Saturday, November 30, 2013

Jadi PM!

//reposted from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/jadi-pm



Tahun lalu, teman-teman saya khawatir ketika tahu saya akan bergabung dengan IM. "Kamu kan takut sama anak-anak, Mas?" Iya sih, tapi yang waktu itu saya tidak sadari adalah anak-anak juga bisa takut sama saya, karena saya orang baru. Tapi nyatanya tidak sampai satu bulan saya bukan lagi Pengajar Menakutkan: yang ada saya digelayuti saja.

Ini yang bikin agak rikuh juga ketika saya diundang bertandang ke rumah PJS kepala desa. Saya diminta membantu urusan manipulasi grafis, tapi ketika di sana justru anak-anak tetap menggelayut. Walaupun sejujurnya, saya lebih pilih bermain dengan anak-anak daripada harus menjadi Pemalsu Muda, membuat tiruan kartu keluarga untuk warga yang tidak pernah menyempatkan diri mengurus KK di kota.

Wajar sih, karena jarak ke kota lumayan jauh. Untuk ke kecamatan saja perlu waktu satu jam naik motor. Masih untung kalau pas ke kecamatan, ada Pak Camat bisa ditemui di kantornya. Kalau tidak ya berarti buang uang bensin percuma. Menyebalkan memang, sementara kalau mau beli bensin di POM antriannya panjang. Dan kalau menuju POM sambil pakai rompi IM, ada banyak pengendara dengan rompi serupa di jalan, membuat kami sering disangka Pengojek Muda.

Kami memang tidak bisa berbuat apa-apa dengan rompi yang mirip tukang ojek atau pegawai survei BPS, tapi saya pribadi sempat berharap jadi PM berarti bisa menjadi Penjelajah Muda. Lumayan kan, kalau ternyata bisa singgah ke Togean.

Sayangnya, harapan itu tidak jadi kenyataan. Paling jauh kami baru sampai kecamatan Pagimana, Luwuk Timur, dan Toili. Nuhon batal disambangi, Bunta hanya dengar nama, daerah kepala burung, apalagi. Biar begitu, menjadi PM berarti tetap harus siap singgah dan menginap di banyak tempat. Sementara, volume tas terbatas berarti tak banyak baju ganti yang bisa dibawa. Ini sebabnya kenapa kami ke mana-mana siap sedia sabun cuci, agar bisa menjaga standar higienis baju yang dipakai. Putra-putri terbaik bangsa, menjadi Pencuci Muda.

Menjadi Pencuci Muda jelas bukan pekerjaan hina. Karena kalau bisa mencuci, itu berarti sedang ada air di Batui Lima. Dengan air berlimpah, hidup tak tersiksa. Tanpa air, untuk sekadar buang air saja seorang Pengajar Mules dari kota tak berdaya. Melas.

Selain mensyukuri air, saya bersyukur tidak mengalami apa yang harus dialami Ika: menjadi Pengusir Memedi yang merasuki muridnya. Tapi sebetulnya cocok sih bagi Ika, dari sejak microteaching di pelatihan saja dia suka makan-makan bunga.

Di sini, saya cuma kadang pening terlalu lama melihat layar komputer. Pening ini datangnya periodis: sekitar waktu ujian semester, akreditasi sekolah, dan supervisi. Karena itu adalah waktunya menjadi Pengetik Muda, berjibaku dengan layar dan pencetak, mengubah tulisan tangan guru-guru menjadi ketikan soal yang bisa dibagikan ke murid satu-satu.

Padahal, sementara mengetik, saya juga harus berjaga-jaga menghalau anak-anak yang siap merubung setiap saya membuka laptop. Demi kerahasiaan ujian, jelas mereka tidak bisa dibiarkan mendekat ketika saya mengetik. Pilihannya lalu ada dua: menunggu guru-guru lain menjadi Pengajar Murka yang menghardik mereka, atau mengalihkan perhatian mereka.

Sejauh ini, paling mudah mengalihkan perhatian dengan teknologi serupa: kamera saku. Dengan anak-anak yang tidak malu-malu, mereka bisa dibujuk tenang dengan iming-iming bisa meminjam kameraku. Tidak banyaknya orang yang punya kamera di desa membuat saya rentan mencolok sebagai Potografer Muda.

Meski begitu, jadi PM itu lebih dari sekadar menjadi Pengajar Muda. Pengajar Menakutkan. Pemalsu Muda. Pengojek Muda. Pencuci Muda. Pengajar Mules. Pengajar Melas. Pengetik Muda. Pengusir Memedi. Pengajar Murka. Rentetan titel itu mungkin akan saya dapat kalaupun saya tidak jadi Pengajar Muda. Disangka ojek. Jadi tukang ketik. Merana mules. Tapi ketika cerita ini terjadi selama perjalanan satu tahun terakhir, cerita ini menjadi Pengalaman, dengan P besar.

Karena jadi PM itu Pergi Mengalami.

Wednesday, November 27, 2013

Haram Jadah Bahasa Jawa

//reposted from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/haram-jadah-bahasa-jawa

Tahun lalu, ketika diumumkan bahwa saya akan bertugas setahun di daerah transmigrasi yang banyak orang Jawanya, saya bersyukur dan menyesal. Bersyukur dengan asumsi rintangan saya berkurang satu: kendala bahasa. Menyesal karena dua alasan: 1. Bahasa Jawa saya acakadut, saya tidak bisa berbahasa krama inggil, dan 2. asumsi bahwa kuosien kekerenan saya pasti tidak setinggi Luqman yang ditempatkan di daerah Bajo, atau Lilli di daerah Saluan.

Yang jelas, sejak saat itu program Kamus Bahasa Banggai yang saya unduh minggu sebelumnya jadi terlupakan. Dan ternyata memang meski daerah ini memiliki nama kabupaten Banggai, untuk mencari orang yang bercakap-cakap dengan Bahasa Banggai kita harus menyeberangi Selat Peleng dulu ke Pulau Banggai di Kabupaten Banggai Laut atau ke Pulau Peleng di Kabupaten Banggai Kepulauan.

Di daerah dengan banyak orang Jawa, saya berasumsi kalaupun bahasa Jawa saya membuat orang mengernyit, saya masih bisa mendengarkan warga bercakap-cakap. Betul ternyata, mendengarkan itu gampang. Mengerti apa yang mereka percakapkan, itu lain soal.

Bahasa Jawa yang mereka pakai kok macam haram jadah dari Bahasa Jawa yang saya tahu selama belasan tahun saya hidup di tanah Jawa? Tersembunyi, hidup di tanah pengasingan dari saudara-saudaranya.

"Mesakke, Pak Fulan ket mau ngluru bensin," ujar Ibu. Kasian, Pak Fulan dari tadi ngluru bensin. Apa itu ngluru? Ngelu? Bensinnya meluruh? Atau dibuat tidur (turu)?

"Iki lho, sayure isih mberah," kata ibu kandungnya Pak Kepsek. Ini lho, sayurnya masih mberah. Apa itu mberah? Sayur apa yang masih mau diperah? Atau itu keluhan sayurnya masih berwarna merah? Tapi kami sedang makan sayur popoki (terong) yang hijau sih sebetulnya.

Dengan makna ucapan yang jelas berbeda, kedekatan ujaran mereka dengan kata Bahasa Jawa yang saya tahu membuat saya hanya mengangguk-angguk sopan.

Dengan mereka, saya tak bisa bertanya macam dengan murid saya. Ketika kali pertama bertemu murid saya, mereka bilang, "Pak, nanti sore torang boleh bales?" saya yang kebingungan balik bertanya "Apanya yang dibales?" "Ba-les, Pak," "Apa itu?" "Belajar sore Pak," "Ooooo."

Dengan ibu kandungnya pak Kepsek, aneh dan sungkan rasanya kalau saya harus bertanya, "Mberah niku nopo to Mbah?"

Nanti dia makin terpingkal-pingkal. Macam ketika dia tahu bahwa saya berdarah Jawa. "Oaalaaah, lha gene wong Jowo." Ternyata orang Jawa, dia bilang. Dan makin bertekadlah dia untuk membuatku bisa berbahasa Jawa dengan sesuai dengan pakem Jawanya. Ketika dia bisa sukses membuat menantunya yang orang Lombok untuk berbahasa Jawa sehari-hari, jelas menurutnya kecil saja untuk mengubahku menjadi Jawa fasih.

Menurutku, bisa jadi ini adalah varian bahasa Jawa bagian utara yang benar-benar asing bagi saya. Keluarga kepala sekolah saya dan orang-orang sekitarnya berasal dari Jepara, Jawa Tengah bagian utara. Bagi saya yang berasal dari Klaten di bagian selatan yang hampir tak pernah menginjak Semarang dan sekitarnya, saya hanya tahu kalau budhe saya yang tinggal di Semarang memanggil sepupu laki-laki saya dengan panggilan "Nang". Padahal namanya Bagus.

Ketika di sini hampir semua orang memanggil anak laki-lakinya dengan sebutan serupa, saya coba simpulkan bahwa ini adalah Jawa variasi utara.

Haram jadahnya bahasa Jawa ini makin sulit ditebak larinya ketika dia kawin-mawin dengan bahasa Manado pasar. Jadilah ia bahasa Jawa yang lari dikuntit partikel "te". "Sudah kamu matikan, te?" "Iya, te?"

Aku pikir aku sudah tidak akan bertemu partikel "mo" setelah kabur dari Jepang ke Sulawesi. Tidak terbayang juga aku akan bergelut dengan partikel "te" ketika aku tidak berada di Bandung. Bahasa teh memang rumit.

Sunday, November 24, 2013

Watching, Talking, Changing

Talking to Ria is hard.

And I'm not just referring to the obvious logistical necessities.

You see, I don't really have signal reception in my village so the number of outgoing phone calls I've made during the year from Batui V can be counted off with a single hand. Add that to my preexisting inclination to avoid phone calls and the reason become obviously evident.

I wished that my time in places awash with cell signal were freer; that I'd have more time to connect with friends. Alas, that isn't the case with me having to spend three months trying to get in touch with my sister. I guess I'd have better luck trying to get through to the President of Burkina Faso than to her. The thing is, after the fifteenth failed call or so, I'm drained off the energy to place another call to other person, be they friends or family. So forging connections fell to the wayside.

On the other hand, though, it's not like Ria—or any PM, really—have abundant free time. If we're not being busybodies in our local Dinas Dikpora, then chances are we'll be made busy by our students. If only for a trip to the river or jungle. On the odd times that I get through, my call would come at an inopportune time.

Yet those aren't what make things hard. Because despite the absence of calls, the smattering of messages from her often give me pause.

One of the noteworthy one was when I messaged her, telling that we'd had hoots of laughter watching her episode of Lentera Indonesia. For me, it was the first episode that I watched in entirety with friends where we can miss the key messages to make juvenile remarks on the episode.

"Wah ada colokan listriknya!" I exclaimed.

"Waduh, waduh, duduk di meja," said Auliya.

"Product placement!" Yanti pointed out.

And of course, the obligatory, "Ebeeeeeh, iklan sampoo!"



When I told all that to her, though, she quipped a question that made me felt bad, "Emang episodeku sejelek itu ya?"

And so I learned a lesson how bullying could start innocuously. (Though admittedly, the notion of bullying Ria is rather.... uninstinctive. If anything, we're the ones who felt we'd shrunk under her glare.)

In retrospect, maybe our response was really provoked from nostalgia. That was really what it was like watching her when we were at the training camp together. Her mannerism was translated well. Down to her glares.

Has it really been a year since the 52 of us waved goodbyes?

Watching how at ease she was before a camera, we can only envy her. Watching how orderly her class was, *I* wished I could get my students to be as well behaved.

And then Luqman's episode was aired. Minus Lilli, all five of us sat in Wisma Radja to watch his episode. Afterwards, unaware that for other PMs the novelty of watching our friends on TV might've worn off, I sent shout outs to the group, clamoring Hey, look, temen gw masuk TV!

To which Ria quipped that didn't I consider the other PMs who've been covered my friends, too?

Touché.

It was only then that I thought to myself, the list of PM V who have been covered by Lentera Indonesia has grown long, isn't it? And I know these people! It will never cease to amaze me that I have the privilege of calling them my friends.

Movers. Shakers. Doers.

Four years ago, I am comfortable calling myself a cynic. Today, they have helped change that. Thank you, guys.

Saturday, November 23, 2013

Bahasa Baku di Jalan Berabu

//reposted from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/bahasa-baku-di-jalan-berabu



"Pai, kamari!" panggilku.

"Hihi, Pak Guru so macam orang sini, bapanggilnya kamari, bukan kemari," kata Pai setelah dia mendekat untuk melihat hasil kerja dia yang aku koreksi.

Percakapan ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, aku tidak sadar kalau kosakataku mulai berubah ketika berhadapan dengan orang lokal dan anak-anak di sini. Kini, hampir selesai masa tugas kami, tetap banyak kata-kata yang tidak aku mengerti. Apalagi kalau dorang sudah mulai bicara Bahasa Saluan. Saya tinggal angguk-angguk sopan.

Masa-masa akhir penugasan ini mengingatkan aku pada masa-masa sebelum aku pulang ke Indonesia. Saat itu, ketika ditanya apa rencanaku sepulang ke tanah air, aku biasa menjawab aku akan berjalan-jalan berkeliling Indonesia. Alasannya, kalau berjalan-jalan di Jepang ada kendala bahasa yang menjadi penghalang komunikasi, sementara di Indonesia aku bisa lebih mudah dimengerti. Paling tidak itu asumsiku.

Nyatanya, aku bingung juga mendapati orang-orang Makassar menambahkan partikel "mi" di kalimat-kalimat mereka. Orang Manado menambahkan "jo". Kudengar juga partikel "ji" di sana-sini. Dan aku pikir aku sudah bebas dari partikel-partikel asing yang bertebaran di Bahasa Jepang ketika pulang.

Di Kabupaten Banggai, kudapati kalimat-kalimat warga di sini banyak di akhiri dengan partikel "mo"; mulai dari "Pulang mo," "Makan mo," "Mandi mo dulu," sampai yang paling sering: "Biar mo." Atau kalau dengan Bahasa Saluan, "Pojohok mo."

Gembira rasanya ketika di akhir bulan ketiga aku mengobrol dengan Ika dan kami bisa merumuskan arti terdekat partikel mo ini: sama dengan akhiran -lah, atau saja. "Pulang saja," "Makan saja," "Mandilah dulu," dan "Biar saja."

Sayangnya rasa gembira itu tidak bertahan lama, karena lalu aku sadar ada bahasa lain yang belum aku pahami: bahasa baku.

Kalau di Jawa kita hanya menggunakan kata baku di artikel koran dan cuplikan berita (baku hantam, baku pukul), di sini kata baku adalah bahasa sehari-hari. "Iya, kitorang pe rumah baku hadap sama itu Ibu pe rumah." "Oh, Pak ada baku kenal juga sama Si Fulan?" "Sa kamarin ada baku bantu kasih berdiri rumah tetangga dulu Pak, makanya sa te pigi sekolah,"

Sempat terpikir kata baku ini padanannya kata saling. Tapi lalu di hari Sabtu aku dengar Pak Rusman guru kelas VI berseru pada anak-anak yang bekerja bakti, "Bekerja jangan baku rapat begitu!" Baku rapat jelas tidak bisa dipadankan dengan saling rapat. Terlalu rapat? Tapi baku bantu tidak bisa dipadankan dengan terlalu bantu.

Tapi mungkin tidak perlu juga mencari padanan katanya kalau memang tidak berterima. Toh sejauh ini saya bisa membuat saya dimengerti bahkan hanya dengan memendekkan kata-kata lazim: saya menjadi sa, ngana menjadi nga, punya menjadi pe, tidak menjadi te; menggunakan varian lokal yang lazim untuk kata-kata tertentu: ~nya menjadi de pe ~, kami dan kita menjadi kitorang, serta dia/mereka menjadi dorang. Saya juga mulai membiasakan diri menghindari penggunaan kata kita, karena nampaknya kata ini justru berarti kamu di sini. Aneh sekali rasanya ditanya, "Mau kamana kita?" oleh orang yang jelas-jelas tidak satu perjalanan dengan kita, eh, saya. Beapa nga batanya, nga mau ikot?

Kembali ke kata kamari, saya juga tidak mengerti apakah ada pakem perubahan vokal di kata-kata sehari-hari. Saya tidak mengerti kenapa pecah dibilang picah, besar dibilang basar, dan gelap dibilang galap, tapi kemah tidak dibilang kamah atau kimah.

Sementara itu, saya hanya bisa menerima kontekstualisasi kata-kata yang jelas tidak memiliki arti serupa di Jawa. Orang Jawa dan Sunda setau saya tidak bilang anak buah untuk menyebut anak (keturunan), yang sempat membuat saya kebingungan karena kok aneh sekali guru PJOK di sekolah saya punya pegawai dua ketika dia bercerita bahwa anak buahnya ada dua. Tidak juga ada orang bilang rabu-rabu, dabu-dabu, atau jalan yang berabu di sana. Kecuali memang kalau Gunung Merapi meletus lagi, barulah jalan berabu habis hujan abu. Selain itu, jalan hanya berdebu.

Dabu-dabu enaknya adalah teman makan pisang. Bikin rabu-rabu, jadi. Apalagi kalau digoreng pagi-pagi, nikmat habis merasakan mi paling enak: minyohat*!

----

*minyohat = mengolet, menggeliat

Sunday, November 3, 2013

Harapan dan Kebanggaan

//reposted from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/harapan-dan-kebanggaan



Saya senang Pak Kepala Sekolah menerima usul saya untuk mengumumkan peringkat hasil semifinal Olimpiade Sains Kuark (OSK) yang lalu di hadapan semua siswa ketika apel diadakan. Saya senang apelnya diadakan ketika bapak-bapak dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kab. Banggai datang berkunjung ke SDN Trans Batui 5 untuk acara Dinas Dikpora Mengajar 2013.

Karena di situ saya bisa dengan bangga mengumumkan bahwa I Putu Yoga Tunas Sugitha, murid kelas 6 kami, berhasil meraih peringkat 1 se-Kabupaten Banggai pada semifinal OSK level 3 bulan April lalu. Saya lalu minta sertifikat hasil tersebut diserahkan ke Yoga oleh Pak Tasman dari Dinas Dikpora. Rasanya segala jerih payah saya yang lalu pupus dihapus kegembiraan dan kebanggan atas harapan yang menjadi nyata. Ketika Yoga lolos ke semifinal di urutan ke-3 se-kabupaten di babak penyisihan, saya berharap sekali ia bisa mendapat hasil yang baik. Memang ia belum berhasil menembus babak final, tapi hasil peringkat 1 se-kabupaten ini adalah hadiah hiburan yang amat berharga. Saya hanya menyesal tidak bisa memberitahu langsung hasil gembira ini kepada ibunya. Ibu Yoga adalah orang tua yang sangat suportif meski ia sedikit protektif. Ia juga sering datang ke rumah saya untuk menjemput Yoga ketika Yoga belajar malam hingga agak larut, jam delapan lewat. Saya tidak bisa memberi tahu langsung selain karena Ibu Yoga bekerja di perkebunan kelapa sawit hingga sekitar pukul dua, saya juga harus ikut kepala sekolah saya untuk ikut mengiringi rombongan Dinas Dikpora yang hendak singgah di rumah kepsek sebelum mereka kembali ke Luwuk.

Usai rangkaian acara selesai, saya dan Auliya--yang tinggal bersama kepsek saya--berkemas-kemas untuk turun gunung ke Luwuk. Auliya hanya minta kami singgah di rumah orang tua Anisa, murid SD Inp. Ondo-ondolu SPC, yang juga mendapatkan penghargaan peringkat 3 level 2 se-kabupaten Banggai untuk menyampaikan langsung berita tersebut.

Ketika kami bertemu dengan Ibu Anisa di rumah kepala desa, Auliya lalu mengangsurkan sertifikat yang telah dibingkai cantik ke dia sembari memberitahu tentang hasilnya. Sontak Ibu Anisa mengucap, "Alhamdulillah," sembari mengelap sudut-sudut matanya.

Saya bersyukur saya tidak ikut menangis juga, tapi saya ikut terharu. Saya bersyukur bisa menyaksikan ini. Saya berpikir, kalau sebagai guru saja saya bisa menandak-nandak kegirangan mendengar prestasi yang diraih murid, apalagi orang tua murid-murid kami ini. Meskipun tentu saja ekspresi mereka bukan dengan melompat kegirangan, tapi saya bisa merasakan perasaan mereka yang meluap-luap juga.

These are the moments we live for. These are the moments to savor.

These moments touched me in a nostalgic way because in a way, I can see my past self in Anisa and Yoga. I can easily imagine Anisa's mother was my own mother too, when she was told that I made it to be our Kecamatan's representative in Kabupaten-wide math contest for 5th graders. And again when I showed her my trophy after I won the runner-up prize in kabupaten.

The nostalgia came too easily.

After Anisa's mother ruffled her hair and in cracked voice told her, "Terus semangat belajar ya Nak," she told Auliya how Anisa prefers to spend her recess time in library, reading. "Kowe ra pengen dolanan to nduk, moco terus," I mentally compared her to my 10-year old self. She was, of course, more fortunate with an abundant selection in her school's library. Unlike mine.

I can vividly recall how Yoga's mom recounted to me numerous times when she was picking her son that, "Sa sering suruh Yoga ini istirahat, Pak Guru, jangan terlalu banyak bebaca juga; nanti rusak de pe mata." I was effortlessly transported to my 13-year old self, lurking under the shadows in my room to ensure that I could finish the two new Harry Potter books I just got that day without any interruption.

Spending a year here, we are often touted as proofs that our mothers still bear fighters. That the lineage didn't stop with Bung Karno and Bung Hatta, but it lives on. Yet here I see that these Yogas and Anisas of Indonesia are the real evidence of that claim, not us. Most of us PM are privileged enough to have access to quality education; not these kids. They are the fighters of our future.

It's our task to ensure that the odds are forever in their favor.

Saturday, October 26, 2013

Di Balik Layar

//reposted from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/di-balik-layar



Tahukah kamu apa saja resepnya untuk membuat tulisan seperti Belajar Mencintai Indonesia?

Yang pertama, siapkanlah notebook yang baterainya penuh. Yang kedua, waktu dan tempat. Terakhir, anak-anak.

Tambahkan pula kesabaran dalam dosis tinggi untuk melakukannya di SDN Trans Batui 5. Karena di balik setiap cerita seperti di atas, ada banyak respon yang seperti ini:

"Pak, panas pak!" seru Riski.

"Pak Guru, haus Pak!" ujar Libra.

"Pak, saya di kelas saja, tidak usah ikut menonton," kata Niluh. Kali itu memang aku bawa mereka di ruang kepala sekolah untuk menonton karena aku berpikir ruang Kepsek sedikit lebih gelap sehingga aku bisa menggunakan proyektor genggam kami. Selain itu, karena ruang kelas kami harus berbagi dengan kelas 3, aku berharap anak-anak bisa lebih fokus menontonnya.

"Pak, tidak kedengaran suaranya!"

"Pak dorang baribut tidak mau diam."

"Badiam oi!"

"Pak, ijin kencing," ujar Liong sambil nyengir (dia tidak benar-benar mau kencing).

"Pak, kelas enam boleh ikut nonton?"

"Kelas tiga masuk sana woi!"

"Nia, kelas dua tidak boleh!" Mamat.

"Pak, dorang baribut!"

"Pai, kepala!" Arif.

"Pai, nga pe kepala bapele!" Anak-anak protes kepalanya Rifai menghalangi pandangan mereka ke layar.

"Pak, mengantuk pak."

"Beapa dorang ini Pak?" tanya anak-anak SMP yang melongok masuk ke ruang Kepsek karena penasaran. So much for creating distance from disruption.

"Pak, mencatat saja di kelas Pak, beh." Fitri.

"Pak, saya kembali ke kelas saja ya," Ayu.

"Pak, dorang Aksan dan Ari keluar Pak!"

"Badiam oi!" Libra.

"Paak, paa-naaas," Aksan.

"Pak, torang tadi tidak dapat istirahat." (Aku kasih mereka istirahat setengah jam lebih awal, tapi masuk setengah jam lebih awal juga agar waktunya cukup untuk menyelesaikan menonton. Tapi tentu mereka tahunya mereka masih asyik main bola, eh dipanggil masuk).

"Pak, dorang yang lain so pulang, Pak!" Lonceng pulang jam 11 sudah dipukul memang, sementara filmnya masih 10 menit.

"Yes, pulaaaaang!" ketika aku akhirnya membebaskan mereka pulang setelah filmnya selesai. Aku menghela nafas panjang.

Jujur saja, aku tidak tahu apakah murid-muridku mendapatkan pesan tentang menjaga keutuhan NKRI dengan bersikap adil dan melawan ketidakadilan sistemik yang menjadi tantangan Denias. Aku tidak yakin mereka mengerti kenapa "peta Indonesia"nya Denias disorot berulang kali. Mereka mungkin belum semua kenal letak relatif pulau-pulau besar Indonesia. Aku tidak yakin mereka mengambil hikmah dari nasehat gurunya ketika adegan Denias berkelahi dengan Noel--mereka ikut menyoraki perkelahian itu, macam kalau di kelas.

Maka kuhela nafas panjang di akhir hari pelajaran.

Ketika aku mengunci kantor guru dan bersiap pulang, Apri bilang padaku, "Ceritanya gagah tadi Pak, sa sampai tidak berkedip sama sekali."

Dan aku bisa tersenyum lagi.

Sunday, October 20, 2013

Menuju Ondo-ondolu (eps. 2)

//reposted from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/menuju-ondo-ondolu-eps



Pray, pray very much; but beware of telling God what you want.

-Pepatah Perancis

Di hari Selasa sore, sadar kalau saya meninggalkan stempel sekolah di laci di kantor, sementara saya sudah ada di SPC, saya akhirnya harus diantar oleh adiknya Pak Kepsek bolak-balik Ondo-ondolu SPC-UPT Batui 5-Ondo-ondolu SPC. Di jalan pulang, saya tanyakan jalan bercabang yang kami lewati di kanan jalan itu menuju ke mana. Pak Panuri jawab, jalan itu sampai ke Batui 5 juga di sungai perbatasan dengan Batui 4.

Saya separo bertanya-tanya, dengan saya bolak-balik lewat SPC begini kapan saya bisa menjelajah lewat jalan itu ya?

Hari Jumat siang, saya memutuskan untuk memberikan anak-anak pelajaran tambahan sebelum saya turun ke SPC, karena hari Sabtunya ada sosialisasi Padamu Negeri EDS siswa di Batui, saya diminta oleh kepala sekolah untuk hadir di sana mendampingi Pak Nurhuda sebagai operator sekolah. Praktis minggu itu saya hanya mengajar tiga hari seminggu. Selasa dan Rabu absen, Sabtu absen lagi.

Itu sebabnya saya baru pergi dari Batui 5 pukul 5 sore. Selain karena menunggu hujan, Mamat juga baru selesai mengerjakan 3 soal pembagian bersusun yang aku berikan pukul 5 itu. Aku buru-buru berkemas, pakai sepatu bot dan helm, lalu meluncur.

Di jalan, muridku Riski berteriak kepadaku kalau ada macet di jembatan. Tidak terlalu aku hiraukan, karena macet di jalan ke Ondo-ondolu dan Batui 5 adalah konsep yang jelas-jelas anakronistis: ketika jumlah motor dan mobil yang berpapasan dengan kami di sepanjang 18 km jalan batu menuju jalan poros bisa dihitung dengan sebelah tangan, bagaimana mungkin ada kemacetan di sini?

Baru di jembatan aku mengerti maksudnya.

Jembatan kami memang berlubang, dengan balok-balok kayu yang melintang dan membujur tidak terlalu berurutan, sekedar bisa dipakai melintas dari sisi satu ke sisi lainnya. Tak masalah bagi motor asal hati-hati tapi ternyata bisa menimbulkan petaka bagi pengguna jalan yang lain: truk.

Pas di tengah jembatan ada satu truk perusahaan sawit yang terhenti. Posisi moncongnya agak miring menghadap pegangan di tepi jembatan--alih-alih lurus menghadap jalan. Roda-rodanya sudah selip dan sebagian ada di palang-palang kayu sebelah bawah, sementara jalan aman harusnya lewat palang-palang kayu yang melintang di atasnya.

Jadilah truk itu gagal melintas, dengan posisi canggung di tengah jembatan menghadang akses kendaraan yang hendak melintas dari kedua arah.

Anak-anak yang pulang mengaji bisa berjalan tidak masalah, tapi motor, truk dan alat berat lainnya jadi tertahan.

Hari makin sore, anak-anak bersorak, "Hore Pak Masyhur tidak bisa lewat, harus bermalam di sini, bisa ke tempat Pak lagi malam ini dan pinjam buku cerita!" sementara aku meringis--meringis membayangkan aku wanprestasi ingkar janji menyanggupi perintah kepala sekolah untuk ikut sosialisasi.

Aku makin gelisah ketika anak-anak bilang, "Wah, ini sih sampai malam Pak!"

Aku lihat ada warga yang nekat menyeberang dengan motor di bagian tepi jembatan, di atas kayu-kayu yang paling terlihat lapuk. Seperempat bagian jembatan di tepi sudah berlubang karena kayunya patah dan jatuh ke bawah. Aku putuskan aku tidak berani mencobanya.

Aku tergoda mencoba jalan baru ketika Mamat bilang, "Lewat jalan TPTI saja Pak, yang di kuala (sungai) sana, jalannya bagus,"

"Pak tidak tahu jalannya Mat, baru sebentar lagi so maghrib dan gelap," jawabku.

"Ikut dorang saja Pak, dorang mau lewat sana juga," tunjuknya ke beberapa warga desa lain dengan motor di belakangku yang mulai putar haluan.

Betul juga, pikirku. Aku pun ikut putar haluan dan menguntit pelan-pelan. Hingga akhirnya sampai di sungai.

Dua hari terakhir, aku berharap langit terang dan tidak hujan, karena aku rindu main-main ke sungai lagi. Sekarang aku disadarkan lagi tentang kutipan pepatah Perancis yang bilang kalau manusia boleh saja berdoa dan berharap agar doanya didengarkan tuhan, tapi berhati-hatilah mereka kalau tuhan benar-benar mendengarkan doanya. Aku berharap bisa main ke sungai, kini aku dipaksa lewat di sungai.

Betul-betul lewat di sungai, karena jalan kami memotong sungai, jadi kami harus membawa motor kami melintas menyeberang air dengan kedalaman 20-an cm.

Tidak masalah sebetulnya kalau si pelintas menggunakan motor besar, atau motor kecil yang tinggi. Tapi aku kuatir, karena motorku suka berlagak macam artis kalau harus menyeberang air. Rewel dan minta perhatian.

Bapak yang aku kuntit bersiap mencari jalan menyeberang air. Perlahan ia maju, meter demi meter, dan di tengah sungai ia mulai hilang keseimbangan. Aduh! Sak dia yang berisi beras terjatuh ke sungai!

Sementara aku sudah mulai menyeberang juga. Apakah aku menyeberang dulu baru menolongnya, atau aku berhenti dulu untuk menolongnya baru melanjutkan menyeberang? Keraguanku berbuah bencana: aku berhenti 2 detik sembari menimbang pilihanku, dan ketika itulah mesin motorku mati. Di tengah sungai. Aku coba nyalakan lagi, tapi sia-sia saja aku menendang kick-starternya.

Untungnya ada juga orang yang lewat dari arah berlawanan, ia menolong mengambil beras bapak tadi dan menegakkan motornya, baru ia menolong aku mendorong motorku menyeberangi sungai dalam keadaan mati. Di tepi sungai, bapak yang aku ikuti mohon diri langsung berangkat lagi meninggalkanku agar bisa menyelamatkan berasnya yang terlanjur basah. Tinggal pemuda yang tadi menyeberang dari arah berlawanan yang bersamaku mencari tahu apa masalahnya.

Tarik tuas choke, coba nyalakan. Tidak nyala.

Cek bensin, masih ada, coba nyalakan. Tidak nyala.

Cek tuas karburator, coba nyalakan. Tidak nyala.

Start kosong, coba nyalakan, start lagi. Tidak nyala.

Coba lihat busi, sadar tidak punya kunci busi, kembali tutup busi, coba nyalakan. Tidak nyala.

Start kosong, coba nyalakan, start lagi. Tidak nyala.

Sementara itu matahari makin nyaman bersembunyi di ufuk barat. Langit memerah, lalu berubah magenta. Hari menjelang malam.

Start kosong, coba nyalakan, start lagi. Tidak nyala.

Akhirnya ia membuka tutup busi lagi, dan berkata bahwa pantas businya basah, ada yang pecah. Ia buka kaosnya, ambil ranting dari tepi jalan, dan mencoba mengelap bagian dalamnya hingga agak kering.

Start kosong, coba nyalakan, start lagi. Motorku akhirnya menderu.

Aku bernapas lega.

Aku berterima kasih, lalu berpisah jalan, ia menuju Batui 5, aku menuju Ondo-ondolu. Sendirian. Aku hanya berharap aku tidak akan tersasar menuju jantung hutan sawit.

Paling tidak jalanannya masih jalanan kerikil keras, bukan tanah lempung yang becek. Kalaupun jalannya di sini ternyata rusak, selama aku ikut bekas jalan motor yang sudah lewat, harusnya aku masih bisa lewat karena berarti jalannya masih padat.

Tapi kenapa jalan yang aku ikuti sekarang tidak ada jejak bekas ban motornya? Bekas ban sebesar ini cuma bisa dibuat oleh ban traktor.... yang berarti aku ada di jalan menuju kebun sawit, bukan menuju perkampungan. Agh! Aku salah ambil jalan!

Sementara itu, semburat-semburat merah langit kini telah lenyap. Langit yang ada hanya menyisakan warna kelabu beku. Penanda dingin malam akan segera datang.

Aku mendengus kesal pada diriku sendiri, dan memutar arah motorku, lalu memacu motor sekencang yang aku berani di jalan perkebunan sawit. Hatiku baru beranjak ringan ketika aku sampai di satu pertigaan. Harusnya aku tadi memang belok, mengikuti jalan yang nampak becek tapi jelas terlihat kalau beceknya adalah becek dilalui motor yang hilir mudik, bukan becek jalan tanah tanpa bekas ban motor sama sekali. Aku ambil jalan yang benar, sembari berharap tidak akan ada masalah dengan ban motor ini hingga sampai di perkampungan.

Langit sudah berubah gelap ketika aku sampai di kampung SPB. Tinggal dua kilometer lagi sekarang. Aku ingin berharap cepat sampai, tapi takut mengundang tawa para betara pelaksana Murphy's Law.

Tawaku baru lepas ketika aku sampai di SPC. Aku aman!

Friday, September 27, 2013

Menuju Ondo-ondolu

//reposted from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/menuju-ondo-ondolu



Selalu ada cerita berjalan dari Batui 5.

Saya dan Auliya selalu berusaha untuk pulang sebelum jam 3 dari Luwuk, karena pulang jam 3 berarti sampai di Ondo-ondolu jam setengah enam. Ondo-ondolu adalah desa transmigrasi tempat Auliya tinggal bersama Kepala Sekolah, sekitar 5 km lewat jalan kerikil dari Batui 5, desa saya, yang bisa makan waktu setengah jam. Akhir-akhir ini, saya dan Auliya berangkat jam empat dari Luwuk, dan selalu harus singgah di Solan dulu. Ketika kami sampai di persimpangan di jalan poros di desa Bakung, sudah jam enam. Jam tujuh malam kami sampai di Ondo-ondolu.

Kali pertama tidak masalah, karena waktu itu bertepatan dengan bulan purnama. Langit cerah dan jalanan terang. Kali kedua sedang bulan baru. Langit cerah pun jalanan takkan terlihat. Kunang-kunang menghiasi pohon-pohon tinggi menjulang di tepi-tepi jalan. Tapi paling tidak kami tidak berkendara sendiri, dan jalanan di sini aman. Sesunyi apapun jalan, kami punya teman untuk mengobrol memecah sunyi.

Senin sore minggu lalu, hujan turun jadi saya tidak bisa langsung ke SPC. Saya tunggu sampai jam lima, barulah saya berangkat. Esok paginya saya berencana turun dengan Pak Nurhuda berburu Wi-Fi untuk memasukkan data guru ke sistem Padamu Negeri. Karena jalan becek diguyur hujan berhari-hari, saya pilih lewat SPB, berarti saya punya cukup waktu untuk sampai di SPC sekira sebelum magrib.

Tapi selepas jembatan SPB ada bunyi dentang keras dari belakang motor, dan laju motor mulai oleng. Kini ada bunyi desisan pelan dari ban belakang. Saya punya dua pilihan: memaksa motor terus ke SPC, dan lewat di atas jembatan yang berlubang-lubang licin dengan roda tanpa udara, atau menambal ban di dusun yang belum ada 20 meter saya tinggalkan sebelum melanjutkan perjalanan.

Saya pilih opsi kedua, dan putar balik sambil mulai bertanya tukang tambal ban terdekat. 200 meter kemudian, di rumah di sebelahnya kepala desa, baru saya dapatkan tempat yang bisa menambal ban saya.

Saya pun menunggu sambil mengobrol dengan bapak-ibu yang cucunya menambal ban saya. Untungnya baru dua minggu lalu saya pulang dari Klaten jadi kemampuan berbahasa Jawa saya tidak terlalu karatan ketika saya harus berbahasa krama dengan pasangan yang aslinya dari Kulonprogo itu.

Pukul enam lewat lima belas baru selesai motor saya ditambal, dan saat itu pulalah baru ketahuan kalau ternyata ban saya bocor di tiga titik, bukan satu. Karena menambal tiga titik lama dan sulit ketika petang sudah menjelang, saya disarankan untuk mengganti saja ban dalam motor saya. Pukul setengah tujuh lewat baru saya bisa meluncur ke SPC.

Di kegelapan, sendirian.

Di kegelapan jalan antara SPC dan SPB tepian pohon dan langit berbaur menjadi satu. Hanya ada suara motor saya menderu. Gelap dan sunyi adalah lahan subur imajinasi. Daun-daun basah berkilau dengan cahaya lampu motor membingungkan. Merah, hijau dan hitam berkelebat. Bayangan apa yang akan saya temui di tikungan depan?

Saya baru bisa menghembus nafas lega ketika saya sudah lewat jembatan SPC. Jalan sudah beraspal, titik-titik cahaya lampu rumah sudah tampak. Belenggu kegelapan hutan sudah aku tinggalkan.

Aku aman.

Saturday, September 14, 2013

Guru dari Jepang

//reposted for posterity from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/guru-dari-jepang



Ada yang membuat saya geli ketika saya berkirim pesan whatsapp dengan Dimas, trustee pembawa risalah andragogi ke kabilah PM Banggai. Ketika itu, dia bertanya bagaimana kabar murid-murid saya sebelum menambahkan, "Kalau saya jadi mereka pasti senang sekali ya. Belum tentu seumur hidup dapat guru lulusan S2 dari Kyoto."

Untungnya, murid-murid saya di SD Trans Batui 5 tidak pernah menilai gurunya dari gelar S2. Bagi mereka, lebih penting saya datang hari Rabu mengajar bahasa Indonesia untuk melanjutkan materi wawancara. Buat mereka, lebih penting saya tidak terlalu sering turun ke SPC/kota agar saya tidak capek dan bisa memberi belajar sore. Untuk mereka, lebih penting tidak hujan agar saya mau diajak pigi mandi kuala.

Also, if I have my way, they'd go on studying in ITB or in other universities where they'll have professors from abroad teaching them by the dozen. Atau ke Astronomi ITB saja lah, lulusan Kyoto ada sak-ombyok yang mengajar di sana, cukup untuk empat kali umur hidup (karena ada empat orang). Better still, I'll have them make their way to study in Japan themselves.

Untuk sekarang, saya hanya punya satu pembanding tentang lulusan Jepang yang masuk kelas di Kabupaten Banggai.

Namanya Pak Takei, jajaran direksi PT DS LNG yang beroperasi di Banggai. Bersama dengan pimpinan dan staf lain dari PT DS LNG mereka mengadakan kunjungan ke SD-SD penempatan PM. Yang pertama mereka datangi adalah SD Inpres Solan, tempat Lilli mengajar.

Mungkin dengan pertimbangan afinitas kota yang pernah kami tinggali, Lilli meminta saya untuk mendampingi Pak Takei ketika ia masuk ke kelas 5 dan (rencananya) membacakan buku serta bercerita. Sayapun bersiap-siap mengambil peran figuran, karena memang sudah ada guru kelasnya juga yang ikut mendampingi. Pak Takei berencana membacakan dari buku bergambar tentang teknologi yang lazim ada di mall: eskalator, elevator, dan pintu otomatis.

Dari situ saya harusnya sadar kalau persiapan matang memang mutlak diperlukan kalau hendak berhadapan dengan anak SD. Meski Solan adalah desa penempatan PM yang paling dekat dengan ibukota kabupaten, kalau di kabupatennya sendiri tidak ada mall dengan eskalator atau elevator ya tetap saja susah nyambungnya. Plus Pak Takei sepertinya tidak menguasai Bahasa Indonesia logat Sulawesi. Sebetulnya kemampuan Bahasa Indonesianya bagus, jelas jauh lebih bagus dari kemampuan Bahasa Jepang saya yang luntur ketika saya pulang, tapi bagi anak-anak, tentu bukan itu yang mereka lihat.

Pada akhirnya, saya kagum pada Pak Takei yang cepat membaca situasi. Agar interaksi tetap terjaga, selesai memperkenalkan buku, ia mengubah taktik: ia ajak anak-anak bertanding jan-ken-pon dengan dia. Satu per satu mereka maju, yang menang dapat hadiah berfoto bersama (ada banyak kamera karena mereka datang berombongan). Selesai, iapun berpamitan.

Di luar kelas, barulah ia menyeka keringat dan mengipasi badan yang sudah basah kuyup dengan keringat, sembari berkomentar tentang energi anak-anak yang tidak ada habisnya.

Enam bulan sejak kunjungan itu, kini saya punya perspektif baru: bukan almamater atau strata yang penting bagi anak-anak, tapi kesungguhan dan kemauan ketika kita ada di hadapan mereka. Baik di dalam kelas, maupun di luar.

Wednesday, September 11, 2013

Buku untuk Ari

//reposted for posterity from http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masyhur-hilmy-2/buku-untuk-ari



Ada rasa gembira yang membuncah ketika kami mandi buku kiriman Indonesia Menyala yang baru datang. Kami berebutan memilah mana yang akan dibawa ke desa, sembari membayangkan binar-binar bahagia anak-anak mendapat bacaan-bacaan baru.

Komik Legenda Nusantara dari PGN. Majalah Kuark. Pearson's Reading Street. Lima Sekawan dan kumpulan cerita rakyat. Bobo. National Geographic.

Terbayang anak-anak pun akan ikut berebutan ketika aku nanti sampai di desa.

Maka diam-diam aku menyisihkan buku-buku yang aku pikir Ari akan suka.

Karena aku suka ketika semester lalu dia tamatkan dua buku Sapta Siaga, lalu dia ceritakan ulang ke aku, "Itu dorang Susie Pak, dorang pe adik mau ikut-ikut saja," dengan wajah yang berbicara semua. Dengan binar mata hidup dan mimik yakin.

Kelebihan Ari memang bukan di kemampuan matematikanya, atau di bidang atletik. Tapi tak ada cerita yang tak hidup ketika dia bercerita, biarpun cuma cerita bermain hujan. Apalagi kalau cerita melihat temannya baku pukul, tidak usahlah ditanya lagi.

Itu sebabnya aku agak sedikit kecewa ketika aku naik ke desa dan mendapati dia tidak ada. Kata kakaknya, dia ke Bungku, tempat bibinya.

Tidak apalah, mungkin memang mumpung liburan puasa. Satu bulan libur penuh tidak cuma bikin para guru mati gaya, murid-murid juga. Lebih dari separuh anak-anak yang biasa meramaikan desa menghilang, dibawa turun ke tempat saudara di kota bersama orang tuanya.

Perasaanku baru campur aduk ketika kali berikutnya aku bertemu kakaknya dia berkata, "Ari so pindah pak, nanti masuk sekolah lagi di Bungku."

Aku tidak ingin kecewa, tapi aku akan kangen dia.

Aku tahu, tidak masalah di mana dia bersekolah, selama dia masih bersekolah. Aku ingat, kalau di Bungku berarti dia bisa bersama lagi dengan adiknya yang tinggal dengan bibinya. Aku paham, kalau dia di sana, ia terhindar dari cekcok rumah tangga yang mungkin terjadi di sini.

Di sisi lain, kelasku akan jadi lebih ribut. Rasio murid yang tertib akan berkurang, karena ia adalah satu dari sedikit murid yang bisa bekerja tanpa harus diawasi terus. Aku suka ia di kelasku karena ia bukan anak yang akan menjahili temannya ketika tidak mengerti materi yang diberikan. Akan berkurang juga jumlah murid yang tulisan tangannya terbaca rapi dengan ejaan yang sesuai.

Kuhela nafas; tapi aku tahu bahwa mau tak mau aku harus rela.

Sampai di hari terakhir sebelum kepulanganku untuk berlebaran di Jawa. Aku mampir ke rumahnya, beli bensin dan berbincang dengan ibunya. Aku tanya tentang Ari, dan ibunya lalu bercerita.

"Mau saya, di sana saja, biar belajar mengaji"--aku angguk-angguk dalam hati--"biar temankan adiknya juga. Tapi tidak mau itu dorang Ari saya kasih pindah, menangis begitu."

Ari ternyata tidak mau pindah! Aku boleh lega!

"Tidak mau betul itu Ari. Menangis dia. Dia bilang, 'Nanti saja Mak, kalau Pak Masyhur sudah pulang Jawa. Saya suka sama Pak Masyhur, biar saya tidak tahu, saya ada belajar mengerti sedikit,'"

Di titik itu saya merasa saya bisa bilang peduli setan apa kata orang, kalau satu tahun saya bisa bikin satu anak saja tidak takut belajar, itu cukup buat bagi saya. Tidak perlu itu anak dapat "Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis".

Di titik itu, saya merasa bahwa di atas segalanya, kita para pendidik tak lebih dari pelayan siswa-siswa kita. Bukan pelayan kepala sekolah atau dinas pendidikan. Yang menentukan gagal dan berhasilnya kita adalah murid-murid kita. Bukan pengawas sekolah, sama sekali bukan. Kita baru boleh tidur nyenyak ketika nurani kita mampu menjawab bahwa kita telah melakukan yang terbaik untuk para pemimpin masa depan bangsa.

Tidak pantas kita menyandang gelar pendidik kalau kita memilih untuk tidak datang ke sekolah, atau mempersulit guru ke sekolah dengan alasan, "Dorang cuma enam orang saja itu di kelas."

Dalam doa saya, cuma ada satu hal yang pantas untuk mengganjar orang-orang yang menyengajakan aral bagi murid-murid kita seperti Ari: Bung Karno bangkit dari kubur dan menempeleng orang-orang macam itu, disusul Sayuti Melik juga bangkit dari kubur dan mencubitinya.

Biar masa depan bangsa ini tak lagi dijadikan mainan remeh para pendidik gadungan itu!