Sunday, November 29, 2015

Dancing to the Din

It was Friday afternoon, and Tuti had a spare ticket for a contemporary interpretive dance performance in Salihara that she was offering me to go to. Having nothing better to do, plus all the reasons in the world to further deprive my body of its much-needed sleep, I said yes. I had never been to Salihara and I could already imagine my budaya points increasing by 20% after the night.

So we took the train to Pasar Minggu from Cikini, and because we took the wrong train, we had to change train in Manggarai. Consider that it was after work hours, and the train was Bogor bound. So we were being wildly optimistic of our ability to contort our limbs so that we can fit in. We took the pain of worming our way to the carriage doors to not miss our stop. We shoved our faces into strangers’. We made fleeting eye contacts with other passengers, we dropped them as they contorted their bodies to let us through. We weaved the train’s sputtering stops and starts to our movements. We were dancing.

A couple of hours later, the performers shuffled fluidly inside the atelier, snaking their way among the audience. The audience were clustered in groups, and the performers swerved around the theatre, dancing in close quarters with the largely-confused audience, often times leaving mere inches from their faces, making fleeting eye contacts before dropping them to resume their elegant disjointed performance.

The performance did not break the fourth wall simply because they denied its existence to begin with. Picture is from here.
It was amazing to see the limber bodies of the performers as they pranced around the throng of onlookers. It was even more amazing if you consider that they danced without music. They brought the din of Jakarta’s streets inside, and the harsh noise of car horns, motorcycle klaxons, and loud exhaust pipe sounds were pretty much the constant background of the performance; I can not imagine how they could possibly find a beat to dance in those.

I had been racking my brain trying to impute meaning to the performances that I see from the start. Forcing yourself to tune out the jarring exhaust pipe noises of fifteen motorcycles going around Salihara’s lawn does that to you. Having your eyes stung by the smoke of ten flares lit by a group of young men with their faces covered in helmets does that to you. Watching a man dancing against the parapet in high heels does that to you. And I had no clue of what were going on.

And yet, as the performance progressed, it struck me that the dancing and prancing inside the atelier was exactly like being in public transportation, where you had no option but to squeeze your way in between strangers. And shortly after squeezing your way out. Your senses were relentlessly assaulted by the constant cacophony from the street (and while you can close your eyes to stop seeing, you can’t do the same with your hearing. Earphones can only help you so far). Being aware that there are many things that goes on at the same time, and that it is impossible to know everything of what is happening everywhere. That night, art imitates life.

I got all that because I took the train from Cikini, and more generally I take the bus daily. And while the two dangdut tracks they put on the background to relieve the traffic din as background music had me wondering if this high-brow performance steals low-brow entertainment to mock them, I decided it felt more like a celebration of the daily insanity of living in a big city. I could care less that maybe the performance would resonate very little with those in the audience who always run their errands being chauffeured in their arrogantly shiny cars, because who gives a fuck about them.

Overall it was a really cool performance. It was an acknowledgement, a celebration presented in the form of seemingly mindless movements. And as the movements were presented without the come-hither looks that so dominate our popular culture, it was refreshing to see that expressive dancing can be non-sensual and non-sexual.

I bet Tuti and other audience took all that differently. One of Tuti’s friend remarked on the sing-song chant that one man sang near the end of the performance (“I wish I had lighter skin; I wish I was better at singing; it’s kind of a big deal here,” “I am falling for every guy that I see; but they don’t love me,”). Another asked if it was uncomfortable dancing at such a close quarter, with many personal eye contacts (“I liked how it allows me getting a direct feedback from the audience,”). Another was more intent in navel-gazing, asking the choreographer how he found us as the audience that night, and what were different about us compared to their previous audiences (“We had a performance where everyone danced with us, we had a performance where everybody were sitting down from the start, we had a performance where everybody were standing by the walls. We haven’t had one before where people went up to the rooftop.” He added "At the rehearsal it was really different because the audience was all of these journalists with their cameras; you interact with them but they were behind the lenses," (which is probably what their general audience will be in Tokyo, if the theatre does not confiscate the audience's cellphones)). And that inevitably led to a question that asked whether they intended the audience to dance along (“Not really; that would require us to manipulate you as the audience,”).

And then we reached the end of the evening. As I felt my bus shaking to the rhythm of the road, the dancing felt liberating.

Blurb for the performance: Volution / Groove Space.
Other reviews about this performance:
- 'Volution/groove space': brings a city to the stage
Mengkaji Interaksi Tubuh dan Sebuah Kota

Monday, October 19, 2015

Risalah sesi Indonesia Berkarya

Saya hampir lupa kalau saya pernah menulis tentang sesi Indonesia Berkarya di milis alumni. Karena navigasi laman yahoogroups mensyaratkan login menggunakan email yahoo--saya rasa ada baiknya dibuka di ruang ini juga. Jadi saya tidak perlu frustasi mengingat-ingat sandi surel saya setiap kali saya mau mencari arsipnya.


From: Masyhur Hilmy
Subject: [alumnipm] Catatan dari sesi Indonesia Berkarya
Sent: Wed, May 21, 2014 17:36 

Agak telat sih, tapi saya kepengen cerita agak panjang; dua minggu lalu saya diundang ikut reuni forum YLI. Di forum ini, saya selain bisa lihat Mbak Naimah yang dengan energiknya memandu peserta di games pembuka, saya juga berkesempatan duduk makan malam mendengarkan Pak Anies bercerita. Di makan malam yang sama, kami para peserta didorong untuk berjejaring dengan para profesional yang turut diundang hadir. 

Kalau dipikir-pikir, hampir sama dengan sesi makan malam waktu OPP, cuma bedanya tidak terlalu banyak muka keling terbakar matahari di sekeliling meja. Sementara itu, interaksi dengan para profesional seniornya membuat saya teringat sesi Indonesia Berkarya.

Saya suka datang ke acara Indonesia Berkarya. Alasannya sederhana, karena di sana saya kembali disajikan grafik-grafik yang baru beberapa bulan yang lalu saya temukan di laporan McKinsey yang judulnya Unleashing Indonesia. Saya pertama kali membacanya via hp di mobil menuju Baduy, sambil mengagih cuplikan-cuplikan menarik dari laporan itu ke mobil yang penuh dengan keluarga PM Banggai (Farida PM V TBB kami klaim jadi keluarga PM Banggai aja deh). 

Yang bikin mobil riuh rendah adalah ketika saya mengagih Box 12 tentang Indonesia Mengajar. Kami pun main-main checklist, saling bertanya satu sama lain, sebagai PM yang baru selesai OPP, setahun di penempatan kemarin kita "develop leadership skills and an understanding of remote communities" ngga? Waktu di sana "rural students gain a role model" ngga? "Village teachers receive exposure to new teaching techniques" ga? "Given public classes on topics such as hygiene and sanitation" ngga? ("Ya iya lah, mereka [congekan/jamuran/gatal-gatal/kudisan/pilih penyakit kulit lain sesuai dengan desa penempatan] gitu,"). 

Dua bulan kemudian, di Indonesia Berkarya beberapa orang menyajikan presentasi yang pakai grafik-grafik yang sama, dan saya jadi sadar bahwa satu tahun di penempatan membuat histogram, presentase dan diagram-diagram tersebut jadi punya nama dan cerita. Peluang pasar pertanian, perikanan, SDA dan pendidikan kita akan meningkat dari USD 0,5 trilyun jadi USD 1,8 trilyun di tahun 2030? Wah iya banget tuh, Indonesia itu kaya hasil bumi dan lautnya. Desa gue dulu isinya sawit, coklat dan karet emang! Banggai ikan dan kepitingnya juga berlimpah! Mayoritas kota yang pertumbuhan ekonominya tinggi di luar Jawa? Jelas iya dong, lihat aja Luwuk di Banggai yang tau-tau udah ada Aston, KFC, sama Happy Puppy aja.

Tidak semua grafiknya bikin bersukacita sih, karena kalau nampak grafik bagian tantangan krisis air bersih masa depan langsung teringat duka lara mengharap-harap hujan agar sumur komunal kembali berisi air. Yang paling relevan dengan tema yang diusung acara ini tentu saja adalah grafik tentang permintaan dan penawaran tenaga kerja Indonesia berdasarkan tingkat pendidikan. 

Pandangan pertama saya tertumbuk di tingkat pendidikan yang kita obok-obok selama setahun: pendidikan dasar. Dulu kalau saya ketemu statistik ini rasanya susah percaya, hari gini siapa sih yang pendidikan terakhirnya cuma SD? Sekarang, statistik itu menjelma menjadi nama-nama yang lebih mudah dipahami, karena saya ketemu sendiri dengan Eko, Endik, dan banyak lagi lainnya yang tidak lanjut ke SMP. Di tahun 2030, diproyeksikan akan ada 59 juta orang seperti mereka, sementara lapangan kerja yang ada hanya untuk 39 juta. Apa jadinya ya 20 juta orang yang mungkin tidak terserap dunia kerja? Penduduk sebanyak itu kalau pas pemilu milih partai yang sama, jumlahnya udah lebih banyak dari pemilih Partai Demokrat di pemilu 2009 lho.

Perhatian saya berikutnya ke tingkat pendidikan saya sendiri: tertiary, dan saya dengan egois merasa boleh berbesar hati karena ternyata sarjana masih akan undersupply di Indonesia. Proyeksi untuk tahun 2030, Indonesia masih akan kekurangan 2 juta sarjana untuk mengisi lapangan kerja. Sarjana aja kurang, apalagi Sarjana-sarjana Terbaik Bangsa (TM), jelas dibutuhkan dong (amin?). 

Mungkin harusnya ini yang saya jawab ke Tika ketika dia tanya apa yang saya dapat dari sesi Indonesia Berkarya. Tapi susah juga euy, di dalam bus transjakarta ngecap ke Tika tentang grafik dan kurva. Plus, itu kan pendukung saja. Saya juga ga yakin ada hadirin lain yang merhatiin grafiknya, wong Ria yang duduk di sebelah saya saja tanya, "Itu grafik apa sih Syhur?" Ketika saya liatin grafik serupa di tablet saya supaya dia ikut terkesima dengan data-data terkemuka, Ria justru menampik kesempatan mencermati grafik-grafik cantik itu.

Tapi memang beda orang, beda pula minatnya. Bahkan beda niat pun sah-sah saja, apalagi mengingat tujuan Indonesia Berkarya memang bukan untuk mengagumi batang-batang diagram, tapi untuk tiga misi utama: jadi wadah diskusi dan berjejaring, jadi wadah kerelawanan untuk para professional menjadi mentor orang-orang kayak alumni PM, dan untuk jadi ..... Untuk apa ya yang ketiga? Saya inget lihat ada tiga, tapi saya ga nyatet apa yang ketiga, dan sepertinya sih ada di file .ppt yang dishare sama Adji, tapi karena saya ga punya akses ke Google Drive tempat .ppt itu diunggah jadi rasanya saya (dan yang lain, kalau ada) yang berminat pengen liat pun jadi lupa kalau tadinya pengen.

Begini memang kalau ngga nyatet, begitu nyoba ngingat-ngingat, gagal. Tapi memang ada tiga distraksi yang lebih OK dari nyatet sih. Distraksi pertama, gambar grafik warna-warni tentang trending topics dunia HR global dan gambar ilustrasi yang keren, diambil dari cover reportnya BCG-WFPMA tentang pengembangan SDM. 

Distraksi yang kedua lebih umum dinikmati juga sama teman-teman yang bukan iconophilia: camilan. Distraksi yang ketiga pun bikin lebih banyak orang ceria dibandingkan yang ilustrasi: camilan. (Camilan perlu mendapat porsi lebih untuk proporsi distraksi karena di setiap pertemuan porsi yang ada biasanya berlebih). 

Bagi yang menjaga berat badan (mungkin untuk mengkompensasi kebanyakan dijamu waktu kunjungan sosial di desa), saya sarankan sih untuk juga menjaga perhatian pas ikut sesi Indonesia Berkarya. Karena kalau menjaga perhatian dan bisa menjawab pas ada tebak-tebak berhadiah, bisa mengelak dari menumpuk lemak (plus dapet hadiahnya). Di sesi tanggal 15 Maret yang lalu, ada yang dapat hadiah buku bagus yang Judulnya "Surat Dari dan Untuk Pemimpin" (siapa ya waktu itu?). Waktu itu sih dia menjanjikan bikin resumenya buku keren itu di milis, jadi kita tunggu aja.

Saya harus bilang saya agak kecewa, karena biar mantengin presentasinya, kalau gaulnya cari penampakan kera yakis (Macaca nigra) ketika di desa, ya ga bisa jawab nama orang di tebak foto yang dikasih. Tapi paling tidak, saya sekarang jadi tau, "O, itu yang namanya Merry Riana," "O itu yang ngarang '9 Summers 10 Autumns' ya."

Di pertemuan berikutnya sih setau saya tidak ada bagi-bagi buku (yaaah), tapi ada bagi-bagi ilmu hasil merangkum buku (yaaay) dan tetap ada berbagai makanan (YAAAAY). Di pertemuan itu, Mas Adam (@Ini_adam) menyajikan presentasi bertajuk "A Practical Guide to Job Hunting" yang menyarikan buku "What Colour Is Your Parachute?

Disebutkan di buku itu, kalau ada lima cara utama sebuah perusahaan/organisasi mencari orang untuk mengisi jabatan di perusahaan itu. Paling sering, mereka mencari orang dari dalam perusahaan itu sendiri (internal), baru setelah itu mereka mencari orang berdasarkan bukti kerjanya (contoh paling gampang adalah di Silicon Valley, tempat programmer yang bikin website sukses lalu diakuisisi sama perusahaan terkemuka), baru dari rujukan, baru pasang iklan, dan terakhir, dari resume yang masuk ke perusahaan tersebut walau tanpa pasang iklan. 

Menariknya, dari sisi pencari kerja, justru sebaliknyalah yang terjadi. Paling banyak upaya pencarian kerja itu dari kirim resume segepok meski tidak ada lowongan, merespon iklan lowongan kerja, baru rujukan, baru dari bukti, baru dari internal. Bagi saya masuk akal sih, perusahaan pilih cara seperti di atas untuk mengisi lowongan, apalagi kalau proses mencari pegawai itu seperti yang digambarkan di satu artikel Washington Post, capek-capek pasang iklan, janjiin wawancara, eh, ga ada yang nongol.

Mismatch antara tenaga kerja dan lowongan pekerjaan yang ada inilah yang membuat adanya talent war: orang yang kemampuannya pas dengan permintaan pasar akan jadi rebutan berbagai perusahaan. Apalagi dengan menurunnya jumlah ekspatriat yang bekerja di Indonesia. Saya pribadi belum bisa membayangkan jadi rebutan banyak perusahaan, tapi rasa jumawanya mungkin sama kayak kalau di penempatan jadi rebutan murid-murid untuk merangkap mengisi kelas mereka ketika sekolah kosong guru. "Pak, ke kelas enam saja Pak, belajar matematika"--"Pak, torang kelas tiga belajar sama pak guru juga Pak!". Ngartis rasanya, jadi rebutan. Jadi sepertinya sekarang ini saatnya kita mengasah skill di bidang yang jadi passion/renjana kita agar nanti jadi rebutan berbagai perusahaan yang valuenya sejalan sama kita.

Tentang renjana, topik ini sempat didiskusikan juga sebetulnya setelah Alsha/Rara bertanya apakah para profesi para relawan profesional yang datang di siang itu adalah dream job mereka. Tentu tidak, kata sebagian. Tapi diskusi lalu mengarah bahwa perbincangan tentang renjana ini adalah hal yang baru-baru muncul, di generasi mereka hampir tidak terlintas tentang renjana. Kira-kira kalau pakai kutipannya Tante Ligwina Sabtu kemarin, mereka belum sampai tahap unicorn muntah pelangi. 

Tapi renjana juga bukan sesuatu yang mutlak harus diikuti, toh tidak ada di kitab suci juga. Mas Adam juga menambahkan, kalau semua orang mengikuti renjananya, mungkin kita tidak akan pernah pegang iPod dan iPhone dan iPad yang lucu-lucu itu. Bisa jadi tidak pernah pegang karena renjana kita ada di bidang yang kurang basah sehingga iPhone itu jadi barang yang benar-benar mewah, tapi juga karena apabila Steve Jobs mengikuti renjananya, dia mungkin akan jadi biksu untuk menekuni ajaran Buddha alih-alih mengambil alih tampuk pimpinan Apple.

Saya tidak yakin tidak akan ada masalah kalau renjana kita ada di bidang yang tidak basah, tapi kalau tidak basahnya membuat gundah, mungkin perlu diperiksa lagi apa sebetulnya renjana kita. Caranya sebetulnya dengan menggali ke diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan pembantu seperti, what would you do for free? What/Who interests you? What will minimize your regrets? Terakhir, (ini favorit saya:) what riles you? Apa yang membuatmu gusar?

Yang kenal dekat dengan saya akan dengan mudah memberitahu kalau saya gusar pada penggunaan kata "merubah". Tapi di sesi Indonesia Berkarya terakhir, saya lebih gusar karena Indonesia Berkarya ini punya potensi besar yang menggiurkan untuk dimanfaatkan. Bayangkan, jumlah tahun pengalaman kerja para relawan profesional yang sudah datang di sesi-sesi ini bisa jadi lebih banyak daripada jumlah tahun penjajahan Indonesia oleh VOC. Dari bidang yang beragam pula, mulai dari yang berwirausaha sampai ke yang meniti karir di DHL ke Holcim sampai profesional yang sekarang berkarir di Indofood, Mandiri, PWC, Medco, dll. 

Kegusaran saya tentu bukan karena daftar afiliasi para relawan yang kalau disebut satu-satu mungkin menyaingi daftar emiten saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kegusaran saya lebih disebabkan ke daya imajinasi saya yang rendah yang menyulitkan saya membayangkan format yang paling optimal untuk mengembangkan komunitas Indonesia Berkarya agar manfaatnya dirasa oleh semua. Idealnya sih saya ingin ada lebih banyak teman-teman yang ikut bergabung dan urun gagasan. The more the merrier. 

Apalagi karena Indonesia Berkarya adalah forum terbuka yang tidak dikhususkan untuk alumni PM. Kita bisa juga mengundang teman di luar lingkaran IM yang mungkin bisa dipetik/memetik manfaat dari jejaringnya juga. Manfaat yang paling gampang yang bisa dipetik tentu adalah energi positif dari interaksi dengan orang keren. Kurang keren apa lagi, saya di sesi Maret bisa mendengarkan cerita Mario dan Adji waktu sesi kecil. Saya juga kembali tersadar kalau lingkaran IM itu isinya orang-orang keren, cuma kadang kita terlalu dekat dan perspektifnya jadi terdistorsi: alih-alih menghargai kerja keras rekan kita kita lebih fokus sama karakteristik remeh-temeh mereka. 

Selain meremehkan kerja kerasnya teman-teman kita, distorsi perspektif ini sangat mungkin bikin kita susah mengenali potensi teman-teman kita. Padahal kalau kita tahu potensinya kan bisa kita jadiin mentor/tutor. Yang kadang kita tahu potensinya aja kadang ga sempet dicuri ilmunya (Oktober 2012: berpikir bisa belajar Bahasa Tiongkok sama Lilli karena sepenempatan; Mei 2014: tetep ga tau sama sekali Bahasa Tiongkok), apalagi kalau kita ga tau potensi teman kita. Tentang pentingnya mentor ini, tidak cuma saya sendiri sih yang berpikir seperti ini, ada juga Maeve Richard, yang bilang "Mentors can have a large positive impact on careers."

Di sini rasanya peluang pemanfaatan Indonesia Berkarya buat kita. Karena ada banyak profesional dari berbagai industri, jadi terlibat di Indonesia Berkarya berarti kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang yang siapa tahu kalau cocok nantinya bisa dijadikan mentor untuk jadi panutan. Tapi harus diingat juga sih, kalau kita minta orang jadi mentor kita, kita juga harus siap mengerahkan usaha jadi mentee. 

Ngomong sih gampang, bakal mengerahkan usaha jadi mentee. Tapi kalau dengar cerita unik sebagian PM II yang dibimbing seorang mentor fenomenal, membuat saya bertanya-tanya, kalau saya jadi mentee, bisa tidak ya saya mengimbangi mentornya?

Untuk sekarang sih, saya lihat-lihat dulu (sambil menunggu) ada sesi Indonesia Berkarya lagi. Nanti kalau ada lagi, datang yuk!

Salam,
Masyhur

Friday, October 16, 2015

Traffic Tribulation, Jakarta Edition

If you're looking for a way to maintain your sanity while living in Jakarta, I have an advice: don't.

Do your utmost fucking best to not live here. Do your damnedest to earn your living elsewhere. Do so, now.

Because Jakarta turns your heart hard. Jakarta makes swear words easy to utter, and even easier to regularly mutter. I don't need to fucking swear in this sentence―but I do, as Jakarta beckons me to.

I apologize for my being uncouth, but it is terribly hard to resist when you are subjected to the vagaries of the Jakarta's traffic, daily.

Case in point.
So maybe I have an advice after all: avoid commuting. Cars, buses, trains, motorcycle, anything.

Cars are terrible. Everybody complains about the traffic, but have you noticed that car owners often complain the loudest? For many, I guess they can no longer register irony.

Cars are horrible. They are comfortable and convenient, and they are so at the expense of your sensibility. How else can you encase yourself in a bubble of privilege (toll roads), entitlement (I can neither impute qualms  nor compunction to car drivers using bus lanes, clogging the way for many more bus riders), and self-righteousness ("Motor riders these days, God!")?

Buses are no better. If you have ever used a kopaja, I am sure at one point you must have questioned whether along with the money you tendered, you agreed to also surrender your safety, hope, and life.

Step to enter a bus, and you enter a battle. The musical chair is a game that never ends in buses―with music that only erratically plays. Winning will give your legs respite, but it is good only for a short while because you will be tortured by something else: guilt.

With nearly 13 million people living, working in Jakarta, God forbid your bus will be empty with enough seats for everybody. So you may have to grapple with questions about your own self-image of a decent person when you find it awfully hard to give up your seat to a nice-looking young woman standing on the aisle. Or a late 50-something year old man. You will wonder, to what end does courtesy extend? Is it ever justified for one―for me―to take a seat in a bus?

God forbid your metromini will be empty, because you'll then have to come up with a strategy. Sit up front, risk your eardrum ruptured with the loud buzzing of its old engine. Sit in the middle, be ready to be annoyed by the street buskers playing their off-key tunes. Sit on the back, be ready to receive extra harassment when said buskers did not get any coin from passengers in the front and middle. And many won't even play music, they would just menacingly insinuate criminal counterfactuals, "Uang dua ribu tidak dibawa mati, bapak-ibu yang bajunya rapi. Daripada kami kembali ke jalan kriminal, mencopet dan mencuri."

You must be insane if you resort to commute by train. Packed like sardines in a tin, getting your clothes wrinkled would be the least of your worries when you get off the train. If you are a novice rider, most likely you will learn the hard way that you have to literally wrestle your way out of the carriage if you don't want to miss your stop. Which will happen. And it will totally suck, because train stations are few and far between in Jakarta.

On the other hand, it's not like there's any guarantee that the train will arrive on schedule. Signal troubles are common, and they will make multiple trains stuck just before entering Manggarai interchange station. And when that happen, I can guarantee you that people will start grumbling, poisoning the air within the carriage with their negativity. Worst of all, you're stuck with them until the trouble is resolved and you can get off.

Getting off the train is not the end of the journey, though. Because hordes of ojek will greet you at the exit gate. And if you're already late (see signal trouble above) it's very tempting to kick yourself for not having the foresight to just order an online ojek in the first place.

When that happens, give it time. If you're thinking clearly you will remember that there are good reasons for not doing so. You can't do anything else when you are riding with an ojek, you'll need your hand to grip something so that you won't get thrown off the seat. You'll need to provide navigation. You'll sweat and it will be unsightly and you will reek of sun and road. And above all, you'll wonder why you consented to let Jakarta's daily commute debase and dehumanize you.

This city is not fit for human habitation.

I know, call me irate. I can't help it. Jakarta fills me with rage.

Thursday, July 23, 2015

Empathy vs Sympathy

I started to jot down notes on the outline of this video, but it grew to be a transcript with slight modifications, because it is just that powerful. And so I'm putting it here, so I can refer back to it in the future.
What is empathy, and why is it so different than sympathy?
Empathy fuels connection. Sympathy drives disconnection.
Four qualities of empathy:
- perspective taking (ability to take perspective of other person, or recognize their perspective as their truth)
- staying out of judgement (not easy, when you enjoy it as much as many of us do)
- recognizing emotion of other people
- communicating it.
To me, I always think this empathy as this sacred space, where someone's kind of in a deep hole and they shout out from the bottom, "I'm stuck, it's dark, I'm overwhelmed."
And then we look and we say, "Hey, calm down, I know what it's like down here. And you're not alone."
Sympathy is, "Oooh, it's bad, huh? Ummm, you want a sandwich?" *chew*
Empathy is a choice, and it's a vulnerable choice, because in order to connect with you, I have to connect with something in myself that knows that feeling.
Rarely, if ever, does an emphatic response begin with "at least".
And we do it all the time. We have someone who shared something with us that's incredibly painful, and we're trying to silverlining it. I don't think that's a verb, but I'm using it as one. But one of the things we do sometimes in the face of a very difficult conversation, is we try to make things better.
If I shared something with you that's very difficult, I'd rather you say "Huh. I don't even know what to say right now, I'm just so glad you told me."*
Because the truth is, rarely can a response make something better.
What makes something better is connection.

______________________
*  Actually, whenever I share deeply personal stuff to others I don't even know what kind of responses I'm actually hoping to get. Mostly I'm just crossing fingers they won't stone me--and this invariably lead to their bewilderment at how little faith I have to their tolerance to me. My friends have certainly suffered a lot in befriending me.

Thursday, June 11, 2015

Jalan Lain ke Tulehu

Sulit sekali ternyata merekomendasikan Jalan Lain ke Tulehu ke teman-teman saya. Begitu saya perlihatkan sampulnya, mereka langsung bertanya, “Ini yang ada filmnya itu ya? Pasti iya deh, ini ada ‘Cahaya Dari Timur’ juga.”



Susah memang kalau berteman dengan orang-orang yang saking seringnya dapat tawaran nonton bersama pemutaran film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, bisa pasang #sikap kalau-ga-ada-Chicco-Jericho-gue-malas-dateng-kalau-Glenn-Freddly-gue-ga-nafsu. Buat mereka, kalau ini adaptasi sama dengan filmnya, buat apa baca novelisasinya?

Saya yang belum menonton filmnya tidak bisa menyangkal maupun mengiakan. Dan memang sekilas dari sampulnya, sepertinya mirip. Dua-duanya bertuliskan “Cahaya dari Timur”; di kedua poster dan sampul, ada orang bermain sepakbola. Makin tidak tampak baru untuk teman-teman saya.

Maka saya mencoba pendekatan lain untuk merekomendasikan buku ini, “Buat gue sih menarik aja, karya tulisan diceritakan dengan tutur logat Maluku. Terus karena ngga jauh beda sama logat Manado pasar yang dipakai di Banggai, jadi berasa macam kita balik lagi ke sana.”

Saya agak canggung mau merekomendasikan tentang kekuatan plot buku ini, karena, yah, kosakata apresiasi karya sastra bukanlah kosakata biasa saya sehari-hari. Sekalinya dulu ambil mata kuliah apresiasi sastra di ITB, di kelas malah baca Newsweek dan Time. Canggung bercakap sastra saya.

Sejujurnya, ketika saya mulai membacanya, saya langsung terhisap dalam cerita. Tentang Gentur yang harus diselamatkan dari vigilante nasrani yang hendak “membersihkan” muslim dari kapal yang saat itu dia tumpangi. Dan memang ini adalah fokus utama buku ini, tentang konflik antara yang bersalib dan bersalam di awal dekade yang lalu. Konflik ini membawa Gentur ke desa Tulehu, desa muslim yang terkenal sebagai kampung sepakbola.

Kalau ini adalah film sebangsa Air Bud, maka berikutnya pembaca akan disajikan cerita sepakbola membuat orang bisa mengesampingkan perbedaan di Tulehu. Tapi karena ini bukan sebangsa Air Bud, di novel ini justru kita akan menemui ketegangan ketika penduduk desa muslim tidak ingin ada warga kristen yang ikut menonton laga Belanda versus Italia di semifinal Piala Eropa. Penyebabnya pun tidak terasa dibuat-buat: tidak adanya listrik di desa membuat mereka rela mempertaruhkan keselamatan nyawa dengan datang ke desa yang berbeda agama. Adu urat tentu ada, dan saya mendapati diri saya bersimpati dengan si anak kristen yang berpura-pura harus ikut mendukung Belanda walaupun sebetulnya dia mendukung Italia. Bagaimana tidak? Begitu hampir ketahuan kalau ia mendukung Italia, situasi menjadi genting.

Bagi sebagian orang, sepakbola itu bagaikan agama. Bermain (dan menonton) bola bisa punya dampak katarsis yang sama dengan beribadah pada Yang Kuasa. Di sisi lain, terlihat pula di novel ini fanatisme terhadap keduanya ternyata tidak jauh berbeda.

Novel ini juga kaya akan lapisan-lapisan cerita. Tentang Said—mantan atlet kabupaten yang gagal bersinar karena cidera di masa muda—yang mencoba melatih anak-anak bermain sepakbola, tapi juga dirundung permasalahan rumah tangganya. Tentang Gentur yang dikejar masa lalunya—dan memori tentang almarhum kekasihnya yang menjadi korban perkosaan 1998. Tentang Tulehu yang menyimpan banyak memori persepakbolaan Indonesia. Bagi saya, tamatnya novel ini adalah titik awal berkecamuknya pikiran-pikiran yang harus diurai dari observasi yang ditawarkan novel ini.

Observasi pertama adalah tentang kekuatan kerusuhan 1998 sebagai latar cerita literatur sastra Indonesia. Memori atas 1998 adalah salah satu penggerak Gentur di novel ini, dan baru minggu yang lalu saya dapati demonstrasi mahasiswa 1998 menjadi salah satu bagian plot di novel “Pasung Jiwa”nya Okky Madasari. Yang lalu membuat saya bertanya-tanya, kenapa saya tidak banyak menemui literatur populer yang mengangkat peristiwa tahun 1965? Apakah ini karena pengaruh Orde Baru yang “membersihkan” citra dirinya?

Observasi kedua adalah tentang peran lingkungan kita dalam membentuk pilihan masa depan. Waktu kita kecil, saya rasa akan sangat sedikit dari orang tua kita yang tertawa saat kita bercita-cita menjadi dokter dan insinyur dan pilot. Bisa jadi mereka mendukung dengan bangga, dan memang dukungan itu adalah hal yang mudah ketika mereka familiar dengan profesi tersebut (atau bahkan itulah profesi mereka). Tapi bagaimana jika waktu itu kita mengaku bercita-cita menjadi atlet sepakbola atau seniman? Bisa jadi mereka menganggap itu gurauan sepintas lalu.

Di sisi lain, saya bayangkan di Tulehu orang-orang tuanya akan menyangsikan anak mereka bisa lulus sekolah dan kuliah untuk menjadi dokter dan insinyur. Mudah dibayangkan bagi mereka untuk tidak serius menanggapi cita-cita anak mereka, ketika mereka tahu bahwa bersepakbola adalah alternatif yang lebih mudah, lebih lazim dicapai. Lihat saja Aji Lestahulu (PSM), Mustafa Umarella (Pelita Jaya), Kasim Pellu (Bintang Timur Cirebon) yang juga berasal dari desa ini, sementara mana ada anak sini yang bisa jadi dokter?

(Trus yang udah jadi dokter dan pengacara dan insinyur songong deh, “Ini hasil kerja keras gue kok!”).

Yah, paling tidak sekarang saya jadi makin memahami kenapa Kelas Inspirasi itu penting.

Observasi ketiga adalah: tinggal di Jakarta ternyata membuat akses saya terhadap bacaan lokal makin terbuka. Kalau saya tidak tinggal di Jakarta, saya tidak naik transjakarta. Kalau tidak naik transjakarta, tidak bisa mengintai mbak-mbak di halte Halimun yang juga mengantre sambil membaca novel ini. Kalau dia tidak sedang membaca novel ini, saya jadi tidak bisa mengintip isinya. Kalau saya waktu itu tidak mengintip, saya tidak akan tertarik dan mencarinya di Gramedia. Ternyata ada berkahnya juga tinggal di Jakarta.

Dan tidak disangka, kemampuan jualan saya tidak butut-butut amat: Ajeng jadi tertarik mau membaca novel ini juga!

Sunday, May 10, 2015

Manners

I had it wrong the first time.

Pak Yudi was still parking his car, so it’s just Bu Nana and I who went to meet them at the hotel lobby. With introductions out of the way, we start heading to Sate Khas Senayan. It occured to me, that maybe I should ready the table for them, just in case the place is full? It is Friday night after all, and as it is, Jakarta has too many people. So I bade my leave awkwardly.

To find that my initiative was practically useless: only a third of the tables were occupied. I easily spotted a table of six that would be good for the five of us, and waiting, fidgeting, thinking that I had it wrong the first time. If I had just stayed, building rapport with them would have been easier with small talks.

Tuesday, April 7, 2015

Recehan

Mas Efendi, manajer administrasi dan keuangan kantor saya mengirimkan pesan agar kami tidak meninggalkan barang-barang berharga di meja kantor. Di e-mail yang sama, ia lanjutkan bahwa tukang-tukang akan mulai merenovasi kantor kami mulai minggu depan.

Sekilas saya edarkan pandangan ke barang-barang yang terserak di meja saya. Tumpukan dokumen aneka rupa. Kumpulan pulpen yang penyok ujungnya. Satu eksemplar buku panduan penelitian. Selembar kartu pos dari Pittsburgh. Segenggam kepingan recehan.

Recehan juga uang. Haruskah saya mengamankannya?

***

Recehan juga uang. Ini sebabnya saya pernah sakit hati pada pengamen di Pasar Balubur yang melemparkan balik keping dua ratusan rupiah saya sambil bersungut-sungut. Lah kalau ga mau dapat receh jangan ngamen Mas! Tumpukan recehan kalau dikumpulkan juga bisa berharga!

***

Jangan salah sangka, tumpukan recehan di meja saya ini bukan hasil mengamen. Suara saya yang sumbang dan mimik saya yang tidak mengancam rasanya akan membuat saya gagal mendapatkan sekadar keping-keping ratusan kalaupun saya memaksa berdendang di jalanan.

Keping-keping ini adalah kumpulan kembalian, dari pembelian tiket TransJakarta koridor enam, dari kopaja-kopaja yang melaju serampangan, dan dari jajan gorengan. Risih mendengar dencing-dencing koin di kantong celana, saya biasa lemparkan mereka ke sudut meja ketika saya sampai di Salemba.

Dengan adanya onggokan koin di meja, ketika melihatnya kadang saya merasa saya ini kaya.

***

Tidak susah menanamkan pemahaman bahwa recehan adalah status kekayaan ketika di masa kecil Donal Bebek menjadi sumber bacaan rujukan. Bayangan Paman Gober yang berenang-renang senang di kolam recehan menjadi penguat imajinasi bahwa yang punya segalanya belum tentu kaya.

***

Maka ada dua memori yang mengingatkan saya tentang rasanya menjadi kaya. Yang pertama adalah ketika celengan ikan yang sering saya timang-timang bagai gada kesayangan digorok di akhir suatu tahun ajaran SD. Dari perut merah jambunya yang terburai saya dapatkan seratus ribu. Senyum saya terkembang tak padam-padam, membayangkan kesenangan bisa membeli apa yang saya mau kapanpun saya berikutnya ke toko buku.

A penny saved is a penny earned.

Memori kedua adalah ketika saya pertama kena tilang. Saya yang mendongkol bersumpah hanya akan mau membayar dendanya dengan recehan, dan rasanya saya memang punya cukup banyak recehan. Di pengadilan, usai hakim menetapkan denda yang harus saya bayar, saya menjinjing kresek saya yang penuh berisikan keping-keping ratusan dan lima ratusan ke ibu penerima pembayaran. Ia langsung tergelak melihat apa yang saya bawa.

***

Sementara itu, rasanya koin yang berserakan ini belum seberapa bernilai. Saya bahkan tidak tahu berapa jumlahnya. Hitung punya hitung, ada belasan ribu terkumpul dari dua puluhan koin lima ratus rupiah, dua ribuan dari belasan koin dua ratusan rupiah, dan seribuan dari sisa koin seratusan rupiah. Dengan kertas bekas saya gulung receh saya menjadi bentuk-bentuk tabung, berdasar besar ukurannya. Selasa malam saya tinggalkan tabung-tabung ini di pojok meja yang sama.

Langkah pulang saya ringan, dengan absurd akhirnya merasa kerja mulai membuat saya kaya.

***

Perasaan ringan ini bertahan hingga Kamis pagi, ketika di kantor saya dapati gulungan lima ratusan rupiah saya menghilang. Kamis pagi, ketika di kolong meja saya kini terpasang soket listrik baru hasil pekerjaan renovasi para tukang.

***

Saya merutuk pelan. Ah! Kenapakah tidak saya dengarkan nasihat Mas Efendi?

Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan buat apa pula saya merisaukan belasan ribu saja? Receh sebanyak itu masih tak akan cukup untuk membeli penganan di mal. Uang sebanyak itu bahkan mungkin tak cukup untuk membayar pajak yang dikenakan pemerintah ketika saya dan teman teman berkumpul di mal. Koin sebanyak itu harusnya tak bikin saya risau.

Saya tidak risau, tapi saya juga tak habis pikir, untuk imbalan yang sedemikian kecil, tidak terusikkah si pengutil dengan keburukan perbuatannya? Paling banter saya pikir ia hanya akan dapat sebungkus rokok dari receh saya. Sementara itu, kalau dia beriman pada surga dan neraka, tidakkah ia akan merasa receh ini akan menggelayutinya sebagai dosa?

***

Lalu akan saya apakan sisa tabung uang dua ratusan dan seratusan yang masih ada di meja? Haruskah saya pindahkan ke tempat aman? Tapi betapa meremehkannya saya, mengira uang yang tak sampai tiga ribu rupiah ini akan bisa menggoda iman orang. Jumat menuju akhir pekan, saya tinggalkan dua tabung ini tetap teronggok di pojok.

***

Selasa pagi, saya dapati tabung seratusan rupiah saya kini teronggok sendiri.

Wednesday, March 18, 2015

Six-pack

I imagine the guys working out in a gym are there for one reason only: to get a sixpack abs.
Agak tolol sih, maunya perut kotak-kotak kok malah latihan beban buat tangan.

Sunday, March 8, 2015

Apa Maksud Setuang Air Teh

Pandangan saya tertumbuk pada A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh) karangan Syahmedi Dean ketika saya mengobrak-abrik tumpukan buku obral di Mal Ambasador. Nama pengarangnya yang familiar membuat saya menimang-nimangnya sebentar, lalu memasukkannya dalam keranjang belanja. Sudah lama sekali sejak saya baca bukunya yang pertama: J.P.V.F.K. (Jakarta Paris Via French Kiss), dan saya teringat bahwa buku pertama itu menyenangkan sekali untuk dibaca: saya jadi berkenalan dengan merk-merk fashion terkenal, dinamika jurnalisme mode, dan benturan-benturan norma antara dunia fashion dan adat ketimuran yang dipegang Alif, salah satu tokoh utamanya.

Dari mana lagi saya yang hampir tipikal mahasiswa gembel ITB waktu itu bisa mengerti kata haute couture yang dilontarkan Uphie ketika kami latihan debat? Atau tahu bahwa huruf H merk Hermes tidak dilafalkan? Saya jadi tahu bahwa aksesoris-aksesoris dari merk-merk yang berseliweran itu harganya bisa mencapai puluhan dan ratusan juta.

Saya curiga dulu saya melihat diri saya seperti Alif, yang digambarkan tetap teguh sembahyang, menampik minuman keras meski di lingkungan yang bertolak belakang.

Dan ini membuat saya bingung ketika tahu-tahu Alif jadi "pejojing seronok". Iya, dia gundah tidak lagi bisa memenangkan hati Saidah mantan istrinya. Bolehlah saya percaya dia kalut mengurus majalah yang dia dirikan bersama tiga teman terdekatnya (Raisa, Didi dan Nisa). Tapi mencari pengalih perhatian, dengan menerima tantangan untuk menari striptease dari tokoh yang bahkan tidak pernah disebutkan hingga di halaman 173? Terlalu dipaksakan, sepertinya. Anehnya lagi, untuk sesuatu yang akhirnya begitu menekan reputasi, konflik tentang hal ini seperti terlupakan selama berpuluh-puluh halaman, hingga ketika rahasianya terbuka, hidup Alif berubah semua.

Mungkin memang terlalu banyak konflik yang ingin dijalin Dean untuk Alif dan ketiga tokoh utama lainnya. Raisa harus membuktikan diri keluar dari citra anak manja, memenangkan cinta Alif, dan pergulatan dengan busana identitas agama. Nisa yang hamil di luar nikah harus bersitegang dengan orang tuanya. Didi tahu-tahu terseret kasus konspirasi politik orang tuanya. Dan banyaknya konflik ini tahu-tahu selesai di akhir ketika Nisa meninggal setelah melahirkan, Didi dipecat dari posisinya, dan Alif tewas ketika kantor majalah mereka diamuk massa yang memprotes gambar sampul edisi terakhir mereka yang seronok.

Terlepas dari plot, saya temui juga beberapa kesalahan tipografis, Raisa yang tiba-tiba berubah menjadi Nisa di dialog halaman 209, dan tanda-tanda hubung yang terselip di tengah-tengah baris kalimat. Yang paling mengganjal adalah penggunaan kata loose yang harusnya lose ("I have nothing to loose", p.189), dan proove alih-alih prove ("Let's proove it", p.154). Tolong jangan ingatkan saya dengan kata miscalled di halaman 140.

Ini bukan berarti penulisan Dean buruk. Jauh dari itu, malah. Pilihan kata-kata bahasa Indonesianya renyah, dan saya juga menemui kata bersirobok di sini.

Selain itu, ada beberapa bagian yang menyentuh. Salah satunya adalah ketika Alif dan Saidah bercengkerama di KBRI Perancis dengan waria korban perdagangan manusia yang melarikan diri dari Eropa Timur lalu mencari suaka. Bagian lain adalah ketika Raisa mengeluarkan sumpah serapah karena Audi yang ditumpanginya hampir ditabrak oleh motor--sejurus kemudian Alif bertemu dengan kurir yang mengendarai sepeda motor tersebut, gemetaran hampir menabrak mobil mahal sembari merutuki si kaya, tanpa tahu bahwa itu adalah mobil Raisa. Terakhir, sesuai dengan label genre metropop yang disandangnya, tanpa menggurui A.M.S.A.T. mengemas tentang masalah-masalah aktualisasi diri lewat profesi.

Jadi, apakah ini buku yang buruk? Tidak juga. Coba saja baca dulu, siapa tahu suka juga.

Monday, February 16, 2015

Kelimun Berduyun

Akhir pekan ini, saya membaca artikel majalah The Economist yang menarik. Di situ, disebutkan bahwa skema seperti Teach for America mulai menyebar ke belahan-belahan dunia yang lain. Dari Chili ke Haiti; dari India hingga ke Lithuania ("I Choose to Teach") dan Latvia ("Mission Possible").

Banyaknya gerakan-gerakan serupa ini mungkin bukan berita baru untuk teman-teman yang ada di balik layar Indonesia Mengajar (yang saya dengar mendapat lawatan Teach for Malaysia)--tapi bagi saya, ini jadi membuat saya girang membayangkan banyaknya orang-orang muda (seperti alumni pengajar muda!) yang mencoba meninggalkan jejak-jejak kebaikan. Tidak mungkin rasanya mereka terpanggil dengan slogan-slogan yang sama: untuk "Melunasi Janji Kemerdekaan", atau untuk menawarkan jawaban bagi pesan "Ibu Pertiwi Memanggil", tapi toh berduyun-duyun juga mereka mendaftar. Artikel itu menyebutkan bahwa rata-rata pelamar yang diterima hanya sepersepuluh yang mendaftar. Saya harus akui di sini saya berhitung sederhana, lalu merasa jemawa. Sepersepuluh? Masing-masing pengajar muda angkatan kelima saja menyisihkan lebih dari seratus pendaftar! Di tiga bulan pertama, seperlima pengajar angkatan pertama program di Chili menyerah? Lemah! (Iya, saya ini songong sekali.)

Selain itu, menyenangkan sekali menerka-nerka tantangan seperti apa ya yang para pengajar gerakan serupa itu alami di negara mereka masing-masing. Haruskah mereka mengarungi laut untuk menuju sekolah dari kota? Adakah tempat mereka mengajar yang beku terisolir salju ketika musim dingin--alih-alih lumpur laknat ketika musim hujan? Atau mereka justru mengajar di sekolah-sekolah terpinggirkan di pusat-pusat keramaian kota? Apakah mereka juga menghadapi komentar-komentar cemar yang menyangsikan kemampuan mereka mengajar?

Ah tapi kan pengajar muda dipuji tidak terbang, dikritik tidak tumbang. Walaupun bisa jadi kadang-kadang doyong-doyong juga perlu pegangan. Untuk masa-masa rentan dirundung pertanyaan "Apakah mengajar satu tahun bisa membawa perubahan?", saya beberapa waktu yang lalu menemukan satu studi yang bisa jadi penguatan.

Studi ini hasil buah pikir seorang profesor Harvard, Raj Chetty. Beliau adalah seorang akademisi cemerlang, dapat Clark Medal, dan dapat tenure (jabatan tetap guru besar) di UC Berkeley di usia 27. Saya tahu sih ketika selesai penugasan, alumni pengajar muda dihimbau untuk tidak membanding-bandingkan diri, tapi ya tetap saja saya merasa bagai butiran debu ketika tahu hal itu. Dua puluh tujuh tahun, beliau dapat tenure, sementara saya... ya sudahlah. Salah sendiri juga hari Minggu kok ambisius nonton video konferensi AEA. Fix, saya ini kurang piknik.

Mari kita kembali ke studi yang saya bilang tadi saja: di studi itu, Raj Chetty menyajikan data dampak guru ke murid-muridnya hingga mereka dewasa. Kita mafhum, guru bagus bisa meningkatkan pemahaman materi muridnya. Mampu matematika, cakap berbahasa. (Chetty menunjukkan nilai anak-anak yang mendapat guru bagus ini naik.) Tapi selepas diajar guru bagus, apakah kemajuan itu lalu perlahan-lahan tergerus?

Ternyata, data menunjukkan bahwa murid-murid yang mendapat guru bagus tidak hanya punya skor ujian yang lebih baik. Tapi, mereka juga lebih cenderung melanjutkan kuliah, memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi, dan memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk hamil di usia remaja. Perbandingan dengan data pajak pendapatan di Amerika ini juga menunjukkan bahwa dampak diajar guru bagus selama setahun ini bisa meningkatkan pendapatan si murid sebesar ~1 milyar rupiah selama masa hidupnya. Lumayan lah, kalaupun jadi guru ga bisa bikin kaya, paling ngga bisa memberi kesempatan muridnya hidup sejahtera. Walaupun saya akui terasa miris juga mendengar cerita Patrya, yang bertandang kembali ke penempatan lalu dipameri mantan murid yang sudah bawa momongan. Saya bergidik membayangkan percakapannya lalu dilanjutkan dengan pertanyaan, "Kamu kapan?"

Karena bagi saya, lebih seru kalau pertanyaan lanjutannya tentang dampak guru-guru tidak bermutu. Dan di sini saya merasa ngenes membayangkan murid-murid yang tidak beruntung mendapatkan guru-guru seperti itu: kemampuan kognitif tidak berkembang, tak bisa berharap banyak pada masa depan. Di paparannya, Chetty mengulangi saran memberhentikan guru-guru berkemampuan lemah dengan (setidaknya) guru berkemampuan setara rata-rata. Saya bayangkan saran ini tidak bisa serta-merta diterapkan. Pasti ada banyak perdebatan, mulai dari bias kriteria pengukuran mutu hingga penggajian yang layak dan banyak hal lagi.

Tentang bias pengukuran mutu, harus diakui penyelidikan mana sebab dan mana akibat memang perlu. Terbersit juga di pikiran saya, agak tautologis juga kalau bagus-tidaknya guru dinilai dari kemampuan mereka meningkatkan nilai ujian muridnya. Jangan-jangan guru jadi bagus itu karena murid-muridnya bagus, mereka yang dari kalangan berada dan orang tuanya rela memberi bimbingan ekstra. Namun, Chetty menunjukkan bahwa kriteria ini tetap bisa dipertimbangkan, karena perhitungan mereka menunjukkan kalau variabel tingkat pendapatan orang tua itu ortogonal dengan kriteria mutu berdasarkan hasil ujian (silakan tilik halaman 22-25).

Tentu mungkin ada variabel lain yang terlewatkan untuk diperiksa ortogonalitasnya. Dan hal ini mungkin menjadi bagian dari argumen sanggahan saran yang diajukan. Asal berbasis data atau analisis yang kuat, saya sendiri melihat saran apapun dan berbagai sanggahannya adalah bagian penting dari proses pembuatan kebijakan yang ideal. Terkadang kita perlu menggunakan narasi cerita agar data bisa bermakna, tapi begitupun tak apa asal kita sadar dengan batas-batas bias yang tersaji dari penggunaan cerita alih-alih data.

Jadi, apa simpulan dari lanturan ini? Saya sih hanya ingin mengagih tulisan-tulisan menarik, yang di antaranya bisa digali dari tautan-tautan di sepanjang lanturan ini. Selebihnya, silakan ditarik sendiri. Dan kalau ada yang menyimpulkan bahwa ini menunjukkan saya ada di titik gawat darurat keseriusan, boleh lho saya diajak bergembira macam lazimnya anak muda--walaupun sudah ada satu-dua yang bilang gaya bahasa tulisan saya macam angkatan Balai Pustaka.

Tapi saya pikir-pikir lagi, biar saja ding, kan angkatan Balai Pustaka akan terus terpatri di lubuk pikir para cendekia. Siapa tahu saya suatu hari bisa menyamai mereka!

Monday, February 9, 2015

Perlu

Akhir 2012, banyak teman menjawil saya di dunia maya.

"Tonton Life of Pi, Syhur," kata mereka.

"Lo katanya ngajar malah main film," sergah teman lain lagi.

Ketika saya sempatkan melihat film itu, saya sudah bosan menyanggah kemiripan saya dengan pemeran utamanya. Harus diakui memang, paling tidak dekilnya sama antara Pi di Pasifik dan saya di Banggai.

Tapi menurut mereka kemiripan ini tak cuma tentang perawakan Pi saja. Teman-teman saya terbahak melihat saya menyanggah anggapan mereka bahwa upaya Pi menghafal nilai konstanta pi itu tipikal kelakuan saya. Ketika keluarga Pi berkomentar bahwa tiap minggu ia punya agama baru, saya diam saja deh biar digoda-goda juga.

Friday, February 6, 2015

Entrok is not a happy story

Just before picking up Okky Madasari's Entrok, I was feeling a little bit weary. I have finished nine books in 2015, and I had been finding it hard to connect to the characters.

I finished The Name Of This Book Is Secret, and I found the characters too simple. Catch-22 disarmed me to involuntary chuckles, but overall it was too thick with non-sequiturs. I'm not even sure the story is being told chronologically. Meanwhile, Eugenides' stealthy sleuthing in the Attolia series was too crafty for me to associate myself with.

So I was only half-heartedly picking up Entrok. I braced myself by thinking, "At least I'll have one fewer book in my to-read pile after this."

*****

Entrok started with a daughter telling her mother of a much-awaited happy news. Despite the happy news, though, you get the sense that something really bad had happened and the daughter blamed herself for her mother's senility. The contradicting atmosphere of her regret piqued my interest enough to keep me continue reading.

And I can't put it down until I finished it two hours later.

The story itself is told alternatingly between the mother (Marni), and the daughter (Rahayu).  With a story that encompasses 40 years of their lives, it provides ample food for thought with its diverse topics. The topic ranges from marital infidelity and aspiration of moving socially upward, to clashes of theological beliefs and fighting injustice masquerading as march of progress as peddled by an authoritarian regime. Such amazing breadth, without coming across as condescending or preachy.

It was very easy to relate to. With no effort at all Marni made me think of my own mother. Not only because she poured all her efforts to her daughter in hope that her daughter would have had a better living, but also how she was hurt when her only daughter misunderstood her belief.

Aku membenci Ibu. Dia orang berdosa.
Aku membenci Ibu. Kata orang, dia memelihara tuyul.
Aku membenci Ibu, karena dia menyembah leluhur.
Aku malu, Ibu.
"Yang kuasa itu Gusti Allah, Bu. Bukan Mbah Ibu Bumi," kataku dengan suara keras[.]
"Sampai setua ini, sampai punya anak sebesar kamu, Nduk, aku tidak pernah tahu Gusti Allah. Mbah Ibu Bumi yang selalu membantuku. Mbah Ibu Bumi yang memberiku semua ini. Apanya yang salah?"
Dia bilang aku ini dosa. Dia bilang aku ini sirik. Dia bilang aku penyembah leluhur. Lho.. lha wong aku sejak kecil diajari orangtuaku nyembah leluhur kok tidak boleh.[...] Dia bilang hanya Gusti Allah yang boleh disembah. Lha iya, tapi wong aku tahu Gusti Allah ya baru-baru ini saja. Lha gimana mau nyuwun kalau kenal saja belum.

That is why Marni's story resonate especially loudly for me when her belief clashed with her daughter's. I see my mother's likely perspective in her bafflement why her daughter is bent on her new belief while she had had a belief that was good enough. I see myself in Marni, because she faced ostracism from her society for her traditional belief--I can imagine it's the same ostracism society will direct to me for my being in the minority with my lack of belief. Marni is a rich character.

It was also remarkable how topical the struggles she pictured in this book could be. Given that the land conflict Rahayu faced was set in the 1980s, one can only marvel of its similarities with the struggles in Rembang. On a more global level, the same narrative of conflicts wouldn't be out of place in the Arab Spring.

At the end of the story, I learned why Marni was the way she had been in the prelude, and it was a cue to start reading again from the beginning.

*****

Reading Entrok made me felt giddy, conflicted, happy, and dejected at the same time. What a great story! On which sides would I be: Marni's or Rahayu's? Rahayu's or the government's? At least Rahayu in the end got a normal ID card! But life is horribly unfair, if all Marni's hard work in building a fortune amounts to nothing in the end!

With everything that it offers, it felt sacrilegious that I bought Entrok because it was dirt cheap in the bargain bin. IDR 10,000 for a great novel is a definite sacrilege when my dinner at a warteg costs me more than that. And because rating it in goodreads only took 3 seconds, it somehow did not leave me feeling satisfied that I've addressed this sacrilege properly.

So you understand, this review is partly to redeem that.

How else would you redeem yourself for a five-star book?

Sunday, February 1, 2015

Jelai

Ini pint bir keempat dan ini waktu yang tepat untuk merenungkan dunia. Ketika aku minum separuhnya, apakah gelas ini separuh kosong, atau masih separuh isi? Jika mereka punya kesadaran, apakah jelai-jelai yang dikecambahkan menjadi malt bahan bir ini memilih jadi bir? Atau jadi roti, mengenyangkan? Atau tumbuh jadi jelai baru?

Apa pula bedanya masing-masing kita dengan tanaman jelai ini? Si jelai bisa bermimpi merintis ladang baru; kita bermimpi jadi presiden untuk mengisi waktu. Usai panen, ia rekahkan akarnya jadi kecambah malt, hanya untuk mengalami hilangnya air pembawa pertumbuhan.

Tidak ada ladang baru untuk jelai ini. Malt tidak mengubah dunia.

Ini saatnya pint kelima.

Friday, January 2, 2015

In 2014 I learned that...

I can live with heartbreaks.

To be honest, it's not like I have any other options anyway. But 2014 was remarkable in the way it set me up for heartbreaks, serving up one at its very dawn, when I packed my stuff to leave Batui 5.

Shit, it has been a year and now I'm getting sentimental again.

So probably it's best that we don't revisit that heartbreak and the subsequent couple of heartbreaks that followed in 2014.

Let's just live.