMASI MENYELURUH. (Pakai huruf kapital untuk klausa terakhirnya karena agak mustahil membaca seruan mengawang-awang jenis slogan peringatan Hardiknas tanpa merasa kayak baca pidato ala orang “penting”).

Ini bukan berarti tidak mungkin masyarakat terlibat dalam perbaikan struktural sistem pendidikan, tapi ya kan nyatanya penempatan guru masih merupakan wewenang BKD, yang lazimnya jauh dari jangkauan para orang tua di desa. Maka mencari sukarelawan desa adalah satu hal spesifik dan nyata yang mereka tahu bisa langsung mereka lakukan. Lalu apa peran yang bisa PM—atau Pengajar Cerdas TBB, atau di tempat-tempat lain seperti Sorong, Bima dan Halmahera—lakukan? Mereka bisa menunjukkan pilihan jalan meningkatkan pendidikan seperti di atas. Memastikan upaya pengadaan bacaan tidak hanya menguntungkan yang lancar membaca. Mengukur tingkat kemampuan anak secara sistematik, dan melibatkan orang tua dalam prosesnya. Memberantas miskonsepsi pendidikan yang hanya berdampak pada kesejahteraan selepas tingkat SMA. Memperbanyak interaksi role model yang beresonansi dengan latar belakang orang tua. 

Atau meniru Roland Fryer, PM bisa menarik teladan dari sekolah unggulan untuk sekolah-sekolah di penempatan. Fryer sendiri menggunakan meta-analisis untuk memilih hal-hal teladan  yang akan diterapkan di sekolah-sekolah seperti di daerah Harlem di New York. Hal-hal yang diterapkan ini termasuk satu jam ekstra di akhir hari sekolah, dan penanaman mindset bahwa meski mereka murid di sekolah yang rentan DO, hidup mereka bisa menjadi lebih baik dengan bersekolah.  Hasilnya? Meski banyak guru awalnya pesimis, ("Ah, itu mah sekolah unggulan. Sekolah kita mana bisa, sekolah kita perlunya dapat anak-anak yang memang pintar dari sononya,") satu paket keteladanan tadi ternyata bisa meningkatkan capaian akademis sekolah target dalam bidang matematika. Presentasi Fryer yang membikin trenyuh dengan pemaparan yang banyak mengundang tawa ini bisa dilihat videonya di sini. (Saya sepakat dengan Alex Tabarrok-nya MR di sini, saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk menonton videonya.)

Namun mari kita tarik lagi untuk konteks PM dan gerakan pendidikan lainnya. Untuk menunjukkan pilihan-pilihan di atas, PM harus memiliki pengetahuan tentang jalan-jalan yang ada—dan ini yang membuat saya dan beberapa teman sering merasa geregetan, karena tidak tahu ada pengetahuan-pengetahuan seperti ini ketika di penempatan. Dengan akses informasi yang terbatas pula, kecil kemungkinan saya waktu itu bisa mendapatkannya ketika selesai pelatihan memasuki masa penugasan. 

Di sisi lain, ketika sekarang saya mengobrol dengan banyak orang di daerah tentang pekerjaan riset, mereka biasanya langsung berorasi panjang lebar tentang betapa banyaknya penelitian yang dilakukan berbagai pihak yang lalu tidak dipublikasikan, apalagi diterapkan. Biasanya saya bagus dalam hal mengontrol muka, tapi ada perasaan terlecut juga. Kita tahu kok tentang penelitian-penelitian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh! Kita bisa juga kok menerapkan penelitian-penelitian yang ada untuk memperbaiki keadaan! 

Saya tahu, ini adalah pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu-dua orang. Inilah mengapa, bagi saya tidak ada jalan lain selain untuk terus belajar dan terus bekerja.

----------------------------------------------------
Penyangkalan: tulisan ini adalah pendapat pribadi, dan tidak mewakili institusi manapun, termasuk institusi tempat saya bekerja sekarang.

Monday, October 19, 2015

Risalah sesi Indonesia Berkarya

Saya hampir lupa kalau saya pernah menulis tentang sesi Indonesia Berkarya di milis alumni. Karena navigasi laman yahoogroups mensyaratkan login menggunakan email yahoo--saya rasa ada baiknya dibuka di ruang ini juga. Jadi saya tidak perlu frustasi mengingat-ingat sandi surel saya setiap kali saya mau mencari arsipnya.


From: Masyhur Hilmy
Subject: [alumnipm] Catatan dari sesi Indonesia Berkarya
Sent: Wed, May 21, 2014 17:36 

Agak telat sih, tapi saya kepengen cerita agak panjang; dua minggu lalu saya diundang ikut reuni forum YLI. Di forum ini, saya selain bisa lihat Mbak Naimah yang dengan energiknya memandu peserta di games pembuka, saya juga berkesempatan duduk makan malam mendengarkan Pak Anies bercerita. Di makan malam yang sama, kami para peserta didorong untuk berjejaring dengan para profesional yang turut diundang hadir. 

Kalau dipikir-pikir, hampir sama dengan sesi makan malam waktu OPP, cuma bedanya tidak terlalu banyak muka keling terbakar matahari di sekeliling meja. Sementara itu, interaksi dengan para profesional seniornya membuat saya teringat sesi Indonesia Berkarya.

Saya suka datang ke acara Indonesia Berkarya. Alasannya sederhana, karena di sana saya kembali disajikan grafik-grafik yang baru beberapa bulan yang lalu saya temukan di laporan McKinsey yang judulnya Unleashing Indonesia. Saya pertama kali membacanya via hp di mobil menuju Baduy, sambil mengagih cuplikan-cuplikan menarik dari laporan itu ke mobil yang penuh dengan keluarga PM Banggai (Farida PM V TBB kami klaim jadi keluarga PM Banggai aja deh). 

Yang bikin mobil riuh rendah adalah ketika saya mengagih Box 12 tentang Indonesia Mengajar. Kami pun main-main checklist, saling bertanya satu sama lain, sebagai PM yang baru selesai OPP, setahun di penempatan kemarin kita "develop leadership skills and an understanding of remote communities" ngga? Waktu di sana "rural students gain a role model" ngga? "Village teachers receive exposure to new teaching techniques" ga? "Given public classes on topics such as hygiene and sanitation" ngga? ("Ya iya lah, mereka [congekan/jamuran/gatal-gatal/kudisan/pilih penyakit kulit lain sesuai dengan desa penempatan] gitu,"). 

Dua bulan kemudian, di Indonesia Berkarya beberapa orang menyajikan presentasi yang pakai grafik-grafik yang sama, dan saya jadi sadar bahwa satu tahun di penempatan membuat histogram, presentase dan diagram-diagram tersebut jadi punya nama dan cerita. Peluang pasar pertanian, perikanan, SDA dan pendidikan kita akan meningkat dari USD 0,5 trilyun jadi USD 1,8 trilyun di tahun 2030? Wah iya banget tuh, Indonesia itu kaya hasil bumi dan lautnya. Desa gue dulu isinya sawit, coklat dan karet emang! Banggai ikan dan kepitingnya juga berlimpah! Mayoritas kota yang pertumbuhan ekonominya tinggi di luar Jawa? Jelas iya dong, lihat aja Luwuk di Banggai yang tau-tau udah ada Aston, KFC, sama Happy Puppy aja.

Tidak semua grafiknya bikin bersukacita sih, karena kalau nampak grafik bagian tantangan krisis air bersih masa depan langsung teringat duka lara mengharap-harap hujan agar sumur komunal kembali berisi air. Yang paling relevan dengan tema yang diusung acara ini tentu saja adalah grafik tentang permintaan dan penawaran tenaga kerja Indonesia berdasarkan tingkat pendidikan. 

Pandangan pertama saya tertumbuk di tingkat pendidikan yang kita obok-obok selama setahun: pendidikan dasar. Dulu kalau saya ketemu statistik ini rasanya susah percaya, hari gini siapa sih yang pendidikan terakhirnya cuma SD? Sekarang, statistik itu menjelma menjadi nama-nama yang lebih mudah dipahami, karena saya ketemu sendiri dengan Eko, Endik, dan banyak lagi lainnya yang tidak lanjut ke SMP. Di tahun 2030, diproyeksikan akan ada 59 juta orang seperti mereka, sementara lapangan kerja yang ada hanya untuk 39 juta. Apa jadinya ya 20 juta orang yang mungkin tidak terserap dunia kerja? Penduduk sebanyak itu kalau pas pemilu milih partai yang sama, jumlahnya udah lebih banyak dari pemilih Partai Demokrat di pemilu 2009 lho.

Perhatian saya berikutnya ke tingkat pendidikan saya sendiri: tertiary, dan saya dengan egois merasa boleh berbesar hati karena ternyata sarjana masih akan undersupply di Indonesia. Proyeksi untuk tahun 2030, Indonesia masih akan kekurangan 2 juta sarjana untuk mengisi lapangan kerja. Sarjana aja kurang, apalagi Sarjana-sarjana Terbaik Bangsa (TM), jelas dibutuhkan dong (amin?). 

Mungkin harusnya ini yang saya jawab ke Tika ketika dia tanya apa yang saya dapat dari sesi Indonesia Berkarya. Tapi susah juga euy, di dalam bus transjakarta ngecap ke Tika tentang grafik dan kurva. Plus, itu kan pendukung saja. Saya juga ga yakin ada hadirin lain yang merhatiin grafiknya, wong Ria yang duduk di sebelah saya saja tanya, "Itu grafik apa sih Syhur?" Ketika saya liatin grafik serupa di tablet saya supaya dia ikut terkesima dengan data-data terkemuka, Ria justru menampik kesempatan mencermati grafik-grafik cantik itu.

Tapi memang beda orang, beda pula minatnya. Bahkan beda niat pun sah-sah saja, apalagi mengingat tujuan Indonesia Berkarya memang bukan untuk mengagumi batang-batang diagram, tapi untuk tiga misi utama: jadi wadah diskusi dan berjejaring, jadi wadah kerelawanan untuk para professional menjadi mentor orang-orang kayak alumni PM, dan untuk jadi ..... Untuk apa ya yang ketiga? Saya inget lihat ada tiga, tapi saya ga nyatet apa yang ketiga, dan sepertinya sih ada di file .ppt yang dishare sama Adji, tapi karena saya ga punya akses ke Google Drive tempat .ppt itu diunggah jadi rasanya saya (dan yang lain, kalau ada) yang berminat pengen liat pun jadi lupa kalau tadinya pengen.

Begini memang kalau ngga nyatet, begitu nyoba ngingat-ngingat, gagal. Tapi memang ada tiga distraksi yang lebih OK dari nyatet sih. Distraksi pertama, gambar grafik warna-warni tentang trending topics dunia HR global dan gambar ilustrasi yang keren, diambil dari cover reportnya BCG-WFPMA tentang pengembangan SDM. 

Distraksi yang kedua lebih umum dinikmati juga sama teman-teman yang bukan iconophilia: camilan. Distraksi yang ketiga pun bikin lebih banyak orang ceria dibandingkan yang ilustrasi: camilan. (Camilan perlu mendapat porsi lebih untuk proporsi distraksi karena di setiap pertemuan porsi yang ada biasanya berlebih). 

Bagi yang menjaga berat badan (mungkin untuk mengkompensasi kebanyakan dijamu waktu kunjungan sosial di desa), saya sarankan sih untuk juga menjaga perhatian pas ikut sesi Indonesia Berkarya. Karena kalau menjaga perhatian dan bisa menjawab pas ada tebak-tebak berhadiah, bisa mengelak dari menumpuk lemak (plus dapet hadiahnya). Di sesi tanggal 15 Maret yang lalu, ada yang dapat hadiah buku bagus yang Judulnya "Surat Dari dan Untuk Pemimpin" (siapa ya waktu itu?). Waktu itu sih dia menjanjikan bikin resumenya buku keren itu di milis, jadi kita tunggu aja.

Saya harus bilang saya agak kecewa, karena biar mantengin presentasinya, kalau gaulnya cari penampakan kera yakis (Macaca nigra) ketika di desa, ya ga bisa jawab nama orang di tebak foto yang dikasih. Tapi paling tidak, saya sekarang jadi tau, "O, itu yang namanya Merry Riana," "O itu yang ngarang '9 Summers 10 Autumns' ya."

Di pertemuan berikutnya sih setau saya tidak ada bagi-bagi buku (yaaah), tapi ada bagi-bagi ilmu hasil merangkum buku (yaaay) dan tetap ada berbagai makanan (YAAAAY). Di pertemuan itu, Mas Adam (@Ini_adam) menyajikan presentasi bertajuk "A Practical Guide to Job Hunting" yang menyarikan buku "What Colour Is Your Parachute?

Disebutkan di buku itu, kalau ada lima cara utama sebuah perusahaan/organisasi mencari orang untuk mengisi jabatan di perusahaan itu. Paling sering, mereka mencari orang dari dalam perusahaan itu sendiri (internal), baru setelah itu mereka mencari orang berdasarkan bukti kerjanya (contoh paling gampang adalah di Silicon Valley, tempat programmer yang bikin website sukses lalu diakuisisi sama perusahaan terkemuka), baru dari rujukan, baru pasang iklan, dan terakhir, dari resume yang masuk ke perusahaan tersebut walau tanpa pasang iklan. 

Menariknya, dari sisi pencari kerja, justru sebaliknyalah yang terjadi. Paling banyak upaya pencarian kerja itu dari kirim resume segepok meski tidak ada lowongan, merespon iklan lowongan kerja, baru rujukan, baru dari bukti, baru dari internal. Bagi saya masuk akal sih, perusahaan pilih cara seperti di atas untuk mengisi lowongan, apalagi kalau proses mencari pegawai itu seperti yang digambarkan di satu artikel Washington Post, capek-capek pasang iklan, janjiin wawancara, eh, ga ada yang nongol.

Mismatch antara tenaga kerja dan lowongan pekerjaan yang ada inilah yang membuat adanya talent war: orang yang kemampuannya pas dengan permintaan pasar akan jadi rebutan berbagai perusahaan. Apalagi dengan menurunnya jumlah ekspatriat yang bekerja di Indonesia. Saya pribadi belum bisa membayangkan jadi rebutan banyak perusahaan, tapi rasa jumawanya mungkin sama kayak kalau di penempatan jadi rebutan murid-murid untuk merangkap mengisi kelas mereka ketika sekolah kosong guru. "Pak, ke kelas enam saja Pak, belajar matematika"--"Pak, torang kelas tiga belajar sama pak guru juga Pak!". Ngartis rasanya, jadi rebutan. Jadi sepertinya sekarang ini saatnya kita mengasah skill di bidang yang jadi passion/renjana kita agar nanti jadi rebutan berbagai perusahaan yang valuenya sejalan sama kita.

Tentang renjana, topik ini sempat didiskusikan juga sebetulnya setelah Alsha/Rara bertanya apakah para profesi para relawan profesional yang datang di siang itu adalah dream job mereka. Tentu tidak, kata sebagian. Tapi diskusi lalu mengarah bahwa perbincangan tentang renjana ini adalah hal yang baru-baru muncul, di generasi mereka hampir tidak terlintas tentang renjana. Kira-kira kalau pakai kutipannya Tante Ligwina Sabtu kemarin, mereka belum sampai tahap unicorn muntah pelangi. 

Tapi renjana juga bukan sesuatu yang mutlak harus diikuti, toh tidak ada di kitab suci juga. Mas Adam juga menambahkan, kalau semua orang mengikuti renjananya, mungkin kita tidak akan pernah pegang iPod dan iPhone dan iPad yang lucu-lucu itu. Bisa jadi tidak pernah pegang karena renjana kita ada di bidang yang kurang basah sehingga iPhone itu jadi barang yang benar-benar mewah, tapi juga karena apabila Steve Jobs mengikuti renjananya, dia mungkin akan jadi biksu untuk menekuni ajaran Buddha alih-alih mengambil alih tampuk pimpinan Apple.

Saya tidak yakin tidak akan ada masalah kalau renjana kita ada di bidang yang tidak basah, tapi kalau tidak basahnya membuat gundah, mungkin perlu diperiksa lagi apa sebetulnya renjana kita. Caranya sebetulnya dengan menggali ke diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan pembantu seperti, what would you do for free? What/Who interests you? What will minimize your regrets? Terakhir, (ini favorit saya:) what riles you? Apa yang membuatmu gusar?

Yang kenal dekat dengan saya akan dengan mudah memberitahu kalau saya gusar pada penggunaan kata "merubah". Tapi di sesi Indonesia Berkarya terakhir, saya lebih gusar karena Indonesia Berkarya ini punya potensi besar yang menggiurkan untuk dimanfaatkan. Bayangkan, jumlah tahun pengalaman kerja para relawan profesional yang sudah datang di sesi-sesi ini bisa jadi lebih banyak daripada jumlah tahun penjajahan Indonesia oleh VOC. Dari bidang yang beragam pula, mulai dari yang berwirausaha sampai ke yang meniti karir di DHL ke Holcim sampai profesional yang sekarang berkarir di Indofood, Mandiri, PWC, Medco, dll. 

Kegusaran saya tentu bukan karena daftar afiliasi para relawan yang kalau disebut satu-satu mungkin menyaingi daftar emiten saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kegusaran saya lebih disebabkan ke daya imajinasi saya yang rendah yang menyulitkan saya membayangkan format yang paling optimal untuk mengembangkan komunitas Indonesia Berkarya agar manfaatnya dirasa oleh semua. Idealnya sih saya ingin ada lebih banyak teman-teman yang ikut bergabung dan urun gagasan. The more the merrier. 

Apalagi karena Indonesia Berkarya adalah forum terbuka yang tidak dikhususkan untuk alumni PM. Kita bisa juga mengundang teman di luar lingkaran IM yang mungkin bisa dipetik/memetik manfaat dari jejaringnya juga. Manfaat yang paling gampang yang bisa dipetik tentu adalah energi positif dari interaksi dengan orang keren. Kurang keren apa lagi, saya di sesi Maret bisa mendengarkan cerita Mario dan Adji waktu sesi kecil. Saya juga kembali tersadar kalau lingkaran IM itu isinya orang-orang keren, cuma kadang kita terlalu dekat dan perspektifnya jadi terdistorsi: alih-alih menghargai kerja keras rekan kita kita lebih fokus sama karakteristik remeh-temeh mereka. 

Selain meremehkan kerja kerasnya teman-teman kita, distorsi perspektif ini sangat mungkin bikin kita susah mengenali potensi teman-teman kita. Padahal kalau kita tahu potensinya kan bisa kita jadiin mentor/tutor. Yang kadang kita tahu potensinya aja kadang ga sempet dicuri ilmunya (Oktober 2012: berpikir bisa belajar Bahasa Tiongkok sama Lilli karena sepenempatan; Mei 2014: tetep ga tau sama sekali Bahasa Tiongkok), apalagi kalau kita ga tau potensi teman kita. Tentang pentingnya mentor ini, tidak cuma saya sendiri sih yang berpikir seperti ini, ada juga Maeve Richard, yang bilang "Mentors can have a large positive impact on careers."

Di sini rasanya peluang pemanfaatan Indonesia Berkarya buat kita. Karena ada banyak profesional dari berbagai industri, jadi terlibat di Indonesia Berkarya berarti kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang yang siapa tahu kalau cocok nantinya bisa dijadikan mentor untuk jadi panutan. Tapi harus diingat juga sih, kalau kita minta orang jadi mentor kita, kita juga harus siap mengerahkan usaha jadi mentee. 

Ngomong sih gampang, bakal mengerahkan usaha jadi mentee. Tapi kalau dengar cerita unik sebagian PM II yang dibimbing seorang mentor fenomenal, membuat saya bertanya-tanya, kalau saya jadi mentee, bisa tidak ya saya mengimbangi mentornya?

Untuk sekarang sih, saya lihat-lihat dulu (sambil menunggu) ada sesi Indonesia Berkarya lagi. Nanti kalau ada lagi, datang yuk!

Salam,
Masyhur

Monday, February 16, 2015

Kelimun Berduyun

Akhir pekan ini, saya membaca artikel majalah The Economist yang menarik. Di situ, disebutkan bahwa skema seperti Teach for America mulai menyebar ke belahan-belahan dunia yang lain. Dari Chili ke Haiti; dari India hingga ke Lithuania ("I Choose to Teach") dan Latvia ("Mission Possible").

Banyaknya gerakan-gerakan serupa ini mungkin bukan berita baru untuk teman-teman yang ada di balik layar Indonesia Mengajar (yang saya dengar mendapat lawatan Teach for Malaysia)--tapi bagi saya, ini jadi membuat saya girang membayangkan banyaknya orang-orang muda (seperti alumni pengajar muda!) yang mencoba meninggalkan jejak-jejak kebaikan. Tidak mungkin rasanya mereka terpanggil dengan slogan-slogan yang sama: untuk "Melunasi Janji Kemerdekaan", atau untuk menawarkan jawaban bagi pesan "Ibu Pertiwi Memanggil", tapi toh berduyun-duyun juga mereka mendaftar. Artikel itu menyebutkan bahwa rata-rata pelamar yang diterima hanya sepersepuluh yang mendaftar. Saya harus akui di sini saya berhitung sederhana, lalu merasa jemawa. Sepersepuluh? Masing-masing pengajar muda angkatan kelima saja menyisihkan lebih dari seratus pendaftar! Di tiga bulan pertama, seperlima pengajar angkatan pertama program di Chili menyerah? Lemah! (Iya, saya ini songong sekali.)

Selain itu, menyenangkan sekali menerka-nerka tantangan seperti apa ya yang para pengajar gerakan serupa itu alami di negara mereka masing-masing. Haruskah mereka mengarungi laut untuk menuju sekolah dari kota? Adakah tempat mereka mengajar yang beku terisolir salju ketika musim dingin--alih-alih lumpur laknat ketika musim hujan? Atau mereka justru mengajar di sekolah-sekolah terpinggirkan di pusat-pusat keramaian kota? Apakah mereka juga menghadapi komentar-komentar cemar yang menyangsikan kemampuan mereka mengajar?

Ah tapi kan pengajar muda dipuji tidak terbang, dikritik tidak tumbang. Walaupun bisa jadi kadang-kadang doyong-doyong juga perlu pegangan. Untuk masa-masa rentan dirundung pertanyaan "Apakah mengajar satu tahun bisa membawa perubahan?", saya beberapa waktu yang lalu menemukan satu studi yang bisa jadi penguatan.

Studi ini hasil buah pikir seorang profesor Harvard, Raj Chetty. Beliau adalah seorang akademisi cemerlang, dapat Clark Medal, dan dapat tenure (jabatan tetap guru besar) di UC Berkeley di usia 27. Saya tahu sih ketika selesai penugasan, alumni pengajar muda dihimbau untuk tidak membanding-bandingkan diri, tapi ya tetap saja saya merasa bagai butiran debu ketika tahu hal itu. Dua puluh tujuh tahun, beliau dapat tenure, sementara saya... ya sudahlah. Salah sendiri juga hari Minggu kok ambisius nonton video konferensi AEA. Fix, saya ini kurang piknik.

Mari kita kembali ke studi yang saya bilang tadi saja: di studi itu, Raj Chetty menyajikan data dampak guru ke murid-muridnya hingga mereka dewasa. Kita mafhum, guru bagus bisa meningkatkan pemahaman materi muridnya. Mampu matematika, cakap berbahasa. (Chetty menunjukkan nilai anak-anak yang mendapat guru bagus ini naik.) Tapi selepas diajar guru bagus, apakah kemajuan itu lalu perlahan-lahan tergerus?

Ternyata, data menunjukkan bahwa murid-murid yang mendapat guru bagus tidak hanya punya skor ujian yang lebih baik. Tapi, mereka juga lebih cenderung melanjutkan kuliah, memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi, dan memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk hamil di usia remaja. Perbandingan dengan data pajak pendapatan di Amerika ini juga menunjukkan bahwa dampak diajar guru bagus selama setahun ini bisa meningkatkan pendapatan si murid sebesar ~1 milyar rupiah selama masa hidupnya. Lumayan lah, kalaupun jadi guru ga bisa bikin kaya, paling ngga bisa memberi kesempatan muridnya hidup sejahtera. Walaupun saya akui terasa miris juga mendengar cerita Patrya, yang bertandang kembali ke penempatan lalu dipameri mantan murid yang sudah bawa momongan. Saya bergidik membayangkan percakapannya lalu dilanjutkan dengan pertanyaan, "Kamu kapan?"

Karena bagi saya, lebih seru kalau pertanyaan lanjutannya tentang dampak guru-guru tidak bermutu. Dan di sini saya merasa ngenes membayangkan murid-murid yang tidak beruntung mendapatkan guru-guru seperti itu: kemampuan kognitif tidak berkembang, tak bisa berharap banyak pada masa depan. Di paparannya, Chetty mengulangi saran memberhentikan guru-guru berkemampuan lemah dengan (setidaknya) guru berkemampuan setara rata-rata. Saya bayangkan saran ini tidak bisa serta-merta diterapkan. Pasti ada banyak perdebatan, mulai dari bias kriteria pengukuran mutu hingga penggajian yang layak dan banyak hal lagi.

Tentang bias pengukuran mutu, harus diakui penyelidikan mana sebab dan mana akibat memang perlu. Terbersit juga di pikiran saya, agak tautologis juga kalau bagus-tidaknya guru dinilai dari kemampuan mereka meningkatkan nilai ujian muridnya. Jangan-jangan guru jadi bagus itu karena murid-muridnya bagus, mereka yang dari kalangan berada dan orang tuanya rela memberi bimbingan ekstra. Namun, Chetty menunjukkan bahwa kriteria ini tetap bisa dipertimbangkan, karena perhitungan mereka menunjukkan kalau variabel tingkat pendapatan orang tua itu ortogonal dengan kriteria mutu berdasarkan hasil ujian (silakan tilik halaman 22-25).

Tentu mungkin ada variabel lain yang terlewatkan untuk diperiksa ortogonalitasnya. Dan hal ini mungkin menjadi bagian dari argumen sanggahan saran yang diajukan. Asal berbasis data atau analisis yang kuat, saya sendiri melihat saran apapun dan berbagai sanggahannya adalah bagian penting dari proses pembuatan kebijakan yang ideal. Terkadang kita perlu menggunakan narasi cerita agar data bisa bermakna, tapi begitupun tak apa asal kita sadar dengan batas-batas bias yang tersaji dari penggunaan cerita alih-alih data.

Jadi, apa simpulan dari lanturan ini? Saya sih hanya ingin mengagih tulisan-tulisan menarik, yang di antaranya bisa digali dari tautan-tautan di sepanjang lanturan ini. Selebihnya, silakan ditarik sendiri. Dan kalau ada yang menyimpulkan bahwa ini menunjukkan saya ada di titik gawat darurat keseriusan, boleh lho saya diajak bergembira macam lazimnya anak muda--walaupun sudah ada satu-dua yang bilang gaya bahasa tulisan saya macam angkatan Balai Pustaka.

Tapi saya pikir-pikir lagi, biar saja ding, kan angkatan Balai Pustaka akan terus terpatri di lubuk pikir para cendekia. Siapa tahu saya suatu hari bisa menyamai mereka!

Tuesday, December 30, 2014

Risalah Kelas Alumni PM: Tips Wawancara

Harap maklum kalau niat posting rangkuman risalah kelas alumni PM jadi tertunda, karena ternyata mengorek-orek kotak surat yang bertumpuk itu suka perlu niat kuat. Tapi setelah yang lalu risalah kelas CV dan menulis perjalanan, berikut risalah kelas latihan wawancara yang diadakan setelahnya:


From: Masyhur Hilmy
Subject: [alumnipm] Kelas AlumniPM Interview (Review)
Sent: Wed, Feb 19, 2014 11:15:58 AM 

Ketika saya datang untuk kelas alumni PM minggu lalu, seperti biasa sudah ada Mesa yang hadir, bahkan ketika saya sudah berangkat lebih awal. Tapi tak apalah, toh saya tetap bisa ikut berbesar hati ketika Pak Taufiq mengapresiasi kami yang datang sebelum sesinya dibuka--sembari memperingatkan kami untuk jangan pernah datang terlambat untuk interview, apapun alasannya (kecuali kalau kiamat datang, mungkin interview kerja kita akan diganti peradilan yang lebih mendesak).

Dari kelas alumni ini ada beberapa takeaway points. Dan takeaway point pertama saya adalah;

1. Datang tepat waktu.

Nasihat untuk datang tepat waktu tentu adalah nasihat klise--bahkan mungkin kita sendiri sering memberikannya ke siswa dan guru lain ketika di penempatan, tapi ketika nasihat yang sama diberikan ke kita, apakah kita sudah menerapkannya atau sekadar meloloskannya dari telinga kiri ke telinga kanan? 

Pada intinya, banyak hal dari sesi ini yang sebetulnya adalah penyegaran dari banyak hal yang sudah diberi tahu dan ditulis oleh banyak orang, tapi belum tentu diterapkan. Yah kalau kitab suci saja isinya perlu diingatkan setidaknya seminggu sekali, mungkin hal-hal yang lebih remeh-temeh macam tips dan etiket interview ini harus diulang-ulang lebih sering lagi supaya bisa dihayati.

Untungnya, tips dan etiket ini tidak sepanjang kitab suci jadi reviewnya pun tidak panjang-panjang. Apalagi karena latihan interviewnya baru berlangsung setelah jam 2. 

Di awal sesi, kelas dibuka dengan review CV peserta yang tidak hadir minggu lalu (Beryl dan Kristia yang CVnya bagus dan ringkas, hanya 1 halaman), serta CV peserta yang sudah dipermak setelah diberi masukan (Mesa). Dari sesi CV lanjutan ini yang bisa diambil adalah, 

2. Perkuat CV.

Yang ditekankan lagi oleh Pak Taufiq adalah pentingnya summary di CV. Dan karena CV akan mengarahkan material wawancara, maka penting sekali untuk tidak memasukkan yang aneh-aneh di CV, seperti interest yang tidak relevan. Boleh sih memasukkan "Interest", tapi usahakanlah interest yang memberikan tambahan jualan diri. Misalnya, interest lari maraton bisa menunjukkan pribadi yang gigih, tapi interest karaoke lagu-lagu hits JKT48 mungkin malah memberi kesan negatif bagi pewawancara yang antipati pada JKT48 (mungkin dia fans puritan AKB48).

Penguatan CV ini juga penting, apalagi kalau kebetulan alumni PM berombongan mendaftar untuk posisi yang sama--seperti pengalaman yang diceritakan Beryl, maka kita harus bisa mengolah CV kita untuk tetap menarik perhatian HR dibandingkan teman-teman PM lainnya.

3. Gunakan summary untuk memperkenalkan diri.

Di awal wawancara, si pewawancara bisa meminta kita untuk menceritakan tentang diri kita. Tapi apa yang harus kita ceritakan? Sebagian besar orang akan menggunakan frasa-frasa klise ("I'm a people person ..." dll) tapi sebetulnya kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk meng-highlight kekuatan diri kita yang paling menjual. Paling enak sih kalau kita sudah tahu apa yang mau kita jawab, dan itu berarti datang ke wawancara sudah berpikir dan mempersiapkan diri buat pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.

4. Jawab pertanyaan dengan STAR.

Di sini saya merasa kena karma, karena setelah 7 tahun belajar astronomi masih saja berurusan dengan bintang. Yah paling tidak saya tidak harus menjelaskan tentang limit massa Chandrasekhar, walaupun mengingat-ingat situasi yang sudah lewat dan menceritakannya lagi dalam format STAR sebetulnya tidak mudah juga. 

Tapi, ini penting untuk dilakukan, karena jawaban yang berputar-putar tanpa STAR hanya akan mengundang pertanyaan lanjutan untuk menggali STAR yang sebenarnya. Begitu pula dengan cerita STAR yang tidak lengkap. Selain itu, ada juga 3 kelompok jawaban yang kurang memberi gambaran nyata tentang kompetensi kita,
a. Jawaban dengan vague statements, seperti menggunakan kata "always", "usually", "I believe", atau menggunakan kata ganti majemuk "kami" alih-alih "saya". 
b. Jawaban yang sebenarnya opini, seperti "In my opinion ..." atau "I think ..."
c. Jawaban dengan situasi yang belum terjadi "Saya akan ...", "Saya ingin ...", "Saya hendak ..."

5. Gunakan selalu kata-kata positif.

Apalagi kalau ditanya "What's the worst failure of your life?"/"Pernahkah membuat keputusan yang ternyata salah?"

6. Tarik benang merah.

Apalagi buat yang pengalamannya ga nyambung, habis dari perikanan, trus IM. Kalau begini jangan melulu IMnya yang dijual, tapi tarik kompetensi apa sih yang dikembangkan di IM yang juga berguna di posisi yang kita lamar? Pak Taufiq menyarankan agar kita menyiapkan success stories (dalam STAR!) yang terkait dengan 
- kemampuan leadership
- analytical skill
- teamwork
- communication.
(Saatnya membuka file Self Assessment yang dikumpulkan pas OPP kali ya.)

Pak Taufiq bilang kalau prinsip yang dipegang pewawancara adalah "Past behavior predicts future behavior". Ini sebabnya success stories untuk menonjolkan kompetensi dan kata-kata positif itu penting. Dengan struktur STAR pewawancara akan lebih mudah menangkap cerita kita.

7. Perhatikan gestur tubuh.

Contoh yang baik adalah Ria yang banyak senyum sehingga kelihatan jadi tipe-tipe pekerja yang cocok untuk NGO. Walaupun kebanyakan senyum juga pasti akan mengundang pertanyaan, "Kok senyum terus sih?" 

Posisi tangan yang baik itu jangan disembunyikan di bawah meja, maupun disilangkan di depan dada. Kesannya menutup diri dan ga percaya jadinya. 

Usahakanlah kontak mata yang pantas, jangan sampai tidak menatap matanya sama sekali. Tapi kalau sembari bicara kita menatap tengah dahi pewawancara, itu seperti arah tatapan mata atasan ke bawahan. Area wajah pewawancara yang berterima untuk ditatap ya daerah mata ke bawah hingga ke leher saja. Kalau sampai ujung kaki ditatap juga tentu jadinya juga aneh.

Di sini Pak Taufiq memberi contoh kalau pewawancara handal bisa tahu kalau yang diwawancarai membual dalam menjawab, hanya dari mata. Begitu yang diwawancara pandangan matanya ke kanan atas, itu berarti ia mengakses bagian otak yang berfungsi kreatif untuk menambah-nambahi informasi. (Ia menampilkan cuplikan film yang judulnya The Negotiator yang memberi contoh bagaimana tatapan mata ini bisa dibaca). Yang saya tidak yakin adalah interpretasi menatap ke bawah yang menurut film itu berarti si pembicara sedang menggali memori, tapi menurut Gordon & Fleisher (hal 115-116 Effective Interviewing and Interrogation Techniques, 2nd ed. 2006) itu berarti "the person cannot recall information". Intinya ga usah bohong aja kali ya, jawab sejujurnya dengan tenang sampai wawancaranya berakhir.

Kalau sudah berakhir, hor--eh? Saya bisa bertanya balik?

8. Jangan lupa bertanya.

Kalau otak sudah terasa diperas kering, tapi ingin menunjukkan minat, yang paling gampang sih dengan pertanyaan-pertanyaan kalengan (ini adalah terjemahan yang terlalu harafiah dari frasa canned questions). Contoh dari Pak Taufiq yang bisa digunakan,
- What are the company's expectation for this post?
pertanyaan ini tidak bisa dipakai kalau ketika wawancara sudah dijelaskan. Nanti ketahuan kalau pas dijelaskan malah ga merhatiin.
- Considering current economic climate, what's the corporation's strategy?
Sepertinya kalau bertanya ini harus siap-siap dengan jawaban yang teknis juga.
- Bagaimanakah continuous improvement menjadi budaya di perusahaan ini?

Dan kalau sudah benar-benar selesai sih ya tinggal berharap saja lah ya hasilnya baik. Kalau mau sedekah ke anak-anak yatim supaya dapat karma baik dari perilaku altruistis ya silakan saja. Tapi kalau sudah sedekah dan ga tembus wawancaranya ya jangan lalu salahkan anak yatimnya ya. Kasihan, hidup mereka udah berat. 

----

Dan kelas Alumni PM pun ditutup. Delapan ayat saja, dengan sekelumit penjelasan yang mudah-mudahan berguna. Terima kasih buat yang datang dan sharing pengalaman dan contoh CV bagus, terutama Beryl dan Kristia. Terima kasih buat yang mau ngasih contekan takeaway points (Vany). Terima kasih juga buat Bu Evi dan Pak Taufiq yang memfasilitasi kelas ini.

Ayo, kelas Alumni PM dari Surabaya dan Yogya, ditunggu sharingnya ya ;)

Salam,
Masyhur 

Tuesday, October 28, 2014

Risalah Kumpul Alumni PM: Menulis Perjalanan

Saya tidak pernah berangan-angan hidup di Jakarta, lha wong suka sama kotanya saja tidak. Tapi usai penempatan Indonesia Mengajar, saya mendapati diri saya teronggok di Jakarta. Beruntungnya, di kota ini ada banyak kegiatan yang bisa dicari, termasuk kumpul-kumpul alumni pengajar muda. 

Salah satu kegiatan yang digagas di bulan Februari adalah bincang-bincang dengan Agustinus Wibowo, penulis/penjelajah yang sudah menghasilkan tiga buku: Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Ketika saya datang ke keramaian ini, saya belum familiar dengan karyanya, dan datang utamanya karena ingin ramai-ramai saja. Tapi saya pulang dengan kepala sarat muatan, plus rasa penasaran untuk membaca buku-bukunya. Catatan dari sesi tersebut waktu itu saya unggah ke milis alumni PM, yang sekarang saya unggah ulang di sini:



From: Masyhur Hilmy
To: <alumnipm@yahoogroups.com>; 
Subject: [alumnipm] Sharing dengan Agustinus Wibowo (Review) 
Sent: Thu, Feb 9, 2014 8:59:58 PM 

Dengan risiko kelihatan banget kurang acaranya (nongol di banyak DA, kelas Alumni, bikin-bikin review, harap maklum aja, PM baru pulang dari penempatan), saya mau menulis review sharing Mas Agustinus kemarin. Jadwalnya yang diiklankan memang hanya sampai jam 12, tapi ternyata baru berakhir hampir jam satu. Tapi hampir ga berasa lama karena banyak yang disampaikan, kata-kata masnya dan yang dari slidenya banyak yang tweetable banget tapi susah buat ditweet karena sinyalnya jelek (apa hp saya aja?), dan banyak camilan (Yay Mbak Cella!).

Review ini panjangnya 1666 kata, jadi kalau teman-teman kecepatan bacanya setara dengan siswa kelas 5 SD (KD 3.2 Menemukan gagasan utama suatu teks yang dibaca dengan kecepatan 75 kata per menit), kira-kira teman-teman akan perlu 23 menit. Kalau bisa baca sampai selesai, menemukan gagasan utamanya dengan waktu di bawah itu, saya ucapkan selamat! Anda memang layak sudah tidak lagi duduk di kelas 5 SD. Kalau ternyata perlu lebih lama yaaaaaa silakan introspeksi sendiri :)

Pas acara berlangsung saya juga lihat ada Taci muter-muterin laptop di dekat Mas Agustinus yang webcamnya nyala, jadi mungkin ada arsip sharing kemarin dalam bentuk gambar bergerak sebetulnya. Yang jelas ada adalah arsip dalam bentuk livetwitnya Mbak Shally. Jadi saya mau nambahin yang ditwit Mbak Shally aja sebenernya. Anggap aja ini livetwitnya @shallypristine, chirpified with commentary. 
Tuips.. Sy mo livetwit sharing mas @avgustin88 bareng alumni @pengajarmuda yaa. Hashtagnya #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
1. Tulisan perjalanan adl genre yg sdh sangat tua, memengaruhi sejarah. Misal: Marcopolo, Ibn Batutah #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Sejarah bangsa kita tidak cuma berawal dari penjajahan, tapi juga penjelajahan. Karena Marco Polo menulis tentang rempah-rempah di kepulauan nusantaralah bangsa Eropa datang ke nusantara, sementara Colombus berlayar mencari India. Saya tidak tahu apakah Mas Agustinus seorang apologis kolonialisme, tapi bisa dilihat logikanya menarik untuk diulik.

Tweetable quote yang lain: Bangsa yang besar adalah bangsa-bangsa yang melakukan penjelajahan dan menuliskannya.
2. Zaman skrg hampir gada tpt yg blm dikunjungi org. Jd kl mau bikin tulisan perjalanan, baiknya yg personal #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Marco Polo boleh aja sekadar menuliskan ada apa di Jalur Sutera, karena di abad ke-13 memang belum ada Wikipedia. Sekarang sudah ada Wikipedia, jadi kalau hanya menuliskan ada apa di Kashmir, nilai tambah tulisannya jadi minim. Inilah kenapa ia menyarankan tulisan perjalanan baiknya personal.
3. #MenulisPerjalanan bs menggunakan banyak cara, misalnya jurnalisme sastrawi dan nonfiksi kreatif
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

4. Mas @avgustin88 sharing ttg nonfiksi kreatif. "nonfiksi" ky bosen, tegang. Krn diramu dg imajinasi, jd kreatif n beda #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
5. Komponen nonfiksi kreatif: gaya suara, perspektif, fakta, imajinasi. Cerita jd beda tp semuanya benar. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

6. Cerita=alat utk menyampaikan pesan. Beda dgn berita. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

7. Kontrak dg pembaca buku nonfiksi kreatif: harus asyik dibaca sekaligus benar. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

8. Jgn langgar kontrak dg pembaca. Kl memoar ya nonfiksi. Novel br boleh memasukkan unsur fiksi. Cth: Three Cups of Tea #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Di fiksi, cerita harus menarik. Di non-fiksi, harus berdasar fakta. Non-fiksi kreatif berarti tetap berdasar fakta, penulis tidak boleh menambah-nambahi. Yang ada di kutipan langsung harus yang benar-benar diucapkan. Tapi penulis boleh menyunting (baca: memangkas) agar tulisan lebih enak dibaca. Three Cups of Tea jelas adalah contoh yang tidak boleh ditiru siapapun yang ingin menulis non-fiksi kreatif.
9. Perjalanan yg baik: Traveling w/ purpose, komunikasi, observasi, riset, sudut pandang baru, lbh dr destinasi, terbuka #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

10. (Contd) tulisan perrjalanan yg baik jg harus jujur, sampaikan jg soal emosi. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Good writings come only from good travels. Lalu apakah good travel itu? Sembilan komponen utama ada di dua tuit di atas.
11. Sumber ide: mengaitkan tulisan dg pembaca, misal kodok. Apakah kita harus mencium byk kodok utk bertemu dg pangeran? #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
12. Sumber ide: write what you know, write what you like. Cari bigger picture dr man from the street #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Kadang-kadang kita ketemu pribadi yang menarik untuk ditulis karena unik. Tapi, buat agar tulisan kita tentangnya tetap beresonansi dengan pembaca. Ketika Hadza diulas di majalah National Geographic, misalnya, sang penulis mengontraskan kehidupan mereka yang menjanjikan kebebasan, tanpa terkekang pekerjaan 9-to-5, tanpa terkekang cicilan, atasan, pakaian. Mau kentut sambil jalan juga terserah. Pembaca yang hidup di kota dengan pekerjaan 9-to-5 yang tertekan oleh atasan tapi bertahan demi cicilan macam-macam, termasuk pakaian yang bikin susah kentut sambil jalan akan dengan sangat mudah menarik kontras antara dirinya dengan orang-orang Hadza.
13. Observasi: pakai alat bantu, 5w+1h, wawancara, riset. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Di sini mungkin kita bisa belajar dari orang-orang desa yang banyak kepo ketika di penempatan, karena kata masnya juga, kepo is your best friend. Tanpa kepo dan interaksi, nanti jadinya tulisan kontemplasi semua. Lah ini mau bikin tulisan buat orang lain apa sekadar buku harian? 

Tapi buku harian bukan tidak penting. Buku harian bisa menjadi bahan pendukung riset, apa lagi ketika kita ingin menuliskan perjalanan yang sudah selesai beberapa tahun yang lalu. Tanpa buku harian, kita tidak akan ingat bahwa di training camp PM V Abah Iwan pernah bilang kalau, "Nyaho cantang teu ngarti, ngarti cantang teu bisa, bisa cantang teu tuman." Iya, saya tau kok, males banget ih nulis buku harian. Tapi kalau mau jadi penulis yang baik dan latihan nulis buku harian aja ga bisa, gimana bakal kuat rewrite draft sampai 22 kali kayak yang dilakukan Mas Agustin?
14. Menuliskan perjalanan juga adalah sebuah perjalanan. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Dari titik ini masnya mulai bergerak ke hal-hal yang lebih teknis tentang penulisan. Ia bilang, sebagai penulis, ia (dan kita juga lah) akan banyak menabrak tembok-tembok sebelum akhirnya keluar tulisan yang bagus dari labirin pikiran. Tulisannya akan banyak memarnya, karena banyak menabrak tembok (ini adalah contoh mencampuradukkan metafora yang sebetulnya harus dihindari lho). Tembok-tembok yang ada, akhirnya terkait dengan struktur tulisan:

I. Pembukaan
15. Buat pembukaan yg menarik. Hindari yg biasa digunakan. Misal: cuaca, waktu, transportasi yg gak berhubungan sm alur #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Pembukaan sebaiknya memberi petunjuk tentang isi tulisannya. Jangan dibuka dengan:
- Matahari bersinar cerah .... (atau sebaliknya, "Mendung menggelayuti kota ...." terlalu biasa lah dibuka pake cuaca.)
- pada tanggal 28 Desember jam 6 pagi saya ....
- Pesawat mendarat di ... / Angkot berjalan dari ... (kecuali mungkin kalau memang tulisannya adalah tentang si pesawat itu atau angkot itu)

Yang ini bukan dari masnya, tapi contoh-contoh pembukaan bagus ada di banyak buku fiksi dan non fiksi. Salah satu favorit saya adalah pembukaannya Jesse Bering:
"God came from an egg. At least, that's how He came to me. Don't get me wrong, it was a very fancy egg. More specifically, it was an ersatz Faberge egg decorated with colorful scenes from the Orient."

Tapi bagi yang sibuk dan tidak sempat baca banyak buku, jangan kuatir, ada internet untuk membantumu mencari inspirasi! Ada banyak pembukaan keren di Tumblrnya Kick-ass Lede http://kickassledes.tumblr.com/ 
16. Show. Don't tell. Caranya: buat kalimat jd aktif. Hindari kata sifat. Deskripsikan. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Kalimat yang aktif juga bisa membangkitkan imajinasi pembaca. Bandingkan:
- Pintu itu terbuka.
versus
- Seseorang, entah siapa, telah membuka pintu itu.
Di nonfiksi kreatif, Anda bisa memanfaatkan ketidak tahuan Anda untuk menciptakan imajinasi.

Hindari kata sifat. Kalau udah kata sifat dipakai, pembaca tinggal "Iya deh, gue percaya aja rumahnya indah/jelek/luas/besar/tinggi." Sementara kalau dijelaskan, pembaca bisa membayangkan sendiri. Di contoh Jesse Bering di atas, ia tidak berhenti begitu kata sifat dipakai (fancy), tapi ia mendeskripsikan telur macam apa sih yang menetaskan Tuhan (Faberge eggnya kayak apa).

II. Isi

Lho twitnya Mbak Shally udah abis? Mbak, masnya baru juga separo jalan ngomongnya di sini. Yaaah.

Tapi ya sudahlah, karena struktur dan alur tulisan ini udah terbentuk, maka tinggal dilanjutkan. Tulisan non fiksi pun baik juga kalau pakai alur seperti yang dipakai oleh cerita fiksi (Conflict-Climax-Denouement/Resolution). Plotnya bisa flashback, bisa linear. Cerita juga bisa berbingkai, seperti kisah 1001 malam. 

Tulisan yang berbobot premisnya jelas. Dan premis yang jelas akan membantu membuat tulisan koheren ketika penulis punya banyak tema yang ingin disampaikan. 

Di sini Masnya mewanti-wanti agar penulis nonfiksi kreatif tidak membebani tulisannya dengan pesan moral. Ini bukan kisah dongeng yang semua orang baik melulu atau buruk melulu. Ini bukan juga sinetron, yang baik keterlaluan baiknya, yang jahat pun biar taubatan nasuha ga bakal lolos dari neraka. Masnya bilang, "Berikan ruang pada karakter untuk jadi manusiawi," (mungkin ini bisa digunakan juga ketika menulis tentang local champion? Jangan saking positifnya kita lalu tulisan kita menjadi mendewakannya. Kecuali kalau local champion-nya dewa lokal yang dipuja sih. Tapi kalau dewa lokal ya menuliskannya ya tadi, jangan dibebani dengan pesan moral, apalagi ngotot dengan perspektif monoteisme.)

Ketika menulis, hindarilah generalisasi ("Semua orang pasti tahu ...."/"Siapa yang tidak tahu ...."), metafora yang buruk ("Tawa perempuan itu dalam dan serak, seperti suara anjing yang mau muntah saat diare."/"Dia tinggi seperti pohon, seratus delapan puluh tiga sentimeter."), menulis yang berbunga-bunga, dan frase-frase klise. Ingat juga bahwa dialog tidak sama dengan percakapan. Dialog adalah percakapan yang telah disaring.

Kadang, diam adalah emas. Kita bisa meniru komik yang memberikan ruang kosong untuk diisi pembacanya sendiri dengan imajinasi mereka. Di slide ini Masnya menampilkan empat gambar dari komiknya Guy Delisle:


Hal yang sama bisa digunakan dengan tulisan. Beri ruang kosong antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain dan biarkan pembaca mengisi sendiri ruang kosong itu. 

Terakhir, seimbangkanlah antara narasi, informasi, dan kontemplasi.

III. Penutup. 

Ada macam-macam penutup yang bisa digunakan, baik eksplisit, implisit, twist (biasa buat horor), melihat ke masa depan (seperti Harry Potter), gantung (sering ditemui di cerpen), ataupun penutup full circle. Untuk penutup full circle, penutupnya akan mengulangi kata-kata inti dari paragraf pembukanya.

Dan demikianlah sebagian besar yang dibagikan kemarin. Setelah materinya selesai, ada latihan dengan menggunakan dua contoh tulisan dari blog PM (yang hadir diminta mencari tahu hal-hal yang bisa ditingkatkan dari tulisan itu), serta satu contoh tulisan dari America's Best Travel Writings yang berjudul A Shared Plate

Saya membayangkan kalau Mas Agustinus baca review saya ini dia akan berkata kalau tulisan ini adalah tipikal jurnalisme, saya memasukkan semua catatan saya ke dalam tulisan ini. Untuk standar non-fiksi kreatif, jelas ini ga kreatif-kreatif amat, karena tulisan ini agustinus-sentris. Anggap saja ini tembok yang sedang sengaja saya benturkan, sekaligus ajakan untuk membantu membobol tembok ataupun memperbaiki tembok-tembok yang saya hantam. Yuk silakan ditambahkan atau dikurangi.

Salam,
Masyhur