Monday, February 16, 2015

Kelimun Berduyun

Akhir pekan ini, saya membaca artikel majalah The Economist yang menarik. Di situ, disebutkan bahwa skema seperti Teach for America mulai menyebar ke belahan-belahan dunia yang lain. Dari Chili ke Haiti; dari India hingga ke Lithuania ("I Choose to Teach") dan Latvia ("Mission Possible").

Banyaknya gerakan-gerakan serupa ini mungkin bukan berita baru untuk teman-teman yang ada di balik layar Indonesia Mengajar (yang saya dengar mendapat lawatan Teach for Malaysia)--tapi bagi saya, ini jadi membuat saya girang membayangkan banyaknya orang-orang muda (seperti alumni pengajar muda!) yang mencoba meninggalkan jejak-jejak kebaikan. Tidak mungkin rasanya mereka terpanggil dengan slogan-slogan yang sama: untuk "Melunasi Janji Kemerdekaan", atau untuk menawarkan jawaban bagi pesan "Ibu Pertiwi Memanggil", tapi toh berduyun-duyun juga mereka mendaftar. Artikel itu menyebutkan bahwa rata-rata pelamar yang diterima hanya sepersepuluh yang mendaftar. Saya harus akui di sini saya berhitung sederhana, lalu merasa jemawa. Sepersepuluh? Masing-masing pengajar muda angkatan kelima saja menyisihkan lebih dari seratus pendaftar! Di tiga bulan pertama, seperlima pengajar angkatan pertama program di Chili menyerah? Lemah! (Iya, saya ini songong sekali.)

Selain itu, menyenangkan sekali menerka-nerka tantangan seperti apa ya yang para pengajar gerakan serupa itu alami di negara mereka masing-masing. Haruskah mereka mengarungi laut untuk menuju sekolah dari kota? Adakah tempat mereka mengajar yang beku terisolir salju ketika musim dingin--alih-alih lumpur laknat ketika musim hujan? Atau mereka justru mengajar di sekolah-sekolah terpinggirkan di pusat-pusat keramaian kota? Apakah mereka juga menghadapi komentar-komentar cemar yang menyangsikan kemampuan mereka mengajar?

Ah tapi kan pengajar muda dipuji tidak terbang, dikritik tidak tumbang. Walaupun bisa jadi kadang-kadang doyong-doyong juga perlu pegangan. Untuk masa-masa rentan dirundung pertanyaan "Apakah mengajar satu tahun bisa membawa perubahan?", saya beberapa waktu yang lalu menemukan satu studi yang bisa jadi penguatan.

Studi ini hasil buah pikir seorang profesor Harvard, Raj Chetty. Beliau adalah seorang akademisi cemerlang, dapat Clark Medal, dan dapat tenure (jabatan tetap guru besar) di UC Berkeley di usia 27. Saya tahu sih ketika selesai penugasan, alumni pengajar muda dihimbau untuk tidak membanding-bandingkan diri, tapi ya tetap saja saya merasa bagai butiran debu ketika tahu hal itu. Dua puluh tujuh tahun, beliau dapat tenure, sementara saya... ya sudahlah. Salah sendiri juga hari Minggu kok ambisius nonton video konferensi AEA. Fix, saya ini kurang piknik.

Mari kita kembali ke studi yang saya bilang tadi saja: di studi itu, Raj Chetty menyajikan data dampak guru ke murid-muridnya hingga mereka dewasa. Kita mafhum, guru bagus bisa meningkatkan pemahaman materi muridnya. Mampu matematika, cakap berbahasa. (Chetty menunjukkan nilai anak-anak yang mendapat guru bagus ini naik.) Tapi selepas diajar guru bagus, apakah kemajuan itu lalu perlahan-lahan tergerus?

Ternyata, data menunjukkan bahwa murid-murid yang mendapat guru bagus tidak hanya punya skor ujian yang lebih baik. Tapi, mereka juga lebih cenderung melanjutkan kuliah, memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi, dan memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk hamil di usia remaja. Perbandingan dengan data pajak pendapatan di Amerika ini juga menunjukkan bahwa dampak diajar guru bagus selama setahun ini bisa meningkatkan pendapatan si murid sebesar ~1 milyar rupiah selama masa hidupnya. Lumayan lah, kalaupun jadi guru ga bisa bikin kaya, paling ngga bisa memberi kesempatan muridnya hidup sejahtera. Walaupun saya akui terasa miris juga mendengar cerita Patrya, yang bertandang kembali ke penempatan lalu dipameri mantan murid yang sudah bawa momongan. Saya bergidik membayangkan percakapannya lalu dilanjutkan dengan pertanyaan, "Kamu kapan?"

Karena bagi saya, lebih seru kalau pertanyaan lanjutannya tentang dampak guru-guru tidak bermutu. Dan di sini saya merasa ngenes membayangkan murid-murid yang tidak beruntung mendapatkan guru-guru seperti itu: kemampuan kognitif tidak berkembang, tak bisa berharap banyak pada masa depan. Di paparannya, Chetty mengulangi saran memberhentikan guru-guru berkemampuan lemah dengan (setidaknya) guru berkemampuan setara rata-rata. Saya bayangkan saran ini tidak bisa serta-merta diterapkan. Pasti ada banyak perdebatan, mulai dari bias kriteria pengukuran mutu hingga penggajian yang layak dan banyak hal lagi.

Tentang bias pengukuran mutu, harus diakui penyelidikan mana sebab dan mana akibat memang perlu. Terbersit juga di pikiran saya, agak tautologis juga kalau bagus-tidaknya guru dinilai dari kemampuan mereka meningkatkan nilai ujian muridnya. Jangan-jangan guru jadi bagus itu karena murid-muridnya bagus, mereka yang dari kalangan berada dan orang tuanya rela memberi bimbingan ekstra. Namun, Chetty menunjukkan bahwa kriteria ini tetap bisa dipertimbangkan, karena perhitungan mereka menunjukkan kalau variabel tingkat pendapatan orang tua itu ortogonal dengan kriteria mutu berdasarkan hasil ujian (silakan tilik halaman 22-25).

Tentu mungkin ada variabel lain yang terlewatkan untuk diperiksa ortogonalitasnya. Dan hal ini mungkin menjadi bagian dari argumen sanggahan saran yang diajukan. Asal berbasis data atau analisis yang kuat, saya sendiri melihat saran apapun dan berbagai sanggahannya adalah bagian penting dari proses pembuatan kebijakan yang ideal. Terkadang kita perlu menggunakan narasi cerita agar data bisa bermakna, tapi begitupun tak apa asal kita sadar dengan batas-batas bias yang tersaji dari penggunaan cerita alih-alih data.

Jadi, apa simpulan dari lanturan ini? Saya sih hanya ingin mengagih tulisan-tulisan menarik, yang di antaranya bisa digali dari tautan-tautan di sepanjang lanturan ini. Selebihnya, silakan ditarik sendiri. Dan kalau ada yang menyimpulkan bahwa ini menunjukkan saya ada di titik gawat darurat keseriusan, boleh lho saya diajak bergembira macam lazimnya anak muda--walaupun sudah ada satu-dua yang bilang gaya bahasa tulisan saya macam angkatan Balai Pustaka.

Tapi saya pikir-pikir lagi, biar saja ding, kan angkatan Balai Pustaka akan terus terpatri di lubuk pikir para cendekia. Siapa tahu saya suatu hari bisa menyamai mereka!

Monday, February 9, 2015

Perlu

Akhir 2012, banyak teman menjawil saya di dunia maya.

"Tonton Life of Pi, Syhur," kata mereka.

"Lo katanya ngajar malah main film," sergah teman lain lagi.

Ketika saya sempatkan melihat film itu, saya sudah bosan menyanggah kemiripan saya dengan pemeran utamanya. Harus diakui memang, paling tidak dekilnya sama antara Pi di Pasifik dan saya di Banggai.

Tapi menurut mereka kemiripan ini tak cuma tentang perawakan Pi saja. Teman-teman saya terbahak melihat saya menyanggah anggapan mereka bahwa upaya Pi menghafal nilai konstanta pi itu tipikal kelakuan saya. Ketika keluarga Pi berkomentar bahwa tiap minggu ia punya agama baru, saya diam saja deh biar digoda-goda juga.

Friday, February 6, 2015

Entrok is not a happy story

Just before picking up Okky Madasari's Entrok, I was feeling a little bit weary. I have finished nine books in 2015, and I had been finding it hard to connect to the characters.

I finished The Name Of This Book Is Secret, and I found the characters too simple. Catch-22 disarmed me to involuntary chuckles, but overall it was too thick with non-sequiturs. I'm not even sure the story is being told chronologically. Meanwhile, Eugenides' stealthy sleuthing in the Attolia series was too crafty for me to associate myself with.

So I was only half-heartedly picking up Entrok. I braced myself by thinking, "At least I'll have one fewer book in my to-read pile after this."

*****

Entrok started with a daughter telling her mother of a much-awaited happy news. Despite the happy news, though, you get the sense that something really bad had happened and the daughter blamed herself for her mother's senility. The contradicting atmosphere of her regret piqued my interest enough to keep me continue reading.

And I can't put it down until I finished it two hours later.

The story itself is told alternatingly between the mother (Marni), and the daughter (Rahayu).  With a story that encompasses 40 years of their lives, it provides ample food for thought with its diverse topics. The topic ranges from marital infidelity and aspiration of moving socially upward, to clashes of theological beliefs and fighting injustice masquerading as march of progress as peddled by an authoritarian regime. Such amazing breadth, without coming across as condescending or preachy.

It was very easy to relate to. With no effort at all Marni made me think of my own mother. Not only because she poured all her efforts to her daughter in hope that her daughter would have had a better living, but also how she was hurt when her only daughter misunderstood her belief.

Aku membenci Ibu. Dia orang berdosa.
Aku membenci Ibu. Kata orang, dia memelihara tuyul.
Aku membenci Ibu, karena dia menyembah leluhur.
Aku malu, Ibu.
"Yang kuasa itu Gusti Allah, Bu. Bukan Mbah Ibu Bumi," kataku dengan suara keras[.]
"Sampai setua ini, sampai punya anak sebesar kamu, Nduk, aku tidak pernah tahu Gusti Allah. Mbah Ibu Bumi yang selalu membantuku. Mbah Ibu Bumi yang memberiku semua ini. Apanya yang salah?"
Dia bilang aku ini dosa. Dia bilang aku ini sirik. Dia bilang aku penyembah leluhur. Lho.. lha wong aku sejak kecil diajari orangtuaku nyembah leluhur kok tidak boleh.[...] Dia bilang hanya Gusti Allah yang boleh disembah. Lha iya, tapi wong aku tahu Gusti Allah ya baru-baru ini saja. Lha gimana mau nyuwun kalau kenal saja belum.

That is why Marni's story resonate especially loudly for me when her belief clashed with her daughter's. I see my mother's likely perspective in her bafflement why her daughter is bent on her new belief while she had had a belief that was good enough. I see myself in Marni, because she faced ostracism from her society for her traditional belief--I can imagine it's the same ostracism society will direct to me for my being in the minority with my lack of belief. Marni is a rich character.

It was also remarkable how topical the struggles she pictured in this book could be. Given that the land conflict Rahayu faced was set in the 1980s, one can only marvel of its similarities with the struggles in Rembang. On a more global level, the same narrative of conflicts wouldn't be out of place in the Arab Spring.

At the end of the story, I learned why Marni was the way she had been in the prelude, and it was a cue to start reading again from the beginning.

*****

Reading Entrok made me felt giddy, conflicted, happy, and dejected at the same time. What a great story! On which sides would I be: Marni's or Rahayu's? Rahayu's or the government's? At least Rahayu in the end got a normal ID card! But life is horribly unfair, if all Marni's hard work in building a fortune amounts to nothing in the end!

With everything that it offers, it felt sacrilegious that I bought Entrok because it was dirt cheap in the bargain bin. IDR 10,000 for a great novel is a definite sacrilege when my dinner at a warteg costs me more than that. And because rating it in goodreads only took 3 seconds, it somehow did not leave me feeling satisfied that I've addressed this sacrilege properly.

So you understand, this review is partly to redeem that.

How else would you redeem yourself for a five-star book?

Sunday, February 1, 2015

Jelai

Ini pint bir keempat dan ini waktu yang tepat untuk merenungkan dunia. Ketika aku minum separuhnya, apakah gelas ini separuh kosong, atau masih separuh isi? Jika mereka punya kesadaran, apakah jelai-jelai yang dikecambahkan menjadi malt bahan bir ini memilih jadi bir? Atau jadi roti, mengenyangkan? Atau tumbuh jadi jelai baru?

Apa pula bedanya masing-masing kita dengan tanaman jelai ini? Si jelai bisa bermimpi merintis ladang baru; kita bermimpi jadi presiden untuk mengisi waktu. Usai panen, ia rekahkan akarnya jadi kecambah malt, hanya untuk mengalami hilangnya air pembawa pertumbuhan.

Tidak ada ladang baru untuk jelai ini. Malt tidak mengubah dunia.

Ini saatnya pint kelima.

Friday, January 2, 2015

In 2014 I learned that...

I can live with heartbreaks.

To be honest, it's not like I have any other options anyway. But 2014 was remarkable in the way it set me up for heartbreaks, serving up one at its very dawn, when I packed my stuff to leave Batui 5.

Shit, it has been a year and now I'm getting sentimental again.

So probably it's best that we don't revisit that heartbreak and the subsequent couple of heartbreaks that followed in 2014.

Let's just live.

Tuesday, December 30, 2014

Risalah Kelas Alumni PM: Tips Wawancara

Harap maklum kalau niat posting rangkuman risalah kelas alumni PM jadi tertunda, karena ternyata mengorek-orek kotak surat yang bertumpuk itu suka perlu niat kuat. Tapi setelah yang lalu risalah kelas CV dan menulis perjalanan, berikut risalah kelas latihan wawancara yang diadakan setelahnya:


From: Masyhur Hilmy
Subject: [alumnipm] Kelas AlumniPM Interview (Review)
Sent: Wed, Feb 19, 2014 11:15:58 AM 

Ketika saya datang untuk kelas alumni PM minggu lalu, seperti biasa sudah ada Mesa yang hadir, bahkan ketika saya sudah berangkat lebih awal. Tapi tak apalah, toh saya tetap bisa ikut berbesar hati ketika Pak Taufiq mengapresiasi kami yang datang sebelum sesinya dibuka--sembari memperingatkan kami untuk jangan pernah datang terlambat untuk interview, apapun alasannya (kecuali kalau kiamat datang, mungkin interview kerja kita akan diganti peradilan yang lebih mendesak).

Dari kelas alumni ini ada beberapa takeaway points. Dan takeaway point pertama saya adalah;

1. Datang tepat waktu.

Nasihat untuk datang tepat waktu tentu adalah nasihat klise--bahkan mungkin kita sendiri sering memberikannya ke siswa dan guru lain ketika di penempatan, tapi ketika nasihat yang sama diberikan ke kita, apakah kita sudah menerapkannya atau sekadar meloloskannya dari telinga kiri ke telinga kanan? 

Pada intinya, banyak hal dari sesi ini yang sebetulnya adalah penyegaran dari banyak hal yang sudah diberi tahu dan ditulis oleh banyak orang, tapi belum tentu diterapkan. Yah kalau kitab suci saja isinya perlu diingatkan setidaknya seminggu sekali, mungkin hal-hal yang lebih remeh-temeh macam tips dan etiket interview ini harus diulang-ulang lebih sering lagi supaya bisa dihayati.

Untungnya, tips dan etiket ini tidak sepanjang kitab suci jadi reviewnya pun tidak panjang-panjang. Apalagi karena latihan interviewnya baru berlangsung setelah jam 2. 

Di awal sesi, kelas dibuka dengan review CV peserta yang tidak hadir minggu lalu (Beryl dan Kristia yang CVnya bagus dan ringkas, hanya 1 halaman), serta CV peserta yang sudah dipermak setelah diberi masukan (Mesa). Dari sesi CV lanjutan ini yang bisa diambil adalah, 

2. Perkuat CV.

Yang ditekankan lagi oleh Pak Taufiq adalah pentingnya summary di CV. Dan karena CV akan mengarahkan material wawancara, maka penting sekali untuk tidak memasukkan yang aneh-aneh di CV, seperti interest yang tidak relevan. Boleh sih memasukkan "Interest", tapi usahakanlah interest yang memberikan tambahan jualan diri. Misalnya, interest lari maraton bisa menunjukkan pribadi yang gigih, tapi interest karaoke lagu-lagu hits JKT48 mungkin malah memberi kesan negatif bagi pewawancara yang antipati pada JKT48 (mungkin dia fans puritan AKB48).

Penguatan CV ini juga penting, apalagi kalau kebetulan alumni PM berombongan mendaftar untuk posisi yang sama--seperti pengalaman yang diceritakan Beryl, maka kita harus bisa mengolah CV kita untuk tetap menarik perhatian HR dibandingkan teman-teman PM lainnya.

3. Gunakan summary untuk memperkenalkan diri.

Di awal wawancara, si pewawancara bisa meminta kita untuk menceritakan tentang diri kita. Tapi apa yang harus kita ceritakan? Sebagian besar orang akan menggunakan frasa-frasa klise ("I'm a people person ..." dll) tapi sebetulnya kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk meng-highlight kekuatan diri kita yang paling menjual. Paling enak sih kalau kita sudah tahu apa yang mau kita jawab, dan itu berarti datang ke wawancara sudah berpikir dan mempersiapkan diri buat pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.

4. Jawab pertanyaan dengan STAR.

Di sini saya merasa kena karma, karena setelah 7 tahun belajar astronomi masih saja berurusan dengan bintang. Yah paling tidak saya tidak harus menjelaskan tentang limit massa Chandrasekhar, walaupun mengingat-ingat situasi yang sudah lewat dan menceritakannya lagi dalam format STAR sebetulnya tidak mudah juga. 

Tapi, ini penting untuk dilakukan, karena jawaban yang berputar-putar tanpa STAR hanya akan mengundang pertanyaan lanjutan untuk menggali STAR yang sebenarnya. Begitu pula dengan cerita STAR yang tidak lengkap. Selain itu, ada juga 3 kelompok jawaban yang kurang memberi gambaran nyata tentang kompetensi kita,
a. Jawaban dengan vague statements, seperti menggunakan kata "always", "usually", "I believe", atau menggunakan kata ganti majemuk "kami" alih-alih "saya". 
b. Jawaban yang sebenarnya opini, seperti "In my opinion ..." atau "I think ..."
c. Jawaban dengan situasi yang belum terjadi "Saya akan ...", "Saya ingin ...", "Saya hendak ..."

5. Gunakan selalu kata-kata positif.

Apalagi kalau ditanya "What's the worst failure of your life?"/"Pernahkah membuat keputusan yang ternyata salah?"

6. Tarik benang merah.

Apalagi buat yang pengalamannya ga nyambung, habis dari perikanan, trus IM. Kalau begini jangan melulu IMnya yang dijual, tapi tarik kompetensi apa sih yang dikembangkan di IM yang juga berguna di posisi yang kita lamar? Pak Taufiq menyarankan agar kita menyiapkan success stories (dalam STAR!) yang terkait dengan 
- kemampuan leadership
- analytical skill
- teamwork
- communication.
(Saatnya membuka file Self Assessment yang dikumpulkan pas OPP kali ya.)

Pak Taufiq bilang kalau prinsip yang dipegang pewawancara adalah "Past behavior predicts future behavior". Ini sebabnya success stories untuk menonjolkan kompetensi dan kata-kata positif itu penting. Dengan struktur STAR pewawancara akan lebih mudah menangkap cerita kita.

7. Perhatikan gestur tubuh.

Contoh yang baik adalah Ria yang banyak senyum sehingga kelihatan jadi tipe-tipe pekerja yang cocok untuk NGO. Walaupun kebanyakan senyum juga pasti akan mengundang pertanyaan, "Kok senyum terus sih?" 

Posisi tangan yang baik itu jangan disembunyikan di bawah meja, maupun disilangkan di depan dada. Kesannya menutup diri dan ga percaya jadinya. 

Usahakanlah kontak mata yang pantas, jangan sampai tidak menatap matanya sama sekali. Tapi kalau sembari bicara kita menatap tengah dahi pewawancara, itu seperti arah tatapan mata atasan ke bawahan. Area wajah pewawancara yang berterima untuk ditatap ya daerah mata ke bawah hingga ke leher saja. Kalau sampai ujung kaki ditatap juga tentu jadinya juga aneh.

Di sini Pak Taufiq memberi contoh kalau pewawancara handal bisa tahu kalau yang diwawancarai membual dalam menjawab, hanya dari mata. Begitu yang diwawancara pandangan matanya ke kanan atas, itu berarti ia mengakses bagian otak yang berfungsi kreatif untuk menambah-nambahi informasi. (Ia menampilkan cuplikan film yang judulnya The Negotiator yang memberi contoh bagaimana tatapan mata ini bisa dibaca). Yang saya tidak yakin adalah interpretasi menatap ke bawah yang menurut film itu berarti si pembicara sedang menggali memori, tapi menurut Gordon & Fleisher (hal 115-116 Effective Interviewing and Interrogation Techniques, 2nd ed. 2006) itu berarti "the person cannot recall information". Intinya ga usah bohong aja kali ya, jawab sejujurnya dengan tenang sampai wawancaranya berakhir.

Kalau sudah berakhir, hor--eh? Saya bisa bertanya balik?

8. Jangan lupa bertanya.

Kalau otak sudah terasa diperas kering, tapi ingin menunjukkan minat, yang paling gampang sih dengan pertanyaan-pertanyaan kalengan (ini adalah terjemahan yang terlalu harafiah dari frasa canned questions). Contoh dari Pak Taufiq yang bisa digunakan,
- What are the company's expectation for this post?
pertanyaan ini tidak bisa dipakai kalau ketika wawancara sudah dijelaskan. Nanti ketahuan kalau pas dijelaskan malah ga merhatiin.
- Considering current economic climate, what's the corporation's strategy?
Sepertinya kalau bertanya ini harus siap-siap dengan jawaban yang teknis juga.
- Bagaimanakah continuous improvement menjadi budaya di perusahaan ini?

Dan kalau sudah benar-benar selesai sih ya tinggal berharap saja lah ya hasilnya baik. Kalau mau sedekah ke anak-anak yatim supaya dapat karma baik dari perilaku altruistis ya silakan saja. Tapi kalau sudah sedekah dan ga tembus wawancaranya ya jangan lalu salahkan anak yatimnya ya. Kasihan, hidup mereka udah berat. 

----

Dan kelas Alumni PM pun ditutup. Delapan ayat saja, dengan sekelumit penjelasan yang mudah-mudahan berguna. Terima kasih buat yang datang dan sharing pengalaman dan contoh CV bagus, terutama Beryl dan Kristia. Terima kasih buat yang mau ngasih contekan takeaway points (Vany). Terima kasih juga buat Bu Evi dan Pak Taufiq yang memfasilitasi kelas ini.

Ayo, kelas Alumni PM dari Surabaya dan Yogya, ditunggu sharingnya ya ;)

Salam,
Masyhur 

Wednesday, December 17, 2014

Are you sure you want to have a child now?

Declare yourself a pessimist and watch people instantly dismiss your suggestion that they should defer having children. And that is as best as you'll get for a response, because the other options are getting scoffed at, or finding yourself taking a defensive stance as they go--incredibly--on the offensive.

"Why, it's not like you even plan to get married in this decade, so why should I listen to you? And really, when will you get married? Are you sure you don't want me to introduce me to a lovely young lady that I'm sure will take a good care to your smug pretentiousness so we will all finally be able to get going with our lives in peace. You know, she's also a lecturer in a reputable university, and she comes from a good family, too. She's religious, and crosses all her t's and dots all her i's and never confuses colonoscopy with cosmology. And did you know her brother is going to be the youngest university chancellor soon?"

You know the drill.

And you'll regret of bringing the topic up in the first place.

But really, if you are a pessimist, you could rightfully espouse the view that people should defer having children. The world is a terrible place, with men killing innocent men or men subjecting other men to heinous torture, or killing children, or subjecting minorities to subjugation or destroying the environment and tradition and history and culture and just generally fuck the world up.

It is a terrible place and you can't wait to bring an extra person to share the hopelessness of it all? Are you out of your mind? Will somEBODY THINK OF THE CHILDREN?

Ahem.

The point was, there's just so much hurt and hate that you'd have to be a blind optimist to think that you are giving the best world to your children and your children's children.

So allow me to help.

I would like to argue that even for an optimist, it makes perfect sense to delay having children as much as possible. Trust me, I'm an optimist, too (and could you please stop with the laughing? I can really be an optimist, too, you know. I am, honestly!).

If you're not an optimist, let me tell you how easy it is to become one. We're living in the golden age of science, when new discoveries are made every other day, and we're venturing uncharted territories of space. Comet landing! New Horizon soon to explore Pluto! Voyager goes out of our solar system to the unknown interstellar realm beyond! All this alone would boggle the mind of even Newton had somebody traveled backward in time to tell him the things we achieved in the twenty first century.

And that's not everything, too. More people are literate, ever. More people are getting out of poverty, more people live longer, too. An average young man in 14th century England wouldn't dream of being able to ride a jet, flying him to the Caribbean to escape the dreary, dreary winter, but this is not unthinkable to do so now.

When you stopped to take a look at the palace of the Japanese emperor, you'll soon find that you are richer than even the most powerful king of the land in the medieval era. Did the emperor have central heating? Did his highness have plumbing and air conditioning? Did the grandchild of the Sun god sleep on a spring bed? No, no, and no.

The inexorable march of time has delivered countless improvements to human lives. And for the most part, even the unwashed mass are benefiting from this.

But see now, if you insist on having children, right. Fucking. Now. don't you think your children will miss out on progress that they, too, would have been able to experience if they were born five or fifteen years later? This could also potentially be important if on the later stage of their live there's a miracle drug that proves to be a panacea to nearly all of the chronic illnesses that is the hallmark of our time. Will it not be the best life possible for them, then?

Unless if all you care about is *your* own gain, and not your children's potential gains in the future, then by all means, be my guest.

So listen to me, and promise me you'll try to think it through? It's for your children, too, you know.

For their future.

Tuesday, December 9, 2014

Ini adalah waktu-waktu sendu

Ini adalah hari-hari suram, ketika malam-malam panjang membawa pertanyaan-pertanyaan yang merangsek pikiran tenang. Pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan, dan jalan-jalan yang bersimpangan bercabang-cabang.

Tiap-tiap cabang jalan memanggil lantang, menawarkan petualangan-petualangan menantang. Tapi tiap cabang jalan juga berkesan seram, macam malam tanpa dian. Langkahku menjadi pelan. Lalu tertahan.

***

Ini adalah masa-masa kelabu, ketika tanya-tanya ragu tentang suku datang beregu. Belum lagi ragu itu berlalu, tanya-tanya baru berkedok paras lugu menuntut tahu pada apa hidupku berhulu.

Siapa aku? Adakah Indonesia di dadaku? Siapa aku? Tuhan manakah tempatku berserah kalbu?

Tahun sudah hendak menjelang baru, pikirmu tetap terperangkap wasangka kaku.

Baik jika begitu, maka ini waktu meramu perjalanan arungi laut biru, dan daki punggung-punggung gunung hingga nafas menderu-deru. Tempat angin berhembus syahdu.

***

Tapi siapa hendak menjadi kawan untuk berkelana? Kawan-kawan lama terikat kerja, terkadang kesulitan waktu pula untuk hanya sekadar berjumpa. Cakap dan wicara kami semua sering tak lagi ada di lembar yang sama, dengan bahasa yang kadang tercemar bisa berbahaya.

Ini adalah saat-saat nestapa, ketika asa menjadi langka. Gamang dengan kemampuan bicara yang semenjana. Bimbang menentukan kecakapan mana hendak ditempa.

***

Ini adalah waktu-waktu sendu.

Tuesday, October 28, 2014

Risalah Kumpul Alumni PM: Menulis Perjalanan

Saya tidak pernah berangan-angan hidup di Jakarta, lha wong suka sama kotanya saja tidak. Tapi usai penempatan Indonesia Mengajar, saya mendapati diri saya teronggok di Jakarta. Beruntungnya, di kota ini ada banyak kegiatan yang bisa dicari, termasuk kumpul-kumpul alumni pengajar muda. 

Salah satu kegiatan yang digagas di bulan Februari adalah bincang-bincang dengan Agustinus Wibowo, penulis/penjelajah yang sudah menghasilkan tiga buku: Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Ketika saya datang ke keramaian ini, saya belum familiar dengan karyanya, dan datang utamanya karena ingin ramai-ramai saja. Tapi saya pulang dengan kepala sarat muatan, plus rasa penasaran untuk membaca buku-bukunya. Catatan dari sesi tersebut waktu itu saya unggah ke milis alumni PM, yang sekarang saya unggah ulang di sini:



From: Masyhur Hilmy
To: <alumnipm@yahoogroups.com>; 
Subject: [alumnipm] Sharing dengan Agustinus Wibowo (Review) 
Sent: Thu, Feb 9, 2014 8:59:58 PM 

Dengan risiko kelihatan banget kurang acaranya (nongol di banyak DA, kelas Alumni, bikin-bikin review, harap maklum aja, PM baru pulang dari penempatan), saya mau menulis review sharing Mas Agustinus kemarin. Jadwalnya yang diiklankan memang hanya sampai jam 12, tapi ternyata baru berakhir hampir jam satu. Tapi hampir ga berasa lama karena banyak yang disampaikan, kata-kata masnya dan yang dari slidenya banyak yang tweetable banget tapi susah buat ditweet karena sinyalnya jelek (apa hp saya aja?), dan banyak camilan (Yay Mbak Cella!).

Review ini panjangnya 1666 kata, jadi kalau teman-teman kecepatan bacanya setara dengan siswa kelas 5 SD (KD 3.2 Menemukan gagasan utama suatu teks yang dibaca dengan kecepatan 75 kata per menit), kira-kira teman-teman akan perlu 23 menit. Kalau bisa baca sampai selesai, menemukan gagasan utamanya dengan waktu di bawah itu, saya ucapkan selamat! Anda memang layak sudah tidak lagi duduk di kelas 5 SD. Kalau ternyata perlu lebih lama yaaaaaa silakan introspeksi sendiri :)

Pas acara berlangsung saya juga lihat ada Taci muter-muterin laptop di dekat Mas Agustinus yang webcamnya nyala, jadi mungkin ada arsip sharing kemarin dalam bentuk gambar bergerak sebetulnya. Yang jelas ada adalah arsip dalam bentuk livetwitnya Mbak Shally. Jadi saya mau nambahin yang ditwit Mbak Shally aja sebenernya. Anggap aja ini livetwitnya @shallypristine, chirpified with commentary. 
Tuips.. Sy mo livetwit sharing mas @avgustin88 bareng alumni @pengajarmuda yaa. Hashtagnya #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
1. Tulisan perjalanan adl genre yg sdh sangat tua, memengaruhi sejarah. Misal: Marcopolo, Ibn Batutah #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Sejarah bangsa kita tidak cuma berawal dari penjajahan, tapi juga penjelajahan. Karena Marco Polo menulis tentang rempah-rempah di kepulauan nusantaralah bangsa Eropa datang ke nusantara, sementara Colombus berlayar mencari India. Saya tidak tahu apakah Mas Agustinus seorang apologis kolonialisme, tapi bisa dilihat logikanya menarik untuk diulik.

Tweetable quote yang lain: Bangsa yang besar adalah bangsa-bangsa yang melakukan penjelajahan dan menuliskannya.
2. Zaman skrg hampir gada tpt yg blm dikunjungi org. Jd kl mau bikin tulisan perjalanan, baiknya yg personal #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Marco Polo boleh aja sekadar menuliskan ada apa di Jalur Sutera, karena di abad ke-13 memang belum ada Wikipedia. Sekarang sudah ada Wikipedia, jadi kalau hanya menuliskan ada apa di Kashmir, nilai tambah tulisannya jadi minim. Inilah kenapa ia menyarankan tulisan perjalanan baiknya personal.
3. #MenulisPerjalanan bs menggunakan banyak cara, misalnya jurnalisme sastrawi dan nonfiksi kreatif
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

4. Mas @avgustin88 sharing ttg nonfiksi kreatif. "nonfiksi" ky bosen, tegang. Krn diramu dg imajinasi, jd kreatif n beda #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
5. Komponen nonfiksi kreatif: gaya suara, perspektif, fakta, imajinasi. Cerita jd beda tp semuanya benar. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

6. Cerita=alat utk menyampaikan pesan. Beda dgn berita. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

7. Kontrak dg pembaca buku nonfiksi kreatif: harus asyik dibaca sekaligus benar. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

8. Jgn langgar kontrak dg pembaca. Kl memoar ya nonfiksi. Novel br boleh memasukkan unsur fiksi. Cth: Three Cups of Tea #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Di fiksi, cerita harus menarik. Di non-fiksi, harus berdasar fakta. Non-fiksi kreatif berarti tetap berdasar fakta, penulis tidak boleh menambah-nambahi. Yang ada di kutipan langsung harus yang benar-benar diucapkan. Tapi penulis boleh menyunting (baca: memangkas) agar tulisan lebih enak dibaca. Three Cups of Tea jelas adalah contoh yang tidak boleh ditiru siapapun yang ingin menulis non-fiksi kreatif.
9. Perjalanan yg baik: Traveling w/ purpose, komunikasi, observasi, riset, sudut pandang baru, lbh dr destinasi, terbuka #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

10. (Contd) tulisan perrjalanan yg baik jg harus jujur, sampaikan jg soal emosi. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Good writings come only from good travels. Lalu apakah good travel itu? Sembilan komponen utama ada di dua tuit di atas.
11. Sumber ide: mengaitkan tulisan dg pembaca, misal kodok. Apakah kita harus mencium byk kodok utk bertemu dg pangeran? #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
12. Sumber ide: write what you know, write what you like. Cari bigger picture dr man from the street #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Kadang-kadang kita ketemu pribadi yang menarik untuk ditulis karena unik. Tapi, buat agar tulisan kita tentangnya tetap beresonansi dengan pembaca. Ketika Hadza diulas di majalah National Geographic, misalnya, sang penulis mengontraskan kehidupan mereka yang menjanjikan kebebasan, tanpa terkekang pekerjaan 9-to-5, tanpa terkekang cicilan, atasan, pakaian. Mau kentut sambil jalan juga terserah. Pembaca yang hidup di kota dengan pekerjaan 9-to-5 yang tertekan oleh atasan tapi bertahan demi cicilan macam-macam, termasuk pakaian yang bikin susah kentut sambil jalan akan dengan sangat mudah menarik kontras antara dirinya dengan orang-orang Hadza.
13. Observasi: pakai alat bantu, 5w+1h, wawancara, riset. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Di sini mungkin kita bisa belajar dari orang-orang desa yang banyak kepo ketika di penempatan, karena kata masnya juga, kepo is your best friend. Tanpa kepo dan interaksi, nanti jadinya tulisan kontemplasi semua. Lah ini mau bikin tulisan buat orang lain apa sekadar buku harian? 

Tapi buku harian bukan tidak penting. Buku harian bisa menjadi bahan pendukung riset, apa lagi ketika kita ingin menuliskan perjalanan yang sudah selesai beberapa tahun yang lalu. Tanpa buku harian, kita tidak akan ingat bahwa di training camp PM V Abah Iwan pernah bilang kalau, "Nyaho cantang teu ngarti, ngarti cantang teu bisa, bisa cantang teu tuman." Iya, saya tau kok, males banget ih nulis buku harian. Tapi kalau mau jadi penulis yang baik dan latihan nulis buku harian aja ga bisa, gimana bakal kuat rewrite draft sampai 22 kali kayak yang dilakukan Mas Agustin?
14. Menuliskan perjalanan juga adalah sebuah perjalanan. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Dari titik ini masnya mulai bergerak ke hal-hal yang lebih teknis tentang penulisan. Ia bilang, sebagai penulis, ia (dan kita juga lah) akan banyak menabrak tembok-tembok sebelum akhirnya keluar tulisan yang bagus dari labirin pikiran. Tulisannya akan banyak memarnya, karena banyak menabrak tembok (ini adalah contoh mencampuradukkan metafora yang sebetulnya harus dihindari lho). Tembok-tembok yang ada, akhirnya terkait dengan struktur tulisan:

I. Pembukaan
15. Buat pembukaan yg menarik. Hindari yg biasa digunakan. Misal: cuaca, waktu, transportasi yg gak berhubungan sm alur #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014

Pembukaan sebaiknya memberi petunjuk tentang isi tulisannya. Jangan dibuka dengan:
- Matahari bersinar cerah .... (atau sebaliknya, "Mendung menggelayuti kota ...." terlalu biasa lah dibuka pake cuaca.)
- pada tanggal 28 Desember jam 6 pagi saya ....
- Pesawat mendarat di ... / Angkot berjalan dari ... (kecuali mungkin kalau memang tulisannya adalah tentang si pesawat itu atau angkot itu)

Yang ini bukan dari masnya, tapi contoh-contoh pembukaan bagus ada di banyak buku fiksi dan non fiksi. Salah satu favorit saya adalah pembukaannya Jesse Bering:
"God came from an egg. At least, that's how He came to me. Don't get me wrong, it was a very fancy egg. More specifically, it was an ersatz Faberge egg decorated with colorful scenes from the Orient."

Tapi bagi yang sibuk dan tidak sempat baca banyak buku, jangan kuatir, ada internet untuk membantumu mencari inspirasi! Ada banyak pembukaan keren di Tumblrnya Kick-ass Lede http://kickassledes.tumblr.com/ 
16. Show. Don't tell. Caranya: buat kalimat jd aktif. Hindari kata sifat. Deskripsikan. #MenulisPerjalanan
— shally pristine (@shallypristine) February 8, 2014
Kalimat yang aktif juga bisa membangkitkan imajinasi pembaca. Bandingkan:
- Pintu itu terbuka.
versus
- Seseorang, entah siapa, telah membuka pintu itu.
Di nonfiksi kreatif, Anda bisa memanfaatkan ketidak tahuan Anda untuk menciptakan imajinasi.

Hindari kata sifat. Kalau udah kata sifat dipakai, pembaca tinggal "Iya deh, gue percaya aja rumahnya indah/jelek/luas/besar/tinggi." Sementara kalau dijelaskan, pembaca bisa membayangkan sendiri. Di contoh Jesse Bering di atas, ia tidak berhenti begitu kata sifat dipakai (fancy), tapi ia mendeskripsikan telur macam apa sih yang menetaskan Tuhan (Faberge eggnya kayak apa).

II. Isi

Lho twitnya Mbak Shally udah abis? Mbak, masnya baru juga separo jalan ngomongnya di sini. Yaaah.

Tapi ya sudahlah, karena struktur dan alur tulisan ini udah terbentuk, maka tinggal dilanjutkan. Tulisan non fiksi pun baik juga kalau pakai alur seperti yang dipakai oleh cerita fiksi (Conflict-Climax-Denouement/Resolution). Plotnya bisa flashback, bisa linear. Cerita juga bisa berbingkai, seperti kisah 1001 malam. 

Tulisan yang berbobot premisnya jelas. Dan premis yang jelas akan membantu membuat tulisan koheren ketika penulis punya banyak tema yang ingin disampaikan. 

Di sini Masnya mewanti-wanti agar penulis nonfiksi kreatif tidak membebani tulisannya dengan pesan moral. Ini bukan kisah dongeng yang semua orang baik melulu atau buruk melulu. Ini bukan juga sinetron, yang baik keterlaluan baiknya, yang jahat pun biar taubatan nasuha ga bakal lolos dari neraka. Masnya bilang, "Berikan ruang pada karakter untuk jadi manusiawi," (mungkin ini bisa digunakan juga ketika menulis tentang local champion? Jangan saking positifnya kita lalu tulisan kita menjadi mendewakannya. Kecuali kalau local champion-nya dewa lokal yang dipuja sih. Tapi kalau dewa lokal ya menuliskannya ya tadi, jangan dibebani dengan pesan moral, apalagi ngotot dengan perspektif monoteisme.)

Ketika menulis, hindarilah generalisasi ("Semua orang pasti tahu ...."/"Siapa yang tidak tahu ...."), metafora yang buruk ("Tawa perempuan itu dalam dan serak, seperti suara anjing yang mau muntah saat diare."/"Dia tinggi seperti pohon, seratus delapan puluh tiga sentimeter."), menulis yang berbunga-bunga, dan frase-frase klise. Ingat juga bahwa dialog tidak sama dengan percakapan. Dialog adalah percakapan yang telah disaring.

Kadang, diam adalah emas. Kita bisa meniru komik yang memberikan ruang kosong untuk diisi pembacanya sendiri dengan imajinasi mereka. Di slide ini Masnya menampilkan empat gambar dari komiknya Guy Delisle:


Hal yang sama bisa digunakan dengan tulisan. Beri ruang kosong antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain dan biarkan pembaca mengisi sendiri ruang kosong itu. 

Terakhir, seimbangkanlah antara narasi, informasi, dan kontemplasi.

III. Penutup. 

Ada macam-macam penutup yang bisa digunakan, baik eksplisit, implisit, twist (biasa buat horor), melihat ke masa depan (seperti Harry Potter), gantung (sering ditemui di cerpen), ataupun penutup full circle. Untuk penutup full circle, penutupnya akan mengulangi kata-kata inti dari paragraf pembukanya.

Dan demikianlah sebagian besar yang dibagikan kemarin. Setelah materinya selesai, ada latihan dengan menggunakan dua contoh tulisan dari blog PM (yang hadir diminta mencari tahu hal-hal yang bisa ditingkatkan dari tulisan itu), serta satu contoh tulisan dari America's Best Travel Writings yang berjudul A Shared Plate

Saya membayangkan kalau Mas Agustinus baca review saya ini dia akan berkata kalau tulisan ini adalah tipikal jurnalisme, saya memasukkan semua catatan saya ke dalam tulisan ini. Untuk standar non-fiksi kreatif, jelas ini ga kreatif-kreatif amat, karena tulisan ini agustinus-sentris. Anggap saja ini tembok yang sedang sengaja saya benturkan, sekaligus ajakan untuk membantu membobol tembok ataupun memperbaiki tembok-tembok yang saya hantam. Yuk silakan ditambahkan atau dikurangi.

Salam,
Masyhur

Sunday, October 26, 2014

Risalah Kelas Alumni PM: Klinik CV

Di bulan Februari 2014, usai dari penugasan Indonesia Mengajar, saya beberapa kali ikut Kelas Alumni Pengajar Muda. Isinya? Macam-macam, salah satunya adalah sesi dengan praktisi HR. Untuk pengarsipan saya sendiri, saya akan mengunggah beberapa catatan tersebut di sini.

Catatan pertama adalah dari kelas CV, tanggal 6 Februari, di bawah:



From: Masyhur Hilmy
To: <pm5im@yahoogroups.com>; 
Subject: [pm5im] Risalah Kelas Alumni PM 6 Februari 
Sent: Thu, Feb 6, 2014 12:23:58 PM 

Hikmah kelas CV, dengan Pak Taufiqurrahman[1].

Karena nganggur lagi nungguin temen, saya pengen nulis tentang hari ini. Saya datang ketiga, setelah Pak Taufiq dan Mesa, barengan masuknya sama Khai.

Yang didapatkan hari ini sebenernya banyak yang udah pernah dibahas di banyak tempat, termasuk pas OPP kemaren. Tapi yah kan, orang banyak yang Jumatan 52x setahun, isinya sama-sama aja tapi ga pernah sepi pengunjung, karena yang dibilang belum tentu diamalkan, jadi ya anggap aja ini kayak gitu. Tapi kalau yang Jumatan belum mengamalkan apa yang dikhutbahkan, mari kita mengamalkan yang bermanfaat bagi kita dari kelas CV tadi.

A. Nama file, pertama kali si Human Resource (HR) lihat CV kita.
Dos
1. Taruh nama kamu di nama filenya
2. Taruh kapan CV itu dibuat.
Contoh - "CV Masyhur Jan2014".
Don'ts
1. Tidak taruh nama kamu. Nanti kalau disave jadi ga ada bedanya sama ribuan pelamar lainnya.
2. Kasih nama hanya "CURRICULUM VITAE" saja.
3. Kasih waktu CV dibuat tapi tanpa nama.
Contoh - "Curriculum Vitae Januari" (kecuali kalau namamu Januari)
4. (Yang ini bukan dari Pak Taufiq), attach worm atau trojan yang dikasih nama "Curriculum Vitae". Tapi marilah kita bersyukur ada teknologi namanya antivirus.

B. Mukadimah
Dos
1. Kasih nama kamu di awal, dengan huruf yang lebih tebal dan besar dari tulisan lainnya. Biar keliatan itu CV siapa.
2. Langsung kasih alamat (Jl. Galuh IV no 2, misalnya), no. telp (Sebaiknya kasih no. telp yg memang dipegang. Kalau telp rumah, pastikan yang bakal angkat tahu, jangan "Halo? Aziz.. ngga ada yang namanya Aziz di sini.... Oooo Mas Mansur*!" *(no one ever calls me Aziz, and very rarely do people call me Masyhur. Mansur and Maskur compete for my name's top-two misspellings)), dan alamat email (jangan yang aneh-aneh). 
3. Boleh kasih foto, apalagi kalau yang rileks dan menjual. Tip; foto yang buat profil IM itu bagus-bagus lho, atau paling ga ya acceptable lah kalau ga bagus (sambil menghela nafas lihat profil sendiri). Ga perlu juga fotonya ukuran 5R close up, kecuali kalau kamu daftar jadi SPG rokok. Not that the profession is demeaning, being SPG, especially because they're easy on the eyes, tapi kok ya Putra Putri Terbaik Bangsa jadi SPG rokok. (kalimat terakhir jelas bukan dari Pak Taufiq, secara dia pernah di Philip Morris gitu).
Don'ts
1. Mengulangi informasi yang tidak perlu. Contohnya udah ada nama besar di atas, di bawah dikasih lagi heading Personal Information, trus ada field 'name'. Informasinya redundant
2. Menaruh informasi fisik yang ga menambah value, seperti tinggi badan dan berat badan (Again, kecuali kamu mendaftar jadi model. Kak Ria cocok nih kayaknya, excellent health pula).
3. Religion, marital status taruh aja di bagian akhir CV kalo mau dimasukin. Kalo yang bingung agamanya apa ya ga usah dimasukinlah, kecuali diminta.

C. Setelah Mukadimah.
C.I. Skills
Don'ts
1. Menaruh Proficient in MS Windows. Lah, murid-murid kita yang baru pegang laptop juga bisa MS Windows. MS Word sama aja, toh lulus dari universitas bikin skripsi pake MS Word kan? (Astro ITB malah harus pake LaTeX, lewat lah MS Word). 
2. Jangan menaruh menial/clerical works di skill. Kecuali apply jadi sekretaris. Meski kerjaannya bakal menial juga. Jauh-jauh ke Kyoto cuman jadi operator PADAMU NEGERI. Berbakti pisan.)

C.II Career objectives (tapi ga harus ada sih)
Don'ts
1. Kebanyakan buzzword
2. Terlalu panjang. (Kalau paksain mau panjang, kasih tl;dr aja kali ya)
Dos
1. Tiga baris cukup.
2. Sebut bidangnya dan kasih gambaran kenapa mau job ini. (What I did: lihat requirement-nya, buka tesaurus, masukkan kata keren yang setara)

C.III Summary (recommended buat ada)
Dos
1. Highlight apa yang menjual dari diri kamu. Contohnya, lulusan terkemuka dari Institut Tukang Belanja IPK 3,9997/4.00, berpengalaman menjadi duta budaya di 50 event internasional.
2. 3 bullet points cukup.

C.IV Competencies (dimensi kepemimpinan, kalau bahasa IMnya)
Don'ts
1. Ngelist kompetensi tersebut kita punya, tapi ga dibuktikan. Daripada buang-buang tempat, taruhlah kompetensi yang sesuai di atas elaborasi work experience. Kenapa? 
a. Makan space yang bisa dipakai buat hal lain. 
b. Ngasih umpan buat interviewer menyerang buat ngebuktiin kompetensi yang udah diklaim dimiliki. Tapi sebaliknya, kalau punya jawaban bagus buat itu sih berarti gapapa kali ya. ("Apa bukti kamu punya strong analytical skill?" "Saya menganalisa korelasi kesuburan tanah dengan sistem autokrasi tersembunyi masyarakat adat di penempatan saya di Pulau Solor dengan metodologi randomized controlled trial [2] yang membuat saya bisa mengambil kesimpulan ...." Maybe you'll be fine then.)

Do's
1. Ngelist kompetensi yang kita miliki, trus langsung dibuktikan. Contoh
Excellent in interpersonal and intercultural communications
- Facilitated roundtable sessions between Kapolsek, Headmaster, and UNDP observer in SDN Onu Bubung to resolve accussation of organized efforts to inflate students' marks during National Examination. 
2. Taruh yang seperti di atas di tiap work experience.

D. Education
Dos
1. Kalau dari universitas ternama, jual universitasnya.
2. Kalau bukan dari universitas ternama, yang tabah ya (Obviously ini bukan dari Pak Taufiq). Bisa juga education ditaruh di paling belakang setelah work experience. Pak Taufik kasih liat CVnya Furiyani, which is a good CV example, yang pendidikannya dikasih di paling belakang CV.
3. Kalau judul tesisnya keren, bisa juga dituliskan.
4. Kalau dapat beasiswa, bisa juga dituliskan. 

Don'ts
1. Taruh riwayat yang terlalu lengkap, dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, D3, S1, S2. Kalau misalnya S1 ya cantumkan S1 dan SMAnya saja cukup.


E. Work Experience.
Dos
1. Put some meat to explain what exactly do you do. Jadi PM? 4 bidang tugas, dengan STAR.
2. Mulailah penjelasan dengan kata-kata kerja positif. Organized, Facilitated, Promoted, Advocated, etc. (tesaurus adalah dinosaurus teman baikmu). Misalnya: Organized local youth community to volunteer as reading tutors during extra lessons for grade 1-3 students.

Don'ts
1. Tidak menjelaskan di kerjaan itu ngapain. 
2. Menjelaskan dengan kata-kata yang tidak pas: Provoked the headmasters to improve teachers' capacity. Kesannya jadi biang kerok begitu dan provokator.
3. Menjelaskan dengan kata-kata yang loyo: Typed the lesson plans for a whole semester. Ngoyo tapi ngenes dan kasian.

Terima kasih sudah membaca sampai bawah!

Salam hangat,
Masyhur

---
[1] Beliau adalah senior di Indika Energy dan salah satu mitra Indonesia Mengajar yang sudah berpengalaman dalam hal berinteraksi dengan berbagai macam karakter manusia. Terima kasih ilmunya, Pak!
[2] Disclaimer/Penyangkalan: tulisan ini tidak saya buat dengan kapasitas saya di tempat kerja sekarang, dan tidak mewakili pandangan institusi saya sekarang. Contoh ini jangan diambil seriusnya ya.